Bab 34

1086 Kata
Dering ponsel yang misterius, membuat beberapa orang yang dikenal oleh sang Bunda datang ke rumahnya. Mereka ketakutan oleh teror itu. Mereka digelapkan rasa takut yang sudah menyeruak dalam tubuhnya. Desi menutup telinganya berharap apa yang dia dengar tidak lah ada. Matanya memejam dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. "Jangan main-main!" "Iya! Jangan buat yang seharusnya udah mati, seolah-olah hidup kembali!" "Kami capek setiap malam nerima telpon itu!" Jumlah mereka yang tidak sebanding, membuat Putri tidak bisa menghentikan mulut mereka yang terus saja bicara tanpa henti. Devan kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Devan tidak bisa berkata, jika semua orang terus meluncurkan kalimatnya. Membuatnya berfikir percuma jika dia bicara. Arga berusaha menghentikan wanita paruh baya itu berbicara. Tetapi dia selalu berkata lebih banyak dan kasar kepadanya. "Heh! Kamu ngapain halangi saya?!" "Bu, pikirkan juga keadaan Desi!" ucap Arga. Nandini berjalan ke arah meja belajar. Dia berusaha membuat barang jatuh. Tangannya tidak berhenti bergerak untuk menggeser sebuah gelas kaca itu jatuh. Setiap kali berusaha menjatuhkannya, tangannya selalu menembus gelasnya. "Ayo, ayo!" ujar Nandini mulai kesal. Prang! Sebuah gelas kaca jatuh dari meja. Bukan Nandini yang melakukannya, tapi wanita paruh baya dengan pakaian dress berwarna birunya. Dengan banyak bercak darah di pakaiannya. Luka dengan darah yang menutupi sebagian wajahnya. Nandini hanya bisa menatapnya terkejut. Gelas yang sedari tadi dia ingin jatuhkan. Hantu yang mengikuti Devan sejak tadi pagi, menjatuhkannya lebih dahulu. Aaa! Hantu wanita itu menjerit dengan suara melengking. Kemudian kedua tangannya mengangkat dan menggeser semua barang yang ada di depan matanya hingga jatuh. Barang-barang di meja belajar di jatuhkannya. Lampu belajar dia geser dengan tangannya, hingga pecah. Orang-orang pun terdiam membisu. Melihat barang-barang itu jatuh dengan sendirinya. Banyak barang yang jatuh hingga membuat mereka memundurkan kakinya. Mereka menelan salivanya melihat sesuatu yang tidak terlihat melakukan aksinya. Arga terkejut melihat beberapa barang yang jatuh dan berguling. Bola matanya mengikuti pensil itu yang berguling perlahan ke arahnya. Pensil yang baru berhenti berguling setelah berpapasan dengan kakinya. Bola matanya bergerak ke sumber kegaduhannya. Arga membelalakan matanya melihat siapa yang mengacaukan barang-barang milik Desi. Hingga sebuah pulpen melesat tepat di depan matanya. Pulpen itu melesat hingga mengenai sebuah foto Desi dan Ibunya. Pulpen itu menancap tepat di wajah Ibunya Desi. Beberapa detik kemudian, pulpen itu jatuh. Membuat bekas retakan yang merusak fotonya. Arga nampak syok melihat pulpen tanpa penutupnya melesat melewatinya begitu saja. Dia tidak berhenti menatap foto yang terpajang dengan retakan. Arga menoleh perlahan melihat ke arah yang memberantakan kamar. Matanya langsung terfokus kepada hantu yang mengikuti Devan sejak tadi pagi. Dia menghentikan kegiatannya. Perlahan dia menoleh ke arah Arga dengan tatapan tajam. Bukan, tapi ke arah bibinya Desi. Terlihat dari matanya yang membara tersulut emosi. Dia berjalan ke pintu, Arga memperhatikan setiap langkahnya. Hingga dia berdiri tepat di depan Putri. "Putri!" panggil Arga dengan keras. Putri hanya menoleh dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia menatap Arga bingung. Panggilan Arga membuat Nandini melihat ke arah yang dimaksud. Dia membelalakan matanya setelah menyadari apa yang akan dilakukan oleh hantu itu. Hantu itu masuk ke dalam tubuh Putri. Seketika Putri tumbang, membuat Devan langsung menghampirinya. "Putri!" Devan menepuk pipinya seraya memanggil namanya berulang kali. Devan nampak panik, dia terus berusaha membangunkannya. "Arga! Putri kenapa?" tanya Devan panik. Situasi rumit yang dilihat Desi membuatnya sedih sekaligus kebingungan. Tidak ada sang pelindung yang berhati malaikat di sisinya. Membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Desi melihat teman-temannya yang nampak panik. Orang-orang yang terus menyalahkannya tanpa jeda. Kini berhenti bicara, seolah bisu. Mereka ikut kebingungan dengan apa yang terjadi. Arga bergerak ke arah Putri berada. Devan menatapnya dengan raut wajah yang khawatir. "Dia kenapa lagi?" tanya Devan. "Gawat," gumam Arga melihat Putri yang mulai membuka matanya. Putri membuka matanya perlahan. Dia bangkit dengan tatapan lurus ke depan tanpa berkedip. Melihat tatapannya Arga benar-benar yakin dia bukan lah Putri. Devan nampak terheran dengan tatapannya yang berbeda dari biasanya. "Putri?" panggil lirih Devan. "Dia bukan Putri," ujar Arga. Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Arga. Devan menoleh ke arahnya, menatap lawan bicaranya. "Apa?" ucap Devan tidak mengerti. "... Dia yang selalu mengikutimu sedari pagi," jelas Arga kemudian. "Dia?" tanya Devan menatap Putri. Tiba-tiba dia bangkit dan berdiri. Bola matanya bergerak ke segala arah tanpa mengedipkan matanya. Dia menatap ke arah Devan dan Arga sejenak. Bola matanya kembali bergerak ke arah wanita paruh baya yang berdiri di depan Desi. Dia berjalan perlahan menggunakan tubuh Putri yang berhasil diambil alih olehnya. Hingga dia berhasil berada di samping wanita itu. Wanita paruh baya itu menoleh, dia menatapnya heran. "Mau apa kamu?" tanya wanita paruh baya itu memundurkan langkahnya. Dia berjalan mendekat dengan bola mata yang terus menatap ke arah orang yang sudah membuat anaknya menangis. Wanita paruh baya itu mulai ketakutan dengan matanya yang terus menatap tanpa berkedip. "Kamu..." ucapnya sembari tetap menatapnya. "Apa? Kamu mau apa?!" tanya wanita paruh baya itu memberanikan diri. "Apa yang kamu lakukan, hingga membuat anakku menangis?!" tanyanya dengan nada tinggi. "Anakku?" gumam wanita paruh baya itu yang terkejut mendengar kata yang terucap. Desi melihatnya dalam penuh tanda tanya. Air matanya berhenti mengalir. Dia melihat Putri yang seperti bukan dirinya. Dia mengatakan hal aneh, membuat benaknya penuh tanya. "Jangan pernah buat anakku tersakiti!" ucapnya dengan suara serak. Dengan menggunakan tubuh Putri dia mencoba mencekik wanita paruh baya itu. Kedua tangannya mencoba meraih lehernya. "Jangan gunakan tubuh Putri seenaknya!" ucap Devan meninggikan nada suaranya. Sebelum kedua tangannya berhasil menyentuh leher wanita itu. Devan menghalanginya dengan memegang kedua tangan Putri erat. "Keluarlah dari tubuh Putri!" ucap Devan penuh penekanan. Hantu itu terus mengendalikan tubuh Putri. Dia melakukan perlawanan kepada Devan dengan mencoba melepaskan genggamannya. Tenaganya yang kuat membuat Devan terhempas hingga harus jatuh tersungkur. "Devan!" teriak Nandini. Dia berjalan ke arah Devan dengan perlahan. Bola matanya terus menatap ke arah orang yang menghalangi aksinya. "Akh," Devan meringis kesakitan. Devan memegang tangan kananya yang terasa sakit. Melihat dia berjalan ke arahnya, Devan berusaha menjauhkan diri darinya. "Devan!" teriak Arga yang langsung menghampirinya. Hantu itu sudah berada pada jarak setengah meter dari Devan. Arga mencoba menarik lengan Devan menjauh dari hantu itu. Namun, Devan merasa kesakitan pada tangan kanannya. Hingga membuat Arga secara spontan melepasnya. Hantu itu langsung mengarahkan kedua tangannya dan memegang leher Devan. "Uhuk... Akh..." Devan terbaring, kedua tangan berusaha melepas cengkramannya. Lehernya mulai kesakitan, Devan menjadi kesulitan bernafas. Arga kembali ke tempat dimana Devan berada. Arga memegang lengan Putri berusaha melepas cengkraman dari leher Devan. "Devan!" teriak Nandini. Nandini yang sudah sangat panik, tanpa berfikir lebih panjang lagi. Dia langsung berlari cepat memasuki tubuh Putri secara paksa. Perlahan cengkramannya semakin lemah, "Devan..." ucap lirih Putri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN