Tepat di depan mata mereka, terlihat sebuah rumah berwarna putih dengan lantai dua. Cukup besar untuk sebuah rumah yang ditinggali oleh dirinya sendiri. Pintu kayu yang terukir bergambar bunga. Dua tanaman tampak menggantung di sisi kanan dan kiri pintu. Bunga anggrek yang menggantung di sisi kanan dan kiri pintu nampak cantik.
Pagar besi yang terlihat sedikit pudar warnanya. Desi membuka pintu pagar besi, tanpa sepatah kata pun dia langsung masuk. Devan dan lainnya hanya berjalan mengikutinya dari belakang.
Harumnya wangi bunga anggrek saat berada di depan pintu menyeruak. Bola mata Devan bergerak ke segala arah, memperhatikan setiap detail halaman yang tidak terlalu luas. Rumput hijau dengan beberapa tanaman yang menghiasi beberapa sudut dan satu pohon mangga besar yang rindang.
Desi mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tangannya meraih gagang pintu, dia memutarnya ke perlahan. Suara decitan gagang pintu yang bergesekan di dalamnya. Membuat mereka memasang mata baik-baik apa yang ada di dalamnya.
Tiba-tiba sebuah tangan muncul meraih pintu dari dalam. Sontak hal itu membuat mereka terkejut dengan tangan yang meraih pintu dari dalam.
"Buka!" perintah Desi cukup keras.
Tangan yang berada di atas gagang pintu. Terlihat menahan pintu agar tidak terbuka. Suara cekikikan wanita terdengar dari dalam.
"Buka, gak!" perintah Desi dengan nada tinggi.
Perlahan tangan itu mulai melepas cengkramannya perlahan. Desi mendorong pintunya perlahan.
"Ah, maaf... Dia sepupuku, hari ini dia berkunjung ke rumahku," papar Desi menatap ke arah teman-temannya.
"Ohh, iya gak apa-apa," ucap Putri sembari tersenyum.
Setelah mendengarnya, Desi kembali menggenggam erat gagang pintu dan membukanya perlahan. Desi melangkahkan kakinya memasuki ruang.
Kursi sofa berwarna coklat selaras dengan meja kayu di tengahnya. Beberapa foto terlihat terpampang di dinding ruang tamu.
Desi membalikan badannya, "Duduklah dulu," ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
Devan kembali memperhatikan sekitarnya. Bola matanya bergerak ke segala arah, dia memutar tubuhnya untuk melihat sekitarnya. Setiap foto yang terpajang hanya ada dua orang.
Wanita paruh baya yang terlihat merangkul Desi. Mereka terlihat tersenyum bahagia. Tidak terlihat ada foto ayahnya.
"Devan, duduk. Gak sopan tau," ucap Nandini yang sedari tadi melihat Devan berdiri.
"Devan, duduk!" perintah Putri.
Devan hanya menatapnya kesal. Devan tidak menyangka kakaknya akan memberi tahu semuanya kepada Putri. Dia berjalan perlahan dan duduk di samping Arga.
Arga menjadi penengah antara dua orang yang sedang saling menggerutu dalam hatinya. Putri terlihat melipat tangannya di depan d**a sambil memalingkan wajah dari Devan.
Sementara Devan, dia berpura-pura tidak melihat Putri di sana. Suasana aneh dirasakan Arga yang duduk di antara mereka.
Arga hanya bisa menghela nafas melihat mereka berdua. Dia sama sekali tidak tahu jika ruang akan menjadi sesenyap ini.
Arga mengarahkan bola matanya ke pintu keluar. Wanita paruh baya yang selalu melihat ke arah foto tanpa mengedipkan matanya. Dia selalu di sana sedari tadi tanpa bergerak sedikit pun.
Hingga pada akhirnya Desi tiba membawa beberapa minuman dan makanan ringan di nampan yang ia pegang. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya agar memudahkan dirinya untuk menaruh piring serta beberapa gelas.
"Tunggu sebentar lagi ya, aku mau ambil buku," ujarnya kembali memasuki tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga.
"Iya, makasih Des..." ucap Putri menyunggingkan bibirnya.
Ruang kembali senyap, membuat Arga merasa canggung berada di antara mereka.
"Mending Putri pulang aja, deh!" ujar Devan kemudian.
Putri menoleh ke arah Devan, dia menurunkan kedua tangannya. Matanya melirik Devan tajam.
"Aku gak mau! Mending kamu aja yang pulang!" ucap Putri dengan kepala yang memanas.
Devan menoleh menatapnya, "Harusnya Kak Putri aja yang pulang! Aku punya urusan di sini," ucap Devan tidak mau mengalah.
"Jangan panggil aku 'Kak' ya!" kesal Putri.
"Memangnya aku ini kakakmu apa?!" sambung Putri.
Ketika mereka sedang beradu mulut. Secara tiba-tiba pintu tertutup perlahan. Suara decitannya membuat mereka melihat ke sumber suara.
Pintu yang tinggal beberapa senti menutup. Tiba-tiba menutup dengan keras hingga menimbulkan suara keras.
"Kalian ini, udah tau lagi di rumah orang. Malah ribut kayak gini!" ucap Nandini yang kesal.
Wanita paruh baya itu berada di depan pintu dengan masih menyentuh pintu. Arga tidak berani menatap matanya. Dia hanya bisa menunduk berpura-pura tidak melihatnya.
Sementara Devan dan Putri saling memalingkan wajah. Nandini hanya bisa meminta maaf beberapa kali atas kelakuan mereka kepada wanita paruh baya itu.
"Maaf, atas keributan tadi..." ucap Nandini tidak enak.
Namun, wanita itu hanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang keluar. Dia berjalan pelan ke tempatnya semula. Wanita itu kembali menatap foto dirinya bersama Desi.
"Di sini ada hantu juga?" tanya Devan menatap Nandini.
"Ada, yang tadi ngikutin kamu," ujar Nandini.
"Hah? Dia masih ngikutin aku?" tanya Devan mulai ketakutan.
"Masih," jawab singkat Nandini.
"Aku hancurin benda itu, ya?" mohon Devan.
"Jangan!" cegah Nandini.
"Tapi, Kak..." ucap memelas Devan.
Nandini membalikkan badannya menatap Devan "Jangan sekarang, Devan."
"Tapi-"
"Oke, cukup. Kita lagi di rumah orang, jangan buat keributan lebih dari ini," tegas Arga tidak tahan dengan keributan itu.
Ruang kembali senyap, mereka terdiam tanpa sepatah kata pun yang terucap. Sampai langkah kaki terdengar dari dalam. Desi keluar dengan membawa dua buku tebal dan sebuah buku catatan di atasnya.
"Kita mulai sekarang aja," ucap Desi sembari berjalan menuju sofa.
"Punya penggaris?" tanya Desi.
"Nggak ada," ucap bersamaan Arga dan Devan.
"Sekolah gak modal," sindir Putri.
"Emang Kak Putri punya penggaris?" tanya Devan.
"Jangan panggil aku dengan sebutan embel-embel 'KAKAK', emang aku kakakmu apa?" gerutu Putri.
"Punya gak?" tanya Devan.
Putri terdiam sejenak, "Nggak," ucapnya singkat.
"Sendirinya aja gak modal," sindir Devan.
"Hari ini gak ada pelajaran matematika, jadi aku gak bawa," ucap Putri.
"Alasan," gumam Devan.
Arga hanya bisa menghela nafas. Dia menatap lurus ke depan berharap ini segera berakhir.
"Apa kamu bilang?" tanya Putri mulai kesal.
"Sudah cukup, kalian berdua!" ucap Arga sedikit berteriak sembari kedua tangan yang membentang berusaha menghentikan pertikaian mereka.
Tangan Arga langsung di genggam Putri. Arga menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Ikut aku beli penggaris," ajak Putri.
"Apa? Kenapa aku?" tanya Arga.
Tanpa menjawab pertanyaan Arga, Putri langsung berdiri dan menarik lengannya.
"Kami pergi dulu, ya..." pamitnya langsung pergi.
"Devan!" panggil Arga berharap dia mau menolongnya.
Tetapi, Devan hanya terdiam sembari menatapnya saja. Tanpa berbicara sepatah kata pun untuknya sampai wujudnya menjauh dari pandangannya.
"Maaf, buat keributan. Dia memang selalu begitu," ucap Devan sembari menunduk karena tidak enak hati.
Namun, ketika Devan menatap wajahnya. Desi terlihat sedang berusaha menahan tawanya. Kedua telapak tangan menutup mulutnya.
"Ketawa?" tanya Devan.
"Ppfft... Maaf, tapi itu lucu..." ucapnya dengan senyum yang belum menghilang dari bibirnya.
"Itu menyebalkan bagiku," gerutu Devan.