Bab 30

1072 Kata
Waktu yang ditunggu banyak murid telah tiba. Setelah lama berada dalam kelas dengan kertas dan tinta yang mengisi beberapa waktunya. Akhirnya suara bel istirahat berbunyi. Mereka berbondong-bondong berjalan keluar kelas untuk mengisi perut dan mencari udara segar. "Devan, mau keluar?" tanya Arga. "Nggak, kamu sama Kak Nandini aja sana," ucap Devan mengibaskan tangannya menyuruh mereka pergi. "Yakin gak mau ikut?" tanya Nandini. "Nggak," jawab singkat Devan. "Awas loh, nanti ada yang..." ucap Nandini berusaha menakut-nakuti Devan. "Pergi sana!" usir Devan. Devan hampir saja ketakutan karenanya. Dia memang menyukai novel bertema horor, tetapi dia sangat tidak suka jika apa yanh dia baca benar-benar nyata. Nandini hanya terkekeh dibuatnya. Mereka pun pergi dari kelas meninggalkan Devan di kelas. Setelah mereka pergi, beberapa perempuan masuk dan tertawa lepas saat masuk kelasnya. Empat orang sedikit berbisik ketika melihat Desi yang terdiam di kelas. Devan membenamkan kepalanya, dia terlalu lelah saat memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Suara langkah kaki yang mengarah kepadanya, membuat Devan membuka matanya dan mendongak. Dia melihat para perempuan yang tadi tertawa lepas saat memasuki kelas. "Devan!" seru salah satu orang perempuan yang memegang makanan ringan ditangannya. "Kenapa?" tanya Devan. "Kamu satu kelompok sama Desi?" tanyanya. "Oh... Iya," jawab singkat Devan kemudian dia kembali membenamkan wajahnya. "Eh, katanya orang tuanya meninggal pas kecelakaan di TPU beberapa hari yang lalu," ucapnya yang masih duduk di kursi Arga. "Iya, bener. Kata tetangga, dia sering teriak-teriak histeris gitu," sambung teman perempuan itu. "Sikapnya mendadak aneh, dia jadi pendiem akut," ucap perempuan bertubuh gempal. "Padahal sebelumnya dia biasa aja," ucap perempuan berkacamata. Devan mulai kesal dengan kebisingan yang mengisi ruang pendengarannya. Dia mendongakan kepalanya menatap para perempuan yang sedang sibuk membicarakan orang lain. "Kalau mau ngomongin orang, jangan di sini!" ucap Devan penekanan. Seketika mereka berhenti berbicara, dan melihat ke arah sumber suara. Mereka langsung menatap sinis. "Issh... Ganggu aja," gerutu salah seorang diantara mereka. "Pergi yuk!" ajaknya kepada teman-temannya. Mereka pun melenggang pergi sembari menggerutu. Devan hanya bisa menghela nafas mendengar dirinya dibicarakan oleh mereka. Devan merasa jika dirinya dilihat oleh seseorang. Dia menengok ke arah dimana Desi berada. Namun, ketika Devan menatapnya dia memalingkan wajahnya. Devan tidak ingin mengambil pusing hal itu. Dia mengambil sebuah buku novel di tasnya. Devan menyenderkan tubuhnya di tembok. Tangan kirinya memegang buku, bola matanya bergeran dari kiri hingga ke bawah. Tangan kanannya sesekali membalikan lembar kertas di buku novelnya. Hingga Arga datang membawa sebotol minuman di tangan kirinya. Tangannya menyodorkan sebotol minuman dingin itu ke arah Devan. "Nih, minumanmu," ucap Arga sembari menyodorkan sebotol minuman. "Aku gak mesen minuman," ucap Devan menurunkan bukunya. "Dari Kak Putri," balas Arga duduk di kursinya. "Kalian ketemu sama dia?" selidik Devan. "Tadi-" ucapan Arga kembali dipotong oleh Nandini. "Tadi gak sengaja ketemu di kantin," jawab Nandini cepat. Nandini duduk atas meja Devan dengan kaki yang diayunkan. Dia bersenandung ria, entah apa yang difikirkannya saat ini hingga dia terlihat senang. "Jadi langkah pertama," ucapnya kemudian membuat Arga dan Devan melihat ke arahnya. "Bujuk dia buat kerja kelompok di rumahnya, jadi kita bisa lihat situasinya, deh!" ujar Nandini dengan mengangkat kedua tangannya seperti sedang merayakan hari besar. "Gampang banget bicaranya," gerutu Devan. "Emang gampang, kok!" ucap Nandini tidak terima. "Ah, terserahlah!" ucap Devan kembali membaca buku novelnya. Nandini mendekatkan wajahnya di atas buku novel yang menutupi wajah Devan. Perlahan Devan menaikkan bukunya ke atas menutupi wajah Nandini dari pandangannya. Tiba-tiba wajah Nandini perlahan menembus buku novel milik Devan. "Woah!" sontak secara spontan Devan melempar buku itu tinggi karena terkejut. "Kak Nandini..." geram Devan. "Aw," buku itu jatuh tepat di atas kepala Devan. Arga menahan tawanya melihat, wajah kesal dan kelakuan kakaknya itu. Arga menutup mulutnya berusaha untuk tidak tertawa. Nandini hanya tersenyum lebar melihat wajah adiknya yang begitu kesal kepadanya. Dia melipat tangannya di depan d**a. "Harusnya ada yang suatu hal yang kamu lakukan sekarang, daripada membaca buku novel," ujar Nandini sembari menunjuk buku novel yang tergeletak di bawah kursi Devan. "Apa pun itu, aku gak mau!" ucap Devan kesal. "Kalau gak mau, aku kasih tau Putri biar dia ikut," ancam Nandini. "Jangan!" cegah Devan. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Devan langsung tanpa mau berbasa-basi. "Seperti yang tadi kubilang," ujar Nandini. "Apa?" tanya Devan tidak mengingatnya. "Bujuk dia, buat kerja kelompok di rumahnya," ucap Nandini sembari memegang keningnya. "Hanya itu?" tanya Devan. Tangan Devan mengulur meraih buku yang ada di bawah kursinya. Dia harus sedikit menunduk agar tangannya bisa mencapai buku itu. Bola matanya kembali mengarah kepada kakaknya. Tubuhnya ia tegakkan, tangannya menaruh buku itu di meja. "Hanya itu," jawab Nandini. Setelah mendengarnya Devan beranjak dari kursinya. Dia berjalan menuju dimana Desi berada. Devan berdiri tepat di depan gadis itu. Desi mendongak, menatap orang yang berdiri selama beberapa detik. "Itu... Kerja kelompoknya hari ini di rumahmu, ya?" ucap Devan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak, kerjakan sendiri aja. Aku gak mau," ucap Desi menolak. "Tapi, Leo gak mau ikut. Kamu harus ikut kerja kelompok," bujuk Devan. "Kalau nggak, aku bisa kerepotan," sambung Devan. "Oke, tapi jangan pernaha tunjukkan gantungan kunci itu padaku," ucapnya memberi syarat. "Harus aku apakan gantungan kuncinya?" tanya Devan. "Terserah, buang atau bakar. Aku gak peduli," ucap Desi penuh emosi. "...Mm oke," ucap Devan menyetujui. "Sepulang sekolah ya," ujar Devan sembari tersenyum. Desi mengangguk ragu, dia kembali ke buku catatan di depan matanya. Devan membalikkan tubuhnya, dan berjalan menuju ke arah Nandini dan Arga. "Bisa?" tanya Nandini. Devan hanya mengangguk sembari mengulurkan tangannya, mengambil buku novel yang belum selesai dibaca. Devan duduk di kursinya tanpa mengindahkan pertanyaan kakaknya. "Hei!" kesal Nandini. "Oh? Ah, iya. Dia mau," ujar Devan kembali membaca bukunya. "Kenapa gedenya nyebelin, sih?" gerutu Nandini melihat kelakuan Devan yang membuatnya cukup kesal. Devan menurunkan bukunya perlahan. Dia hanya tersenyum simpul mendengar kalimat itu. Kemudian melanjutkan membaca buku novelnya. Beberapa jam mereka lalui di sekolah. Hingga hal yang paling ditunggu tiba. Suara bel pulang menggema di setiap lorong. Membuat para siswa kegirangan. Setelah guru pergi, mereka berbondong-bondong keluar dari kelas. Ketika kelas mulai sepi, mereka berempat telah bersiap untuk pergi. Hingga tiba seseorang sambil berlari kencang menuju kelas Devan. "Devan!" panggil Putri tersengah-engah. "Pulang aja sana," usir Devan. "Aku capek-capek ke sini, hah... Langsung diusir?" tanya Putri dengan nafas trsengal. "Aku ikut!" seru Putri. "Kan mau kerja kelompok," ucap Devan berusah mencegah Putri ikut. "Nggak!" seru Devan. "Jangan coba-coba rahasiakan apa pun dariku," ucap Putri sembari jari telunjuk yang diarahkan kepada Devan. "A-Aku gak main rahasia," ucap Devan sedikit terbata-bata. "Aku sudah tau semuanya dari Kak Nandini," ujar Putri. "Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN