Pertemuan antara Robin dan Rey itu adalah untuk membahas masalah perkuliahan. Sejak pertama bertemu kembali Robin memberitahu Rey sesuatu dimana sudah Robin terawang sejak awal. Yakni adalah tentang proses perkuliahan Rey yang bisa Robin tebak mengalami kewalahan. Apalagi jika menyangkut soal tugas-tugas kuliah. Robin pun sejak pertemuan yang pertamakali setelah dari kaburnya itu, akhirnya kini kembali menjalin komunikasi yang intens dengan Rey lagi, mengetahui bahwa kekurangan Rey dalam urusan akademik bisa Robin manfaatkan.
Memanfaatkan Rey agar jika suatu saat ada masalah terjadi lagi, Robin akan terus berusaha menjilat Rey melalui bagian ini. Bagian dimana tidak dikuasai oleh Rey. Paling tidak sampai mereka lulus nanti. Ia tidak mempermasalahkan waktu tempuh yang dilakukan oleh Rey yang tampaknya akan berjalan melambat karena otak Rey. Rencananya adalah ketika ia lulus, ia akan terus mendekati Rey terlebih dahulu dengan berbagai macam alibi agar Rey merasa dekat dengannya lagi sebagai seorang sahabat. Sebagaimana seperti dahulu kala.
Melontarkan waktu kembali saat mereka bertemu saat masih menjadi mahasiswa baru. Saat itu, Rey Arsyad merupakan mahasiswa Ekonomi semester 2. Dan sebenarnya Rey tidaklah begitu aktif dalam organisasi. Tetapi karena kepiawaiannya dalam bersosial. Ia seperti punya magnet tersendiri sehingga kenal dengan banyak orang dan memiliki relasi yang begitu banyak. Bahkan ia terkenal. Ada beberapa anak-anak yang masuk organisasi intra maupun ekstra kampus tetapi jumlah temannya tidak sebanyak seperti teman Rey. Karena kelebihan Rey dalam urusan interaksi dengan orang lain. Sempat beberapa kali Rey ditawari untuk menjadi ketua jurusan atau program studi, bahkan ia juga menjadi rebutan beberapa organisasi kenamaan di kampus. Tetapi selalu saja Rey menolaknya.
Saat itu, Rey yang sedang menongkrong di taman Fakultas, melihat seseorang mahasiswa. Ia terlihat berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya.
Rey mendatangi Robin “Kayak kebingungan gitu, mau kemana?”
“Oh iya kak, mau ke perpustakaan dimana ya kak?” Robin menjawab malu-malu. Saat itu Robin benar-benar berpenampilan seperti seorang kutu buku bahkan membawa Ransel, sudah seperti anak SMA saja.
“Kamu nanti ke Lorong Fakultas yang sisi barat, nah kalau sudah kamu belok kiri terus lurus aja, nanti ada tulisannya kok” kata Rey saat membantu Robin.
Akhirnya karena tidak tega, Rey memandu Robin secara langsung “aku anterin aja yok…” Benar-benar merasa terbantu Robin saat itu.
Rey yang berpenampilan urakan dengan jaket jinsnya dan dalaman flannel, bertanya banyak hal lagi pada Robin “Kamu baru masuk ya?”
Dan setelahnya, selama perjalanan menuju perpustakaan kampus. Mereka terus saja mengobrol dan membahas sesuatu yang remeh. Seperti asal daerah, alasan memilih jurusan, dan kepribadiannya. Sejak saat itu Rey pun seperti merasa kasihan dengan Robin yang tidak ditemani atau memang Robin yang tidak mau berteman dengan siapapun. Sehingga pada akhir percakapan, Rey mengakhiri dengan bertukar nomor ponsel agar suatu saat jika Robin butuh sesuatu ia langsung menghubungi Rey saja biar tidak usah bingung.
Karena hal tersebut Robin diketahui merasa sangat tersentuh akan kebaikan seorang Rey. Dan mulai dari perkenalan tersebut hubungan mereka menjadi dekat walaupun lintas angkatan. Dan yang membuat istimewa dalam hubungan Rey dan Robin adalah meskipun ada beberapa hal yang berbeda, mereka jika sedang bersama seperti sangat kompak serta saling melengkapi.
Setelah kejadian tersebut barulah sekarang giliran Robin yang mengganti semua kebaikan Rey. Salah satunya adalah membantu Rey dalam urusan akademik dimana tidak begitu Rey kuasai. Rey selalu dibantu Robin jika ada tugas, presentasi, ataupun konsultasi dengan beberapa dosen. Mereka saling mengisi kekurangan satu sama lain. Begitu juga dengan Rey, jika ada orang yang hendak menakali Robin maka Rey akan jadi orang pertama yang berurusan dengan yang bersangkutan. Rey tidak peduli siapapun orangnya, mau itu mahasiswa tua, orang lain atau bahkan dosennya sendiri. Jika orang tersebut salah dan Rey merasa benar maka keberaniannya akan terus naik dan memuncak.
Bahkan pernah suatu kali, ada dosen yang berlagak arogan dengan Robin. Ia merupakan dosen senior, kebetulan saat itu Rey dan Robin sedang satu mata kuliah dan berada di kelas yang sama. Bisa ditebak hal itu terjadi karena Rey terbiasa tertinggal mata kuliah dan ia selalu terlambat untuk mengikuti perkembangan yang sesuai dengan kurikulum. Saat itu dosen tersebut melemparkan sebuah pertanyaan. Dan pertanyaan tersebut berhasil Robin jawab. Tetapi si dosen tetap keukeuh merasa bahwa pendapat yang Robin utarakan masih kurang tepat. Sampai Robin berdebat hebat dengan si dosen. Puncaknya adalah saat dosen tersebut menyebutkan bahwa Robin adalah mahasiswa sok pintar meskipun Robin mengutarakan pendapatnya dengan banyak sumber acuan dan referensi. Mendengar kegaduhan tersebut. Rey berusaha melerai dan membela Robin didepan si dosen yang terus memojokkan dan mempermalukan Robin didepan kelas. Alhasil Rey berhasil mengkritisi si dosen dan si dosen kalang kabut diserbu dua mahasiswa kritis.
Setelah perdebatan usai, dan kelas hendak berakhir barulah si dosen menyampaikan sesuatu yang membuat kaget banyak mahasiswa dalam kelas. Dimana apa yang dilakukan Rey dan Robin adalah tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Sebagian besar mahasiswa. Bahwa mahasiswa harus kritis, berani, dan lugas. Dengan catatan, semua pendapat yang disampaikan harus runut, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya sekedar kritik yang berbentuk caci maki. Si dosen berkata tidak pula kritik harus dibarengi dengan solusi. “Kritik ya kritik saja” katanya. Selama para mahasiswa dapat dengan yakin bisa mempertanggungjawabkan kritik yang ia sampaikan maka solusi sudah tidak wajib menjadi tanggungjawab si mahasiswa yang mengkritik itu. Dan justru yang awalnya Rey dan Robin ditertawakan satu kelas. Pernyataan dosen sebagai penutup kelas ini justru menampar semua mahasiswa di kelas.
Sejak saat itulah hubungan antara Rey dan Robin semakin erat. Oleh sebab itu Robin yang sekarang sangat ingin membuat rencana dimana Rey yang tidak begitu bisa dalam hal akademik, dibantu oleh dirinya dengan niatan bahwa setelah Rey luluh lagi, maka kedepannya ia akan dengan mudah mengelabuhi Rey lebih jauh.
Sampai pada bulan keempat di semester 8 yang hendak berakhir ini. Robin menawarkan pada Rey melalui telepon di ponselnya.
“Kapan lulus bro?” Robin mengawali.
“Tau dah kapan, ini juga masih banyak mata kuliah yang belum kelar. Tapi yang ketinggalan sisa empat biji lagi sih…”
“Yaudah sih, mau gue bantu ga? Itu yang belum kelar sini”
Rey mencoba meyakinkan Robin “Lah emang lu ga ada tugas ya? Ngerepotin lu doang nanti malah Rob”
“Anying t***l segala ngerepotin, kayak sama siapa aja si?”
“Ngopi aja kali yak kita?”
“Boleh dah atur aja, entar gue nyusul, bilang ae tempatnya dimana?”
Sesampainya mereka berada di kompleks kedai kopi yang dulu pernah menjadi tempat Rey mencari Robin saat kabur.
Rey kembali menelepon Robin kembali “Ini sini di Kopi Paste boy”
“Okelah, meluncur…”
Selang beberapa menit barulah Robin datang dengan motor bebek barunya.
“Wuiihhh motor baru nih bro…” ledek Rey saat kedatangan Robin.
“Biasa duit beasiswa, makanya pinter napa biar bisa dapetin motor gratisan” alasan tersebut adalah bohong semata dari Robin karena uang beasiswa takkan mampu membiaya sampai pembelian kebutuhan pribadi. Dan secara aturan pun yang namanya beasiswa hanya menanggung beban biaya Pendidikan, tidak lebih. Tetapi sayang banyak oknum sekarang yang menyalahgunakan beasiswanya untuk foya-foya. Tidak dengan Robin. Meski ia tergolong dari kalangan menengah, ia tidak begitu menyianyiakan beasiswa yang sudah diberikan padanya. Ia malah membeli motor tersebut dengan usahanya sendiri, meskipun cara yang digunakan adalah salah dan keliru karena ia membeli motor dari hasil mencuri uang-uang teman-teman Kost Rey. Namun mereka tidak pernah akan mengetahuinya.
Barulah setelahnya mereka bercengkerama dengan ditemani kopi s**u dan s**u kopi. Ya kedua menu ini berbeda. Jika kopi s**u maka lebih banyak susunya, dan jika s**u kopi lebih banyak kopinya. Sudah bisa dilihat siapa yang lebih menikmati kopi sudah barang tentu ia adalah Rey Arsyad, dan Robin hanya mampu mengkonsumsi kopi jika dicampur s**u dengan takaran yang agak banyak. Selain ditemani dengan minuman dan camilan. Mereka pun kadang sambil mengobrol ringan dengan beberapa kawan-kawan satu fakultas yang sedang menongkrong di kedai kopi tersebut. Sisanya adalah membahas tentang hambatan dan masalah yang Rey hadapi soal perkuliahannya, beberapa tugas yang belum dikerjakan segera dikerjakan oleh Robin dan beberapa mata kuliah yang tertinggal segera Robin suruh untuk Rey mengejarnya.