Promosi

1809 Kata
           Waktu sudah mengedarkan garisnya. Tampaknya akan banyak kenyataan yang akan membuat orang senang dan akan banyak juga yang dibuat menderita. Begitulah adilnya yang kuasa. Bisa membalas apa yang kita perbuat dalam waktu yang bersamaan dan secara adil. Sebab, keadilan yang paling agung datangnya hanyalah berasal dari yang Kuasa. Keadilan manusia hanyalah keadilan yang diutamakan karena ada kepentingan. Baik itu pribadi ataupun bukan pribadi.            Kini Rey dan Robin sudah memasuki tahunnya yang kedua sedangkan Dion sudah mencapai masa kerjanya yang kelima tahun. Sayan lebih senior lagi, ia sudah bekerja dengan bos Kokoh sejak enam tahun yang lalu. Dimana saat warung keluarganya mulai sepi karena keberadaan warung ibunya Dion di Pasar. Saat itu Sayan merasa bahwa harus mendapatkan penghasilan tambahan. Karena kalau tidak ibunya akan kesulitan untuk mencari penghasilan yang baru, sebab tidak mungkin hanya bergantung dengan warung yang omzetnya sudah tak lagi menggiurkan dan cenderung menurun. Oleh karena hal itu, Ibunya membujuk Sayan agar sesegera mungkin mencari pekerjaan saja dan sampailah Sayan berjodoh dengan pekerjaan dengan Kokoh. Meskipun sudah semenjak mula bahwa hubungan dirinya dengan bosnya sendiri Koh Ming Ay, berjalan tidak begitu baik. Karena diri Sayan yang selalu beralasan dan menyalahkan keadaan atau orang lain jika ditegur Kokoh, tidak pernah sekalipun mengakui salahnya meski kesalahan yang sebenarnya berada pada dirinya.            Di tahun tersebut akhirnya, Rey dan Dion bisa menabung untuk membeli beberapa perlengkapan rumah yang baru dan mereka juga berniat merenovasi rumah ibu dan ayah. Sementara Robin, sudah dari sejak beberapa bulan kebelakang berkeinginan untuk mencari tempat tinggal sendiri.            Seperti biasa selain uang halal yang ia dapatkan dari bekerja, Robin juga mendapatkan uang tambahan daripada aksi-aksi pasukan Kroco si Iblis untuk mencari uang dengan cara yang tidak halal. Dan uang yang ada tersebut sebagian besar Robin gunakan untuk keperluannya, sedangkan uang-uang yang halalnya itu diberikan pada ayahnya di kampung. Karena seburuk-buruknya Robin dirinya suka menabung dan sangat rajin serta teliti apalagi soal keuangan. Apa-apa yang akan dilakukannya mestilah diatur dengan sedemikian rupa agar tertata dan nyaman.            Siang itu, ditengah bulan. Ada kabar yang mengagetkan Dion dan semua orang yang bekerja di pergudangan Koh Ming Ay. Bahwa beliau dilarikan ke Rumah Sakit. “Bang Dion, tolong ini toko dihandle dulu ya.” Seperti terburu-buru akan sesuatu ucap Roxy, anak gadis Koh Ming Ay. Dion kaget dan sedikit bertanya, “ada apa ci? Kan memang setiap hari saya yang handle semua...” “Bukan begitu” masih berperilaku tidak tenang si cici Roxy. Dan cici malah mengobrol dengan orang lain melalui sambungan pesawat telepon. “Hah? Ruang berapa? Rumah sakit mana?!” Mendengar hal tersebut, Dion menunggu giliran agar bisa bertanya pada ci Roxy, dan pada saat ia menyudahi teleponnya, abang Rey itu bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi “Kenapa ci? Ada apa ci? Kalau-kalau saya bisa bantu ci, bilang saja...” “Ini Baba masuk rumah sakit bang...” “Hah?! Yang benar?” Dion terkaget-kaget bukan kepalang. “Apa perlu saya tutup ci gudang sama tokonya hari ini?” Cici malah berujar “Gak usah bang, saya pesan aja ke bang Dion supaya seperti biasa saja. Anggap saja tidak ada apa-apa. Jangan beritahu ke karyawan yang lain dulu. Takutnya nanti malah buat gaduh dan membuyarkan semuanya...” agar Dion tetap mengurusi toko dan gudang seperti biasa. “Baik ci kalau begitu” “Nanti kalau aku ada perlu, aku kabari ke bang Dion ya...” akhiri cici yang usianya masih seusia Rey dan Robin. Anak Koh Ming Ay ini sangat cantik berwajah putih, parasnya bulat nan manis, serta bersuara lembut. Dan ia juga berperilaku baik, bahkan pada yang notabenenya karyawan saja ia masih bisa menghargai. Apalagi ke yang bukan karyawan. Memang ci Roxy diajarkan untuk menghargai sesamanya dan yang lebih tua oleh orang tuanya termasuk ayahnya. Karena menurutnya itu adalah tata krama dasarnya yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak.            Lalu kegiatan yang dikerjakan Dion adalah sebagaimana yang biasa ia lakukan bersama Koh Ming Ay, dan karena Dion sudah diamanatkan sendiri oleh Kokoh bahkan jauh sebelum Roxy bilang semua kegiatan manajemen toko dan gudang sementara dihandle oleh dirinya.            Maka dari itu, Koh Ming Ay merasa sejak kedatangan Dion tugasnya menjadi terbantu sekali. Bahkan sering waktu Kokoh menjadi tidak bekerja karena semua tugasnya ditangani oleh Dion dengan sangat baik. Itulah salah satu alasan Dion mengapa dirinya sekarang begitu dipercaya oleh bosnya.            Seperti biasa Dion pun mengadakan briefing. Briefing ini adalah persiapan. Tidak hanya dilakukan sebelum toko dan gudang dibuka, tetapi saat toko dan gudang akan ditutup pun Dion akan melakukan Briefing untuk hari esoknya dan memberikan evaluasi kecil-kecilan tentang kegiatan hari ini. Dion memanggil semua karyawan, baik pada bagian manajerial yang terbagi atas bagian-bagian penting. Produksi, Marketing dan Operasional. Dimana bagian Marketing diketuai oleh Robin, Produksi oleh Roxy dan Operasional oleh Lexy. Tidak hanya bagian manajerialnya saja, tetapi ia juga mengumpulkan semua anak buah atau karyawan biasa daripada bagian-bagian manjerial tersebut. Dan termasuk Rey yang jadi bawahannya Lexy yang bekerja sebagai kuli angkut.            Namun saat itu dikarenakan Roxy dan Lexy masih di Rumah Sakit, bagiannya Roxy diganti oleh tangan kanan Roxy dan Lexy juga sama. Tepat setelah briefing dan evaluasi kelar dilakukan. Akhirnya Dion langsung menyiapkan diri untuk bersiap pulang, sementara itu Rey sedang menyiapkan motornya dengan dipanaskan agar mesin motor tidak kage saat akan dihidupkan kembali. Dion dan Rey akhirnya pulang bersama.            Sesampainya di rumah mereka. Dion mendapatkan telepon.            “RINGGG! RINGGG!”            “Aduh dari siapa sih ini, orang gue belum istirahat seharian kerja, ada aja yang nelpon...” keluh Dion depan muka Rey. “Ye lu jangan nyolot ke gue, sono yang di telepon lah...” -- Ternyata telepon tersebut dilakukan oleh Roxy “Banggg cepet abang Dion kesini...” dengan nada panik Roxy menyuruh Dion agar menyusulnya. “Iya siap ci...” -- Rey penasaran “Kenapa bang ada apa?” “Matalu ada apa, ada apa. Udah anterin gue ke rumah sakit” “Capek gue bang” keluh Rey pada abangnya. “Pengin gue pecat kerjaan lu?” “Tailah” “Udah si nurut ama abang... Genting ini kita ditungguin, Kokoh di Rumah Sakit...”            Akhirnya merekapun langsung meluncur ke rumah sakit. Selang beberapa jam dan menit akhirnya Rey dengan ngebut bisa melaju cepat ke rumah sakit yang berada di kota yang jaraknya jauh dari tempat mereka di desa. Meskipun dalam gelap gulita, Dion dan Rey melaju kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Karena merasa sedang dikejar satu tanggungjawab besar dengan Koh Ming Ay.            Sesampainya disana Rey bertemu Roxy dan Lexy di koridor rumah sakit, dan mereka mengantarkan Dion untuk ke ruangan ayahnya. Sesampainya di depan ruangan ada anak laki-laki dari Istri ketiga Kokoh yang sedang menunggu, usianya masih SMP dan langsung menyalami Dion seperti layaknya seorang kakak kandung. Tak lama Dion disuruh untuk langsung masuk kedalam ruangan dimana tempat Koh Ming Ay sedang dirawat. Saat sudah masuk kedalam, Koh Ming Ay sudah ditemani Istri pertamanya dan Istri ketiganya. Dan mereka langsung bilang pada Roxy dan Dion, bahwa ini Kokoh sedari tadi ingin mengobrol dengan orang, karyawannya bernama Dion katanya.            “Ada apa Koh, kokoh butuh saya?” tanya Dion sambil memegangi tangan si Kokoh selayaknya tangan ayahnya sendiri. “Dion, itukah kamu?” “Sini nah, Kokoh handak mambari ikam pesan penting nak.” (Kokoh mau ngasih kamu pesan penting nak) dalam Banjar mereka berbual. “Iya Koh?” “Kokoh nih amun sudah wayahnya, kada kawa lagi dah mengurusi toko dan gudang. Kokoh nih bepikir lawas-lawas. Kayaknya sudah wayahnya ni datang. Amun Kokoh sudah kadada, tolonglah urus toko wan gudangnya. Jaga Roxy Lexy dan Kelvin ya, Kokoh nitip. Kokoh percaya sudah dengan ikam, doakan kokoh lah yon...” yang pada intinya kokoh berujar agar Dion mau menjaga toko dan anak-anaknya bila waktunya sudah tiba dalam Banjar pada Dion.            Dion yang mendengar itu malah melawan balik perkataan pesimis si Kokoh yang memberikan firasat dan tanda tak enak di hati Dion. Dan ia mengatakan bahwa, tidak perlu ada pesan seperti itu menurutnya Kokoh sebentar lagi akan sembuh dan Dion malah menolak untuk mendapatkan tanggungjawab sebesar menjaga toko dan gudang, ia malah menjawab biarkan itu jadi urusan Roxy dan Lexy atau istri-istri si Kokoh karena Dion merasa dirinya adalah orang luar, dan bukannya dirinya tak mau hanya saja Dion merasa tahu diri apalagi jika Lexy tahu ini maka akan sangat murka bahwa harta kekayaannya yang berbentuk toko dan gudang diserahkan padanya. Waktu berjalan sepuluh menit, Kokoh hanya mengelus-elus tangan Roxy dan Dion serta pada saat terakhir kalinya, Kokoh mengatakan “Dion, Kokoh sudah gak kuat lagi. Ini kokoh minta tolong, karena Kokoh percaya ke kamu buat jagain toko, Kokoh punya firasat besar toko kita akan besar. Ini juga bisa bermanfaat buat orang-orang di Desa kan? Kita bisa memberdayakan mereka semua. Dan Roxy juga sudah setuju. Untuk urusan Lexy biar nanti jadi urusan ibu-ibunya dan Roxy. Maafkan dia karena berbeda dari sebagian dari keluarga kita, tetapi Kokoh juga yakin suatu saat dia akan sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang salah...”            Koh Ming Ay, atau David Turi Marsiyono telah berpulang dan meninggalkan segenap keluarga yang ditinggalkan. Hal tersebut jadi sesuatu yang besar di Desa. Dan banyak orang bersedih karena telah kehilangan putra daerahnya serta kehilangan orang baik. Dion juga sekarang sudah diangkat menjadi pengurus resmi daripada Toko dan Gudang yang dimiliki oleh Koh Ming Ay dulunya. Dan meski bukan bagian dari keluarga secara darah. Tetapi semua keluarga Kokoh menganggap Dion adalah keluarga. Kecuali, Lexanne Marina Jung yang begitu iri melihat posisi yang sudah diincarnya begitu lama direbut oleh orang lain yang bahkan bukan dari keluarga sendiri. Jika ada dari keluarganya sendiri saja yang merebut posisi impiannya dia sudah marah, apalagi ini orang lain yang merebutnya. Inilah awal kemurkaan seorang Lexy yang nanti jadi sebuah intrik dan drama besar dalam kehidupan Arsyad bersaudara.            Tidak hanya Lexy, ada banyak orang yang tidak suka dengan naiknya jabatan Dion ke pangkat paling tinggi sebagai pengganti Kokoh. Tetapi, apapun yang diputuskan oleh Kokoh sudah bulat. Dan itu semua sudah disetujui oleh sebagian keluarga besar Koh Ming Ay dan beberapa istrinya juga anaknya.            Dari sisi anak Koh Ming Ay, pihak yang menolak hanya Lexy, dan sisanya menyetujui keputusan Kokoh. Lexy benar-benar panas hatinya melihat posisi yang diincarnya direbut orang lain.            Dari sisi karyawan yang paling menolak atas kenaikan pangkat Dion siapa lagi kalau bukan Sayan. Anak pemilik warung yang kerap kali mengganggu warung ibunya dulu dengan cara yang tidak sehat. Sayan apalagi, sangat iri karena ia dikalahkan dalam pekerjaan dimana Dion yang baru masuk ke lingkungan kerja Kokoh langsung mendapatkan banyak keuntungan daripada dirinya dan rasa irinya sudah dipupuk semenjak Sayan merecoki usaha bisnis warung nasi ibunya Dion dahulu.            Dan dari dalam lubuk hati terdalam, dendam kesumat yang telah lama menghitam di d**a Robin. Kini mencuat kembali dan semakin berkobar karena mendapati Dion alias kakaknya si Rey ini mendapatkan kebaikan dalam pekerjaannya. Bukan hal yang tidak mungkin bahwa Robin akan melakukan beberapa rencana yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Tetapi untuk saat ini menurutnya lebih baik menuruti alurnya saja dahulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN