Hingga tiba waktu istirahat baru mereka berdua di izinkan untuk menikmati waktu istirahat. Dion segera kembali ke kelasnya untuk merebahkan tubuhnya sekejap di bangku kelas. Ia tampak sangat lelah hari ini karena pagi tadi sudah di ajak berantem. Belum lagi jalani hukuman jemur badan saat mentari lagi galak galaknya. Plus bonus cuci toilet yang di bumbui dengan drama oleh si Gendruwo.
Sementara Rey langkahnya mengarah ke kantin. Perutnya yang lapar dan dahaga yang sudah mendera dari tadi membuat ia jadi kalap. Tak lupa ia juga membelikan cemilan dan minuman untuk abangnya. Beberapa teman yang menyapanya hanya di balas dengan senyuman. Begitu juga yang ngajak traktir dirinya, dengan halus ia menolaknya karena ia harus kembali menemui abangnya yang sudah pasti kelelahan karena ulahnya.
Kenapa Rey belum juga bisa melihat Eyang. Tanya Dion pada sosok yang selama ini selalu bersamanya.
Selama ia tidak meyakini keberadaan kami, maka selama itu tidak akan bisa menyatu.
Lantas sampai kapan semua ini Eyang?
Hingga ia benar benar siap menerimanya, Dion.
Tiba tiba di pintu depan Rey mengejutkan Dion.
“Hayoo, pasti omongin Rey ya? Kasih tau Eyang, Rey jadikan sultan aja, ga usah muluk muluk gitu.”
“Lu itu kapan sih mau menerima kenyataan?”
“Hahaha … males gue bang bahas itu lagi, nih minum dan makan dulu gih, buat ngisi tenaga siape tau ntar ketemu musuh lagi.” Sambil menyodorkan camilan dan minuman pada Dion.
Sepuluh menit kemudian bel sekolah kembali berbunyi. Terlihat di depan kelas sudah banyak siswa yang pada ngumpul untuk masuk kembali ke kelas. Rey lalu kembali ke kelasnya sambil iseng melirik kakak kelas yang menurut dia rada cantik. Hari ini ia beruntung karena dari sekian siswa yang ia godain ada yang tersenyum dengan sangat manisnya. Arahnya pun jelas ke dirinya. Rey begitu yakin karena hanya tersisa dia dan gadis itu di depan kelas.
Bang Dion yang melihat kelakuan adiknya dari jauh sudah tak heran dengan kebadungannya. Tapi kali ini si adik seperti tidak menyadari jika sosok gadis yang ia goda bukan dari golongan manusia. Sang abang berharap si adik bisa kena batunya dengan mendekati gadis hantu dari kelasnya.
Kok dia bisa lihat hantu gadis itu Eyang?
Itu adalah bakat alami adikmu.
Tapi kenapa dia ga bisa lihat Eyang ya?
Sekali lagi lu tanya begitu, gue keplak pale lu Dion.
Dion tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Bisa galak juga nih Eyang ternyata, gumamnya.
Gue denger batin lu, Dionnn!
Eh iya maaf Eyang.
*****
Setibanya di kelas Rey merasa hatinya berbunga bunga setelah tadi bertemu dengan kakak kelas yang kebetulan sekelas dengan abangnya. Wajahnya yang cakep plus senyum manis yang menyertainya, jadi terbayang bayang terus tentangnya. Baru hari ini ia bertemu dengan cewek itu. Padahal setiap hari lewat kelas abangnya tak pernah ia bertemu dengan sosok itu. Wangi gadis itu juga beda dengan gadis yang biasa ia temui.
Selama pelajaran berlangsung Rey tidak begitu memperhatikan materi yang sedang di bahas oleh gurunya. Di kepalanya hanya ada wajah gadis tadi. Sambil senyum senyum sendiri ia terus membayangkan gadis itu. Meski sebenarnya ia tidak tahu siapa namanya. Memperhatikan sang guru yang sedang menerangkan materi, mata tertuju ke depan tapi pikiran ke gadis tersebut.
Hingga tanpa terasa bel sekolah kembali berbunyi, menandakan sudah waktunya jam pulang sekolah. Segera Rey mengemasi buku dan alat tulisnya. Begitu selesai semuanya bergegas ia menuju keluar kelas, ia yang sudah tak sabar ingin ke kelas abangnya ada misi tertentu. Apalagi kalau bukan menemui gadis yang ia temui tadi. Ketika bertemu dengan abangnya di depan kelas, ia meminta untuk menunggu sebentar.
Bang Dion yang sudah tau tujuan adiknya, terpaksa menuruti keinginan itu. Sambil senyum senyum sendiri Dion mengawasi kelakuan adiknya yang doyan mempermainkan anak orang. Ia berharap kali ini Rey bisa kena apesnya dengan menyukai gadis hantu yang ia temui tadi.
Setelah sekian menit menanti, Rey tak juga menemukan gadis itu. Ia jadi keki di buatnya. Tapi ia berusaha sabar, sambil celingak celinguk mencari. Bang Dion yang sedari tadi mengawasi tingkah adiknya akhirnya menegur.
“Lu cari gadis itu Rey?”
“Kok abang tau?”
“Gue nih abang lu, lahir dari rahim yang sama, tinggal di rumah yang sama sejak lahir, ya pasti tau lah kelakuan lu.”
“Iye bang, gue cari gadis manis dari kelas abang. Tadi istirahat Rey kan ketemu dianya, cakep beud sih bang.”
“Emang lu tau siapa dia?”
“Engga bang, baru ini lihat dia.”
“Oh my God, tolong hamba-Mu ini.” Sambil menghela nafas dengan berat.
“Emang kenape sih bang?”
“Dasar somplak, itu bukan manusia de.”
Sontak Rey terkejut dengan penjelasan abangnya. Kali ini ia yakin dengan omongan abangnya. Ada sedikit kekecewaan dari raut wajah yang ia tampakkan setelah mendengar kata Dion.
“Dia korban dari broken home ortunya Rey. Kasihan dia, padahal cakep memang anaknya.”
“Kok abang tau?”
“Lha kan doi sendiri yang cerita, kunyuk!”
“Eh iya, abang kan pawang demit ya.”
“Setan lu! Itu lho doi dari tadi duduk di sebelah elu, tapi lu nya yang bego.”
“Eh, beneran bang?! Ogah ah, cabut aja kita yuk!” Rey langsung beranjak pergi sambil menarik lengan bang Dion. Kali ini si abang tersenyum puas karena adiknya di kerjai demit. Dengan langkah gontai Rey berjalan menelusuri koridor sekolah.
Sementara di depan kelas hantu gadis itu hanya menatap kosong kepergian Rey dan Dion. Ia yang dulunya seorang bunga sekolah tidak bisa menuju kesempurnaan dalam kematiannya. Hingga arwahnya harus gentayangan di lokasi terakhir ia mengakhiri hidupnya yaitu di sekolah.
*****
Sepanjang jalan Rey tampak murung tidak seperti biasanya yang selalu reseh ngerjain orang. Dion yang melihatnya tidak menyangka bisa ngefek begitu seorang gadis yang tak ada wujudnya. Suasana di sepanjang sudah tidak seramai saat anak anak baru pulang. Sebagian sudah pada pulang ke rumah masing masing.
Cuaca hari itu yang sinar mentarinya sudah berada di atas kepala membuat orang tidak ingin berlama lama di bawah siramannya. Jarak ke rumah yang harus mereka tempuh di rasa cukup jauh jika dengan cuaca yang begitu cetar panasnya. Apalagi kedua bocah ini hanya berjalan kaki. Rey yang sudah apes karena gadis hantu di sekolah, kini harus merasakan panasnya sinar matahari yang menghujam ke tubuhnya.
Setelah tiba di mulut gang yang biasanya mereka lalui, di sana sudah tampak ramai dari pada hari biasanya. Aneh jam segini dan dengan cuaca yang lagi hot hotnya, masih ada yang mau berkerumun.
“Nah itu dia dua bocah yang tadi pagi!” kata salah satu pemuda yang tampak hidungnya di tutup oleh perban yang terlihat masih basah berwarna merah darah.
“Eh bukannya lu tadi yang pagi pada kabur kan?” sahut bang Dion.
Salah satu pemuda yang menggunakan anting di telinga dan merokok langsung berteriak dengan lantang pada Rey dan Dion.
“Hei bocah tengik! Gue kasih ampun lu pade asal minta maaf dengan anak buah gue.”
“Cuih … lu pikir ortu gue, perintah kami seenak jidat lu!” Rey membalas.
Tampak ia menghisap dalam dalam sepucuk rokok yang berada di tangan kanannya. Kemudian mengeluarkannya dengan raut wajah yang sangat kesal.
“Wah bener bener ye lu bocah! Jangan harap kalian bisa melewati gang ini.”
“Gimane Rey? Siap lu babak belur lagi?”
“Hehehe … kebetulan nih bang, Rey perlu pelampiasan dari hantu sekolah tadi. Ayo dah kita terobos aja bang. Anying!” tanpa ragu Rey maju duluan menyerang berandalan yang berjumlah ratusan.
Melihat adiknya yang tidak ragu ragu terjun dalam tawuran itu membuat semangat Dion ikut terbakar. Ia pun mengiringi adiknya sambil tersenyum sinis.
“Gas keun dah! Terobos an*ing!”
Sambil maju kedua bocah ini tersenyum bareng, tidak ada rasa takut sedikitpun dari Rey dan Dion meski lawan kali ini jumlahnya lebih banyak dari pagi tadi.
Sang musuh yang melihat nyali lawan begitu besar, sedikit terkejut. Tapi tidak mengendorkan nafsu mereka untuk menghajar kedua adik kakak tersebut. Hampir semuanya serentak maju menyerang kedua bocah itu. Merasa mereka banyak dan memiliki tubuh yang lebih besar dari pada musuhnya, jelas kelebihan itu membuat berandalan ini di atas angin.
Beberapa orang terpental setelah mendapat tendangan dari kaki Rey. Meski ia tak memiliki skill bela diri, tapi dengan modal nyali yang gede membuat Rey percaya diri untuk menghajar mereka yang menantangnya. Hanya dengan satu tendangan sudah mampu menggetarkan mental musuh.
Begitu juga dengan Dion yang menghindar dan mendaratkan sejumlah pukulan pada beberapa musuhnya. Dengan lincahnya gerakan bocah ini membuat musuh pada kewalahan. Satu, dua, tiga hingga lebih dari lima berhasil ia robohkan dalam satu pukulan.
Rey yang mendapat pukulan tidak merasakan sakit sedikitpun. Ia makin semangat untuk melawan musuhnya. Jika mereka hanya mampu mendaratkan satu atau dua pukulan pada tubuhnya, maka Rey bisa puluhan kali membalasnya. Tanpa ada rasa belas kasihan Rey terus merangsek maju ke gerombolan pemuda itu. Meski tubuhnya kecil, ia tidak menunjukkan rasa takutnya. Ia percaya diri karena merasa ada yang mengawal dirinya.
Sudah berlangsung sepuluh menit mereka melawan berandalan itu. Tampak kedua bocah itu masih tegak berdiri. Sementara dari pihak lawan sudah lebih dari separuh yang bergelimpangan di tanah tak sadarkan diri dan tak sanggup melawan lagi. Terlihat aura kedua bocah ini sudah meluap luap dan menunjukkan senyumnya pada sang musuh.
Rey dengan tatapan mata elangnya, mengincar ketua berandal itu. Tanpa ragu lagi ia maju sendirian menerobos lawan yang masih berkerumun. Karena musuh ragu untuk melawan, jadi Rey tambah leluasa menghambur mental mereka. Ada yang sampai salah memukul, hingga terpukul teman sendiri. Gigi copot dan darah segar yang keluar dari mulut dan hidung sudah jadi pemandangan yang biasa daam perkelahian. Rey meski beberapa kali terkena pukulan di wajah dan badannya, tidak lagi ia pedulikan. Semangatnya sudah bercampur dengan kesenangannya dalam tawuran tersebut.
Dion malah lebih santai menikmati pertarungannya, karena ia lebih banyak di bantu oleh sang adik yang seperti kesetanan jika mode tarung dalam kondisi on fire. Bergantian ia bahu membahu dengan sang adik menghajar satu persatu berandalan itu.