💍Tenth💍

557 Kata
Aku dibuat shock. Pasalnya saat aku dan Mas Arsa sedang makan malam, tiba-tiba dia mengeluarkan tiket reservasi sebuah hotel di Jakarta. Yang membuat aku kaget, bukan hotelnya, tapi lebih ke honeymoonnya. Aku pikir, ucapan Mas Arsa beberapa hari yang lalu hanya bualan semata. Namun, nyatanya hal tersebut direalisasikan. "Kenapa?" tanyanya melihat gelagatku. Aku mengusap keringat di keningku. Baru dikasih tiket reservasi hotel aja, aku udah keringat dingin. "Ini weekend. Lagi juga cuma semalam. Kamu bisa kan?" Aku enggak bisa. Hm, lebih tepatnya aku enggak mau. "Aku enggak bisa Mas," aku berpikir keras berusaha mencari alasan, "soalnya mendadak." Kening Mas Arsa berkerut. "Mendadak?" dia menatapku lekat, "enggak mendadak. Mas kan udah bilang beberapa hari yang lalu." Aku terdiam sambil menunduk. Enggak tahu deh gimana caranya aku bisa lari dari ini. Aku enggak siap. Aku enggak mau. "Mas mau punya anak, Adek." Aku masih terdiam sampai akhirnya tangan Mas Arsa menyentuh kedua pipiku lantas mengelusnya. "Gimana? Kamu mau kan?" aku mendongkak lantas kedua mata kami saling terpaut, "mau ya?" Dari matanya, dia kelihatan ingin sekali. Tapi, kalau tentang anak, enggak semudah mengatakan iya. Aku harus memikirkan aku siap atau enggak, memikirkan pekerjaanku yang pastinya akan terganggu, dan memikirkan hal lainnya. Enggak semudah itu. Harus melalui pemikiran panjang. Hamilnya susah. Apalagi ngurus anaknya jauh lebih susah. "Adek," ucapnya lagi. Aku memutuskan kontak mata kami lantas menundurkan tubuhku. "Iya, iya." Iya aja dulu deh. Lagi juga masih ada beberapa hari lagi. Aku bisa pikirin solusi untuk ke depannya yang penting saat ini Mas Arsa tidak lagi menatapku dengan tatapan memohon. Aku jadi enggak tega. Senyuman lebar terbit di bibirnya lantas dia melayangkab kecupan di keningku. "Cicil sekarang, boleh nggak?" "Apa?" tanyaku sewot. Mas Arsa tertawa kemudian dia mengecup bibirku. "Tidur yuk." Mas Arsa mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Dia menarikku sehingga saat ini aku dalam posisi tidur. Setelah itu, dia memelukku dan mengecup puncak kepalaku berkali-kali. "Anak pertama cowok ya, Dek." Aku terdiam, masih dengan mata yang terbuka. "Biar bisa jagain adik-adiknya. Soalnya nanti adiknya banyak." Kali ini aku memejamkan mataku, tapi telingaku masih mendengar pembicaraan Mas Arsa. "Mas mau punya anak banyak. Ya, minimal empat juga enggak apa-apa." Punya anak satu aja aku masih pikir-pikir. Apalagi empat. Kacau banget dah. "Adek," panggilan itu bersamaan dengan sebelah ranjangku yang bergerak, Mas Arsa menyentuh pipiku, "enggak mau ikut menghalu masa depan? Tidur ya?" Aku bungkam. "Adek," panggilnya, "kok cepat banget tidurnya? Belum juga lima menit." Aku menguap dan membuka mataku perlahan-lahan. "Ngantuk. Besok aku kerja." "Oh, yaudah," Mas Arsa mengecup keningku lagi, "have a nice dream, Adek." Aku bergumam dan kembali memejamkan mata. "Kalau kita punya anak banyak, seru kali ya rumah. Ramai ...." ucap Mas Arsa terus berlanjut. Aku memilih tidak mendengar ucapannya. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN