Bab 36

1055 Kata
Putri melihat ke berbagai arah. Dia kebingungan apa yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Apa yang sudah dia lakukan hingga membuatnya dibicarakan begitu. Mulut mereka belum berhenti berbicara. Seolah sangat menyenangkan membicarakan keburukan orang. Devan mulai kesal dengan mulut mereka yang terus membicarakan Putri dihadapannya. Devan mencoba menahan amarahnya, tangannya mengepal sembari menunduk. "P-Polisi?" gumam Putri semakin panik mendengar dia bisa saja dilaporkan ke polisi. "Pura-pura kesurupan kali..." "Iya, sekarang banyak orang ngehindar dari masalah sampe pura-pura kesurupan." "Ke-surupan?" gumam Putri masih menatap lurus tidak mengerti. Putri menatap Devan dan Arga. Berharap mendapat jawaban dari mereka. Devan menghentakkan jarinya ke lantai sesuai detik waktu yang berjalan. Hingga hentakkan jari telunjuknya itu makin cepat dan cepat. Devan berdiri dan menghadap ke arah orang-orang yang tidak bisa berhenti berbicara. Membuat mereka terdiam memperhatikkan Devan. "Tutup mulut kalian!" ucap Devan dengan penuh penekanan. Mereka sedikit terkejut, tetapi mulut mereka tidak berhenti bicara sampai disitu. Mereka kembali berbisik satu sama lain. "Berani kamu sama orang tua?" ucap salah seorang wanita paruh baya di dekat pintu. Kata-katanya berhasil membuat nyali Devan kembali ciut. Dia sudah membentak mereka, membuatnya tidak berani berkata. Bola matanya bergerak ke bawah beberapa kali, tidak berani menatap mata mereka. "Terus kalian bisa seenaknya, gitu?" tanya Putri yang ikut berdiri di samping Devan. "Apa maksudmu?" tanya wanita itu. "Kalau kalian orang tua. Terus kalian bisa bicara sama yang muda seenaknya meski dia benar?" tanya Putri. "Apa semua orang dewasa selalu begitu?" tanya Putri lagi. "Apa nanti jika, anak-anak kalian besar nanti dan sudah dewasa. Mereka akan melakukan hal yang sama seperti kalian?" sambung Putri tanpa memberikan ruang padanya. "Apakah mereka akan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar?" ucap Putri tanpa jeda. "Seperti kalian," ucap Putri kepada mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu mampu membuat mereka terdiam. Banyak pasang mata yang memalingkan wajahnya. Mereka menyadari tapi tidak ingin terlihat mengakuinya. "Kenapa diam?" tanya Putri. "Kualat kamu sama orang tua!" ucap salah seorang wanita paruh baya itu dengan nada tinggi. "Maaf jika teman saya membuat anda marah," ucap Devan sembari memegang lengan Putri untuk menyuruhnya berhenti. "Temen-temen Desi gak ada yang bener," ujar Yati adiknya Asih yang menuduh Desi hingga menangis. Putri menoleh ke arah Devan, dia terkejut dengan apa yang Devan lakukan. Perasaan geram membuatnya menatap tajam Devan. "Kamu ngapain?" tanya Putri yang geram akan sifatnya yang mengalah. Devan meminta maaf beberapa kali kepada mereka. Kelakuan Devan membuat Putri tidak dapat menerima itu. Dia berusaha melepas genggaman tangan Devan, namun cengkramannya cukup kuat. "Lepas, gak!" kesal Putri. Orang-orang itu dengan angkuhnya hanya diam dan menatap sinis Devan. Tetapi, Devan tidak menggubris tatapan itu dan hanya tetap meminta maaf sembari menundukkan kepalanya. "Devan..." geram Putri. Devan mengangkat kepalanya dan berbalik menatap Putri. Tatapannya terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Putri. Putri pun terdiam dan menunggu Devan mengatakan apa yang ingin dia katakan. Devan membalikkan badannya dan berjalan menuju Arga dan Nandini berada. "Aku punya rencana," ujar Devan dengan suara lirih. Mereka bertiga langsung memperhatikan orang yang bicara. Mereka memasang telinganya baik-baik. "Mm... Lepas tanganku dulu," ucap Putri yang melihat tangannya masih dipegang oleh Devan. Secara spontan Devan melepaskannya cepat. Dia menghilangkan rasa malunya dengan tidak menatap Putri. Dia memalingkan wajahnya dari Putri. "Jangan sekarang, cepat katakan," ucap Nandini melihat kelakuan Devan. "Oh... Mmm... Iya, maaf. Pertama..." ucap Devan sembari jongkok dan berkata dengan suara lirih. "Singkirkan mereka semua," ucap Devan lirih. "Oke!" seru Nandini. Nandini berjalan dengan santai ke arah Asih. Dia menjelaskan beberapa hal agar rencana pertama Devan berhasil. Asih memperlihatkan senyum dan semangat yang pulih seperti saat dia hidup. Arga yang melihat hanya bisa takjub melihat Nandini seberani itu. Asih melihat ke arah Arga dan tersenyum kepadanya, dia mengangguk seolah memberi isyarat setuju. Arga mengangguk ragu sebagai jawaban. "Aku percaya kan padamu, Arga..." ucap Devan lirih sembari menepuk Arga. Arga menatap Devan dalam diamnya. Dia tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Arga berjalan ke arah orang-orang di luar pintu kamar. Dia berdiri menatap mereka, sesekali mengatur nafasnya. "Aku bisa lihat hantu," ujar Arga. "Ah, mana mungkin. Itu pasti akal-akalanmu saja," ucap salah satu dari mereka. Arga menghela nafasnya panjang. Dia menoleh ke arah Asih berada. "Ibu Asih, jika Anda ada di sini maka, berikan suatu tanda," ucap Arga menatap Asih. Sebuah bantal yang ada di samping Desi tiba-tiba seolah ditarik oleh sesuatu secara perlahan. Mereka menganga melihat bantal itu tertarik sendiri hingga ujung tempat tidur dan jatuh setelahnya. Desi tidak dapat mempercayai apa yang dia lihat. Dia menutup mulutnya tidak percaya. Yati hanya bisa membelalakan matanya. Dia sangat ingin menyangkal semua itu. "A-Asih di sini?" "Jadi dari tadi dia di sini?" "Nggak mungkin dia di sini..." Mereka terlihat ketakutan dan panik. Devan merasa senang dalam hatinya, rencananya hampir berhasil. "Dia bilang," ucap Arga yang akan menyampaikan pesan. Arga menoleh ke arah Asih berada. Kemudian dia kembali menatap orang-orang itu. "Jangan dekati Desi, bukan dia yang menelpon kalian," ucap Arga memberikan pesannya. "Pasti Desi, ponselnya juga pasti ada di sekitar sini!" ujar Yati yang yakin akan ucapannya. Arga menoleh kembali dan memantuk-mantuk mendengarkan jawabannya. Tangannya memegang dagu sembari memasang telinganya baik-baik. "Bukan Desi yang melakukan..." ucap Arga menggantung "Tapi... Vira," ucap Arga. "Apa maksudmu?!" tanya Yati dengan nada tinggi. "Coba cek di rumahnya, ponsel itu ada di sekitar kamar Vira. Begitulah kata Bu Asih," ucap Arga menatap Yati dengan amarah yang masih terlihat. Devan melangkahkan kakinya ke arah orang-orang itu. Dia berdiri di hadapan mereka dengan mengumpulkan sedikit keberanian. "Kalau kalian belum percaya jika ponselnya ada di sini. Maka geledah rumah ini sekarang," ucap Devan memberanikan diri. Mereka pun saling menatap, mencari jawaban. Akhirnya mereka menyetujui itu. Mereka mulai bergerak dengan menggeledah barang yang ada dalam kamar ini. Setelah 30 menit mencari dengan hasil yang nihil. Mereka tidak menemukan ponsel lain selain milik Desi yang dipegang Arga sedari tadi. "Benar... Nggak ada," gumam mereka. "Apa jangan-jangan..." "Kalau bukan Desi terus siapa?" Mendengar kepercayaan terhadap Desi kembali. Putri tersenyum mendengarnya. "Tunggu apa lagi? Bukannya sekarang waktunya menggeledah rumah Ibu Yati?" ucap Putri sembari tersenyum. "Dasar nggak sopan kamu!" ucap Yati sembari menunjuk Putri dengan rasa amarah yang membara. "Oh! Apa anda takut jika hal itu benar?" tanya Putri sembari menutup mulutnya berpura-pura terkejut. "Mulai lagi," gumam Devan. Yati terdiam, dia tidak bisa menjawab selama beberapa detik. Hingga akhirnya dia terperangkap dalam provokasi yang dibuat Putri. Membuat orang-orang saling berbisik. Menatap sinis Yati, mereka seolah berbalik memihak Desi. "Kena kau," gumam Putri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN