Bab 33

1043 Kata
Hari yang mulai gelap, bulan mulai meninggi. Dinginnya malam tidak sesuai dengan keadaan yang nampak panas. Perdebatan tidak terelakan, Putri terus mencegah wanita paruh baya itu untuk masuk. "Bu, dia butuh istirahat," ucap Putri yang masih setia di depan pintu menghalangi wanita paruh baya itu masuk. "Seharusnya saya yang butuh istirahat. Sudah empat hari saya diteror sama telpon itu!" ungkapnya. "Iya bener itu," ujar salah satu orang yang datang bersama wanita paruh baya. "Bener! Sampe kami gak bisa tidur!" "Iya, nih!" "Anak itu harus kasih pelajaran!" Sekitar ada sepuluh orang yang datang. Mereka menyerukan keluhan, hingga membuat Putri tidak tahu harus berkata apa. "Biarkan saya masuk!" ucap wanita itu langsung menerobos masuk. "Bu!" panggil Putri mencoba menghentikannya. Namun sebelum Putri menghentikan wanita paruh baya itu. Sekelompok orang ikut menerobos masuk. Putri tidak dapat melakukan apa pun saat ini. "Pak! Bu! Tunggu sebentar," ucap Putri mencoba menghentikan. Namun, mereka sama sekali tidak menggubrisnya. Mereka langsung masuk ke dalam tanpa permisi. *** Dalam ruang kamar yang terlihat sunyi. Devan dan Arga saling menatap dalam tanya yang belum terjawab. "Siapa yang menelponnya?" tanya Devan. "Yang pasti bukan Ibunya," ujar Arga. "Bagaimana bisa?" gumam Devan. "Apa ada orang lain di balik semua ini?" tanya Devan. Devan memegang dagunya menatapa ke bawah. Terlihat mencari jawaban dalam otaknya. "Oh, iya. Tadi sore dia tanya tentang kamu," ucap Devan. "Hah?" "Dia tanya tentang, apa kamu bisa liat mereka yang sudah tiada," ujar Devan sembari duduk dengan posisi menyilang di lantai. "Kenapa dia tanya?" tanya Arga. "Aku gak tau," ujar Devan. Suara berisik terdengar dari luar. Membuat mereka terdiam memfokuskan pada sumber suara yang bising. "Desi?" ucap Arga menunjuk Desi yang mulai membuka matanya. Dia bangkit sembari tangan kanan yang memegang kepalanya. Desi menurunkan kakinya perlahan. Matanya memejam beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. "Desi?" panggil Devan. Desi mendongak, bola matanya bergerak perlahan ke arah sumber suara. Devan bangkit dari duduknya, dia mendekat ke arah Desi. Dia harus sedikit membungkuk untuk menyesuaikan bola matanya. "Devan?" panggil Desi. "Bagus, deh. Kamu sudah sadar sepenuhnya," ucap Devan sembari menatap matanya. Devan kembali menegapkan tubuhnya perlahan menjauh dari Desi. Dia melipat tangannya di depan d**a sembari menoleh ke arah Arga. "Jaga dia, aku mau keluar," suruh Devan. "Aku?" tanya Arga. "Iya lah," balas Devan. "Tapi," ucap Arga menggantung. "Gak mungkin Kak Nandini yang jaga," ucap Devan sembari berjalan melewati Arga. "Ck," decak kesal Nandini sembari melipat tangannya di depan d**a. Kini hanya terdapat Arga yang belum kebingungan. Karena ini pertama baginya masuk ke kamar perempuan. "Mmm... Aku akan duduk di sini," ucap Arga menunjuk lantai di bawahnya. Desi tidak terlalu merespon karena tubuhnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia hanya mengangguk pelan. "Sunyinya dunia..." sindir Nandini. Tiba-tiba Devan datang dengan bola matanya melebar. Seolah ada sesuatu yang besar baru saja dilihatnya. "Devan, ada apa? Kok, kayak habis dikejar setan?" tanya Nandini melihat adiknya yang nampak panik. "Ada... Beberapa orang di luar... Mereka mau masuk kemari," papar Devan. "Orang? Siapa?" tanya Nandini lagi. "Aku gak terlalu paham siapa mereka. Tapi, salah satu orang dari mereka..." ucap Devan menggantung sembari menatap Desi. Desi menatapnya heran, tanda tanya dalam benaknya mulai muncul. Sebelum dia bertanya tentang apa yang terjadi. Sekumpulan orang datang dan berdiri di belakang Devan. Devan menoleh ke arah belakangnya, beberapa orang dengan wajah marah terlihat menatap Desi. Mereka tidak mempedulikan Devan yang berdiri di pintu kamar. "Desi!" panggil wanita paruh baya yang menerobos terlebih dahulu. Desi menatap mereka kebingungan. Dia tidak mengerti situasi rumit yang menimpanya. Orang-orang yang terlihat menatapnya kesal. Arga bangkit dari duduknya, dia menoleh ke belakang. Wanita paruh baya itu berjalan dengan nafas yang memburu. Dia melewati Arga begitu saja. "Jangan mengerjai kami, Desi. Kalau kamu memang kesepian, panggil kami secara baik-baik!" ucapnya meninggikan suara. "A-Apa maksudnya?" tanya Desi tidak mengerti. "Apa maksudnya?!" ucapnya meninggikan suara. Wanita itu menunjukkan ponselnya ke arah Desi. Hal itu membuatnya menganga tidak percaya. Dia membelalakan matanya, melihat nama yang tertera di sana. "Bunda?" ucap Desi tidak percaya. "Jangan pura-pura gak tau!" ucap wanita paruh baya itu kesal. "Tapi aku-" "Kami juga merasa kehilangan, jangan buat kami merasa menderita dengan panggilan gak jelas ini," ujarnya. "Apa?" ucap Desi tidak mengerti. "Iya bener! Kami ketakutan sepanjang malam ini," ucap salah seorang yang ada di belakang Devan. "Iya tuh," ucap seorang wanita paruh baya di sampingnya. Putri berusaha menerobos masuk. Hingga sampai di dalam, dia melihat Desi dengan mata berkaca-kaca. "Desi?" ucap lirih Putri. "Tunjukkan mana ponselnya," ujar wanita paruh baya. "Tapi, ponselnya udah gak ada lagi di sini," ungkap Desi. "Jangan bohong kamu!" ucap wanita paruh baya itu dengan penuh penekanan. "Jangan buat saya ikut gila," ucapnya lagi. "Gila?" gumam Devan. Devan sempat berfikir karena satu kata itu. Dia kembali mengingat kata-kata wanita paruh baya itu tadi sore yang menyuruhnya untuk meminum suatu obat. "Tapi, aku gak bohong tante..." ucap Desi dengan air mata yang mulai mengalir. Putri hendak melangkah maju karena dia tidak tahan dengan semua ini. Namun, baru satu langkah dia berjalan. Arga sudah berjalan ke arah yang hendak ia tuju. Arga menghalangi jarak mereka berdua. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut dengan kehadirannya. "Ngapain kamu?" tanya wanita paruh baya itu. "Maaf, tapi bisa jelaskan lebih detail lagi?" tanya Arga. "Lebih detail? Ini masih kurang detail?!" tanya wanita paruh baya itu dengan nada tinggi. Wanita paruh baya itu kembali menunjukkan notifikasi pada ponselnya. Arga menatap ponsel yang ditunjukkan wanita itu. "Dia Ibunya Desi," ucap wanita paruh baya yang masih memegang ponselnya. Mengetahui hal itu, Arga memegang erat ponsel milik Desi yang sedari tadi ia pegang. Arga menoleh ke belakang, melihat Desi yang masih duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang ketakutan. Derai air mata mengalir membasahi pipinya. Arga semakin geram dengan hal ini. Dia tidak ingin hal semacam ini terjadi lagi. "Tolong tenang dulu," ucap Arga berusaha menenangkan wanita itu. "Sudah cukup saya bersabar selama ini, dia harusnya meminum obat!" ujar wanita itu. Kemudian sekumpulan orang-orang itu ikut tersulut emosi dan menyerukan keluhannya. Tanpa kenal waktu yang tepat untuk menyerukan kekesalan mereka kepada Desi yang sedang berduka. Mereka dibutakan oleh rasa takut dan kecemasan yang membuat mereka melakukan hal sekejam ini kepada Desi. Desi menaikkan kakinya, dia menjauhkan dirinya dari wanita itu. Hingga punggungnya menempel tembok. Dia menekuk kakinya dan menutup telinga. "Nggak... Nggak mungkin..." ucapnya sembari sesenggukan. "Nggak mungkin!" teriak Desi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN