Roxy dan Lexy lahir secara kembar dan bersamaan hanya berbeda beberapa menit. Mereka lahir dari perut Ibu seorang Dayak totok bernama Susti. Lexy lahir saat pagi hari dan Roxy beberapa menit setelahnya saat hendak menjelang siang. Lexy dan Roxy memiliki wajah yang begitu mirip, bila orang belum mengenal mereka secara jauh. Maka akan mengatakan bahwa mereka ada orang yang sama. Kemiripan itu dari segi muka. Tetapi, jika lebih jeli dan mengenal mereka dari dekat maka sebenarnya mereka memiliki perbedaan yang mencolok. Secara fisik saja, Roxy lebih pendek dari Lexy. Tetapi memang dari segi muka, mereka memiliki muka-muka seperti orang keturunan Tiongkok. Mungkin itu didapat dari putihnya kulit Ayah Koh Ming Ay ataupun sipitnya mata Mama Susti yang asli Dayak. Perlu diketahui nenek moyang daripada suku Dayak Kalimantan berasal dari negeri Tiongkok dimana bercirifisik mata sipit dan kulit putih. Mungkin karena pencampuran antara darah lokal Melayu dan darah Tiongkok sehingga menghasilkan pencampuran fisik yang unik. Terkadang ada beberapa Dayak yang bermata sipit tetapi berkulit cokelat, sebaliknya ada juga yang berkulit putih.
Sedangkan untuk Roxy dan Lexy bersaudara karena mereka kedapatan yang berkulit putih, jadilah panggilan mereka disebut “cici”. Sebuah panggilan yang akrab untuk sapaan kepada perempuan berketurunan Tiongkok. Secara fisik dan garis keluarga memang pantas mereka dipanggil Cici. Meskipun mereka tidak sebenarnya berketurunan Tiongkok secara langsung. Karena ayahnya pun bukanlah penerus langsung garis keturunan dari negeri Panda tersebut. Yang berketerunan langsung dengan garis silsilah Tiongkok adalah Eyang Buyut mereka yang berasal dari garis keturunan Patriarkal dari seorang ayah Koh Ming Ay. Selain itu, dari garis keturunan Matriarkal juga dimiliki langsung oleh Kakek dan Nenek dari Ibu Ang – tetapi Ibu Ang bukanlah itu kandung mereka.
Jadi dapat disimpulkan disini, yang memiliki garis keturunan secara langsung dengan darah Tiongkok adalah hanya seorang Ibu Ang Liemiena. Yang mana garis darahnya mengalir langsung ke Kelvin Ming Liemiena. Adik daripada Lexy dan Roxy.
Roxy dan Lexy diberi nama dengan marga Dayak dengan sebutan “Jung” dan nama Marina diambil daripada artis idola Mama Susti. Tidak ada unsur nama dari seorang Ayah, tetapi Koh Ming Ay tidak mempermasalahkannya, yang terpenting kedua anaknya akan menjadi anka yang berguna di masa depan dan baik hidupnya. Keinginannya sederhana dan tampak tidak muluk-muluk harus menyematkan nama. Dan menurut Kokoh juga tidak begitu penting masalah nama, yang terpenting adalah bagaimana berperilaku.
Roxy sedari kecil begitu dekat dengan Ibunya dan Ayahnya. Roxy adalah anak yang penurut. Apa yang dilarang oleh kedua orang tuanya pasti akan dilakukan oleh Roxy. Apapun alasannya. Seperti tidak boleh bermalas-malasan, tidak boleh hujan-hujanan, ataupun tidak boleh keluar rumah lama-lama. Ia sudah terbiasa dengan aturan orang tuanya yang ketat.
Karena apa yang Roxy kira dan pikirkan dengan menuruti apa kata orang tuanya itu merupakan sebuah langkah kebaikan bagi dirinya. Ia tidak pernah berpikir dua kali untuk menentang pemikiran orang tuanya, sebab apa yang disuruh orangtuanya pun memanglah yang menejerumus kepada kebaikan. Mungkin jikapun Roxy pernah berselisih dengan orangtuanya, apa yang bisa ia lakukan hanyalah menangis di dalam kesendiriannya dan terpaksa menuruti orang tuanya lagi karena ia tidak mampu menembus batasan yang dibuatnya sendiri. Ia mengira bahwa jika ia pun melawan orang tuanya ia akan mendapatkan balasan dari Tuhan yang Mahakuasa. Oleh karena itulah Roxy selalu sebagian besar menuruti apa yang orang tuanya katakan. Hal tersebut berjalan sejak kecil sampai nyaris sekarang.
Selama remaja, Roxy tumbuh dengan perkembangan yang sangat baik. Selama usia Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas. Roxy dan Lexy disekolahkan di sekolah umum. Tidak sekolah agama, atau swasta. Selain karena untuk menghemat biaya. Mereka juga dibiasakan untuk berbaur dengan orang yang berbeda latarbelakang daripada mereka berdua. Untuk melatih rasa kepekaan terhadap kebersamaan dan untuk melatih rasa saling menghargai satu sama lain.
Hingga pada suatu hari, saat mereka sedang menjalani jenjang pendidikan SMA. Roxy merasa bahwa karena pergaulannya dengan banyak teman-teman yang berbeda latarbelakang. Membuat dirinya sedikit liar. Sejak SMP bahkan Roxy sendirian diam-diam mempelajari agama lain selain agamanya sendiri yaitu Kaharangan yang diajarkan Ibunya sejak kecil. Pada semester awal-awal SMP bahkan Roxy sempat diam-diam penasaran dengan agama ayahnya sendiri yakni Konghucu. Oleh karenanya ia terkadang mencari-cari tahu kepada teman-teman yang beragama Konghucu dan bertanya soal Konghucu. Ia tidak mendapat kepuasan dan kecocokan dengan agama tersebut alhasil tidak membuat Roxy melanjutkan rasa penasarannya terhadap agama tersebut. Ia akhirnya melanjutkan rasa penasarannya dengan agama-agama lain seperti Buddha, Hindu, dan Islam. Dari ketiganya, yang mencuri perhatian Roxy adalah agama Islam. Hal itu pertama kali dipantik oleh Mama Siti yang saat itu pernah dipersunting ayahnya. Barulah setelah beberapa bulan dan nyaris satu tahun ia mempelajari agama tersebut. Ia lagi-lagi tidak menemukan kecocokan lagi. Sampai pada masa-masa SMA. Ia mendalami agama Kristen. Dan setelah beberapa lama mempelajari serta mendalaminya akhirnya ia merasa bahwa agama yang cocok dengan dirinya adalah Kristen Protestan.
Tidak dinyana juga, sebelum Roxy berkonversi agama dari aliran kepercayaan Kaharingan ke Kristen. Ternyata Lexy sudah lebih dahulu masuk Kristen. Dan itu baru diketahui Roxy saat ia curhat bahwa dirinya sudah masuk Kristen ke Lexy. Memang kedua saudara kembar ini sebenarnya begitu dekat meski tak jarang mereka mengalami banyak konflik. Ada yang mengatakan bahwa jika saudara kembar itu seperti memiliki ikatan yang begitu kuat, jadi ketika satu saudara merasa ingin buang air besar, saudara satunya akan merasakan yang sama. Sedekat itu memang. Mungkin perpindahan agama yang dilakukan Roxy datangnya dari sinyal kuat ikatan saudara kembarnya yang sudah lebih dahulu masuk Kristen. Dengan begitu mereka sudah resmi menjadi Kristen, Dayak, dan berketurunan Tionghoa. Dan secara kebetulan nama Marina yang sejatinya berasal dari artis Latin favorit ibunya yang berprofesi sebagai penyanyi solo itu ternyata adalah sebuah nama baptis, sehingga saat mereka akan dibaptis tidak lagi memakai nama baptis yang baru.
Tetapi yang perlu diketahui sebenarnya daripada keunikan Roxy dan Lexy. Mereka itu memiliki satu perbedaan yang begitu mencolok dari segi kepribadian. Dirunut sejak awal, bahwasanya Roxy adalah seseorang yang lebih penurut dan legowo. Lexy sangat jauh berbeda, ia adalah orang yang rebel dan individualis. Ia tidak pernah legowo jika sesuatu yang menurutnya adalah haknya dipunyai orang lain. Lexy pun tidak akan pernah menuruti orang lain, apalagi orang tuanya jika apa yang menurutnya benar ditentang oleh pihak lain selain dirinya.
Kali ini, tugas Roxy adalah membantu Dion yang menjadi pemegang keputusan nomor satu di toko dan gudang peninggalan Koh Ming Ay. Dimana pangkat yang dulu diemban oleh Dion sekarang dipegang oleh Roxy. Dan posisi sebagai pemimpin bidang produksi dipegang oleh Lexy. Adapun posisi yang ditinggalkan Lexy diemban lagi oleh Sayan sekarang. Sementara bagian Marketing atau Pemasaran masih dipegang oleh Robin.
Jadi apapun yang terjadi di toko dan gudang sekarang diurusi oleh Dion. Ibaratnya Dion sekarang jadi bos besar menggantikan Koh Ming Ay. Sedangkan, jika Dion tidak ada maka yang menggantikan tugas Dion adalah Roxy. Roxy kini yang menjadi tangan kanannya Dion. Meski secara logika seharusnya yang lebih pantas menduduki yang diduduki Dion adalah keturunannya Koh Ming Ay secara langsung. Tetapi, berbeda dengan banyak pandangan orang pada umumnya. Roxy justru merasa belum pantas mengemban tugas tersebut meski sudah disetujui oleh semua anggota keluarga bahkan Dion sendiri lebih setuju perusahaan dipegang Roxy saja. Sedangkan Lexy? Sayangnya ia tidak mendapat restu dari sebagian anggota keluarga lain, maka dari itu ia tidak bisa menduduki posisi tertinggi dalam perusahaan. Apalagi secara personal pun Koh Ming Ay memutuskan agar jangan sampai seorang Lexy memimpin perusahaan, menurut Koh Ming Ay berujar bahkan jika perusahaan kecil ini dipegang Lexy, perusahaan yang membawahi toko dan gudang logistik serta perabotan rumah tangga ini tidak akan berkembang malah menurutnya Lexy justru akan semakin memperkecil perusahaan yang masih kecil ini.