Lexanne Marina Jung

1447 Kata
           “Apa-apaan! Baru masuk beberapa tahun sudah dapat posisi yang enak begitu. Seharusnya posisi itu adalah posisiku, sebagai penerus langsung dari ayahku sendiri. Bukannya malah orang lain yang dapat” ketus Lexy saat masuk kamar dan merasa sangat begitu kesal dengan Dion.            Lalu ia mematikan lampu dan merasa kesal. Ia begitu marah, dan kecewa atas keputusan tersebut. Rasa kecewanya begitu memuncak sampai ia menangis di dalam kamar dan membuat seisi kamar jadi kacau dan amburadul.            Sprei yang sudah rapi dibikin acak-acakan. Semua perabotan yang ada dihambur-hamburkan ke lantai termasuk peralatan kosmetik, perawatan wajah, dan beberapa isian lemarinya.            Sambil berteriak dalam Dayak “Aku dia ikhlas!” (dia = tidak). Dan kegaduhan yang dibuatnya membuat seisi rumah jadi terbangun di malam hari. Semua orang menyadari bahwa sumber suara berasal dari kamar Lexy. Tetapi tidak ada yang berani memasuki untuk menegur ci Lexy, bahkan ibu kandungnya sendiripun tidak berani karena mereka semua takut bilamana Lexy sudah diluar kontrolnya begitu. Dan dikuasai oleh amarah. Tingkah seperti laki-laki bertenaga dan kesetanan. Entah apa yang menghinggapinya tiada satu orang pun yang tahu. Tetapi, hanya Roxanne Marina Jung alias adiknya sendiri yang berani menghadapi Lexy jika sudah begitu.            Diketoknya pintu kamar Lexy, ternyata diluar Roxy sudah menunggu. Jawaban ketokan pintu yang dilakukan Roxy dibalas dengan bentakan dan raungan. Alhasil, Roxy hanya menunggu segala ledakan emosi Lexy mereda. Lima belas menit lamanya Roxy menunggu, akhirnya Roxy mengetuk pintu lagi. Dan ya, kini sudah dibuka. “Apa kau, mau ribut lagi?” baru saja masuk kamar Roxy sudah dihujani sapaan yang tidak ramah dari kakak semata wayangnya itu. “Aku tidak mau apa-apa, aku hanya ingin bersamamu.” Rayu Roxy. Sambil membawakan makanan dan minum air putih, Roxy masuk ke kamar Lexy dan menaruh makanan tersebut di meja rias yang berbentuk agak luas tetapi perabotannya sudah pada jatuh ke lantai. “Makanlah dulu, kau belum makan...” Roxy memperlihatkan kasih dan sayangnya. Sambil melayangkan suapan nasi dan ternyata dibalas oleh Lexy sendiri yang sudah mangap sedari tadi, sambil menangis Lexy menjawab “Apa ini?” Roxy berkata “Sayur Asam buatan mbak” sambil menambahi beberapa suapan kearah mulut Lexy. Setelah semua makanan itu dilahap habis oleh kakaknya, barulah Roxy menyinggung tentang permasalahan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri seorang Lexy. Sesaat setelah Lexy meminum air putih yang dibawakan Roxy. Barulah Roxy bertanya “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Lex?” sembari Roxy membereskan apa yang bisa ia bereskan di kamar yang kadung berantakan begini. Dengan langkah pertama mengumpulkan pecahan kaca yang sudah berkeping-keping di lantai. “Kau tahu, apa yang membuatku begini?” barulah Lexy mulai menjawab. “Apa?” tanya Roxy. Lexy mulai menyalahkan Roxy “Karena kau mengiyakan keputusan ayah! Kau membolehkan si Dion dengan enaknya naik tahta menggantikan almarhum ayah!” Roxy hanya “.....” tanpa ada sepotong kata pun keluar. “Seandainya kau tidak menerima keputusan ayah itu, maka posisi itu akan jadi milik kita! Bukan orang lain. Seharusnya itu hak kita, darah daging ayah langsung.” Lexy menyebut nama kita seakan ia akan melibatkan Roxy jika nanti yang menjadi penerusnya bukan Dion meski dalam hati kecil Roxy sudah mengetahui itu hanya akal-akalannya saja sebab Lexy itu egois. Baru menganggap dan mengakui keluarga bilamana sedang dalam keadaan susah, contohnya seperti ini. Jika sedang senang tidak ada frasa “kita” semuanya berganti “aku, aku, dan aku” sebagaimana yang ada dalam hatinya sendiri yang begitu berambisi untuk mendapatkan posisi itu. “Begini Lex, bukannya aku tidak peduli dengan dirimu. Tetapi rasaku apa yang sudah ayah putuskan tentu sudah dipikirkan secara matang oleh ayah sendiri sejak jauh-jauh hari. Dan hal itu sudah diiyakan oleh Mama Susti dan Mama Ang. Aku tidak mungkin melawan kehendak orang tua bukan?” Begitu bijak Roxy merespon. Lexy semakin tidak setuju “Apa kau tidak sadar? Kalau Dion yang memegang kendali. Bisa saja kita akan didepak dari usaha yang sudah dibangun dengan keringat dan darah oleh Ayah Ming dan Mama Susti?! Dia akan sama saja seperti si Siti yang hanya memeras kekayaan keluarga kita secara halus, kau tahu?!” “Lalu aku harus apa?” Roxy pasrah. “Kau harus sepihak denganku” rayu Lexy. Lexy menyarangkan tanya yang sebenarnya penuh intimidasi dan manipulasi “Kau mengakuiku sebagai kakakmu bukan? Kau sayang padaku bukan?” sambil menangis, yang mana sebenarnya tangisannya sangat palsu. Roxy yang hatinya lembut dan pengalah tentu menjawab “Iyaa...” dibarengi dengan tangis yang mulai muncul dengan tetesan-tetesan kecil. Akhirnya Roxy hanya tertunduk lesu jika harus dihadapkan pada tangis yang ada pada seseorang yang disayanginya. Berbarengan dengan hal itu Ibu Ang datang. Meskipun statusnya hanya ibu tiri. Ibu Ang memiliki firasat sebaik Mama Susti dimana semuanya saling menyayangi satu sama lain. Ibu Ang sangat menyayangi anak kembar Mama Susti yang sama-sama cantik. Dan Mama Susti sangat suka mengayomi Kelvin anaknya Ibu Ang. “Nak, sudahlah. Jika kita terus tenggelam dalam kesedihan, maka arwah ayah tidak akan tenang di surga sana...” Ibu Ang masih mengira bahwa permasalahan yang terjadi adalah karena Lexy masih belum merelakan ayah Ming. Lexy hendak menyela perkataan Ibu Ang dan mau meluruskan bahwa masalah tentang ayah Ming bukanlah apa-apa, yang apa-apa bagi Lexy adalah Dion yang berada di posisi strategis di Toko dan Gudang keluarganya dimana posisi tersebut sudah diincarnya sejak dahulu sekali. Tetapi dengan kecerdikannya Roxy yang langsung sadar, langsung mengiyakan perkataan Ibu Ang itu. Dan mulut Lexy ditutup dengan tangan kanan Roxy. Karena bisa gawat bila-bila Ibu Ang dan Mama Susti tahu masalah yang sebenarnya bahwa cici Lexy sangat ingin menyingkirkan Dion. Karena Dion sendiripun begitu disayangi sana-sini. Roxy takut bila kedua orangtua perempuannya mengetahui masalah ini, mereka akan merasa terbebani. Apalagi dengan nasib Kelvin? Tentu akan berimbas pada kesehatan mental Kelvin bila mengetahu ibu Ang sakit. Karena baik Ibu Ang dan Mama Susti, semuanya jika mendapati masalah yang sedikit besar. Maka akan langsung terpikirkan dan memengaruhi kesehatan fisiknya. Bila kesehatan fisiknya sudah terganggu maka masalah akan bertambah makin besar. Roxy walaupun posisinya sebagai anak bungsu dari Mama Susti tetapi posisi dalam keluarga besar Koh Ming Ay, dipegang oleh dirinya semenjak kepergian Koh Ming Ay. Karena hanya ialah orang paling penurut dan mau mengerti kekurangan orang tuanya. Berbeda dengan Lexy dimana ia selalu membantah apa kata orang tuanya sekalipun itu perintah untuk kebaikan. Entah apa yang menghinggapi pikiran Lexy kenapa dirinya begitu berbeda daripada anggota keluarga yang lain. Lexy juga gemar membuat masalah dan kegaduhan. Bila masalahnya sudah besar dan memuncak maka ia tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan yang sudah diperbuatnya sendiri dan melemparkan tanggungjawab ke tangan orang lain agar mau menyelesaikan masalah itu. Sungguh licik dan tidak bertanggungjawab sekali. Meskipun begitu, Roxy begitu memahami dan mengerti kekurangan kakaknya ini. Sehingga tidak pernah sekalipun dalam benak Roxy untuk menyingkirkan Lexy, meskipun sering waktu Lexy bertindak semaunya saja tanpa memikirkan dampak terhadap anggota keluarga yang lain. Ia begitu menyayangi kakaknya dengan tulus tanpa tapi. Setulus kasih sayang Mama Susti yang juga begitu pada Ayah Ming dan kedua anaknya. Hanya saja, Mama Ming benar-benar takut bila harus menghadapi Lexy jika sedang marah besar. Watak yang ada pada diri Lexy sebenarnya didapatkan daripada kekurangan Koh Ming Ay sendiri saat masih muda, dimana gemar menghardik orang lain dan menyalahkan orang lain serta lari dari tanggungjawab. Saat pertama kali Koh Ming Ay mendapatkan kesuksesan yang untuk pertama kali dalam hidupnya. Dan karena keburukannya itu, Koh Ming Ay sempat mengalami kebangkrutan. Oleh karena kebangkrutan yang besar itulah Koh Ming Ay menyadari kesalahan dirinya di masa lalu yang sebenarnya berimbas pada diri Lexy kini. Ya, apapun yang ada dalam diri orang tuanya maka akan ada pula didalam diri anaknya, walaupun itu hanya secuil saja. Baik itu hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk. Oleh karenanya, sejak saat itu Koh Ming Ay jadi orang yang berbeda dan sangat bijak jika mengalami kegagalan. Ia tidak lagi gemar menyalah-nyalahkan atau egois untuk diri sendiri. Sampai pada puncaknya dimana ia mempersunting Siti hanya karena kasihan melihat Siti sebatang kara hidupnya dan memiliki beban untuk menghidupi adik-adiknya. Banyak orang mencela bahwa Kokoh c***l karena menikahi anak gadis yang berusia sekitar kepala dua. Tetapi, tidak banyak orang tahu. Bahwa sekalipun Kokoh tidak menyentuh Siti sama sekali. Bahkan Sitipun tidur bersama Mama Susti dan Roxy kecil saat itu. Karena sejak awal pun Mama Susti sudah mengetahui Kokoh tidak berperasaan pada Siti dan karena kebaikan itulah mungkin Tuhan sudah memberikan jalan petunjuknya agar Koh Ming Ay hidupnya semakin dibukakan pintu rezeki yang begitu besar. Sampai pada puncaknya, kekayaannya kini begitu banyak dan bahkan bisa menjadi tumpuan beberapa keluarga kecil yang kurang mampu di Desa. Termasuk keluarga Dion, Sayan, Robin dan semua karyawan asli desa tersebut. Tidak ada yang mengetahui kehidupan seseorang. Seperti kehidupan yang naik turun bagai rollercoaster yang pernah dialami Koh Ming Ay semasa hidupnya sedari muda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN