Cengkramannya terlepas secara perlahan. Putri memanggil nama Devan dengan suara yang lirih dan terdengar lemah. Setelahnya matanya terpejam dan tumbang tepat di samping Devan.
"Uhuk... Uhuk..." Devan bangkit mengubah posisinya menjadi duduk sembari memegang lehernya.
"Devan?" panggil Arga.
"Aku baik-baik saja..." ujar Devan sembari menatapnya.
Devan kembali menoleh ke arah Putri yang tergeletak tidak sadarkan diri di sampinya. Devan menggoyang-goyangkan tubuh Putri, berharap dia akan segera bangun.
"Putri..."
"Putri?"
Devan terus memanggilnya tanpa henti. Tetapi dia sama sekali tidak membuka matanya. Devan mengatur posisinya, tangannya meraih punggung Putri dan mengangkatnya ke pangkuannya.
"Putri?" panggil Devan.
"Ah! Kemana Kak Nandini?" ucap Devan kesal.
Arga melihat tiap sudut dalam ruang. Tidak terlihat ada Nandini dimana pun.
Kini semua orang terdiam membisu. Mereka melihat siswi SMA yang tiba-tiba mengamuk dan pingsan setelahnya. Mereka hanya melihat tanpa membantu.
"I-Itu pasti ulah Asih," ucap wanita paruh baya itu menyebut nama ibunya Desi.
Seketika orang-orang yang berada di pintu berbisik satu sama lain. Desi dalam situasi yang membuatnya berfikir dua kali lipat dari biasanya.
"Kamu pasti yang manggil dia, iya kan?" tanya wanita paruh baya itu.
Desi menatapnya dalam heran dan sedih yang bercampur dalam satu. Dia mengusap air mata menggunakan lengannya.
"Apa maksud Tante?" tanya Desi.
"Pasti kamu yang manggil Asih," tuduhnya.
"Kenapa Tante bisa berpikiran seperti itu?" tanya Desi tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Orang-orang berbisik seolah menerima tuduhan yang dilayangkan kepada Desi. Mereka terus berbicara sampai lupa dengan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Ih, udah mati juga dipanggil lagi."
"Saya pikir dia anak baik-baik, loh..."
"Gak habis pikir..."
Mereka terus membuka mulutnya dengan berbagai kata yang membuat Desi bersedih hati. Berbagai kata yang masuk ke telinganya. Dia kembali menutup kedua telinganya, berharap ini hanyalah mimpi.
Nandini dan hantu itu masih belum terlihat. Membuat Arga tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Arga masih memegang ponsel milik Desi.
Dia menatap ponselnya, berharap ada seseorang yang bisa menolong Desi saat ini. Ibu jarinya menyalakan ponsel, dan mulai melihat data panggilan.
Ketika dia melihat data panggilan yang berisi nama 'Bunda' di sana. Dia menekan nama itu dan mulai memanggilnya.
Namun, tidak ada jawaban di sana. Meskipun sudah panggilannya diterima. Arga mendekatkan ponselnya ke telinga perlahan.
Masih tidak ada jawaban hingga detik ke sepuluh. Hingga suara barang jatuh terdengar keras. Seperti barang yang terbuat dari kaca dan pecah. Seketika tidak ada suara lagi, Arga melihat kembali ponselnya. Dia menjauhkan ponsel dari telinga, bola matanya tidak berhenti menatap ponsel itu.
Arga kembali menekan nomor itu lagi. Dia kembali menerima panggilannya. Arga mendekatkan ponsel ke telinganya. Hening, tidak ada suara.
Hingga Arga terpaksa membuka suaranya, "Halo?"
Beberapa detik tidak ada suara yang menjawab. Hingga akhirnya Arga kembali mematikan ponselnya.
"Devan," panggil Arga.
Devan menoleh ke arah Arga. Dia memasang telinganya baik-baik, menunggu Arga mengatakan sesuatu.
"Coba panggil nomor ini," ucap Arga menunjuk nomornya.
"Kenapa?" tanya Devan tidak mengerti.
"Ini, lakukan saja!" ucap Arga menyodorkan ponsel milik Desi.
Devan menatapnya bingung, tangannya agak ragu mengambil ponsel itu dari tangan Arga. Dia melihat ponselnya, matanya kembali menatap Arga. Berharap dia mengatakan sesuatu yang baik jika dia menelpon nomor orang yang sudah tiada.
"Lakukan saja!" ucap Arga penekanan.
"Yakin, nih?" tanya Devan meragukan apa yang disuruh oleh temannya itu.
"Banyakan mikir," ujar Arga langsung menekan tombol memanggil pada ponsel itu.
Devan terkejut dengan apa yang dilakukan Arga. Dia menatapnya tidak percaya kepada Arga.
"Deketin ke telinga," ucap Arga.
Dengan ragu Devan mendekatkan ponselnya ke telinganya. Dia tidak mendengarkan apa pun. Hingga dia harus beberapa kali melihat layar ponsel dan mendekatkan kembali ke telinganya.
Devan menatap Arga bingung, dia tidak mendengarkan apa pun dari seberang. Tangannya menyodorkan kembali ponsel itu.
"Aku gak denger apa pun," ujar Devan.
"Apa yang mau kamu bilang?" tanya Devan langsung ke intinya.
"Panggilan itu, bukan berasal dari Ibunya," ucap Arga.
"Berarti ada seseorang yang di balik semua ini, gitu?" tanya Devan sedikit berbisik.
Arga hanya mengangguk sebagai jawaban. Devan kembali menatap Putri yang masih belum sadarkan diri.
Sedangkan Arga melihat ke arah Desi yang kembali menangis. Benar-benar tidak terlihat ada belas kasihan.
Hingga Nandini berhasil keluar, meski dia seperti terpental dari dalam tubuh Putri. Dia jatuh tersungkur dan meringis kesakitan memegang lengannya.
Beberapa detik kemudian hantu wanita itu ikut keluar. Dia berjalan perlahan menghampiri Nandini.
"Kak Nandini..." geram Devan.
Melihat Devan yang yang mengepalkan tangannya erat. Membuat Nandini tidak dapat berkata apa pun. Dia masih memegang lengannya yang kesakitan.
Hantu mengubah posisinya melihat anaknya yang sedang menangis. Dia melangkahkan kakinya berjalan menuju wanita paruh baya yang membuat anaknya menangis. Namun, tangan Nandini menghentikan langkahnya.
Dia menoleh dengan mata yang terlihat membara. Dia berusaha melepaskan tangannya dari Nandini. Tetapi, Nandini mengenggamnya erat hingga dia tidak bisa melepaskan genggamannya.
"Jangan..." ucap lirih Nandini.
Nandini mengubah posisinya menjadi berdiri dengan masih memegang tangan Asih. Nandini menatapnya balik sembari tersenyum kepadanya.
"Jika dia lihat anda seperti ini, dia akan lebih sedih..." ucap Nandini.
"Dia pasti gak akan mau melepas anda," sambung Nandini tidak menghilangkan senyum simpulnya.
Beberapa saat kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia meneteskan air mata.
"Apa..." ucap Asih hantu wanita itu.
"Apa... yang harus ku... lakukan?" ucapnya berusaha mencari jawaban.
Dia mengusap air matanya, tetapi air mata terus mengalir. Membuatnya tidak bisa membendung air mata. Nandini hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya seraya berusaha menenangkannya.
Putri membuka matanya perlahan, dia matanya masih beradaptasi dengan cahaya sekitar. Terlihat Devan dengan senyum mengembang di depan matanya.
Beberapa kali dia berkedip berusaha memperjelas penglihatannya. Devan terlihat dekat dengan jarak hanya beberapa senti.
Putri membelalakan matanya melihat Devan dengan senyum mengembang sembari memanggil namanya. Dia langsung mengangkat kepalanya tanpa berfikir panjang. Hingga kening keduanya saling bertabrakan.
"Akh..." Putri meringis kesakitan sembari memegang keningnya.
"Ngapain kamu disitu, Devan?" tanya Putri bangkit mengubah posisinya menjadi duduk.
Devan terlalu sibuk dengan rasa sakit di kepalanya. Hingga dia sungkan untuk menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Putri.
Putri melihat ke segala arah. Orang-orang yang datang bersamaan berbisik saat melihatnya. Suasana menjadi suram, Desi masih terlihat menangis.
Putri menjauhkan tangan dari keningnya. Dia membuka matanya lebar-lebar melihat banyak orang yang berbisik tentangnya.
"Sstt... Dia bangun,"
"Ah, iya dia bangun..."
"Bisa-bisanya dia ngamuk..."
"Bisa dilaporin polisi, tuh..."
Mereka semua terus berbisik. Membuat Putri penuh kebingungan dan tanya dalam benaknya.
"Apa yang kulewatkan?" gumam Putri.