Perginya Sang Malaikat

1421 Kata
“Rey, lu di mana de?” “Rey di kos bang? Kenapa bang?” “Abang sekarang di Rumah Sakit Sardjito. Lu bisa kesini sekarang?” “Hah, kapan abang ke Jogja, serius nih bang? Ngapain di rumah sakit?” “Pokoknya sekarang lu kesini, nanti elu tahu sendiri.” Dari nada bicaranya bang Dion tidak sedang bercanda.  Rey tahu betul dengan sifat abangnya. Perasaan Rey jadi tak enak setelah mendengar kabar itu. Ia langsung teringat pada seseorang yang sangat ia sayangi. Tapi dia berusaha membuang jauh jauh pikiran jelek itu. Semoga semuanya ga bener, batinnya. Segera ia mencari angkot untuk pergi ke rumah sakit yang di maksud sang abang tadi. Jarak yang ditempuh lumayan jauh jadi ia harus memperhitungkan semuanya agar bisa cepat sampai tujuan. Jadwal kuliah hari ini terpaksa ia pending. Bagi Rey keluarganya lebih utama daripada kuliah. Tadi ia juga sempat meminta bantuan temannya untuk mengabsenkan dirinya di kelas. Setengah jam kemudian tibalah ia di rumah sakit yang di maksud sang abang. Sepanjang jalan tadi ia sudah merasa tidak nyaman perasaannya. Rey gelisah tak menentu, kepikiran dengan orang tersebut. Sampai ia tidak focus saat di tegur bang supir angkot yang ia tumpangi. Setibanya di rumah sakit segera ia mencari keberadaan abangnya. Sesuai dengan nama ruangan dan nomor kamar, hingga akhirnya ketemulah ia dengan Bang Dion. Terlihat ia sedang menunggu diluar ruangan. Dari raut wajahnya ia tak bisa menunjukkan rasa sedih yang ia coba sembunyikan dari adiknya. Rey sangat paham gaya abangnya yang selalu tak ingin membuat adiknya bersedih. “Bang!” “Rey. Masuk dah ke dalem.” Hati Rey semakin berdegup dengan kencang. Perasaan tidak enak tadi semakin mendekati kenyataan. Kakinya terasa begitu berat untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Tapi perasaannya sudah sangat rindu. Ia merasa harus melawannya. Hingga akhirnya sampailah di dalam ruangan itu. Melihat seseorang yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di tubuhnya membuat Rey rasanya ingin jatuh saat itu juga. Tubuhnya bergetar hebat menyaksikan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Rey berharap semua ini hanyalah mimpi buruknya. Giginya saling beradu karena rasa sedih dan menahan tangis yang sudah hampir jatuh. Ia paksa kakinya untuk mendekati sosok yang sedang terbaring lemah itu. Tanpa terasa sang abang sudah memegang pundaknya untuk memberi semangat menuju ke pembaringan sosok itu. Setelah dekat ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Hanya menatap wajah beliau yang tetap cantik meski telah di makan usia. Rey lalu meraih tangan yang terbalut jarum infus. Ia mencium lembut dan meneteskan air mata.  Perasaan Rey ternyata benar beberapa hari ini sudah tak merasa nyaman. Rasa rindu terasa memuncah seminggu belakangan ini. Tapi ia berusaha menghiraukannya rasa itu. Orang rumah juga tidak ada yang memberi kabar mengenai kondisi mereka. “Kenapa ibu, bang?” “Ibu sudah lama memiliki sakit diabetes, Rey. Sudah seminggu ini kondisi kesehatannya menurun. Dokter di tempat kita sudah ga sanggup menghandle ibu, makanya atas rujukan mereka abang bawa ibu kesini.” “Kenapa ibu dan abang ga pernah cerita?” “Ibu minta supaya di rahasiakan dari lu, Rey. Ibu ga mau lu kepikiran dengan kondisinya. Ibu mau lu kudu focus aja ke kuliah lu.” “Percuma bang, kalau kondisi begini Rey baru tau, kuliah gue ga ada artinya bang.” Dion terdiam mendengar jawaban adiknya. Ia merasa sedikit bersalah juga dengan adiknya karena tidak pernah memberitahu kondisi ibu sesungguhnya. Namun di sisi lain ia sangat menjaga janjinya pada sang ibu untuk tidak menceritakan pada sang adik. Rey terus memegangi tangan ibunya. Ia sangat merindukan belaian dari tangan yang ia ciumi saat itu. Air mata yang jatuh tidak lagi ia hiraukan. Rasa kangen dan sedih semua bercampur aduk. Rey berharap ibu segera sadar dan mengelus kepalanya seperti saat ia di sayangi. Dion yang melihat kesedihan adiknya jadi ikut merasakannya. Ingin rasanya ia tumpahkan bebannya selama ini dengan menangis juga, tapi ia teringat pesan almarhum ayah dan ibunya, jika seorang laki yang kuat takkan pernah menunjukkan air matanya. Ia juga enggan menunjukkan air matanya pada adiknya. Dion segera bergegas keluar meninggalkan adiknya. Di luar ruangan ia langsung duduk tersandar dan langsung beruraian air matanya. “R-r-rey … kamu kah itu nak?” Rey terkejut tapi ia berusaha pelan merespon pertanyaan ibu agar tidak membuat kaget. Ia langsung menyeka pipinya yang basah air mata tadi. Rey tak ingin ibunya melihat air matanya. “Iya bu. Ibu lekas sembuh ya, bu.” “Iya nak, ibu kuat.” Ia tersenyum, seolah ingin menunjukkan pada anaknya, meski dalam kondisi apapun ia harus kuat. “Ibu haus nak.” Segera Rey meraih gelas dan menumpahkan air dalam botol kemasan. Lalu ia membantu ibu untuk minum dengan bantuan sedotan kecil. Rey jadi makin berat hatinya untuk menyaksikan pemandangan ini. Ia berusaha kuat menahan air matanya. Seteguk demi seteguk perlahan ibu coba meminumnya. Terlihat ia begitu kesulitan untuk memasukkan air tersebut ke dalam tenggorokannya. Ekspresi menahan sakit saat air itu mengalir di kerongkongan sangat jelas terlihat oleh Rey. Tapi ia tak mampu berbuat apa apa untuk orang yang ia sayangi. Hanya sebuah doa dan keajaiban yang bisa ia harapkan saat itu. Ya Allah sembuhkan ibu hamba, Ya Rabb. Doa Rey dalam hati. “Sudah nak.” Pinta ibu sambil memejamkan matanya. “Ibu mau apalagi bu, makan kah atau yang lainnya?” Ibu hanya diam tidak merespon pertanyaan Rey. Ia malah menanyakan dimana Dion. Rey segera bergegas keluar untuk memanggil abangnya. Saat itu Dion sedang tertunduk lesu. “Bang dicari ibu.” Segera Dion bangkit dari tempat ia duduk. Melihat ibunya yang masih terbaring dengan mata terpejam, rasanya ia enggan untuk mengganggunya. Tetapi ketika sudah berada di sisinya, ibu langsung tahu jika ada Dion di sampingnya. “Dion dan Rey, maafkan ibu selama ini telah berbuat salah pada kalian. Ibu sangat menyayani kalian. Dan kalian harus saling menjaga jika kelak ibu nanti tiada.” “Ibu pasti sembuh kok bu. Ibu harus kuat, Dion dan Rey janji ga buat ibu susah lagi, janji bu.” Dion tak hanya mengiyakan tapi ia juga berharap ini bukanlah pesan terakhir sang bunda. Ibu hanya tersenyum mendengar omongan anaknya. “Ibu pasti sembuh, kan ibu janji mau lihat Rey jadi sarjana dan bawa ibu berhaji.” Sambil menangis ia mencium pipi ibunya. “Kamu nangis Rey?” meski terpejam matanya ibu masih bisa merasakan siapa yang mencium pipinya. Buru buru Rey menghapus air matanya dan menghentikan isak tangisnya. “Maafkan janji ibu yang tak bisa melihat kalian hingga berhasil. Jangan pernah tinggalkan lima waktu kalian.” Tiba tiba ibu langsung tak sadarkan diri. Rey dan Dion jadi panic. Mereka berteriak memanggil manggil ibu tapi tak ada respon sama sekali. Segera Dion keluar untuk memanggil perawat untuk menolong ibunya. Rey sudah tak tahu harus berbuat apa apa, ia hanya bisa menangisi wanita pertama yang ia cintai. Beberapa saat kemudian datanglah seorang wanita muda yang berpakaian perawat. Ia segera memeriksa keadaan ibu. Perawat tersebut mengecek salah satu bola mata dari kanan ke kiri secara perlahan. Tampak ia masih ragu akan hasilnya. Kemudian ia memindahkan pemeriksaan pada leher ibu. Ia meraba atas leher menggunakan tiga jarinya. Sang perawat mulai cemas. “Mohon bersabar ya mas, dokter sebentar lagi akan kesini. Saya periksa tadi masih ada denyut nadi ibunya.” Mendengar kata perawat mengatakan itu, Rey mulai tenang. Begitu sang dokter tiba, ia langsung memeriksa seperti yang suster tadi lakukan, tapi kali ini ia lakukan dengan lebih seksama lagi. Setelah merasa ada yang tak lazim segera ia meminta perawat mempersiapkan alat pacu jantung. “Satu dua tiga …”  ***** Dua jam pasca keadaan emergency dengan ibu. Rey masih menunggu di sisi ibunya sambil membaca surah Yasin. Semua daya upaya saat itu ia serahkan semua untuk ibunya. Ia terus membacanya berulang ulang. Rey tak ingin lagi melepaskan kesempatan berada di sisi ibunya. Sesekali ia pandangi wajah teduh ibunya yang tampak sedikit bercahaya. Di bibirnya juga masih terbentuk senyuman kecil, menandakan seolah olah dia tidak sedang dalam keadaan sakit. Bang Dion yang tampak gelisah diluar sedang menunggu sanak saudara yang ingin menjenguk ibu. Perasaannya sedari tadi sudah gelisah meski moment kritis tadi mampu mereka lewati. Ia sudah punya firasat jika waktu mereka tidak akan lama lagi. Karena tadi sempat bertemu dengan Eyang. Meski tak rela, ia harus ikhlas menerima takdir itu. Tapi sengaja ia tak memberitahu adiknya. Akhirnya tepat pukul 1 dini hari, Rey dan Dion harus kehilangan orang yang mereka sayangi. Ibu yang telah melahirkan mereka, membesarkan hingga membimbing mereka sampai saat ini, harus pergi lebih dulu meninggalkan mereka. Ibu telah menyusul ayah yang pergi dahulu. Kedua pemuda itu hanya bisa saling berpelukan saat jazad ibunya di pindah ke kamar jenazah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN