Saat sudah mengetahui bahwa Robin hendak membantunya Rey langsung berencana untuk betul-betul serius mengejar ketertinggalan kuliah juga. Karena ia berpikir setidak-tidaknya ia menghabiskan beberapa mata kuliah yang mampu ditangani oleh otaknya. Dan jika begitu Robin bebannya tidak begitu berat serta harapannya adalah dapat mempersingkat waktu lebih cepat lagi. Dengan begitu juga ia dapat mengabarkan sesuatu yang baik bagi keluarganya semata wayang siapa lagi kalau bukan bang Dion. Agar beban yang ada di Pundak bang Dion tidak begitu berat pula.
Di semester 7 ini ia sebenarnya baru mengambil semua mata kuliah semester ganjil yang lalu yakni semester 5. Oleh karena itu, ia mempunyai kesempatan di semester antara atau biasa disebut juga dengan semester pendek yang mana ia bisa memanfaatkan semester tersebut sebagai penggantinya untuk menebus semua kekurangan nilai dan ketertinggalan pelajaran yang ia alami.
Dan jika semester pendek sudah ia lalui. Ia juga bisa menghabisi semester genap dalam seluruh perkuliahannya, dan ia juga tinggal menghabiskan tugas akhir yang mana diharapkan akan selesai pada semester 9 nanti. Memang jika diukur, akan sedikit terlambat tetap Rey optimis dengan kelulusannya.
Karena menurutnya apa yang tidak membuatnya mati makai a akan berusaha sampai impiannya tercapai. Dimana untuk konteks pendidika. Keinginannya sederhana, hanya untuk lulus kuliah saja.
Jadi bila ada pertanyaan yang membuat Rey ragu itu datangnya hanya dari seorang Dion Arsyad kakaknya semata wayangnya dan Eyang Demak yang selalu berada di sisi Rey setiap saat ia membutuhkannya. Seperti saat ia merasa gundah gulana apakah ia bisa dan sanggup untuk merampungkan kuliahnya di tahun ini. Ia dihantui rasa takut akan kegagalan lagi. Dimana dapat membuat Rey semakin larut dalam kesedihan dan semakin memperlama prosesnya untuk lulus. Diketahui pula jika Rey sedang dikuasai oleh energi-energi yang membuatnya menjadi down. Ia bisa berlaku tidak baik. Semua kebiasaan buruknya bisa kembali, seperti bermain wanita, meminum-minuman alkohol dan tidak bisa mengontrol amarahnya.
Pernah satu kali Eyang Demak menegur Rey, beliau memperlihatkan pertanda. “Kok aku tiba-tiba kangen ibu yak?”
Masih saja Rey dalam keadaan belum sadar, “Ini beneran, aku rindu ibu.” Apa yang ia rasakan sedikit menganggunya.
Ia masih terus saja bermain Playstations di kamar Santoso, dan ia secara mendadak mendapatkan dering telepon dari ponselnya. Ternyata itu hanyalah sebuah notifikasi adanya pesan singkat yang masuk. Dari grup kelas dan angkatannya kalau aka nada pendaftaran tugas akhir bulan depan.
Tersontak Rey dan langsung merasa rendah diri karena kini ia baru menyadari sebenarnya ia telah banyak membuang-buang waktunya dengan hal yang sia-sia, hal yang seharusnya dapat ia gunakan untuk kebermanfaatan, dalam hal ini belajar dan untuk sesegera mungkin bisa menyelesaikan studinya.
Ternyata di sisi yang lain, Eyang Demak sudah bersemayam dalam intuisi Rey. Yang sedari tadi membuat Rey teringat akan kewajibannya berkuliah adalah Eyang. Eyang sejatinya selalu memperingatkan Rey dalam menjalankan kewajiban Rey. Tidak hanya Pendidikan saja, apapun beliau peringatkan pada Rey. Dan yang paling penting yaitu soal kewajiban ibadah sholat lima waktu. Meski dalam perjalanannya kadang Rey masih suka bolong-bolong dan belum bisa berkomitmen pada dirinya sendiri untuk menjalankan kewajibannya dengan baik.
Tetapi lambat laun karena karomah Eyang Demak yang begitu tinggi, Rey selalu dibuat merasa rindu akan orang tuanya. Yang membuatnya merasa terbebani dan mau tidak mau mengingat beberapa kesalahannya yang akan membuat orang tuanya kecewa jika orangtuanya masih hidup. Oleh sebab itu, Rey dalam beberapa waktu kedepan. Terutama pada bulan baru ini, ia mulai serius untuk melanjutkan studinya lagi.
Adalah sesuatu yang menjadi kewajaran bilamana langkah pertama merupakan langkah yang paling sulit untuk dilakukan dan dilalui. Seperti halnya Rey yang awalnya tidak pernah terbiasa untuk belajar, jangankan belajar, mengikuti kuliah saja yang gampang kadang Rey bisa tidak masuk. Makanya, Rey memutuskan untuk berubah secara bertahap yaitu dengan melakukan langkah awal yang mudah-mudah dahulu saja. Singkatnya Rey melakukan apa yang Rey mampu.
Selain karena ilham yang diberikan Allah SWT melalui Eyang Demak. Petunjuk Allah agar Rey segera menyelesaikan perkuliahannya Rey dapatkan saat abang Dion menelepon Rey dan mengabarkan kalau warungnya tidak begitu menghasilkan begini tahun depan akan tutup saja dan ia memutuskan akan bekerja saja. Karena menurut abang Dion sirkulasi keuangan yang berjalan tidak begitu memadai untuk menyokong semua karyawan dan biaya Rey bulanan. Terkadang pun warung mendapati banyak cobaan seperti diberi kiriman ghaib yang membuat warung sepi, jikapun warung sedang ramai abang Dion kelelahan karena mengurusinya sendiri dan terpaksa harus memangkas keuntungan untuk membayar orang bekerja secara lepas.
Abang Dion pula tidak lupa mengabari bahwa jikapun warungnya akan ditutup permanen maka abang akan bekerja di pergudangan yang berada di dekat pasar. Perusahaan logistik milik saudagar kaya raya keturunan Tionghoa, Bernama Koh Ming Ay yang memiliki nama Indonesia Susanto. Ia merupakan bos besar di pasar, keluarganya sudah membangun semacam dinasti bisnis di kampung halaman Rey. Dan menurutnya dengan latar belakang berjualan di warung menurut abang Dion, dirinya bisa mendapat penghidupan yang sedikit lebih menjamin jika bekerja disana. Walaupun pendapatannya tidak sebesar seperti di warung. Karena sesedikatnya pendapatan warung masih lebih besar daripada gaji harian seorang buruh lepas. Tetapi, pendapatan warung yang besar pun harus dibarengi dengan tata Kelola keuangan yang sehat sehingga adanya keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Sehingga tidak akan terjadi yang namanya kerugian. Baik secara material dan moral yang akan membuat kerugian yang lebih besar lagi bagi Dion dan Rey. Dan secara sadar abang Dion juga mengabari kalau ia sudah menyisihkan beberapa uang untuk setidaknya masa tua dirinya dan Rey nanti.
Mendengar kabar tersebut langsung Rey terenyuh tak tertahankan. Ia ingin menangis namun tidak ingin. Rey masih teringat akan pesan ayahnya yang mana lelaki harus kuat, dan tidak boleh terlihat lemah.
Barulah saat berada di pertengahan bulan kelima, di semester 8 ini. Rey sudah beberapa menyelesaikan mata kuliah yang sedari kemarin tertinggal di semester ganjil. Dan ia juga sudah sedikit demi sedikit menyicil tugasnya. Saat ia kesusahan ia tidak langsung menyerah, jika ia merasa sangat tidak mampu dan mengaku bodoh Rey langsung menelepon Robin untuk bertanya caranya dan selanjutnya sisa dari petunjuk Robin ia kerjakan sendiri dengan mandiri. Walaupun dapat dipastikan nilai yang akan Rey dapatkan bisa saja seadanya.
Robin pun menyambut baik niat belajar Rey itu, sekarang Robin juga kaget kenapa seorang Rey yang malasnya melebihi rata-rata tiba menanyakan sesuatu tentang pelajaran? Tentu sambutan baik Robin tersebut sebenarnya sama sekali tidak ada dalam benak Robin karena perangai yang ia pakai adalah identitas palsu.
“Rob, ini kalau mau mencari tentang Konflik Ekonomi carinya dimana ya? Mungkin lu ada buku?” tanya Rey suatu kali pada Robin dalam pesawat telepon.
Sambil terbahak si pelayan memberikan jawaban pada Robin “Yaelah, gaya-gayaan lu belajar.”
“Beneran ini g****k”
“Bentar, bentar…”
“Lu bisa cari di buku bla-bla-bla (menyebutkan banyak judul buku dan referensi ilmiah).”
“Kalau kesusahan udah sih, tahan aja dulu jangan dipaksa, biar nanti sama gue aja Rey…” tawar Robin lagi.
Rey merespon “Ga, ga. Gue mau coba diri buat nantang kemampuan gue sendiri, yakali mau gini-gini aja tanpa perkembangan. Bisa mati gue. Zaman aja berkembang masa orang ga boleh? Haha…”
“Yaudah yang jelas kabari aja kalau ada yang susah atau sulit”
Seperti kebiasaan banyak orang Indonesia diakhiri dengan basa basi yang sebenarnya tidak esensial sama sekali.“Oke sip-sip.”
Sampailah diujung penantian ternyata selama perjalanan saat Rey rajin-rajinnya berkuliah. Ia mendapatkan kabar bahwa teman-teman pada lulus. Aris, Aan dan Rey. Santoso dan Rey sejalan, suka menunda dan lebih gemar menongkrong. Tetapi jika dibandingkan dengan Santoso, Rey yang sekarang sungguh berbeda jauh, dimana ia lebih bertindak daripada Santoso yang hanya beretorika. Ya seperti kebanyakan mahasiswa. Ada yang sok kritis dan ada yang kritis sungguhan. Yang jelas, ada dua tipikal mahasiswa secara umum. Ada yang gemar meracik kata untuk mendulang simpati demi kepentingannya sendiri, bisa kelompok atau pribadi. Ada pula mahasiswa yang biasa saja, tidak terlalu aktif dan biasanya lebih besar tindakannya daripada yang suka bersilat-lidah itu.
Mendengar kabar-kabar tersebut Rey sejatinya merasa bangga dan senang melihat kawan-kawannya sudah lulus satu persatu. Meskipun dirinya belum lulus itu tidak menjadi halangan dan hambatan untuk dirinya terus berkomitmen agar sedikit demi sedikit ia bisa menyicil beberapa ketertinggalannya yang sekarang sudah mencapai waktu yang ia nantikan. Dan di semester yang ke-9 ini bagi diri Rey. Rey dedikasikan waktu dan segala pengorbanan serta perjuangannya untuk Dion. Ia begitu serius dalam belajar di semester tuanya ini.
Dalam bulan pertama di semester 9 itu ia gunakan untuk berkonsultasi dan mengambil mata kuliah skripsi. Di bulan kedua ia gunakan untuk survey lapangan dan sembari masih berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya.
Sementara itu waktu terus berjalan dan ia benar-benar mengisi bulan ketiga, dan keempat untuk mengerjakan bab 1 dan melakukan seminar proposal. Beruntungnya hal tersebut disetujui oleh jurusan dan fakultas. Alhasil Rey berhasil seminar.
Bulan keempat kelima, Rey secara serius melakukan pendalaman penelitiannya untuk ditaruh di bagian bab 2 sampai bab 4 skripsinya. Ia siang malam tak henti terus mengerjakan skripsi agar masa kuliahnya jangan sampai memasuki semester ke 10.
Dan perjuangan tidak mengkhianati hasil. Pada bulan terakhir di semester ganjil ia sudah menyelesaikan t***k bengek baik yang besar maupun kecil dalam skripsinya. Mulai dari sekarang, 2-3 bulan kedepan Rey akan menghadapi ujian sidang dan jika lolos akan mengajukan Yudisium dan lulus di tahun ini.