Ibu

1047 Kata
“Mengapa kau tidak mau menerimaku lagi, oh cintaku?” ucap mantan kekasih ibu yang saat itu kembali lagi setelah melakukan pengkhianatan terhadap ibu. Mantan kekasih ibu itu telah berselingkuh dari ibu dan selalu bersikap kasar semasa menjalin masa pertalian cinta dengan ibu. Mereka sudah menjalankan masa pertalian sejak kuliah. Dan selama masa pertalian itu, Ibu tidak pernah sekalipun merasa dibahagiakan oleh mantan kekasihnya itu. Yang ada hanyalah perlakuan-perlakuan kasar yang didapat ibu. Betapa licik mantan kekasihnya itu, hanya mau membenarkan apa yang dianggapnya benar walaupun aslinya salah. Dan pandangan yang terbenar dan terbaik adalah hanya pandangan dirinya. Pandangan ibu sudah pasti keliru dan salah. Sungguh manipulatif sekali. Kecuali, saat pertama kali Ibu didekati olehnya. Masa-masa pendekatan itu mungkin masa-masa dimana ibu mendapatkan kebahagiaan dari dirinya. Karena dalam masa pendekatan itu orang yang sekarang sudah jadi mantan kekasih ibu itu memberikan segalanya pada ibu sehingga memuat ibu terkesima dan berpikir dia adalah orang yang baik. Dan menerima orang tersebut menjadi kekasihnya. Tetapi apa yang ibu dapat dari orang tersebut? Hanyalah tindakan-tindakan tidak menyenangkan, dan kasar saja. Pantas saja, hubungan antara orang tersebut dengan ibu hanya bertahan satu tahun saja. Orang tersebut diketahui hanya mengincar fisik ibu yang berparas ayu, dan suara lembutnya memang membuat kaum adam terpana mendengarnya. Tatapan mata yang sayu nan kemayu membawa kenyamanan bagi siapapun yang memandangnya. Sehingga tak jarang banyak pria-pria diluaran sana suka pada ibu juga. Dan saat ada beberapa orang yang mendekati ibu, meskipun ibu tidak menganggap orang-orang tersebut. Atau jikapun ibu menanggapinya itu hanya sebagai sebuah bentuk penghargaan atas teman saja. Tidak lebih, tetapi si mantan kekasihnya ibu itu langsung menganggap ibu sebagai orang yang gampangan. Sedangkan dia yang telah melakukan pengkhianatan secara jelas dan sadar malah mengelak jika disuruh mengaku oleh ibu. Oleh karena pengalaman tidak menyenangkan dari ibu itu. Membuatnya tidak berani menjalani tali kasih lagi dengan orang lain sebelum dirinya sembuh dengan lukanya sendiri. Dan benar saja, ibu sendirian selama beberapa lama bahkan tidak disadari sampai akhirnya ibu lulus kuliah ibu membiarkan status lajangnya. Sampai waktunya nanti tiba, menurutnya pasti ia akan mendapatkan apa yang pantas untuknya. Jadi tidak begitu dikhawatirkan soal perjodohan. Ibu lebih mengkhawatirkan tentang nasibnya di masa depan. Tentang apakah dia akan melanjutkan bersekolah lagi di perguran tinggi S2 atau memilih bekerja dan mulai mengumpulkan uang. Ibu merupakan seseorang yang terlahir dari keluarga sederhana, tetapi Ibu memiliki otak yang encer. Seencer nasibnya jika berusuan soal laki-laki. Selama dalam kesendirian ibu juga masih banyak laki-laki yang mengejar-ngejarnya. Akhirnya ibu memutuskan diri untuk bekerja saja, dan singkatnya ia memohon izin pada orang tuanya untuk bekerja. “Mah.. Sepertinya Nadine ingin bekerja saja...” Nadine, nama ibu Rey dan Dion. Mamahnya ibu menjawab “Mamah sih terserah apa maumu dan apa inginmu, yang mamah mau adalah setiap langkah yang kamu akan ambil haruslah dipertimbangkan dahulu secara matang soal baik buruknya ya nak...” Dengan sambil menyeruput kopi Papah tidak seperti Mamah, terkesan cuek dan tidak peduli pada anaknya sendiri Nadine. “Bagaimana dengan papah?” tanya ibu pada papahnya saat itu. “Yaa, terserah kamu saja. Ingat batasan. Jangan sampai kau dekat dengan lelaki seperti mantanmu itu. Akan papah habisi kalau kau dekat dengan orang seperti dia lagi” nasihat papah malah membahas tentang masalah percintaan. “Tidak perlu papah bilangi pada Nadine, Nadine sudah akan memblacklist orang itu pah... Nadine juga sepertinya benci dengan orang-orang seperti dia, maafkan Nadine dahulu, mungkin Nadine khilaf...” “Ya sudah. Memangnya kau akan kerja dimana?” tanya papah “Kalau bisa sih yang relevan dengan gelar sarjanaku.” “Memang gelarmu apa?” Nadine sedikit sebal dengan jawaban Papahnya “Ih Papah!!!” “Ya sudah, sini-sini...” setelahnya obrolan itu diakhiri dengan pelukan hangat seorang ayah pada anak gadisnya yang baru lulus kuliah dan memutuskan untuk bekerja. Dimana pekerjaannya nyambung dengan jurusannya saat kuliah, yaitu Ilmu Komunikasi. Entah dimana ibu akan bekerja, yang jelas ibu akan mencari pekerjaan yang halal dan baik. Untuk dirinya dan untuk keluarganya nanti. Ya, Nadine sudah memikirkan tentang keluarganya nanti. Ia berharap punya suami seperti Papah. Namun roda kehidupan tidak seperti apa yang sudah direncakan oleh kita. Begitu juga apa yang disadari ibu saat itu. Ternyata ibu hanya bekerja sebagai seorang pelayan apotek. Meskipun seharusnya ia menempuh pendidikan farmasi agar legal untuk melayani masalah tentang obat-obatan jika ditanya oleh pembeli. Tetapi, karena keberuntungan berpihak pada dirinya dimana ia bekerja sebagai apoteker di tempat orang tua temannya, yang mana orang tua temannya dengan orang tua sendiri sudah saling kenal. Dengan alasan untuk menemani temannya itu, akhirnya daripada ibu menganggur akhirnya ibu menerimanya. Ibupun jadi hafal segala macam jenis obat-obatan dan paham diferensiasi keluhannya, misal obat batuk dibedakan atas obat batuk berdahak dan tidak berdahak. Obat batuk berdahak terbagi lagi atas obat batuk dengan dahak kering atau dahak basah. Dan seterusnya. Dan sampailah kenyataan mengantarkan ibu pada waktunya. Waktunya ibu untuk bahagia. Disinilah, awal bertemu antara ayah dan ibu. Yang saat itu ayah adalah seorang mahasiswa yang jauh berbeda empat tahun diatas Ibu dan saat pertama kali bertemu dengan ibu. Ayah sudah bekerja sebagai seorang analis bisnis di sebuah perusahaan. Saat itu ia sedang sakit dan hendak membeli obat sendirian. Dan bertemulah dengan ibu. Dan oleh karena rasa iba seorang ibu yang begitu tinggi. Ibu menyarankan agar ia berobat ke klinik saja, si ayah menjawab bahwa tidak memiliki uang yang cukup untuk berobat ke klinik. Menurutnya uangnya hanya cukup untuk membeli obat saja, karena benar saja saat itu sedang akhir bulan. Ibu dengan tanggap langsung berbicara dengan dokter yang berada di klinik apoteknya itu. Dan langsung mengarahkan ayah ke dokter, ayah hanya berujar “Saya bayar pakai apa mbak?” dan ibu langsung membiarkan ujaran ayah tersebut. Sejak saat itulah, awal pertemuan itu menghasilkan sebuah keajaiban untuk mereka berdua. Tidak ada ikatan cinta sebelum menikah. Yang jelas sejak kejadian itu, ayah benar-benar memendam perasaan cinta pada ibu karena perlakuan ibu yang begitu perhatian dan tulus bahkan pada orang yang tidak dikenalnya. Ayah juga hanya sekali datang ke apotek itu. Dan terakhir kali mereka bertemu ya hanya saat itu, saat ayah begitu tidak enak pada ibu dan selalu mengucapkan terimakasih banyak-banyak pada ibu. Ibu hanya tersenyum, dan saking terpingkalnya ibu berbicara “Udah mas, uangnya simpan aja. Saya yang bayar nanti ke dokter. Mungkin itu rezeki masnya, semoga cepat sembuh ya mas...” ujar ibu mengakhiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN