Berlari dalam kehampaan, itulah ungkapan yang pas bagi ayah Andy dan ibu Nadine saat menantikan seorang anak sejak tiga tahun masa perkawinannya bersama-sama. Tetapi rezeki anak baru datang pada mereka berdua, pada tahun keempat. Sudah tidak ada lagi kehampaan saat Dion hadir.
Saat itu, Dion dilahirkan di masa-masa krisis. Karena saat itu barulah tahun-tahun awal daripada orang tuanya yang berasal dari Jawa bertransmigrasi ke Kalimantan. Di Kalimantan inilah baru dimulai petualangan kehidupan seorang Dion. Meskipun asli Jawa baik dari kedua orang tuanya dan Dion sendiri juga. Tetapi, dengan dilahirkannya ia di Kalimantan, tak ayal secara tidak langsung memberikan dirinya semacam titisan darah Borneo yang mengalir dalam jiwanya.
Sebab dari lahir, makan, minum, dan berak. Dion lakukan disini, di tanah ini. Tanah yang penuh dengan kelestarian lingkungan hidupnya. Lingkungan dimana yang sedikit banyak mengajari Dion bagaimana caranya agar tetap hidup dalam kekurangan. Dan bagaimana tetap kuat dalam keletihan.
Sudah diketahui bahwa pada medio 80-an sampai dengan medio 90-an program pemerintah yang mencanangkan adanya program perpindahan satu penduduk di wilayah yang padat dipindah ke tempat yang sepi penduduknya tetapi memiliki luas wilayah yang luas. Program tersebut dinamakan program transmigrasi, oleh pemerintahan Soeharto pada saat itu. Biasanya orang-orang yang mengikuti program tersebut berasal dari pulau Jawa yang besaran penduduknya sudah banyak sekali. Biasanya juga yang dipindahkan itu adalah orang-orang bersuku Jawa, Sunda, dan Madura.
Tetapi tidak menafikan pula bahwa ada dari suku lain dari pulau lain juga yang dipindahkan domisilinya oleh pemerintah. Program itu juga, mendukung agar para warga masyarakat dapat berkumpul dengan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda seperti kondisi geografis, sosial, budaya, dan demografi.
Dengan keadaan yang berbeda jauh dari Jawa, sudah dapat dipastikan Dion kecil melalui hidup dalam kesederhanaan. Saat mereka belum mempunyai anakpun mereka sudah hidup biasa saja dan sederhana, oleh karena di Kalimantan kondisinya tidak seenak seperti di Jawa pada awalnya, membuat para warga pindahan merasa tidak betah pada awalannya. Tetapi, seiring berjalannya waktu justru banyak warga pindahan lebih nyaman tinggal di Kalimantan sedang warga asli Kalimantan banyak juga yang merantau ke Jawa entah untuk mengais rezeki atau menempuh pendidikan, biasanya kebalikan daripada pendudukan Jawa. Penduduk Jawa pergi ke Kalimantan untuk menyambung hidup dan kepentingan Ekonomi, sedangkan penduduk Kalimantan ke Jawa untuk berlibur atau menempuh jenjang pendidikan tertentu.
Tetapi dengan segala keterbatasan yang ada Dion kecil berhasil tumbuh dengan baik dan cekatan. Ia menjadi bocah lucu yang banyak digemari orang kesana-sini. Banyak tetangga gemas padanya saat kecil. Dion kecil tumbuh di pemukiman khusus transmigran Jawa di sebuah desa.
Disini uniknya, karena waktu itu pada tahun 80-an dan 90-an banyak sekali program pemerintah tentang perpindahan penduduk ke Kalimantan dari pulau lain. Membuat beberapa wilayah yang sudah dirancang untuk dibikin jadi sebuah tempat tinggal di Kalimantan yang diberinama seperti nama sebutan sebuah kode-kode rahasia. Seperti tempat yang ditinggali oleh Dion kecil dan orang tuanya, yakni bernama RK. Sebenarnya RK ini bukanlah disebut desa, tetapi semacam distrik yaitu sekumpulan desa-desa tetapi tingkatannya tidak lebih besar daripada kecamatan. Entah apa artinya RK tersebut mungkin semacam kode kependudukan entahlah. Yang jelas di dalam satu distrik terdiri dari lima sampai dengan enam desa. Kan jika kecamatan jumlah desanya bisa lebih dari sepuluh, kalau distrik tidak. Nah satu kecamatan diisi oleh dua sampai tiga distrik.
Wilayah RK ini juga bukannya cuma satu saja, tetapi ada RK yang lain. Seperti RK-1, RK-2 dan seterusnya. Sedangkan nama desa yang Dion dan orang tuanya sejak dahulu ditinggali oleh mereka adalah desa Sarijaya.
Dalam setiap desa pula dikhususkan oleh beberapa suku saja, misal di RK-1 diisi oleh para penduduk Jawa dari suku Sunda, maka di RK yang lain bisa saja diisi oleh beberapa penduduk dengan suku yang lain. Sedang Dion sekeluarga tinggal di RK-6 yakni diisi oleh kalangan Jawa. Mereka tinggal dengan berbagai macam jenis orang Jawa. Jawa halus dari jawa tengah seperti Solo, Yogyakarta dan sekitarnya, ada juga Jawa kasar dari Jawa Timur, dan sisanya adalah Jawa ngapak seperti dari wilayah Banyumas, Tegal dan sekitarnya.
Inilah yang menyebabkan kenapa di Kalimantan pada masa orde baru sangat sensitif tentang berbagai macam isu. Apalagi di masa orde baru apa-apa serba dibatasi, dan setiap orang terkesan harus sama. Karena jika kita ketahuan berbeda haluan, maka akan berisiko sekali bisa-bisa nyawa taruhannya, begitulah politik setiap kepemimpinan diisi oleh kepentingan-kepentingan yang berbeda, yang jelas bukan kepentingan rakyat.
Namun, pada waktunya pun rakyat akan menang. Seperti contoh kemenangan rakyat yang murka akan kediktaktoran Presiden Indonesia saat itu yang telah menjabat selama lebih dari 30 tahun. Dan membuat rakyat marah karena tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan keluh kesahnya, apa yang harus disampaikan haruslah sesuai dengan kehendak Presiden saat itu. Sehingga membuat rakyat sudah tidak tahn lagi dan mengadakan revolusi yang melahirkan reformasi di ibukota meski harus menelan korban jiwa dari banyak kalangan. Tetapi itu adalah salah satu saksi sejarah kelam tentang betapa sengitnya kontestasi politik itu.
Tidak hanya terjadi di ibukota dan seluruh penjuru Jawa saja. Kemudian setelah reformasi dan penurunan paksa Presiden Soeharto itu, banyak kejadian konflik serupa yang melanda Indonesia. Seperti beberapa gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS) dan Timor Timur yang ingin berpisah sehingga mengharuskan presiden penerus yakni BJ Habibie harus bertindak cepat dan lugas untuk memutuskan dan mengadakan referendum terhadap beberapa wilayah yang ada gerakan separatis itu. Dan kita kehilangan Timor Timur karena beberapa sebagian besar warganya memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan merdeka dari Indonesia.
Selain gerakan separatis juga, ada beberapa gesekan konflik yang disebabkan intrik-intrik SARA yang berkaitan dengan hal-hal sensitif seperti etnis, ras, suku, warna kulit, dan agama. Beberapa diantaranya terjadi karena etnis dan ras terjadi di Kalimantan, dan Sumatera. Dan yang disebabkan karena agama terjadi di Sulawesi. Mengalami semua kejadian kelam itu.
Dion kecil tumbuh dengan pengalaman yang agaknya kurang nyaman dirasakan oleh seorang anak kecil. Tetapi, hal itu tidak membuat Dion malah terpuruk. Justru membuat jati diri Dion terbentuk sedari kecil. Dimana ia sering dihadapkan oleh suatu konflik besar dan bagaimana ayah dan ibunya bisa dengan begitu sabar dan penuh kedisiplinan mengajarkan Dion untuk bagaimana menghargai perbedaan.
Ibu dan ayah tidak pernah sekalipun mau Dion membeda-bedakan orang lain dari penampilan atau latar belakangnya, karena dari berbagai contoh kelam sejarah Indonesia itu menurut kedua orang tua Dion haruslah dijadikan sebagai pelajaran dan jangan sampai ditutup-tutupi. Biarkan itu dibuka dan biarkan generasi muda mengetahuinya, bahwa semakin banyak kita mengalami pengalaman yang kelam semakin banyak pula kekuatan kita untuk bersatu padu menjadi Indonesia yang bhinneka.
Hingga sampailah pada waktunya dimana Dion menjadi seorang remaja dan mau masuk Sekolah Menengah Pertama, dia akhirnya dikaruniai seorang adik yang diberikan allah SWT pada keluarganya. Mendapati hal tersebut bukan hanya Dion yang senang melainkan ayah Andy dan ibu Nadine juga merasakan betapa bersyukurnya mereka. Dengan mereka pindah ke Kalimantan membuat mereka jadi sadar akan banyak hal dan akan banyaknya pelajaran yang mungkin tidak akan mereka dapatkan jika mereka tinggal di Jawa.
Itulah salah satu awal mula mengapa Dion jadi pribadi yang pemberani dan bijaksana. Selain karena keturunan daripada ayah Andy dan ibu Nadine, memang pengalaman sangat berpengaruh pada kehidupan Dion. Sebab ia mengalami banyak kemalangan yang tidak dialami oleh generasi sekarang bahkan oleh generasi Rey sekalipun. Selain itu hal-hal yang semacam ini, membuat Dion yang awalnya bernama Dion Fadillah (karena waktu itu anak ibu dan ayah masih satu, jadi disematkan nama Fadillah yang berasal dari Bahasa Arab yang artinya adalah utama) dan sekarang bernama Dion Arsyad menjadi dewasa sebelum waktunya.
Diantara teman-teman Dion yang lain, saat SMP hanya Dion yang mampu bersikap seperti anak SMA. Dan ketika Dion SMA diapun jadi orang dengan karakter, watak, dan kepribadian seperti orang dewasa. Baik dari segi psikis, mental, kejiwaan dan intuisinya. Sebab mungkin banyak pengalaman kelam yang mengajarkannya untuk menjadi lebih kuat dan lebih hebat daripada diri Dion yang sebelumnya.