Hingga waktu telah berjalan selama beberapa bulan dan kini sudah memasuki tahun pertamanya Dion sebagai seorang pimpinan. Apa yang sudah didapatkan perusahaan lumayan mendapat perkembangan. Dari segi produk ada penambahan secara massal karena permintaan yang begitu banyak, bahkan untuk toko-toko menengah dan kecil di seluruh penjuru Kalimantan saja sudah dikuasai oleh perusahaan milik Koh Ming Ay ini.
Perkembangan tersebut berkat kinerja Robin yang ternyata diluar dugaan sangat efektif setelah pergantian kepemimpinan Dion. Walaupun dalam hati kecil Robin dendamnya semakin membumbung tinggi. Tetapi dengan cerdik pula ia bisa menyembunyikan hal tersebut dan menunggu momentum yang pas agar dapat mengeksekusi pembalasan dendamnya atas Rey, bahkan jika perlu pada Dion. Sebab, menurutnya dendam kesumat itu haruslah terbayar dahulu pada si Rey yang telah memporakporandakan hatinya dan harga dirinya di masa lampau. Tetapi iapun tidak menutup kemungkinan jika ia bisa menghabisi Dion pula karena apa yang Dion lakukan sekarang di masa kepemimpinannya sedikit membuatnya merasa iri, meski Dion selalu membantunya. Bahkan kenapa Robin bisa bekerja disini ya siapa lagi kalau bukan karena andil Dion?
Perkembangan yang dilakukan karena kerja keras Robin itu sebenarnya merupakan sebagian strategi liciknya untuk secara bertahap membalaskan dendamnya dengan Rey. Hal tersebut disarankan oleh si Iblis yang kini mulai leluasa kembali mempengaruhi Robin sejak Robin sudah berpindah tempat di semacam Kost dan berpisah tempat tinggal dari Rey dan Dion.
Saat Robin mengobrol dengan si Iblis soal situasi perusahaan yang sudah dipimpin oleh Dion sekarang. “Sekarang Dion kan jadi pemimpin perusahaan gue harus gimana ya? Gue rasa gue semakin susah balesin denda gue ke Rey sekarang, karena semakin kesini semakin berlaku baik aja mereka ke gue. Bisa-bisa malah gue luluh nih jadinya...”
“Yahh t***l, lu pinter di pelajaran doang sih, ga pinter di masalah beginian.” Ujar si Iblis yang merundung Robin dengan ledekan yang membuat Robin jadi sedikit malu.
“Ya gue harus gimana emangnya?”
“Dengan si Dion naik tahta, dan sekarang jadi dia jadi pimpinan. Itu seharusnya jadi jalan baru buat kita menghabisi Rey secara halus”
“Caranya gimana?”
Si Iblis semakin geram mendengar pertanyaan Robin yang klise itu “Harus gimana, harus gimana mulu...”
“Ya lu sebagai pimpinan Marketing, harus cari muka ke Dion. Biar Dion semakin simpati ke lu. Dengan begitu Rey pasti lama kelamaan akan merasa iri, karena merasa kok malah Robin yang diperhatikan kakaknya terus dalam bidang pekerjaan. Pasti dalam hatinya, Rey akan marah ke Dion dan minta keadilan ke Dion. Dan lu tahu kan? Dion begitu sayang ama si Rey? Pasti nanti kalau Rey terus-terusan marah ke Dion, secara ga langsung pasti bakalan bikin Dion stres dan stresnya Dion itulah yang bisa lu manfaatkan!” jelas Iblis pada Robin.
Robin baru sadar “Oh iya bener juga ya!”
“Kalau ga, jika nanti kinerja Dion udah mulai menurun di kerjaan. Lu bisa ngejilat ke si Lexy, biar dia semakin panas dan bukan tidak mungkin cara ini bisa menghancurkan Dion dan Rey secara halus”
Setelah sekian lama barulah Rey mengutarakan idenya karena sedari tadi ide hanya didapat dari Iblis “Dan selain itu gue bisa kumpulin Lexy, Sayan, dan beberapa orang yang ga suka sama Dion. Baru deh, gue bisa hancurin Rey karena ribut sama kakaknya, dan disisi lain gue juga bisa hancurin si Dion. Bonusnya, bisa aja kan gue bakalan ngegantiin posisi Dion? Hahaha boleh-boleh lah...”
Iblis hanya merespon sedikit bijak, “Ya itu mah terserah lu mau gimana? Yang penting udah ada gambaran dasarnya. Biar lu bisa bikin keluarga Rey hancur sehancurnya. Kalau pakai cara gamblang susah, kita pakai cara senyap dong!”
Barulah setelah obrolan licik tentang dendam yang tertunda Robin atas Rey. Robin teruslah memberikan kinerja terbaiknya untuk perusahaan. Sampai-sampai perusahaan mencapai profit tertinggi dalam sejarah, bahkan pencapaiannya kini melebihi semua pencapaian tertinggi perolehan dari masa kepemimpinan Koh Ming Ay. Hal tersebut membuat profit semakin menggunung. Dan menyebabkan kenaikan gaji pada beberapa posisi. Karena posisi yang paling berpengaruh sehingga membuat melonjaknya keuntungan bagi perusahaan didapatkan daripada kinerja yang dilakukan oleh Robin sebagai bagian manajerial Marketing. Maka dengan begitu Robin mendapatkan kenaikan gaji yang cukup tinggi diantara manajerial yang lain. Bahkan pendapatan Roxy, Lexy, dan Sayan saja sampai kalah. Kalau pendapatan Dion masih tetap sama karena ia tak mau begitu mengambil untung yang terlalu. Sebab baginya gajinya sekarang sudah melebihi dari cukup.
Menyadari hal tersebut lama-kelamaan Rey menjadi tidak senang dengan kehadiran Robin disini. Dan lambat laun Rey sering mempertanyakan keputusan abangnya yang acapkali menguntungkan Robin.
Seperti setiap hampir pulang ke rumah, kedua bersaudara ini selalu bertengkar karena urusan kerjaan.
“Abang sekarang ga adil. Berpihak ke Robin terus!” bentakan Rey karena iri terhadap pencapaian Robin.
“Dek, dengerin abang dulu.” Berusaha Dion menenangkan adiknya.
“Ga bang, pokoknya apa yang abang lakuin ga adil!”
“Ga adil gimana sih?”
Karena saking kesalnya Dion membentak Rey keras-keras “Lu ga tau, beberapa bulan perusahaan banyak bolongnya di masalah pembukuan. Lu ga tau beratnya abang ngadepi si Lexy yang selalu kontra dengan abang. Lu juga ga tau betapa beratnya abang harus menanggung beban perusahaan peninggalan Kokoh”
“Gue emang ga tau bang! Yang gue tau abang pilih kasih sama Robin! Apa-apa selalu Robin yang diuntungkan!” ujar Rey kesal.
“Gue gak nguntungin dia, gue ngasih dia sesuai hasil kerjaannya!” jawab abang Dion.
“AH APALAH! Lu dari dulu selalu belain dia bang, dan sekarang pembelaan lu berlebihan ke dia!”
Rey menambahi lagi “Gue jujur iri! Emang iya gue cuma sebates karyawan biasa. Ga kayak lu mentereng posisinya! Tapi lu ga menghargai kehadiran gue sebagai adik lu disono, di tempat kerja. Lu dengan gampangnya membuat jalan Robin selalu diuntungkan!”
Dion tak mampu menjawab dan hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri mendapati Rey semurka itu. Beberapa masalah di perusahaan sudah berhasil diselesaikan hingga mencapai prestasi yang tidak disangka-sangka, juga tidak membuat pikiran dan otak Dion menjadi tenang karena tidak ada lagi beban berarti yang ada di pundaknya. Tetapi nyatanya, beban itu datang lagi dari adiknya sendiri Dio dibuat bingung, ia berpikir apa yang disebut Rey tadi adalah kejujuran yang seharusnya ia terima dan sampai Dion beranggapan bahwa apa yang dikatakan adiknya juga ada benarnya. Tetapi apa yang ia lakukan hanya berdasarkan data dan kinerja yang dilakukan oleh masing-masing pekerja. Termasuk pada Robin sendiri.
Dari sini mulailah berlahan Rey sedikit mengalami keretakan hubungan dengan Dion, kakaknya.
Dion sendiri semenjak beberapa hari lalu selalu berselisih dengan Rey. Baginya jabatan penting dan bergengsi ini tiada artinya jika kini ia harus menanggung perasaan dan beban pada pundaknya lagi.
Karena apa-apa yang berkaitan dengan Rey, adiknya yang semata wayang itu akan benar-bear Dion usahakan untuk membuat Rey bahagia dan senang. Semenjak kehilangan kedua malaikatnya. Dion selalu berusaha agar apa yang dipunyanya saat ini, Rey. Untuk terus hidup dalam kebahagiaan. Sehingga bagi Dion, kesakitan yang ada pada dirinya itu bukanlah hal yang harus dikhawatirkan. Yang musti harus dikhawatirkan adalah melihat keadaan adiknya yang bersedih dan kecewa seperti yang dibuatnya kini.
Dion pun dengan lapang d**a menerima semua perlakuan Rey yang kasar itu. Karena ia yakin ini sementara, dan Rey akan segera sadar kembali. Sembari ia terus memperbaiki diri dan terus kritis terhadap sekitar. Hal tersebut Dion sadari dari beberapa kata-kata kasar Rey yang terselip makna nasihat yang agung dan bermanfaat bagi dirinya, kini dan nanti.
Meski begitu dari sisi Eyang Demak, menyadarkan Dion lewat batin “Nak, jangan pernah kau meninggalkan adikmu. Jangan pernah pula kau sakiti hatinya. Karena suatu saat nanti akan banyak keajaiban dari adikmu itu. Jaga ia seperti ayahmu telah menjaga ibumu”
Perlahan Dion terbangun dan tersadar dari lamunannya yang memikirkan dan mengkhawatirkan Rey. Apa yang ia dengar, ternyata asalnya dari Eyang Demak.
“Eh, Eyang. Baik yang... Akan Dion lakukan sebaik mungkin untuk menjaga adik Dion Eyang...” jawab Dion.
“Kau jangan pernah merasa sendirian, jangan pernah, sekalipun.”
Dion hanya bisa “Baik yang...”
“Tetaplah berpegang teguh pada jalan Allah. Apapun yang kau rasa berat niscaya akan diringankan. Apapun yang kau rasa panas niscaya akan didinginkan. Apapun yang kau rasa sulit pasti akan dimudahkan. Tegapkan pundakmu nak. Eyang selalu bersamamu” nasihat Eyang pada Dion singkat.
Setelah mendengar nasihat itu, Dion berpikir mungkin benar apa yang dikatakan Eyang padanya. Bahwasanya akan ada waktunya. Segala sesuatu pasti ada waktunya. Tidak selamanya yang berat akan berat selamanya, tidak selamanya yang panas akan panas selamanya, tidak selamanya yang sulit akan sulit selamanya jika kita telah ikhlas dan tulus pasti semuanya bisa berubah menjadi ringan, dingin dan mudah. Semudah kini ia tiba-tiba merasakan semacam perasaan yang plong dan melegakan tanpa disadari. Perasaan yang sedari tadi hilang atau bahkan bukan sedari tadi, sejak Dion terlalu keras mementingkan urusan duniawi karena telah dipromosikan menjadi pemegang keputusan pertama di tempat kerjanya. Padahal dahulu sebelum Dion menggantikan Koh Ming Ay, Dion selalu menganggap santai segala sesuatu yang sebenarnya tidak akan bisa disantaikan oleh orang lain. Kini malah sebaliknya, mudah sekali Dion panik. Dan tidak tenang.
Barulah kini sadar, ternyata yang dikatakan Eyang Demak tidak serta merta hanyalah nasihat tunggal saja. Setiap nasihat membawa pesan tersiratnya lagi yang sebenarnya harus Dion pecahkan sendiri. Dimana pesan tersirat tersebutlah yang sebenarnya menyimpan amanat yang begitu mendalam bagi Dion seorang. Karena bila-bila ia bisa mendapati dan mengerti dengan mudah apa amanat yang ingin Eyang Demak sampaikan pada dirinya maka niscaya ia pun dengan mudah menghadapi segala sesuatu yang dianggapnya berat. Sebab, jika semua amanat yang dimengerti itu diamalkan oleh Dion satu persatu dengan seksama dan khusyuk maka takkan ada yang berat bagi Dion. Sebab Dion dan Rey sudah digariskan untuk dititisi darah Eyang Demak yang mengalir darah biru kerajaan yang tidak hanya mewah secara harta benda, tetapi yang terpentingnya adalah keluhuran budi pekerti yang akan Dion dan Rey dapatkan suatu saat nanti bila waktunya tiba Dion dan Rey sudah bukanlah orang biasa lagi. Melainkan orang-orang terpilih yang mendapatkan manfaat dan karomah dari Eyang Demak.