Robin menawarkan bantuan itupun tidak sembarang asal menawarkan saja, tetapi memang sudah ada strategi licik yang sedang dirancang. Yakni untuk menjatuhkan Rey secara bertahap dengan hati-hati. Tentu strateginya membantu Rey untuk urusan akademik ia lakukan jika ia pun sudah melakukan tanggungannya sendiri dalam artian mengurusi kuliahnya sendiri.
Dan jika ia sedang dalam keadaan kelimpungan mengurusi banyak hal ya ia pun tidak akan mengurusi Rey. Ia hanya akan mengurusi Rey dengan perangai baiknya. Selepasnya jika sudah berada di Kost bersama Iblis maka perangai menjadi buruk kembali.
Hingga sampai puncaknya kepalsuan Robin benar-benar terlihat saat Robin menanyakan Rey soal hubungan dengan si perempuan pindahan yang dahulu sempat dekat dengan Rey dan berhubungan dengan Rey. Tetapi, Rey malah tidak begitu responsif jika disinggung soal hal tersebut. Meski sejatinya Robin sudah mengetahui bahwa si perempuan itu jalang karena seringkali berganti laki-laki dengan waktu yang cepat. Robin masih saja mencintai perempuan itu. Dan sampai-sampai ia terus saja bertanya terus menerus pada Rey soal itu.
Hingga Rey merasa Robin seperti ada yang aneh. Bagaimana tidak, Rey sampai sedikit kesal ditanyai pertanyaan itu dan Rey menanyakan Robin apakah sebenarnya ia memiliki perasaan pada si perempuan itu? Robin tidak mau menjawab dan sebagai perangai baiknya, ia lebih suka mengalah dan memendam dibalik kata-kata “Ah tidak kok Rey” walau dalam benaknya ia sebenarnya suka dan sayang pada orang tersebut.
Seperti menangkap sinyal bahwa Robin benar-benar menyukai si perempuan itu, Rey pun merasa tak enak. “Maafin gue ya dulu kalau sampai bikin lu sakit hati atau apa?”
“Udah-udah ah, orang ga apa-apa kok” Robin berusaha menenangkan.
“Boong lu” sanggah Rey.
Rey meyakinkan “Beneran Rey, gue cuma penasaran aja”
“Ye gitu doang sih, paling bertahan satu-dua bulan doang. Pas lu ga ada ya ga lama dia juga ga ada Rob, gue juga ga tau. Bodo amat si gue mah…” ujar Rey jujur.
Karena pembicaraan tersebut barulah terungkap bahwa Rey tidak begitu mencintai si perempuan itu. Ini bisa jadi titik balik buat Robin untuk mendapatkan perempuan tersebut suatu saat nanti. Dan dalam obrolan tersebut Rey bilang kalau dirinya sukar untuk bermain wanita lagi. Mendengar hal tersebut Robin tidak langsung percaya begitu saja. Dan menanyakan Rey lagi serius, tentang siapa yang sebenarnya Rey suka dan sayangi. Dengan sedikit sentimen-sentimen senda gurau akhirnya Rey mengakui lagi bahwa sebenarnya wanita yang pernah singgah di hatinya benar-benar adalah wanita ghaib yang pertama kali ia temui saat SMA. Dan yang kedua wanita sungguhan, maksudnya orang beneran. Yang tidak lain tidak bukan adalah si Anindya. Perempuan manis Kalimantan yang berada di fakultas sebelah.
Selain itu, Robin juga dengan yakin akan berencana mengembat si perempuan yang pernah direbut Rey darinya. Dengan cara apapun dan dengan waktu berapa lama pun. Asalkan si perempuan dapat jadi miliknya.
Setelahnya adalah senda gurau Robin lagi, “tapi jujur udah pernah jebolin berapa gawang Rey?” dengan bahasa kiasan Robin bertanya.
Rey tak paham “Hah?”
“Iya sudah berapa gawang yang sudah lu jebolin”
“MATAMUIIII ASUUU!” Rey berkata-kata kasar.
“Kasih tips-tipsnya dong…” canda Robin.
Rey semakin membalas candaan itu “Makanya jadi lelaki jangan pemalu dong…”
Rey mengerti akhirnya maksud Robin. Tetapi karena pengalaman bersosialnya lebih banyak Rey. Robin malah dibuat kewalahan oleh gaya obrolan Rey. Sehingga terkadang Robin tidak mengetahui mana Rey yang berkata benar dan mana Rey yang bercanda serta mana Rey yang berbohong. Yang jelas yang Robin tahu, Rey akan berkata benar jika nada bicaranya menipis dan sedikit serius. Pada intinya Rey hanya mengimbangi obrolan Robin saja.
Tapi pada akhirannya kebiasaan Rey selalu mengatakan yang sejujur dan sebenarnya bahwa ia belum pernah “menjebol” gawang manapun. Dalam artian Rey belum pernah sampai merusak wanita manapun. Memang Rey tipikal laki-laki Playboy, suka bergonta-ganti pasangan dan bermain wanita. Terkadang nafsunya pun tinggi, ia pun mengakui kalau menodai mungkin ia pernah, bahkan sering. Paling maksimalnya Rey adalah bermain bagian-bagian tubuh yang tidak berisiko dengan pasangan wanitanya, termasuk dengan si perempuan pindahan yang disukai Robin, Hera, Anindya, dan beberapa wanita-wanita itu. Mendengar hal tersebut Robin sedikit panas, tetapi ia bisa mengontrolnya karena ini untuk rencana jangka panjang agar Rey hancur, sehancur-hancurnya.
Dari obrolan tersebut Robin telah mendapatkan dua kunci kelemahan Rey, yang pertama adalah soal Pendidikan. Dan yang kedua soal perempuan. Tinggal beberapa saat lagi ia akan terus memakai topeng palsu perangai baiknya agar Rey semakin simpati pada dirinya dan menceritakan semua keluh kesah dan sisi terdalamnya pada dirinya lagi. Tinggal beberapa kunci lagi, Robin akan bisa melancarkan niatan liciknya pada Rey. Tentu ia pun sadar tidak akan mudah dan cepat ia lalui untuk menaklukan Rey.
“Tunggu saja tanggal mainnya, kau akan hancur, sehancur-hancurnya di tanganku. HAHAHA...” sisi lain Robin seperti berbicara dari dalam tubuhnya.
Sehingga jika suatu saat nanti ia telah dapat mengetahui semua sisi terdalam dari diri seorang Rey maka untuk membuat Rey kalah adalah sesuatu yang mudah. Oleh karena itu, Robin begitu sangat ingin melemahkan Rey dengan cara yang seperti ini. Cara ini juga berkat andil dari Iblis Banteng itu, seperti saling cocok ketika Robin otaknya sedang tidak encer maka akan dibantu oleh si Iblis. Sudah seperti sahabat sendiri antara Robin dengan Iblis tersebut.
Hingga beberapa minggu kedepan sampai bulan baru sudah datang. Hubungan Rey dan Robin kembali dekat. Malah sekarang lebih dekat dari sebelumnya. Karena diantara keduanya sudah saling membuka diri satu sama lain. Tidak seperti ketika dahulu, apa-apa serba disembunyikan. Jangankan hal terdalam hal remeh saja seperti masih saling disembunyikan. Padahal hubungan persahabatan mereka sudah cukup lama. Mungkin karena masih belum begitu dekat, seperti anggapan banyak orang yang bilang bahwa semakin banyak berkonflik maka akan semakin dekat. Dan semakin sering bertengkar maka sebenarnya akan semakin melindungi kedepannya. Bahkan tak jarang Rey kerap mencurigai Robin dan sebaliknya Robin juga kadang mencurigai Rey, sampai pada puncaknya Robin dimana kecurigaannya terbukti dengan kesimpulan sepihak menurut dirinya sendiri bahwa Rey adalah seseorang yang egosentris.
Padahal jika dipikir-pikir anggapan Robin terhadap Rey bahwa Rey adalah seorang yang hanya memikirkan diri sendiri itu bisa saja salah, karena Robin pun belum mengetahui isi hati terdalam seorang Rey yang mungkin saja tidak akan pernah diberitahu oleh Rey. Karena kita tidak bisa menebak isi hati seseorang dan tidak bisa pula menilai seseorang dari tampak luarnya saja. Mungkin dari luar Rey bisa berpenampilan urakan bisa saja didalam hatinya ia punya niatan yang mulia. Sebaliknya, seperti Robin. Ia bisa saja memiliki tampak luar yang baik tetapi kita tidak akan pernah mengetahui isi hati Robin yang sesungguhnya.
Karena sudah barang yang tentu bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Dimana gemar sekali mempergunakan nafsu keduniawiannya untuk mengejar sesuatu yang sementara saja dan berjangka pendek. Hal-hal begini tidak hanya terjadi ke seorang Robin, tetapi Rey pun sudah melaluinya dan bisa saja kedepannya ia akan melaluinya lagi. Jalan hidup manusia tidak akan pernah bisa ditebak.
Hubungan yang kembali erat antara Rey dan Robin tersebut dibuktikan dengan saat Robin bercerita tentang masa beasiswanya yang akan habis.
Robin mengganti topik pembicaraannya tiba-tiba “Kemarin bapak gue nelpon Rey.”
“Kenapa-kenapa lu?” langsung Rey merespon.
“Kaga, kemarin bapak gue nelpon. Nyuruh gue buat lulus cepet. Karena masa beasiswa juga bentar lagi abis. Semester 8 kan nih beasiswa bakalan habis coy.”
“Terus gimana?”
Rey kembali menambah tanyanya “Bukannya lu udah nyicil naskah skripsinya ya?”
“Iya, ya rencana gue sih bakalan coba biar bisa lulus pas beasiswanya selesai. Gue ga tahu kalau harus kuliah kalau ga ada beasiswa. Soalnya bapak gue juga biayanya ga cukup buat biayain kuliah gue. Paling cukup buat hidup sehari-hari aja sekarang.”
“Bukannya lu dulu, orang berada ya Rob?” kata Rey bertanya lagi.
“Iya, dulu pas bapak gue masih kerja jadi direktur PT. Sekarang mah udah ga lagi, biasalah intrik kerjaan. Bapak gue dikhianati bawahannya. Bapak gue juga orangnya pengalah. Dia mending dia yang sakit daripada harus orang lain” Rey seperti sedang mendeskripsikan dirinya sendiri ketika sebelum mendendam pada Rey.
“Wah, ga enak gue jadinya tanya begituan. Gue tadi ga maksud lancang Rob…”
“Udah sih, bawa santai aja napa.”
Dan setelahnya pun obrolan mereka membahas tentang beratnya perkuliahan bersama. Tetapi Robin menyimpulkan bahwa ia akan sukarela membantu Rey dalam hal kuliah jika Robin sudah selesai semua urusan kuliahnya, dalam artian sudah lulus. Dengan begitu Rey akan sedikit telat beberapa bulan dari Robin lulusnya, bahkan bisa telat satu tahun. Oleh sebab itu, Rey selalu bisa mengerti keadaan Robin. Dengan niatan baik Robin yang begitu saja ia sudah bersyukur.
Sementara itu, obrolan kembali berlanjut dan sekarang Rey yang menceritakan sesuatu.
“Ini gue juga ga enak sebenarnya. Ngerepotin abang Dion mulu. Mana dia kadang ngurus warung peninggalan ibu kan?” Rey mengawali.
Robin berpura-pura peduli “Berarti sekarang yang masak abang Dion? Yang urusin semuanya bang Dion juga? Ga ada pembantu emangnya buat bantu-bantu di warung Rey?”
“Ada sih, simbok siapa itu aduh gue lupa namanya. Pokoknya ada dah satu. Dan sisanya karyawan lepas aja sih, kayak kalau abang Dion lagi kewalahan ya abang minta bantuan ke preman-preman pasar atau anak-anak tetangga yang lagi pada nganggur, biasanya yang harian digajinya perhari gitu.”
“Yee t***l, gue juga tahu lah. Namanya aja harian, ya perhari bayarannya dong” sekarang Robin bahkan sudah berani bercanda lepas dengan Rey, terlihat bahwa sudah ada kedekatan yang lebih intens daripada hubungan mereka sebelumnya.
Robin terus menambahi lagi “Terus uang jatah bulanan lu diambil dari keuntungan warung juga?”
“Iya,” jawab Rey.
“Ini yang buat gue makanya ga enak sama bang Dion Rob… Soalnya gue juga kan perkiraan pahitnya bakalan lulus sekitar satu tahunan lagi. Padahal perhitungan awal seharusnya gue bisa lulus satu semester lagi. Tapi ya lu tahu sendiri kelakuan gue yang kadang b*****t ini, jadi berimbas ketinggalan beberapa mata kuliah kan.” Jawab Rey lagi.
“Gue juga ga enak sama abang Dion karena dia udah bener-bener berkorban buat gue setelah berpulangnya Ibu… Dia bener-bener usaha banget biar Pendidikan gue aman. Dan semua-semuanya aman buat gue. Salut dan bangga banget gue sama dia. Saking bingungnya gue juga harus gimana balesnya. Dia juga ngejagain dan ngelindungin gue banget. Gue seneng banget punya sodara kayak dia, beruntunglah gue.” Tak habis-habisnya Rey menjawab lagi meski tanpa ditanya oleh Robin.
Dari hal tersebut bisa terlihat di kenyataan bahwa Rey juga sangat menyayangi kakaknya Dion. Sejak saat itu Robin telah mengantongi kunci kelemahan baru Rey. Karena Rey anaknya yang family man, sangat mudah diterawang bahwa keluarga adalah kelemahan dengan orang-orang yang bertipikal seperti Rey ini.
Oleh sebab itu, Robin semakin yakin untuk melemahkan Rey dengan menggunakan cara senyap begini. Cara yang menurutnya “Terlihat sederhana tetapi bisa menimbulkan efeknya tidak sederhana…”