Matahari makin bergerak barat hendak mengundurkan diri. Langit terlihat berwarna jingga.
Desi nampak tersenyum ketika berbicara dengan Devan. Tetapi, Devan hanya berbicara apa adanya. Tanpa sadar, Devan telah membuat seseorang tersenyum setelah apa yang dialaminya beberapa hari yang lalu.
"Kak Putri lucu juga ya," ujar Desi.
"Orang semacam dia lebih pantas disebut singa daripada badut penghibur," celetuk Devan.
"Oh iya bener, aku bisa bayangin gimana marahnya," ujar Desi sambil melihat ke atas dengan senyum yang terukir.
"Kemana mereka? Kok, lama banget?" tanya Desi sembari menatap Devan.
"Gak tau tuh, udah satu jam mereka pergi," ucap Devan.
Devan mengambil segelas jus jeruk yang telah disiapkan oleh Desi. Gelasnya ia dekatkan ke bibirnya.
"Temanmu Arga, bisa lihat yang udah gak ada?" tanya Desi terlihat serius.
Mendengar hal itu, Devan menghentikan jus yang baru saja akan masuk ke dalam mulutnya. Tangannya menjauhkan gelas dari bibirnya. Devan kembali menatap Desi yang terlihat sangat ingin mengetahui kebenarannya.
Devan meletakan gelasnya ke meja kembali, "Iya, bisa..." balas Devan.
"Memangnya kenapa?" tanya Devan penasaran.
"Aku-" ucapan Desi terpotong oleh suara ketukan pintu.
"Mana Vira?" tanya wanita paruh baya itu langsung bertanya ke intinya.
"Oh, ada di dalam tante. Masuk aja," ucap Desi mempersilahkan.
"Jangan lupa minum obatnya ya," ucap wanita paruh baya itu kepada Desi.
"Mm... iya," balas Desi sembari menunduk.
Kemudian wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam. Dari dalam terdengar sedikit keributan.
"Maaf, semenjak Ibuku gak ada. Mereka jadi sering ke sini buat nemenin, tapi kadang bikin berisik juga," ucapnya dengan senyum yang dipaksa.
"Ahh, begitu..." jawab Devan.
Kini suasana mendadak menjadi canggung. Tidak ada satu kata pun terucap.
"Nanti kalo butuh apa-apa bilang sama tante, ya?" ucap wanita paruh baya itu yang terlihat menggandeng seorang gadis dengan muka masam.
Mereka berjalan pergi sampai di gerbang, mereka berpapasan dengan Arga dan Putri yang membawa sekantung plastik besar hitam. Sementara Arga, membawa sebuah penggaris di tangannya.
Mereka saling menyapa kepada wanita paruh baya itu. Kemudian mereka berjalan ke arah Devan dan Desi yang sedang duduk di sofa.
"Kalian nunggu lama?" tanya Putri sambil berjalan menuju sofa.
"Lama banget, habis ngeronda?" sindir Devan.
"Ih, nih anak. Hobinya itu sewot mulu dari tadi," ucap kesal Putri.
"Pulang sana! Udah sore tau," usir Devan.
"Devan..." geram Putri.
Arga langsung berjalan dan menengahi mereka. Kedua tangannya membentang mencoba menghentikan pertikaian mereka.
"Aih... Lagi di rumah orang ini, loh!" ucap Arga menengahi mereka.
"Ck," decak kesal Putri.
Kemudian mereka kembali duduk dengan posisi sama seperti sebelumnya. Arga harus kembali duduk di antara mereka berdua.
Waktu terus berjalan, mereka terlihat serius mengerjakan tugasnya. Sampai matahari tergelincir dan bulan memunculkan dirinya. Langit terlihat berwarna biru gelap, bintang tidak terlihat dari luar.
"Udah selesai belum?" tanya Putri yang menumpu dagunya dengan tangan kanannya.
"Sebentar lagi," ucap Arga.
"Aku bosan..." ujar Putri.
"Aku lebih bosan," gumam Nandini.
"Kalian pulang duluan sana!" ucap Devan sembari menulis di bukunya.
"NGGAK!" ucap mereka secara bersamaan.
Seketika tinta pulpen yang ia gores ke kertas secara spontan menggores di luar batasnya karena Devan terkejut. Pulpen yang ada dalam genggamannya dijauhkan dari bukunya. Perlahan dia taruh di meja, bola matanya menatap lurus ke depan. Devan menghela nafasnya panjang.
"Tugas selesai," ujar Arga.
"Wah! Akhirnya penantian lama," ucap syukur Nandini.
"Sudah pukul 6 sore," ucap Desi melihat ke arah jam dinding.
Mereka telah bersiap-siap untuk pulang. Beberapa buku Devan tumpuk dan dirapikannya.
Suara ponsel berdering, terdengar dari dalam ruang sana. Seketika, wajah Desi memucat. Keringat dinginnya membasahi pelipisnya. Dia tidak bergerak sedikit pun dan hanya menatap lurus ke depan. Bola matanya melebar, seolah berada di antara perasaan terkejut dan ketakutan menjadi satu.
Suara ponsel terus berdering, membuat mereka yang sedang bertamu kebingungan. Putri mengulurkan tangannya menyentuh Desi yang ada di dekatnya.
"Desi?" panggil Putri menepuk bahu Desi.
Desi nampak terlonjak kaget, ketika Putri menepuknya. Desi bangkit dari kursinya.
"Ah, maaf. Aku akan segera kembali," ujarnya sembari berjalan menuju sumber suara.
Mereka saling menatap bingung setelah Desi pergi. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi.
"Dia kenapa, Put?" tanya Devan penasaran.
"Mana kutau... Tapi dia terlihat cemas," ungkap Putri.
"Arga, kamu tau sesuatu?" tanya Putri menoleh ke arah Arga.
"Dia-"
Aaa!
Arga tidak dapat menyelesaikan dialognya. Suara jeritan histeris terdengar cukup keras. Suaranya berasal dari dalam, membuat mereka langsung memfokuskan pada sumber suara.
"Desi!" panggil Putri berlari masuk ke dalam.
Mereka mengikuti Putri dari belakang. Langkahnya dipercepat, hingga Devan melihat Desi tergeletak di lantai dalam kamar.
"Desi, Desi, Desi?" panggil Putri sembari terus menepuk pipinya berkali-kali.
"Kalian, angkat tubuhnya ke kasur," perintah Putri.
Devan dan Arga langsung mengangkat Desi bersamaan. Perlahan mereka membopong Desi ke kasur.
"Dia kenapa?" tanya Devan menatap Putri yang berdiri di pintu.
"Saat aku lihat, dia sudah ada terbaring di sini," jelas Putri.
Devan mendekat ke arah ponsel yang tergeletak. Dia harus membungkukkan badannya untuk mengambil ponsel itu.
"Ponsel?" ucap Nandini melihat Devan yang membolak-balikan ponsel itu.
"Buka ponselnya," perintah Nandini.
"Oh, iya. Sebentar," ucap Devan.
Kini semuanya tertuju pada Devan yang sedang membuka ponselnya. Layar ponsel terlihat memancarkan cahaya. Devan menunjukkan ponselnya kepada yang lain.
Mereka bertiga mendekat ke arah ponsel itu ditunjukkan. Putri menutup mulutnya tidak percaya. Nandini membelalakan matanya melihat notifikasi di ponsel milik Desi.
"Jadi itu," gumam Arga.
"Apa maksudmu?" tanya Devan tidak mengerti.
Mereka menjadi memusatkan bola matanya kepada Arga. Pertanyaan yang sama menjadi alasan mereka.
Arga mengangkat wajahnya, dia menatap teman-temannya. Arga mengambil ponsel dari tangan Devan. Arga kembali menatap nama yang tertera dalam notifikasi ponsel itu.
"Arga?" panggil Devan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Putri.
Suara ketukan terdengar jelas, sebelum Arga akan menjelaskan sesuatu. Mereka saling menatap dengan tanya yang sama 'siapa?'.
Suara yang terdengar ramai, mereka memanggil nama Desi tanpa menyebutkan salam terlebih dahulu. Diiringi suara ketukan pintu tanpa jeda.
"Biar aku ke sana," ucap Putri sembari berjalan keluar.
Putri berjalan keluar, dia melihat beberapa orang berkumpul di luar. Setelah Putri keluar, orang-orang itu menghentikan kegiatannya.
Mereka terdiam tanpa menimbulkan suara. Hal itu membuat Putri bingung dengan situasi ini.
"Ada apa ya, ramai begini?" tanya Putri ragu.
"Mana Desi?" tanya wanita paruh baya yang dia lihat saat berpapasan dengannya tadi sore di sini.
"Oh... Dia ada di dalam kamarnya," ujar Putri.
Wanita itu langsung berjalan melangkahkan kakinya hendak masuk. Tetapi itu dicegah Putri, dia menghalangi wanita itu masuk.
"Maaf jika saya lancang, tapi jawab dulu. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Putri dengan serius.
"Ada apa?!" ucap wanita itu.
"Minggir, dia keponakan saya. Ini bukan urusan kamu!" ujarnya berusaha masuk.
"Katakan dulu apa yang terjadi?" tanya Putri tidak mau mengalah.
Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Dia menatap Putri dengan emosi yang terlihat membara.
"Dia selalu meneror kami akhir-akhir ini! Dia menelepon nomor kami dengan nomor ibunya. Apa kamu nggak tau betapa takutnya kami akan teror itu?!" ucapnya dengan meninggikan suaranya.
"Teror?"