Aku turun dari mobilku dan berjalan mendekati mobil Mas Arsa. Aku mengetuk jendelanya dan perlahan jendala itu pun terbuka. "Kok nunggu di sini? Ayo masuk ke dalam."
Mas Arsa melirik ke arah restoran di sebelahku sebelum akhirnya menatap ke arahku. "Makan di restoran ini?"
"Iya."
"Enggak mau nyari tempat lain aja?"
"Enggak," aku memundur satu langkah, "ini restoran favorit aku. Ayo, Mas," ucapku sambil berjalan lebih dahulu.
Aku tersenyum saat petugas restoran ini membukakan pintu untukku. "Terima kasih ya," ucapku sebelumnya akhirnya masuk ke dalam.
Suasana restoran yang klasik ditambah dengan musik jazz yang mengalun membuat aku nyaman berlama-lama di sini.
Aku memilih kursi yang letaknya di tengah. Mas Arsa berjalan mendekat lantas duduk di kursi hadapanku. Tidak lama kemudian pelayan datang dan memberikan kami dua buku menu.
"Itu aja pesanannya?" tanya pelayan sesudah kami memberikan pesanan kami.
Aku menoleh ke arah Mas Arsa. "Udah?" dia mengangguk kemudian aku kembali menatap ke pelayan, "sudah, itu aja."
"Baik. Mohon ditunggu ya."
"Ya."
Aku mengambil ponsel kemudian membuka i********:. Sedang asyik-asyiknya meng-scroll, tiba-tiba Mas Arsa menggengam sebelah tanganku. "Adek," panggilnya.
"Ya?"
Mas Arsa menyentuh ponselku. "Matikan ya ponselnya. Kita ngobrol aja."
"Oh, iya, iya. Boleh," ucapku sambil mematikan layar ponselku dan memasukannya ke tas.
"Adek sering makan di sini?"
Aku bergumam. "Iya. Kan ini restoran favorit aku."
Mas Arsa mengangguk kemudian dia menoleh ke arah jendela. "Kalau kita makan di restoran depan. Pengeluarannya bisa lebih kecil."
Aku terdiam sebentar.
Oh, dia bahas harga.
"Aku aja yang bayar enggak apa-apa, Mas."
"Oh, enggak," Mas Arsa mengubah posisi duduknya, "Mas aja yang bayar," ucapnya cepat.
Aku masih enggak paham apa yang berusaha dia sampaikan. Kalau permasalahan harga, bisa aku menanggulanginya jika Mas Arsa merasa keberatan, tapi dari jawabannya dia enggak mencerminkan hal tersebut.
Aku jadi bingung.
Mas Arsa kembali menunjuk restoran depan. "Di sana juga lebih sehat."
"Jadi Mas mempersoalkan tentang harga atau sehatnya?" ucapku akhirnya.
Mas Arsa menatap kedua mataku bergantian kemudian dia menatap ke lain arah. "Tentang keduanya, tapi yaudah kalau sekali-kali enggak apa-apa."
Ini kan restoran favorit aku, masa iya aku cuma sesekali ke sini, kan enggak mungkin.
Belum sempat aku mengeluarkan suara, pelayan datang memberikan pesanan kami kemudian aku dan Mas Arsa hening. Sibuk dengan kegiatan makan masing-masing.
Beberapa saat kemudian, kami sudah selesai dengan kegiatan masing-masing. Aku melirik ke arah jam tangan lalu menatap ke arah Mas Arsa. "Masih ada waktu, aku habis ini mau ke klinik dulu ya. Kalau Mas mau langsung pulang enggak apa-apa, aku nanti sendiri aja ke sananya."
Kening Mas Arsa mengerut. "Mau ke klinik? Kamu lagi sakit, Dek?"
"Klinik kecantikan," jeda sebentar, "seminggu ini aku lagi stres banget. Kalau aku lagi stres biasanya berpengaruh sama kulit wajah aku."
Mas Arsa menyentuh pipi kanan dan kiriku. "Kulitnya masih sehat, enggak kering, enggak berminyak juga."
Aku menjatuhkan tangannya dari wajahku. "Emang enggak keliatan, tapi stres bikin kulit jadi bermasalah."
Mas Arsa bergumam. "Emang jam segini masih buka kliniknya?"
"Masih," aku menyelempangkan tasku, "ini aku mau ke sana."
"Yaudah, ayo Mas ikut."
"Kalau mau pulang aja, enggak apa-apa. Mungkin Mas Arsa mau istirahat."
"Mau temani Adek aja," Mas Arsa berdiri lantas dia menarik tanganku pelan, "ayo, Mas tungguin."
Dia kayanya enggak tahu kalau perempuan ke klinik tuh bisa berjam-jam.
Setelah ini, bisa-bisa dia kapok enggak mau menemani aku lagi.
Pria mana coba yang sabar menunggu pasangannya perawatan berjam-jam.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".