bc

Istri Kontrak Tuan Muda

book_age18+
10
IKUTI
1K
BACA
others
possessive
arrogant
drama
serious
brilliant
campus
office/work place
first love
gorgeous
like
intro-logo
Uraian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah. Yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang pria dan wanita. Dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Dan setiap pernikahan, pasti dihubungkan dengan sebuah cinta dari dua insan. Pernikahan yang di idam-idamkan setiap wanita. Menikah dengan orang yang ia cintai dan mencintainya.

Tapi pernikahanku, terjadi tanpa diawali rasa cinta. Aku menikah dengan seorang pria karena sebuah kontrak atau perjanjian Pra-nikah. Seorang pria dewasa berstatus sebagai petinggi besar. Mungkin bisa dibilang ia adalah CEO sekaligus Founder dari perusahaan besar bernama Ghani Corp.

Apakah aku senang? Menikahi seorang lelaki kaya dan mapan sepertinya. Tidak, aku bahkan sama sekali tidak senang akan pernikahan itu. Aku menikahinya karena keterpaksaan. Keluargaku terlilit hutang piutang oleh lintah darat.

Dan aku, sebagai anak harus mengorbankan masa depanku untuk kebahagiaan keluargaku.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1. Awal Mula
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah. Yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang pria dan wanita. Dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Dan setiap pernikahan, pasti dihubungkan dengan sebuah cinta dari dua insan. Pernikahan yang di idam-idamkan setiap wanita. Menikah dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Tapi pernikahanku, terjadi tanpa diawali rasa cinta. Aku menikah dengan seorang pria karena sebuah kontrak atau perjanjian Pra-nikah. Seorang pria dewasa berstatus sebagai petinggi besar. Mungkin bisa dibilang ia adalah CEO sekaligus Founder dari perusahaan besar bernama Ghani Corp. Apakah aku senang? Menikahi seorang lelaki kaya dan mapan sepertinya. Tidak, aku bahkan sama sekali tidak senang akan pernikahan itu. Aku menikahinya karena keterpaksaan. Keluargaku terlilit hutang piutang oleh lintah darat. Dan aku, sebagai anak harus mengorbankan masa depanku untuk kebahagiaan keluargaku. Aku Luciana Hafira, orang-orang biasa memanggilku Ana. Usiaku 21 tahun, dan aku berstatus sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Namun Ibu, Ayah serta adik kandungku tak pernah sedikit pun bersikap baik padaku. Aku selalu bertanya dalam hati, apakah aku anak kandung mereka? Ibu dan Ayah selalu memanjakan Diana Anita. Adik semata wayangku, yang usianya hanya beda setahun dibawah-Ku. Apa pun yang ia minta, pasti di turuti. Sementara aku....... sudahlah. Mungkinkah nasibku memang seperti ini? Lahir dari keluarga yang lengkap. Namun hidup dengan di bawah tekanan oleh kedua orang tua beserta adik kandungku. Lalu menikah dengan seorang pria berusia 24 tahun dan harus mengorbankan masa depanku. Yang tidak di dasari oleh rasa cinta. Tapi dengan keterpaksaan akan sebuah pernikahan kontrak. Masa depanku, kuliahku, dan harga diriku di renggut oleh pernikahan kontrak itu. Inilah kisahku. - Sebelumnya aku seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri, yang ada di sekitar Jakarta. Aku bercita-cita ingin mendirikan sebuah perusahaan dan membangun banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Negeriku sendiri. Sikap ambisius yang tertanam di dalam diri ini seketika sirna. Aku mendengar percakapan kedua orang tuaku yang memaksaku agar membayar semua hutang-hutangnya. Setega itukah mereka padaku? Uang saja aku tak punya. Kuliah pun aku mendapat beasiswa. Bagaimana dengan harus membayar hutang-hutang mereka? Yang berkisar ratusan juta rupiah. Mendengar hal itu, aku berniat untuk melamar di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Mungkin kalau aku kuliah sambil bekerja, sedikit-sedikit bisa mencicil hutang-hutang mereka. Dengan begitu, hutang yang menumpuk akan berkurang sedikit demi sedikit. Aku mencari tahu informasi mengenai lowongan yang di rekomendasi oleh pihak kampus. Maupun dari senioritas dan para dosen. Sampai akhirnya aku memilih salah satu perusahaan bernama Ghani Corp. Perusahaan besar yang merekrut banyak mahasiswa dari universitas tempatku menempuh pendidikan. Karena banyak para alumni dan mahasiswa yang bekerja disana. Mungkinkah karena universitasku tergolong dalam tiga besar favorit setingkat Nasional. Karena sebab itu mereka banyak merekrut mahasiswa maupun alumni untuk bekerja di perusahaan tersebut. Tak banyak berpikir, aku langsung menyiapkan persyaratan yang diajukan untuk melamar. Untung saja tidak hanya aku yang melamar ke sana. Tapi temanku juga ikut melamar. Ia adalah Fahira Anisa, aku memanggilnya dengan sebutan Nisa. Dia teman baikku sekaligus teman dekatku. Untuk menyiapkan beberapa berkas lamaran tidak begitu sulit. Karena aku dan Nisa cukup kompetitif dalam urusan kerja sama. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua hari. Dan setelah itu, kami diajak oleh salah satu senioritas kami untuk berangkat langsung ke kantor tersebut. Kebetulan senioritas kami sudah diterima dan bekerja disana. Jadi tidak begitu sulit untuk mengetahui apa saja persyaratan untuk diajukan pada perusahaan. Dan mungkin lebih besar peluang bagi kami untuk diterima. - Pagi ini aku, Nisa beserta salah seorang senioritasku berniat untuk pergi ke kantor perusahaan itu. Untuk melakukan interview dan penyerahan berkas lamaran yang sudah kami persiapkan dari dua hari yang lalu. Sebelum itu, Kak Alvin telah memberitahu pada pihak HRD kalau aku dan Nisa akan melamar. Jadi, kami boleh langsung datang untuk melakukan interview. Semudah itukah? Setahuku, biasanya kita harus menunggu kurang lebih dua minggu sampai satu bulan setelah penyerahan berkas-berkas lamaran. Baru setelah itu akan dipanggil untuk melakukan interview. Itu pun kalau memang benar diterima. Kalau tidak, ya tidak akan adanya pemberitahuan untuk melakukan interview. Mungkinkah berkat bantuan nama besar kampus beserta para alumni yang memberikan poin penting bagi kami? Atau mungkin juga berkat bantuan dari senioritas kami yang sudah membantu kami sejauh ini. Entahlah, aku bimbang. Kami bertiga akhirnya sampai di depan gedung kantor Ghani Corp. Penjagaan yang super ketat dan kurang begitu ramah. Mungkinkah benar rumor yang ku dengar waktu itu. Semua karyawan di perusahaan itu tidak ramah disebabkan oleh bawaan dari sikap CEO yang terkenal arogan dan kejam. Aku pikir itu hanya lah rumor semata. Tapi ternyata.... ada benarnya juga. Ya Tuhan, apakah aku sudah mengambil keputusan yang tepat? Untuk bekerja di perusahaan ini. Aku begitu canggung dan merasa takut. Ketika memasuki ke dalam ruangan yang dipakai untuk interview. Bukan hanya aku yang merasakan itu, tapi Nisa dan juga senioritasku juga begitu. Padahal dia lebih dulu diterima. Mengapa masih merasa takut? Aneh. “Selamat pagi, Pak. Maaf sebelumnya, dua orang yang ingin melakukan interview sudah datang.” Ucap Kak Alvin. Senioritasku. Entah mengapa Kak Alvin sangat baik padaku. Ia bahkan rela bolak balik pergi dari perusahaan ini ke kampus. Hanya untuk membantuku dan juga Nisa mengurus berkas lamaran. Bahkan sekarang, Kak Alvin juga yang mengajak kami berdua untuk bertemu langsung dengan pihak HRD. “Baik, silakan masuk. Satu orang dulu ya!” Tutur HRD itu. Seorang lelaki dewasa yang berusia kurang lebih 35 tahunan itu. “Yuk, siapa yang mau duluan masuk? Ana? Atau Nisa?” Tanya Kak Alvin pada kami berdua. “Kamu dulu Nis.” Kataku menyuruh Nisa lebih dulu. “Yaudah, aku dulu.” Ucap Nisa. Kak Alvin pun membawanya masuk ke dalam ruangan itu. Tak lama ia mengantar, ia pun keluar lagi. Dan duduk bersebelahan denganku. “Kamu gugup ya?” Tanya Kak Alvin padaku. Aku hanya mengangguk. “Gak apa-apa kok, Kakak juga gitu waktu pertama kali interview.” Sambungnya lagi. “I-iya Kak. Hehe.” Jawabku gugup. “Oh ya, nanti setelah interview, Kakak gak bisa antar kamu pulang. Maaf ya, Ana.” “Iya, Kak. Gak apa-apa kok. Aku kan ada Nisa, nanti bisa pulang naik kereta.” “Iya, maaf ya Ana. Karena setelah ini, Kakak harus bekerja lagi.” “Iya, Kak. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk semuanya. Kakak udah bantu aku dan Nisa sejauh ini.” “Iya, sama-sama. Ini bukan apa-apa kok, Na. Sudah keharusan bagi saya untuk membantu adik-adik tingkat yang juga ingin bekerja di perusahaan ini.” Benarkah begitu? Sejauh yang aku perhatikan, baru kali ini Kak Alvin bersikap baik pada adik tingkat. “Ngomong-ngomong, kamu..... udah punya pacar atau belum? Eh, maaf ya. Kakak gak bermaksud gimana-gimana.” Tanyanya agak canggung. “Gak apa-apa Kak. Oh, aku... gak punya. Hehe. Memangnya kenapa ya Kak?” Tanyaku sok polos. Padahal aku sudah tahu apa maksudnya menanyakan itu. Apa Kak Alvin suka? Sama aku. Ah entahlah, kenapa juga dia harus suka sama aku. Lagipula, aku tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku hanya ingin fokus kuliah dan bekerja. Agar semua hutang-hutang keluargaku lunas terbayar. “Eh... masa sih? Kakak kira kamu punya pacar.” “Enggak, Kak. Aku memang tidak berniat untuk pacaran. Hanya ingin fokus pada karier ku dulu.” Ucapku lugas. “Iya, Na. Bagus, jangan pacaran dulu. Lebih baik kalau langsung ta’ar...” Ucap Kak Alvin terpotong. “Selanjutnya, Luciana Hafira.” Panggilan suara untukku dari dalam ruangan interview. “Kak, maaf ya. Aku harus masuk, udah di panggil.” Kataku canggung. “Iya, Na. Gak apa-apa. Semangat ya!” Tuturnya menyemangatiku. Aku membalas dengan senyum mengembang. Saat aku mau memasuki pintu ruangan, Nisa keluar dengan wajah pucat. Ya Tuhan, apakah se-menakutkan itu? Tiba-tiba aku merasakan sakit perut. Rasa gugup dicampur sakit perut, membuat aku mengeluarkan keringat dingin bercucuran di keningku. Sudahlah, aku pasrah saja gimana baiknya. “Baik, Luciana Hafira. Perkenalkan dirimu.” Ucap HRD itu padaku. Aku benar-benar gugup dan canggung. Tak ada ekspresi wajah yang menandakan bahwa orang itu ramah padaku. Dia benar-benar ketus dan terkesan arogan. Aku jadi penasaran dengan CEO itu, yang membuat semua karyawan di perusahaan ini mengikuti sikapnya yang arogan. Pengaruhnya benar-benar nyata adanya. Di akhir percakapan interview ku dengan HRD itu, ia memberitahu perihal kontrak kerja yang akan aku terima. Kurang lebih tiga tahun, aku harus menandatangani kontrak kerja itu. Itu pun kalau aku diterima. Dan gaji yang ditawarkan, memang besar. Seperti rumor-rumor yang diberitakan. Semoga saja aku diterima, dengan begitu aku bisa mencicil hutang-hutang keluargaku. Semangat Ana! “Eh, kamu udah selesai Na?” Tanya Kak Alvin. Loh, dia masih menungguku? Aku pikir dia sudah kembali bekerja. “Iya, Kak. Kakak masih disini rupanya. Aku kira Kakak sudah pergi.” Kataku basa basi. “Hm, ini mau kerja. Aku gak enak kalau pergi gitu aja.” “Oh ya, Kak. Nisa kemana? Kok gak sama Kakak?” Loh, iya juga. Nisa gak ada. “Oh Nisa, dia lagi ke toilet. Kamu duduk aja, sambil menunggu Nisa balik.” Ucapnya. Aku pun menyetujui usulannya. Ku kira Nisa bakal ninggalin aku sendirian. Huh Nisa! Tak lama kemudian muncul Nisa dari arah berlawanan. Benar ternyata, Nisa memang ke toilet. Aku sudah suudzon terhadapnya. Ya Allah, maafkan aku. “Kamu udah selesai?” Tanya Nisa padaku. “Iya, udah kok. Habis ini kita mau ngapain?” Balasku. “Ke kampus dulu. Aku mau pinjam buku buat UTS minggu depan.” Tutur Nisa. Oh iya, aku bahkan hampir lupa. Ya Tuhan... bagaimana ini? Biasanya aku selalu ingat. Dan seharusnya sudah dari minggu kemarin aku belajar. “Yaudah, yuk! Oh iya Kak, terima kasih untuk semuanya. Aku sama Nisa pamit dulu.” Ucapku pada Kak Alvin. “Iya, sama-sama. Nanti kalau pengumumannya keluar, Kakak kasih tahu kalian berdua.” “Iya, Kak. Terima kasih juga. Maaf ya Kak, banyak merepotkan Kakak.” Sambung Nisa. “It’s okay, kok Nis. Hati-hati di jalan!” Tutur Kak Alvin. Aku dan Nisa hanya membalas dengan senyuman. Bersambung ...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.0K
bc

Kali kedua

read
222.5K
bc

TERNODA

read
202.7K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
16.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook