Memang Eyang Demak termasuk kedalam golongan raja-raja Jawa yang pernah Rey datangi saat itu. Kerajaan yang pernah didatangi Rey saat itupun bukanlah kerajaan yang secara fisik dan kasat mata terlihat oleh manusia awam. Hanyalah orang-orang pilihan saja yang bisa melihat, dan hanyalah orang-orang terpilih saja yang bisa masuk kedalamnya. Bisa dibayangkan, antara orang-orang pilihan dan orang-orang terpilih saja sudah berbeda.
Kalau orang-orang pilihan adalah orang-orang yang diberi keistimewaan oleh allah SWT untuk dapat merasakan apa yang tidak dirasakan oleh orang biasa. Dalam artian, merasakan ini bisa diartikan sebagai meraba, mengecap, mendengar, mencium dan sebagainya dalam hal secara ghaib yang tidak bisa digambarkan oleh visual manusia biasa.
Kalau orang-orang terpilih ialah orang-orang pilihan yang diberi keistimewaan yang lebih lagi daripada sekedar orang-orang pilihan biasa. Dan merekapun terbagi lagi atas alirannya, ada yang beraliran putih dan juga beraliran hitam. Mereka-mereka yang putih, adalah orang-orang terpilih yang biasanya sebagai pengajar agama, pemuka agama, ataupun orang biasa yang dialiri titisan leluhur yang alirannya putih seperti Rey. Dan adapaun yang beraliran hitam itu seperti Rey. Walaupun Rey adalah termasuk orang-orang pilihan biasa awalnya, tetapi karena ia memiliki kelebihan secara intelijensia, maka dari itu ia bisa naik tingkat menjadi orang-orang terpilih.
Sedangkan untuk Eyang Demak ini juga turun ke dunia untuk melanjutkan dakwah nabi Muhammad SAW. Tugas yang diemban makhluk-makhluk istimewa seperti Eyang Demak ini sesungguhnya sangat berat. Karena harus mengembalikan ajaran dan menyampaikan kebaikan nabi Muhammad SAW di zaman yang dimana diisi oleh manusia-manusia yng sebelum digoda oleh para setan, iblis, dan jin saja sudah pada tersesat. Benar-benar tugas yang tidak dapat dipandang remeh.
Bukan tanpa alasan Eyang Demak memilih Dion dan Rey begitu saja. Tetapi memang secara silsilah pun dari generasi Rey, Dion, sampai ke generasi-generasi sebelumnya. Memang sudah ada garisnya. Yang nanti bertemulah garis tersebut bahwasanya Rey dan Dion juga adalah titisan Eyang Demak. Jadi bukan cuma mengikuti orang sembarangan. Mereka juga, Dion dan Rey nantinya akan menjadi generasi selanjutnya daripada Eyang Demak. Dan untuk masalah apakah setelah Rey dan Dion bisa ada generasi lagi yang “terpilih” lagi, itu tergantung daripada amalan-amalan yang sudah dilakukan Rey dan Dion.
Sebagaimana awal mula Dion dipertemukan dengan Eyang Demak. Melontarkan waktu kebelakang beberapa tahun lalu jauh sebelum sekarang, saat Dion masih sekitar umur tujuh tahun.
Dion saat itu sedang main mobil-mobilan di kamarnya “Bruummmm-brummmm....”
WWWUUUUOOSSZZTTT
Terperanjak Dion tiba-tiba ada cahaya putih sekali entah datangnya dari mana, semakin cahaya itu memutihkan sinarnya semakin jelas ada sesuatu disebaliknya. Dion hanya ternganga dan kebingungan. Mungkin dalam hatinya bertanya apakah ini? Atau siapakah ini?
Dion tidak langsung takut atau apa, ia penasaran dengan hal tersebut dan didatangilah sesuatu yang asing bagi dirinya.
Tiba-tiba terlihatlah jelas, yang disebalik asap dan cahaya putih tadi ada sesosok manusia, Dion masih percaya itu manusia. Dengan polosnya, Dion tiba-tiba langsung memeluk sosok itu selayak ia sedang memeluk ayahnya sendiri.
“Siapa kamu?” polos Dion berkata.
“Aku adalah Eyangmu nak” jawab Eyang Demak saat itu.
Dion belum paham maksudnya, “Eyang itu apa?”
Tetapi Eyang tidak menjawab, dan malah berlalu pergi dengan tanpa aba-aba. Dan Dion pun tambah kebingungan. Orang itu ditanya malah tidak menjawab batinnya berkata demikian. Tetapi yang namanya anak kecil, dia hanya peduli dengan dunianya, dunia yang hanya diisi dengan permainan.
Setelah kejadian itu Dion kecil mendatangi ayahnya setelah bermain dan bertanya pada sang ayah tentang kejadian tadi, ia bertanya pada ayahnya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. “Yah... waktu aku main tadi di kamar, ada seseorang masuk. Datang dengan putih, baju putih, dan ia bersinar yah...”
Dion masih melanjutkan ceritanya “Kutanya siapa dia, dia menjawab bahwa dia adalah eyangku. Kutanya lagi, eyang itu apa? Dia malah pergi entah kemana...”
Usia tujuh tahun itu jadi awal perjalanan Dion menjadi salah satu manusia terpilih yang dititisi karomah Eyang Demak. Semenjak saat itu, ayahnya sadar bahwa ternyata apa yang dahulu Eyang Demak pesankan pada dirinya ternyata berhasil diamalkan oleh dirinya, dan kini garis generasi itu berlanjut ke Dion.
Setelah mendengar penjelas itu, ayah Dion hanya mengangguk dan berkata “Eyang itu seperti Kakek nak...”
“Kakek itu, adalah orang tua laki-lakinya ayah atau orang tua laki-lakinya ibu” jelas ayah Dion saat itu.
Dion cukup pintar dan malah bertanya lagi pada ayahnya “Berarti Eyang itu sama dengan Mbah Wirjo ya yah?” (Mbah dalam Jawa berarti Kakek, atau Nenek). Mbah Wirjo merupakan ayah kandung ayahnya Dion.
“Ya, betul. Kamu kangen ga sama Mbah Wirjo?” ayah Dion malah menawari Dion untuk berlibur ke Mbah Wirjo.
“Kangen yah, aku pengin ke desanya Mbah lagi, sejuk kalau pagi...”
Setelahnya hanya canda tawa dan yang ditawarkan oleh ayah Dion pada Dion kecil. Dan seperti itulah kurang lebih awal pertama Dion menjadi orang terpilih dan dititisi oleh karomah Eyang Demak.
Setelah kejadian pertama kali itu, ternyata maksud ayah membawa Dion ke Mbah Wirjo adalah untuk mengadakan syukuran atas yang telah dialami Dion dimana terlah bertemu dengan Eyang Demak ini. Mbah Wirjo juga jadi sarana dan tempat berguru ayahnya tentang masalah ghaib ini. Menurut Mbah Wirjo, bahwa memang Eyang Demak akan datang jika ayah memiliki anak, tetapi Mbah Wirjo menambahkan bahwa nanti Dion akan ditemani satu orang lagi untuk menegakkan kebenaran bersama Eyang Demak, mungkin adiknya Dion. Tetapi menurut Mbah Wirjo hal itu tidak mudah akan dilewati mereka berdua. Dan Mbah Wirjo tutup pada ayah, bahwa jangan terlalu dipusingkan tentang apa yang sedang menimpa anaknya itu. Anggap saja seperti terapi untuk ia dan anaknya itu. Mbah Wirjo setelah itu jadi baik sekali pada Dion. Namun sayang walaupun terawangan Mbah Wirjo itu benar. Bahwa akan ada seseorang yang menemani Dion, yang mana tiada lain adalah Rey. Mbah Wirjo sudah meninggal Dunia dan tidak dapat bertemu dengan cucu barunya.
Eyang Demak juga sebelumnya merasakan akan ada satu orang anak spesial yang tidak biasa daripada anak-anak manusia lain. Yang suatu saat nanti akan menegekan kebenaran dan meneruskan kebaikan serta melestarikan dakwah peninggalan nabi Muhammad SAW.
Sama seperti Mbah Wirjo, Eyang Demak juga merasakan bahwa dalam perjalanannya selama Eyang Demak mengajarkan anak ini. Anak ini juga tidak semudah ketika sedang diajari atau dibimbing untuk mengadakan sebuah kebaikan. Sebab, gejolak yang menimpa anak ini begitu banyak, oleh karena itulah Eyang Demak begitu sabar membina dan membimbing anak ini. Tantangannya yang paling berat selama ia menitiskan karomahnya pada anak-anak manusia, baru pada manusia satu inilah yang kata Eyang Demak paling berat diantara yang lain. Siapa lagi kalau bukan Rey Arsyad.
Rey Arsyad, inilah yang dahulu pertama kali Eyang beri nama saat pertama kali Rey akan lahir dan jadi perebutan di dunia-dunia ghaib oleh berbagai macam bentuk makhluk ghaib. Arsyad ini dimaksudkan sebagai Arsy, atau Arasy yang artinya berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat. Sehingga pemberian nama Arsyad ini diharapkan dapat menjadi penyambung lidah antara doa Rey dan Dion agar tersampaikan dan dimakbulkan oleh Allah SWT dan diharapkan pula dengan arti nama yang mulia ini membuat Rey dan Dion semakin dekat dengan Allah SWT untuk meraih ridhonya dalam menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan ini. Betapa beruntungnya Rey dan Dion yang tersematkan nama ini, dimana dengan nama ini saja Rey dan Dion seperti sudah akan dijaminkan doa-doanya dan doa-doa dirinya tersebut juga terbantu dari doa-doa ibunya serta tak kalah penting doa-doa dari para pendahulunya termasuk Eyang Demak ini.
Sampai pada waktunya nanti Eyang Demak akan terus menanti waktu untuk melihat kesiapan Rey untuk datang, dan untuk menjalankan tugas beratnya. Dengan segala kerelaan hati yang teguh Eyang Demak dengan sabar karena atas perintah Allah SWT untuk membimbing Arsyad bersaudara ini. Untuk menjadi bukan hanya sekedar titisan saja, tetapi lebih daripada itu yakni menjadi bagian daripada orang-orang terpilih yang beraliran putih untuk menegakkan kebenaran, meneruskan kebaikan, dan melestarikan dakwah nabi Muhammad SWT selama di dunia.