💍Nineth💍

884 Kata
Mas Arsa ketiduran. Dia bersandar di sofa dengan mata yang tertutup. Napasnya beraturan, dia sepertinya sudah benar-benar tertidur pulas. Aku sebenarnya enggak mau membangunkannya, tapi waktu sudah malam. Sehingga mau tidak mau, aku berjalan mendekatinya kemudian menyentuh tangannya pelan. "Eh, Adek," ucapnya dengan mata yang memerah, "sudah?" Aku mengangguk. "Udah." Mas Arsa mengucek matanya kemudian dia mengambil kunci mobilnya dari saku baju. "Kamu mau pulang?" aku mengangguk, "ayo," ucapnya sambil berdiri. Aku buru-buru menarik tangannya sehingga dia kembali duduk. "Mas baru bangun. Nanti dulu." "Katanya mau pulang." "Tunggu lima menit lagi deh." Dia bergumam sambil bersandar. "Kamu habis berapa tadi?" tanyanya. Aku ikut bersandar lantas meliriknya sekilas. "Emangnya kenapa?" "Berapa? Nanti Mas transfer." "Oh," aku mengambil ponselku dari kantung celana, "enggak usah, Mas. Aku bayar sendiri aja." "Berapa?" tanyanya dengan nada memaksa. Mas Arsa mau ngebayarin kelihatannya maksa banget. Padahal kan aku enggak minta. Aku bisa bayar pakai uangku sendiri. "Murah kok." "Adek," ucapnya lagi dengan nada yang merendah. Aku akhirnya membuka e-banking milikku dan memperlihatkan mutasi rekeningnya. "Ini," ucapku sambil memberikan ponselku kepadanya. Mas Arsa mengambil benda tipis itu lantas menatap layarnya lama. "Sekali perawatan segini?" tanyanya. Aku mengangguk. "Iya, kadang lebih, kadang juga kurang dari segitu. Tapi, seringnya sih lebih." Mas Arsa bergumam kemudian dia memberikan kembali ponselku. "Sebentar, Mas transfer. Biar Mas aja yang bayar." Dia mengambil ponselnya kemudian beberapa saat kemudian dia menunukkan bukti transfernya kepadaku. "Sudah," Mas Arsa berdiri lebih dahulu, "ayo, pulang." ??? "Adek, sini Dek." Aku yang baru masuk kamar langsung menoleh ke arah sumber suara. Mas Arsa menepuk sisi ranjang. "Lihat deh sini," ucapnya. "Lihat apa? Nanti, Mas." Aku berjalan ke arah meja rias kemudian mengambil handbody dan mulai mengusapkannya ke tubuhku. Mas Arsa menatapku dari pantulan kaca. Dia meletakan ponselnya kemudian berjalan mendekatiku. Sorot matanya menatapku dengan seksama. "Mau dibantuin nggak?" tanyanya tiba-tiba. Aku menggeleng dan segera memakai handbody ini dengan cepat. "Aku bisa sendiri. Enggak usah dibantuin." "Padahal Mas mau bantuin kamu." Aku buru-buru menutup botol handbody dan kembali meletakkannya di tempat semula. "Kapan-kapan aja," ucapku. Aku berjalan cepat dan duduk di pinggir ranjang. Mas Arsa juga ikut duduk di pinggir ranjang bagiannya. "Aku mau dikasih lihat apa?" tanyaku. Seakan baru mengingatnya, Mas Arsa langsung mengambil ponsel dan memberikannya kepadaku. Layar benda tipis itu menampilkan foto bayi perempuan. "Lucu bayinya." "Iya." Tubuh pria itu bergeser sehingga berada tepat di sebelahku. Jarak kami benar-benar terhapuskan. "Di slide selanjutnya masih ada." Belum sempat aku menggeser slidenya, Mas Arsa sudah menggesernya terlebih dahulu. Jarak kami terlalu dekat. Aku menahan napas saking gugupnya. "Adek," Mas Arsa menatap kedua mataku dengan tatapan mata yang tidak bisa aku artikan, "Adek wangi banget." Aku langsung menggeser tubuhku. Memberi jarak lebar di antara kami. "Iya," jawabku terbata. Aku turun dari ranjang lalu mengambil laptopku. "Aku baru ingat ada laporan yang harus aku kerjakan," alibiku. "Ini udah malam. Besok aja di kantor kerjainnya." "Deadline besok pagi." Mas Arsa menarik napasnya kemudian mengembuskan kasar. "Yaudah, semangat," ucapnya dengan nada yang sendu. Dia nyemangatin aku, tapi dari nada bicaranya enggak semangat. "Aku ke ruang kerja aku dulu ya. Mas duluan aja kalau mau tidur." Sebelum dia menjawab aku buru-buru keluar dari kamar dan masuk ke ruangan kerjaku. Setidaknya di sana aku bisa lebih tenang. Kalau Mas Arsa sudah tertidur, barulah aku masuk ke dalam kamar. Canggung banget rasanya, aku belum terbiasa. Sesampainya di dalam ruang kerja, aku menyalakan laptopku kemudian menghubungkannya dengan earphone melalui bluetooth. Karena sebenarnya enggak ada hal yang aku kerjakan jadinya aku memilih memutar film. Menonton aja kayanya seru. Film terus berputar dan ketika tiba dipertengahan, tiba-tiba pintu terbuka. Mas Arsa masuk sambil membawa bantal di tangannya. Dia sempat melirik ke arahku sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Kakak enggak ganggu, lanjutin aja kerjanya. Kakak cuma mau menemani kamu di sini," ucapnya lalu menutup mata. Semenjak kedatangannya, fokusku pada film menjadi buyar. Mataku terus terpaku menatap wajah damainya saat tertidur. Dia pikir aku sibuk mengerjakan pekerjaan, padahal kenyataannya aku sedang menonton film. Dia sampai bela-belain tidur di sofa, padahal tidur di ranjang kami jauh lebih nyaman. Aku jadi enggak tega. Tanpa berpikir panjang, aku mematikan laptopku dan berjalan mendekatinya. Aku berjongkok kemudian menyentuh tanyanya pelan. Mas Arsa membuka matanya dan aku langsung membalasnya dengan senyuman. "Ayo tidur," ucapku. "Laporannya sudah?" "Sudah." "Kalau masih ada yang mau dikerjakan, enggak apa-apa. Lanjutkan aja, Mas tidur sini." Aku menggeleng. "Ayo, tidur," ucapku lagi. Mas Arsa bangun dari posisi tidurnya lalu dia mengecup puncak kepalaku. "Ayo," ucapnya sambil menggenggam tanganku. Kami bersama-sama keluar dari ruang kerjaku dan masuk ke dalam kamar. Mas Arsa mengecup lagi puncak kepalaku, kening, dan kedua pipi sebelum akhirnya menarik aku ke dalam pelukannya. "Mimpi indah ya, Adek." Aku tersenyum kecil, tapi tidak menjawab ucapannya. Soalnya malu. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN