Ibu sudah khawatir kedua pria bodyguardnya belum juga pulang, sementara hari sudah memasuki waktu Azhar. Sedari tadi ia sudah bolak balik dari dapur ke teras rumah, berharap mereka sudah pulang. Ia khawatir dengan kondisi bocah itu karena tidak biasanya mereka telat segini lamanya. Normalnya paling lama sejam karena kondisi jalan atau memang ada tugas tambahan dari sekolah. Ibu coba menghibur diri dengan menonton TV sebentar. Tapi pikirannya justru semakin kacau karena wajah anak yang ia cintai masih terbayang bayang. Ga kebayang gimana laparnya mereka, entah dimana saat itu.
Beberapa saat kemudian dari luar terdengar seseorang yang berteriak mengucapkan salam. Ibu langsung tersenyum dan segera keluar rumah, karena merasa sangat kenal dengan sumber suara itu. Siapa lagi kalau bukan Rey si badung. Sedikit terkejut melihat penampilan kedua anaknya yang begitu kumuh.
“Assalammualaikum ibu. Kok ga di jawab sih bu.” Tanya Rey dengan manjanya.
“Waalaikumsalam, anak ibu yang ganteng ganteng. Ya Allah nak, ini habis pada ngapain sih? Hampir tiap hari baju yang ibu cuci seperti ini.”
“Ibu nih bukannya nanya sudah pada makan belum? Dari mana saja tadi? Ini malah baju kita yang di khawatirkan.” Jawab Dion sewot melihat tingkah ibunya.
“Ibu mah ga heran dengan kelakuan kalian. Apapun yang kalian lakukan di luar, usahakan selamat sampai di rumah, itu saja yang ibu mau.”
Ibu lalu meminta keduanya untuk mandi dan segera makan yang sudah ibu masak sejak siang tadi. Tanpa berani menolak keduanya langsung menuju ke belakang. Ibu orang yang demokratis, apalagi sejak menjadi orang tua tunggal. Ia tidak pernah mengekang atau melarang ini itu terhadap kedua anaknya. Semua ia perlakukan sama. Rasa sayangnya sudah tak di ragukan lagi. Bahkan nyawa sekalipun akan ia berikan untuk orang yang ia cintai. Terutama dengan kedua lelaki kebanggaannya. Ia selalu memberikan yang terbaik meski ia harus menanggung sendiri semuanya.
Sejak kepergian ayah, ibu tidak ingin menikah lagi. Ia lebih focus membesarkan Rey dan Dion seorang diri. Dengan mempertahankan jualan di pasar, ia masih bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga di bangku sekolah menengah atas (SMA). Cita citanya sama dengan almarhum suaminya yaitu bisa menyekolahkan anak anaknya hingga ke jenjang yang tertinggi. Perjuangan ibu yang rela mengorbankan segalanya takkan pernah membuat Rey dan Dion mampu untuk membalasnya.
Sewaktu awal hidup bertiga tanpa adanya seorang pemimpin seperti ayah, membuat ibu dan kedua bocah itu sedikit berat harus bertahan hidup. Jika biasanya ada ayah yang selalu terdepan dalam mengarahkan mereka, agar tidak salah dalam melangkah di kehidupan. Apalagi saat harus mencari rezeki yang berkah. Semua saling bahu membahu membantu satu sama lain. Rey dan Dion juga jadi tumbuh menjadi anak yang kuat, tidak manja dan cengeng lagi.
Soal pengganti ayah sudah beberapa kali ada yang mencoba mendekati ibu untuk menggantikan posisinya. Salah satunya yang paling getol dan sedikit memaksa adalah mantan kekasih sekaligus teman dekat suaminya sendiri. Ibu yang sedari awal sudah tidak memiliki hati dengan orang tersebut, dengan segala cara berusaha menolaknya dengan lemah lembut. Ia tidak ingin menyinggung perasaan siapapun yang telah ia tolak. Ibu hanya ingin focus membesarkan Rey dan Dion meski itu dengan resiko menjadi single parent.
Semua orang yang mendekatinya, ibu terima dengan baik. Tidak pernah sedikitpun ibu menolak mereka dengan kasar. Tapi hanya satu yang dengan terpaksa membuat ibu harus sedikit kasar karena ia terlalu memaksakan kehendaknya untuk memiliki ibu. Dia adalah mantan teman ayah. Ibu sudah mengenal watak orang ini, makanya ia sangat menolak keinginan orang tersebut. Semua demi dirinya dan kedua anaknya. Kecantikan ibu memang awet di usianya yang sudah tidak muda lagi. Wajar saja jika sedari dulu banyak yang ingin mendapatkan cintanya.
Almarhum ayah termasuk orang yang paling beruntung mendapatkan cinta ibu. Karena masa itu ibu tidak ingin mengumbar cintanya pada sembarang orang. Sempat berpacaran dengan teman ayah, namun akhirnya harus bubar karena perlakuan kasar yang kerap ia terima dari sang mantan. Hingga akhirnya dengan kebaikan ayah pada ibu membuat ia jatuh cinta hingga sekarang. Hubungan mereka tidak di sadari telah membuat seseorang merasa cemburu hingga sakit hati melihatnya. Sampai ke jenjang pernikahan dan memiliki buah hati tidak mengubah rasa benci dari mantan tersebut. Ia justru semakin dendam pada ayah, karena merasa telah merebut cintanya.
******
Dua tahun pasca di tinggal suami, membuat ibu benar benar menjadi single parent. Sejauh ini ia tidak menemukan hambatan yang berarti meski kehidupannya telah berubah drastis. Jualan juga ada sedikit peningkatan dari tahun tahun sebelumnya. Di bantu kedua anaknya dan seorang pembantu di warung membuat ibu mampu tersenyum di tengah cibiran orang orang.
Melihat kesuksesan ibu dalam berdagang dan juga dalam membesarkan anak, tidak lantas semua yang melihatnya merasa senang. Selalu saja ada oknum yang iri dan dengki pada dirinya. Dalam sebuah usaha pasti selalu ada persaingan. Itu wajar. Namun menjadi tak wajar ketika persaingan itu mulai menjurus ke dunia klenik. Beberapa kali dagangan ibu dibuat kondisi yang tak seharusnya. Hampir setiap selalu saja ada kejadian yang aneh dengan jualan ibu. Mulai dari nasi menjadi basi tiba tiba, menemukan bangkai tikus yang terbelah rapi dan masih hangat di depan pintu warung hingga boneka pocong yang di gantung di depan warung ibu.
Beruntung ibu masih di lindungi Sang Penolong, ia mampu menghadapi cobaan demi cobaan. Tentu saja lima waktu tak pernah ia tinggalkan, bahkan selalu di awal waktu. Termasuk bocah bocah yang ia besarkan. Selalu ia ajarkan pada mereka tentang agamanya. Sementara untuk kehidupan sesungguhnya ibu hanya mengarahkan agar tidak salah dalam melangkah. Syukurnya Rey dan Dion mengerti keadaan ibunya. Senakal apapun mereka, tidak pernah sedikitpun mereka membuat jelek nama keluarganya. Makanya jangan heran jika ibu mendapat teguran dari wali kelas atau dari orang tua temannya agar menegur atau menghukum anaknya bila ada kesalahan anak anaknya. Ibu paham betul dengan sifat anak anaknya, mereka tidak akan berbuat jika tidak dalam keadaan terdesak.
*****
Saat ini Rey sudah duduk di semester 6 di sebuah perguruan tinggi di kota gudeg, Jogja. Sudah beberapa tahun ia tidak pulang ke kampung kelahirannya. Ia sebenarnya sangat kangen dengan Ibu dan abangnya. Meski kadang hanya melalui sebuah pesawat telepon ia bisa mendengar suara ibunya yang sudah mulai memasuki usia senja. Rey kadang sampai menangis karena tidak ingin pulang karena tak mau membuang uang dari pemberian ibunya hanya untuk pulang sesaat.
Sekolah di jenjang kuliah juga sebenarnya bukan keinginannya. Hanya karena kebetulan ia mendapat beasiswa karena kepintarannya serta dorongan sang ibu, membuat ia mau menjalaninya. Dengan berat hati ia harus meninggalkan ibu dan Dion yang selama ini selalu bersamanya. Sementara bang Dion memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. ia lebih memilih membantu ibunya. Baginya sampai SMA sudah cukup baginya untuk menuntut ilmu, sekarang saatnya untuk ia berbakti kepada orang tua satu satunya. Meski sebenarnya sang ibu juga menginginkan Dion untuk kuliah sejak ia lulus SMA, namun ia keukeuh pada pendiriannya. Akhirnya ibu ga mau memaksanya lagi. Hingga hanya Rey yang memasuki dunia kuliah, untung saja ia anak yang pintar hingga mendapat beasiswa dari program pemerintah.