Ayah, Rey & Dion

1971 Kata
Ayah benar-benar merasa terkesan oleh perlakuan ibu itu. Bahkan sangat membekas dalam hati ayah. Mungkin sudah terpatri bahwa perempuan paling baik yang pernah ditemuinya adalah ibu. Kehidupan antara ayah dan ibu tentu saja berbeda. Ayah datang dari keluarga yang sedikit mentereng. Meskipun begitu ia sudah diajari oleh bapaknya, bernama Wirjo. Bahwa untuk tetap rendah hati adalah sebuah keharusan, tidak perlu menampakkan apa yang dimiliki melainkan tampakanlah apa yang dikuasai. Ayah merupakan seorang lulusan ekonomi, dan lihai untuk urusan perhitungan keuangan. Oleh sebab itu, mengapa saat membeli obat di apotek dan bertemu ibu ayah tidak memiliki banyak uang padahal dia adalah seorang analis bisnis yang meskipun junior seharusnya gajinya sudah lumayan. Ayah gemar menyisihkan uang untuk dana darurat, dan menurutnya uang yang sudah dipisah sebagai dana darurat tidak boleh diganggu. Dalam artian meskipun sebenarnya sakitnya saat itu sebenarnya darurat ayah menganggap bahwa sakitnya akan sembuh dengan obat-obatan dari apotek saja. Meskipun ia tidak menyangkal lari ke dokter seharusnya akan lebih baik, dan benar saja setelah ayah pergi ke dokter oleh karena andil ibu. Hanya beberapa hari saja dirinya langsung membaik. Ayah akhirnya kembali bertemu dengan ibu saat sudah waktunya. Ya benar, waktunya untuk mereka bertemu dalam tali kasih yang serius. Ayah sudah benar-benar terpana pada kebaikan ibu itu. Ayah adalah pria yang yang meskipun sangat maskulin, sebenarnya hatinya mudah peka dan mudah mengingat segala kebaikan orang lain daripada dirinya. Hal inilah yang akan ayah turunkan ke Dion. Selain mudah peka dan mengingat-ingat kebaikan orang lain, ayah juga orangnya temperamen dan mudah marah. Ya setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mudah marahnya inilah yang akan diturunkan ke anaknya nanti siapa lagi kalau bukan Rey. Dan sampailah waktunya itu, ayah atau yang bernama asli Andy, mempersunting ibu di rumah ibu. Mendapatkan kabar itu, ibu kaget bukan kepalang. Sebab, ternyata keajaiban benar-benar menimpa mereka berdua. Karena secara jujur juga sebenarnya saat pertemuan pertama kali itu. Ibu sudah jatuh hati pada ayah, karena tingkah lakunya yang tidak enakan dan sangat ramah pada perempuan. Apalagi ayah, yang diperlakukan bagai seseorang yang sudah mengenalnya walaupun saat pertemuan pertama kali itu mereka belumlah saling mengenal. Sebelum ayah melamar ibu tersebut, sebenarnya mereka sudah bertukar kontak saat pertemuan pertama kali itu. Ayah berniat menyimpan nomor ibu untuk kepentingan obat-obatan bila ia sakit lagi. Ternyata tidak dinyana, mereka malah akrab dalam percakapan lewat nomor itu. Meskipun begitu, ayah bukanlah laki-laki gampangan yang dengan mudah selalu menghubungi ibu atau bertingkah murahan seperti menggoda atau merayu ibu. Ayah hanya mengkontak ibu seperlunya, bahkan ayah bisa mengetahu alamat rumah Ibu saja saat ayah hendak mengambil obat yang ada di ibu karena saat itu apotek tengah tutup. Seperti keajaiban yang terjadi pada keduanya. Dan saat itu sederhana sekali, ayah ditemani dengan orang tuanya bertemu dengan orang tua ibu saat itu. Tanpa basa basi yang panjang lebar, bapaknya ayah hanya berbicara sebagai pengantarnya saja, sehingga ayah bisa mengatakan niat sesungguhnya langsung ke ibu dan ke orang tua ibu. “Jadi begini ibu Fitri dan Bapak Ferri. Niat kedatangan Andy beserta orang tua adalah untuk mempersunting adik Nadine...” Orang tua dari sisi ibu langsung melimpahkannya pada ibu sendiri untuk memutuskan. Karena ibu adalah seseorang yang penuh pertimbangan yang matang dimana sifat ini yang akan diturunkan ibu pada anak pertamanya nanti Dion. Sebenarnya pun tidak ada barang sedetik ibu membayangkan bahwa ayah akan melamarnya, karena ibu hanya pasrah pada allah SWT untuk menyerahkan semua keputusan pada yang Mahakuasa. Dan ketika ibu mendapatkan hal yang mengagetkan dirinya benar-benar. Ibu begitu sensitif dan seraya berucap bahwa ia menerima pinangan dan niat baik ayah. Bisa ditebak beberapa menit kemudian pecah tangis harus bahagia yang ibu pancarkan di momen-momen bersejarah dan indah itu. Sifat ibu yang mudah menangis ini nantinya akan diturunkan ke anak keduanya sekaligus anak terakhirnya Rey. Ibu akhirnya menerima pinangan tersebut dan akan menikah beberapa minggu setelahnya. Meskipun keluarga ayah adalah orang yang berada. Tetapi, pernikahan pun dilangsungkan secara sederhana dan hanya mengundang beberapa orang terdekat saja. Itupun diadakan di aula sebuah hotel bintang tiga. Alasannya memilih untuk menyewa bangunan adalah agar tidak mengotori lingkungan rumah saat hajatan. Karena kita tahu kebiasaan dari budaya kita, banyak meninggalkan sampah di area hajatan dan tidak membersihkannya lagi malah melemparkan tanggungjawab itu pada penyelenggara pernikahan. Bukannya pada diri sendiri yang sudah mengadakan hajatan. Tetapi begitulah manusia ada yang peduli ada yang tidak. Tetapi Ibu Nadine dan Ayah Andy adalah termasuk yang orang-orang yang peduli. Mereka menikah dengan jarak empat tahun diantara keduanya. Ayah yang berusia 27 tahun saat itu, dan ibu baru berusia 23 tahunan. Perbedaan usia itu tidak menghalangkan niat baik keduanya untuk mengikrarkan janji suci untuk mengikatkan kasih sayang atas karunia dan ridho-Nya agar hidup semakin bermakna dan terberkahi. Dan benar saja. Selama menjalani masa rumah tangganya, mereka dikaruniai anak-anak yang hebat, pemberani, dan tampan. Anak pertama mereka bernama Dion Fadilah dan anak kedua mereka bernama Rey Arsyad. Oleh karena itu, saat kelahiran Rey, keduanya diamanati untuk menamai Rey dengan sematan nama Arsyad, akhirnya sematan itu ditempelkan pula pada abang Dion. Dan anak-anak mereka bernama Arsyad bersaudara meskipun tidak ada dari orang tuanya memiliki nama bernama Arsyad. Tetapi, saran dari seorang Eyang Demak adalah petunjuk kecil tuhan agar hidup mereka diberkahi kebaikan. Karena apa yang disarankan oleh Eyang Demak bukanlah sekedar saran biasa. Melainkan semacam mandat dan amanat yang menurut ayah harus diamalkan. Bukan bermaksud untuk syirik kepada selain allah tetapi justru kehadiran Eyang Demak adalah pembawa kabar gembira bahwa allah masih menghidupkan wali-walinya untuk menegakkan kebenaran di atas bumi. Kebenaran yang seharusnya sudah diamalkan dan diterima oleh setiap kita. Tetapi sudah jadi yang namanya kehendak yang Kuasa, jadi tidaklah mungkin seseorang hidup sesuai dengan kemauannya saja. Bisa saja allah SWT membuat kita semua menjadi Islam, tetapi apa aslinya? Allah membuat manusia dengan ragam macam bentuk, dan latar belakang. Apa tujuannya? Apa maksudnya? Hanya allah yang tahu. Wallahualam Bishawab... Sejak kelahiran Dion, ayah Andy dan Ibu Nadine telah mengajari Dion untuk terus bersikap baik pada setiap manusia. Agar tetap bersikap adil pada setiap orang. Terutama Dion, ia begitu memperhatikan setiap nasihat yang dilontarkan orang tuanya pada dirinya.            Saat ayah menasihati Dion, saat Dion remaja dan beranjak dewasa. “Jadi orang jangan seenaknya, kau harus memikirkan jatah dan hak yang lain juga. Jangan egois, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau hidup dengan banyak manusia di bumi ini. Ada banyak kepentingan lain yang sama pentingnya dengan kepentingan dirimu. Jangan merasa yang paling penting!” kata ayah pada Dion yang saat itu hendak masuk ke sekolah menengah atas. Tidak ada kata lain selain “Baik yah, akan Dion usahakan.” “Kalau ayah tiada, jaga ibu dengan baik. Nakal tidak apa, asal jangan sampai merenggut hak orang lain. Nakal disini dalam artian jika kau melihat sebuah kemunkaran, kebathilan, kezaliman. Maka kau boleh bersikap nakal, nakal nakalah yang baik yon...” “Nakal yang baik itu maksudnya bagaimana yah?” “Ya misalnya contoh, kamu melihat jika nanti kamu sudah beradik. Kamu melihat adikmu sedang menangis karena orang lain, maka belalah dia. Jangan hanya diam saja. Adikmu adalah darah dagingmu juga kan?” “Pastilah yah, itu kan sudah diajarkan ayah. Ayah sudah mencontohkan banyak kepadaku dan ayah juga selalu melindungi ibu. Aku ingin seperti ayah yang selalu melindungiku, dan ibu.” Kata Dion sedikit bijak, ya memang kebijaksanaan Dion didapatkan dari sifat bijak yang dipunyai ibu sendiri. Dion pun tiba-tiba menyarangkan satu pertanyaan yang membuat bingung “Tetapi bagaimana jika adikku yang salah yah, dan dia menangis...” “Ya kamu nasihati adikmu, apa yang benar dan apa yang salah. Pokoknya jangan sampai kamu membiarkan dirimu dan orang-orang yang kau sayangi, melakukan kemunkaran, kebathilan, dan kezaliman. Sekarang ayah tanya, apa kau tau maksud tiga kata itu?” Dion dengan polos berkata “Tidak tahu, memangnya apa yah?”  Barulah setelahnya ayah menjelaskan lebih panjang tentang apa itu kemunkaran. Yang berasal dari kata Munkar. Yang berarti melanggar perintah Tuhan. Kebathilan yang berasal dari kata dasar bathil, yang berarti tidak benar dan sia-sia. Dan yang terakhir kezaliman yang berasal dari kata zalim yang artinya kejam dan keras tidak berbelas kasihan. Apa yang dilakukan ayahnya itu ternyata begitu membekas pada Dion walaupun ayah kini sudah tiada. Apalagi saat ia sudah beradik dengan Rey. Hubungan antara mereka dengan ayahnya sangatlah dekat. Begitu juga dengan ibunya. Apalagi hubungan antara Rey dan Dion. Mungkin seperti seorang sahabat, saudara, teman, musuh, dan kerabat semuanya menyatu jadi satu. Karena tidak dipungkiri pula bahwa apa yang mereka alami haruslah melewati perselisihan pendapat juga. Dan perselisihan pendapat mereka pun tidak hanya terjadi selama satu dua kali saja. Tapi banyak sekali. Salah satunya dengan perselisihan pendapat yang mereka alami sekarang. Tentang rasa iri Rey terhadap Robin yang diluapkan kepada abangnya Dion. Bahkan jauh sebelum ini, banyak pertikaian dan konflik dari Rey dan Dion. Salah satunya adalah karena pertentangan pendapat, seringkali mereka berselisih tentang kebenaran. Apa yang Rey anggap benar terkadang dianggap keliru oleh Dion dan sebaliknya. Dan masalah dengan topik yang sama sebenarnya sudah mereka debatkan sejak lama. Baik saat ayah ibu masih ada dan saat mereka sudah tiada. Bedanya, kalau saat ayah masih ada mereka berdua pasti akan dihukum. Apalagi bila mereka ketahuan menangis, karena didikan ayahnya sedikit tegas bahwa laki-laki sejati harus menyembunyikan tangisnya. Jika menangis maka berarti lemah. Tetapi apa yang ada dalam diri Dion dan Rey tentunya berbeda, mungkin Dion bisa dengan mudah melakukan apa yang dinasihati ayahnya. Karena memang secara gen dan kromosom ia lebih condong kepada ayahnya, ada beberapa juga dari ibunya juga tapi tak sebanyak gen dari ayahnya. Sedangkan Rey sebaliknya. Ia lebih banyak memiliki gen dan kromosom dari sang ibu. Nah, jika saat ibu masih ada dan ayah sudah tiada mereka mulai sering berselisih. Tetapi kalau sampai melihat ibu bersedih karena konflik mereka, maka mereka besoknya akan langusung meminta maaf pada ibu dan saling berbaikan kembali. Seolah-olah tidak ada masalah lagi baik saat ada ibu maupun saat ibu tidak ada bersama dengan mereka. Apalagi jika Ibu dan Ayah sudah dua-duanya pergi, konflik antara Dion dengan Rey begitu sering terjadi. Bahkan saat Rey masih berkuliah di Jogja. Ia kerapkali ditegur abang Dion dari kampung yang berada di Kalimantan agar tak terlalu boros. Sering juga dalam telepon mereka berselisih. Dan salah satu selisih yang terbesar adalah perselisihan ini. Tetapi perlu diketahui wajar adanya bila perselihan diantara mereka jadi semakin memanas saat ditinggal oleh kedua orang tua mereka. Apalagi saat tahu bahwa ibu tidak ada keduanya begitu mengalami patah hati yang hebat, karena sedekat-dekatnya mereka dengan ayah tetapi sejatinya mereka paling dekat adalah dengan ibu. Bersama ibu mereka bisa bercerita tentang kenakalan mereka di sekolah, kebandelan mereka. Dan sebagainya, dengan ayah jika mereka bisa bercurhat ria soal masalah serupa. Maka bisa dipastikan esok harinya pipi keduanya akan merah karena tangan ayah yang ringan. Ayah begitu tegas, bukan kejam. Semua itu demi kebaikan anak-anaknya. Ayah tak mau anaknya berada dalam zona kemunkaran, kebathilan, dan kezaliman. Maka dari itu, kenakalan dan kebandelan yang membawa kesalahan serta kerugian sudah barang tentu akan ditolak mentah-mentah oleh ayah. Ibu karena orangnya lebih santai dan bijak, ia lebih selow dalam menanggapi segala yang dilakukan keduanya. Tetapi biar bagaimanapun, tanggapan yang ibu berikan masih dalam batas wajar. Jika anak-anaknya mengalami kesalahan yang benar-benar merugikan, maka bukan tidak mungkin ibu akan menghukum Dion dan Rey. Karena ibu tidak ingin anaknya keluar dari batas-batas kebaikan. Oleh sebab itulah, mengapa Rey begitu depresi saat ditinggal ibu karena malaikat kebaikannya telah pergi, yang menahannya dari segala batas-batas keburukan sudah tidak ada lagi. Itu kekurangan yang Rey miliki. Tetapi kekurangan tersebut kebetulan bisa ditutupi oleh kelebihan Dion yang bisa mengatur emosi dan lebih bijak dalam bertindak seperti ibu serta pembawaan tegas dari ayah selalu mengaliri darahnya.            Sebab yang namanya anak, adalah seorang keturunan yang mengalir darah-darah orang tuanya. Jadi sebagaimanapun seseorang benci terhadap orang tuanya dan tidak mau dengan orang tuanya, akan ada waktunya bisa saja ia merasakan keburukan daripada orang tuanya tersebut. Sepatutnya orang tua memperlakukan anak dengan baik, dan anak seharusnya menghargai orang tua bagaimanapun juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN