Malam yang harusnya dingin, terasa panas. Mereka kembali berbicara, situasi menjadi berbalik memihak Desi.
Kamar yang tadinya rapi menjadi berantakan seperti kapal yang karam. Meskipun harus membuat kamarnya berantakan, setidaknya kepercayaan mereka kepada Desi bisa kembali. Putri tersenyum bisa membuat orang yang menuduh Desi tidak berkutik.
Tanpa berkata lebih banyak lagi. Salah seorang dari mereka berinisiatif berjalan pergi menuju rumah Yati. Akhirnya satu persatu mereka mengikutinya.
"Kalian mau kemana?" tanya Yati berharap mereka kembali.
"Ke rumah kamu, Ti!" seru salah seorang rekannya.
"Apa? Tapi gak mungkin juga ada di rumah saya," ucap Yati tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan Arga.
"Udahlah Bu... Coba aja dulu," ucap Putri sembari tersenyum.
Melihat teman-temannya sudah pergi. Yati hanya bisa mendengus kesal. Dia pasrah berjalan menuju rumahnya.
Ruang kembali sepi, Devan menepuk bahu Putri. Dia menoleh ke arah Devan.
"Aku dan Arga akan ke rumahnya Bu Yati, kamu sama Nandini tetap di sini," ucap Devan kepada Putri.
"Aku gak bisa ikut, ya?" ucap Putri berharap Devan mengajaknya.
Putri sangat ingin melihat wajah orang yang berbuat seenaknya bertekuk lutut di hadapan korbannya. Tetapi, Devan hanya menggeleng dan langsung pergi begitu saja diikuti Arga.
Senyumnya pudar, Putri tidak dapat melihat apa yang diinginkan. Hingga Devan kembali, senyumnya mengembang.
Putri sangat senang jika dia bisa ikut. Tapi, Devan membawa sesuatu di tangan kanannya.
Hingga Devan berada pada jarak setengah meter dari Putri. Sebuah sapu disodorkan ke arah Putri.
"Hah?"
Putri tidak mengerti dengan maksud Devan yang memberinya sebuah sapu. Bukannya mengajak Putri ikut, Devan malah memberinya sebuah sapu. Beberapa detik Putri menatapnya dalam tanya.
Devan menunjuk dengan jari telunjuknya ke berbagai arah. Bola mata Putri melihat kemana jari telunjuknya mengarah.
Devan menunjuk ke arah barang-barang yang berserakan dan tidak teratur. Membuat Putri merasa dipermainkan.
"Bersihin," suruh Devan.
Setelah mengatakannya Devan beranjak pergi meninggalkan Putri dengan sapu yang dia berikan. Putri mengenggam erat sapu itu karena geram oleh kelakuan Devan.
"Cie... Yang mau ikut..." ledek Nandini di belakangnya.
Nandini berjalan ke arah pintu, berniat ikut Devan. Langkahnya terus berjalan hingga di depan pintu kamar.
"Kak Nandini... Kamu gak boleh ikut loh..." seru Putri.
Seruannya berhasil menghentikkan langkahnya. Nandini kembali melihat ke arah Putri. Dia memegang buku diary miliknya yang entah sejak kapan berada di tangannya.
Nandini membelalakan matanya melihat bukunya berada di tangan Putri. Dengan langkah cepat Nandini langsung ke arah Putri.
Putri tersenyum puas seolah ini adalah kemenangan baginya. Sementara Nandini hanya bisa mendengus kesal.
"Kak Putri... ngomong sama siapa?" tanya Desi yang sedari tadi melihat Putri seolah berbicara sendiri.
Seketika Putri langsung menoleh ke arahnya. Putri terpaksa tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu...
Devan dan Arga mengikuti kemana arah orang-orang itu pergi. Rumah yang ternyata tidak terlalu jauh dari kediaman Desi. Hanya membutuhkan 5 menit dengan berjalan kaki untuk sampai.
Kini mereka berada di depan rumahnya. Devan tepat berada di belakang orang-orang itu.
"Apa rencana ke-dua mu?" tanya Arga lirih.
"Bisa minta tolong sama Ibu Asih gak, ya?" tanya Devan kepada Arga.
Arga menoleh ke arah Asih berada. Dia menatapnya
selama beberapa detik. Kemudian Arga kembali menatap Devan, dia mengangguk sebagai jawaban.
"Mmm... Oke, sederhana sih. Awasi Vira untukku," ucap Devan.
"Iya katanya," ucap Devan memberikan pesan.
"Ma-Makasih," ucap Devan berterima kasih.
"Oh, dia udah jalan ke dalam duluan," ucap Arga menunjuknya.
"Eh..."
Devan benar-benar merasa diabaikan. Dia hanya bisa menghela nafas. Namun, setidaknya dia melakukan tugasnya.
Arga dan Devan melangkahkan kakinya. Orang-orang itu sudah tidak ada dihadapannya lagi. Mereka sudah lebih dahulu masuk.
Rumah yang terlihat sunyi menjadi riuh seketika. Devan melihat ke segala arah. Orang-orang sibuk dengan isi rumahnya.
Sementara itu, Yati berjalan cepat ke kamar anaknya. Derap langkah kakinya di tangga, dengan fikiran yang kalut. Yati tepat berada di depan pintu kamar anaknya.
Tangannya langsung meraih gagang pintu dan membukanya tanpa permisi. Vira terlihat terkejut dengan kehadiran sang Ibu. Menyadari ponsel yang bukan miliknya masih digenggaman. Vira cepat-cepat menyembunyikan tangan yang memegang ponsel itu, di bawah bantalnya sebelum sang Ibu menyadarinya. Raut wajahnya terlihat marah.
"Ibu, kok udah pulang?" tanya vira basa-basi.
"Katakan kalau kamu gak ngambil ponselnya," ucap Yati berharap apa yang dikatakan Arga salah.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Detak jantungnya berdegup kencang. Vira tidak mengerti dari mana dia mengetahuinya.
"Ng-Nggak kok..." ucap Vira terbata-bata.
Mendengarnya Yati memijat keningnya. Dia tahu anaknya sedang berbohong saat ini. Yati kembali menatap sang anak.
"Ibu tau kamu bohong," ujar Yati.
Vira seolah berhenti bernafas, mengetahui kebohongannya diketahui. Dia tidak sanggup berkata, matanya tidak berani menatap orang yang telah membesarkannya.
"Kenapa kamu bisa-" ucap Yati tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Dia mengepalkan tangannya berharap emosinya reda. Vira tidak berani melihat matanya secara langsung.
"Kenapa?" tanya Yati.
Kedua tangannya saling menggenggam erat. Dia tidak berani menatap sang Ibu.
"Kenapa?" tanyanya lagi dengan penekanan.
Telapak tangannya sudah berada di atas hendak menamparnya. Namun, sebelum sempat menampar anaknya itu. Vira menatapnya dengan tajam, hal itu membuat Yati ragu untuk menamparnya.
"Karena Ibu selalu bela dia, bandingin dia, selalu buat aku yang paling bawah darinya. Aku anak Ibu. Tapi aku merasa kayak anak tirinya Ibu," jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang kulakukan selalu salah!" ucapnya.
Yati menurunkan tangannya perlahan. Dia tidak menyangka anaknya akan berkata begitu.
"Kalau gitu, sembunyiin ponselnya di tempat yang aman. Temen-temen Ibu pada ke sini," ujar Yati kemudian.
"Apa?" ucap Vira tidak mengerti.
Vira mengusap air matanya. Dia pun mengambil ponsel itu dan menyimpannya di tempat yang menurutnya aman.
Terdengar suara derap langkah yang ramai menuju kamarnya. Membuat mereka sedikit panik dan khawatir. Suara ketukan pintu membuatnya harus melihat ke sumber suara.
"Silahkan geledah saja," ucap Yati dengan penuh percaya diri.
"Ayo, geledah semua. Supaya kita bisa tidur," ucap salah satu orang.
Tanpa basa-basi, mereka memperhatikan setiap detail benda yang ada di kamar. Bola mata terus bergerak ke segala titik. Berharap tidak ada satu pun yang terlewat.
Mereka terus mencari, kecuali Arga dan Devan. Mereka berdua hanya menonton orang-orang yang sedang mencari ponselnya.
Selang beberapa menit hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apa pun.
"Nggak ada kan?" ucap Yati percaya diri.
Mereka yang mencari saling menatap. Memang benar, mereka tidak dapat menemukan apa pun. Dalam kebingungan itu, mereka terdiam.
"Apa kalian berdua menipu kami?" tanya salah satu wanita paruh baya yang ikut mencari.
Seketika mereka langsung berubah fikiran dan malah menyerang Devan dan Arga dengan segala macam kalimat yang dilontarkan. Hal itu membuat Devan merasa terpojokkan.