Beberapa menit terus berjalan, tinta yang terus menggores kertas. Hanya suara itu yang terdengar. Mereka terdiam menyibukkan diri dengan tugas yang ada di depan mata.
Guru yang ada di depan mereka terlihat memejamkan mata. Dia masih memainkan penggarisnya. Tepukkan penggaris yang sesuai dengan detik waktu yang berjalan, membuat mereka tidak berani mengalihkan pandangannya dari tugas yang ada di depan mata.
Devan menatap Nandini yang sedang berdiri memperhatikan gadis yang bernama Desi itu. Gadis itu sudah lebih baik, meski terlihat sedikit pucat di wajahnya. Tangannya mengenggam erat pulpen, dia tidak berhenti menggoreskan tinta ke buku catatannya.
Devan kembali menatap gantungan kunci yang akan membuatnya kerepotan. Tangan kanannya menumpu dagu, bola matanya melihat ke arah gantungann kunci.
Beberapa kali dia harus menghela nafas setiap kali melihatnya. Devan kembali mengingat keputusan yang dibuatnya bersama Nandini.
***
"Jangan buat Putri terlibat dalam hal semacam ini," ucap Devan serius.
"Meskipun dia gak boleh ikut, dia pasti maksa ikut," ujar Nandini sembari melipat tangannya di depan d**a.
Seketika Devan menyadari hal itu. Dia sangat memahami sifat Putri yang keras kepala.
"Kalau dia maksa ikut, kita bisa apa?" tanya Nandini.
Devan menyenderkan tubuhnya pada tembok di sampingnya. Tangannya meraih pulpen hitam di mejanya. Dia memperhatikan lekat-lekat pulpen itu selama beberapa detik. Dia mendongakan kepalanya menatap Nandini.
"Setidaknya jangan buat dia pingsan di depan mataku," ujar Devan.
"Apa?" tanya Nandini tidak mengerti.
"Bukankah waktu itu kamu tinggalkan dia dalam keadaan pingsan?" ucap Devan mengingat kejadiannya.
"Iya sepertinya begitu," ucap Nandini mengingat kejadian yang kemarin.
"Kalau gitu, jangan beri tau dia apa pun soal ini," ucap Devan sembari menaruh pulpennya kembali ke meja.
"Meskipun gak di kasih tau juga, dia pasti rengek minta dikasih tau," ucap lirih Nandini.
"Apa?" tanya Devan tidak terlalu mendengar apa uang dibicarakan Nandini.
"Iya deh iya," ucap Nandini menyetujui apa yang diminta Devan.
Devan mengangguk, dan kembali mengatur posisi duduknya ke depan. Sementara itu, Nandini hanya bisa menghela nafas dengan apa yang diminta Devan.
***
Setelah mengingatnya Devan kembali tidak yakin jika Putri akan pasrah begitu saja. Dia pasti akan memaksa untuk ikut jika dia mengetahuinya.
"Oke, kumpulkan tugasnya di depan!" perintah Pak Wirjo melihat jam tangannya.
Mereka yang belum selesai menggunakan kecepatan kilat dan ilmu perkiraan untuk mengerjakannya, agar tugasnya cepat selesai. Satu persatu maju dengan membawa buku catatan di tangannya.
Arga mengerjakannya dengan secepatnya. Meski harus menggunakan ilmu perkiraan yang belum tentu benar.
"Sini bukunya," ucap Devan meminta buku tugas Arga.
"Tunggu sebentar lagi," ucap Arga.
"Aku duluan," ucap Devan sembari berjalan membawa buku ditangannya.
Dengan terburu-buru Arga menutup bukunya cepat dan berjalan di belakang Devan. Tetapi, tepat di meja paling depan. Wanita berambut panjang dengan pakaian serba berwarna biru tua itu berdiri dan selalu menatap ke arah Desi. Kemudian perlahan bola matanya bergerak ke arah Arga. Seketika Arga langsung menundukkan wajahnya berpura-pura tidak melihatnya.
"Arga? Kumpulin bukunya," panggil Devan yang sudah menaruh bukunya di meja.
"I-Iya," ucap Arga sedikit terbata-bata.
Kemudian dia berjalan ke depan mengumpulkan bukunya. Ketika dia sudah menaruh bukunya, Arga berbalik hendak menuju bangkunya. Tetapi wanita dengan rambut panjang bergelombang itu terus menatapnya. Pakaian berwarna biru tua dengan noda darah dan sebagian wajahnya yang berlumur darah. Membuat Arga mempercepat langkah menuju bangkunya.
Saat berada pada jarak setengah meter darinya. Wanita itu berkata dengan lirih, "Bantu anakku."
Ucapan yang lirih masih dapat terdengar olehnya. Arga menghentikan langkahnya, dia menatap wanita itu.
Arga melihat tangan wanita yang mengangkat perlahan, jari telunjuknya mengarah ke arah gadis bernama Desi. Bola mata Arga mengikuti kemana arah wanita itu menunjuk.
Wanita itu juga yang sudah mengikuti Arga sejak tadi pagi. Dia terus berada di kelas ini.
"Arga, kamu ngapain?" tanya Pak Wirjo yang melihat Arga terdiam di tempat.
"Oh, nggak Pak," ucap Arga sedikit terkejut kemudian melanjutkan berjalan menuju bangkunya.
Dia duduk di kursinya perlahan. Dia menumpu dagu dengan tangannya. Arga menatap wanita yang masih memandang anaknya dari kejauhan.
"Hah..." hela nafas gusar Arga setiap kali memikirkan perkataan wanita itu kepadanya beberapa menit yang lalu.
"Oke, sudah semua ya?" tanya Pak Wirjo yang bangkit dari duduknya.
"Sudah, Pak!" seru murid-muridnya serentak.
"Oke, jangan ribut ya?" suruh Pak Wirjo seraya membawa buku milik para siswanya.
"Iya, Pak!" jawab mereka serentak.
Mendengar jawabannya, pria paruh baya itu berjalan keluar kelasnya. Mereka menunggu guru itu benar-benar pergi menjauh dari kelasnya. Salah satu orang berjalan ke pintu, melihat situasi.
Laki-laki yang melihat situasi di pintu menoleh ke arah teman-temannya. Dia menunjukkan ibu jarinya sebagai pertanda Pak Wirjo sudah jauh.
Mereka pun bersorak kegirangan. Sementara Devan, masih sibuk dengan apa yang ada dalam otaknya.
Mereka kembali mengerjakan kegiatan yang mereka suka. Seketika kelas menjadi seperti pasar. Sangat ramai dan berisik, membuat Devan sedikit terganggu.
Namun, kesenangan mereka berakhir cepat. Setelah seorang wanita paruh baya datang membawa beberapa buku di tangan kanannya. Mereka kembali berlarian menuju tempat duduk masing-masing.
Wanita itu berjalan santai ke tengah. Dia menatap murid-muridnya satu persatu. Bola matanya terfokus kepada Desi yang menunduk menatap bukunya.
"Desi, kamu udah berangkat?" tanya wanita paruh baya berkacamata itu.
Seketika seisi ruang melihat ke arah Desi. Dia mengangkat wajahnya menatap sang guru yang berbicara padanya. Desi hanya mengangguk pelan.
"Syukur deh kalo gitu," ucap wanita paruh baya itu.
"Oke, jadi ada tugas kelompok yah. Sudah saya bagi kelompoknya," ujarnya berjalan menuju tempat duduknya.
Wanita itu duduk di tempatnya, dia mengambil sebuah buku dari beberapa buku yang dia bawa. Semuanya menunggu wanita paruh baya itu berbicara. Hingga dia membuka suara dan membaca nama-nama yang masuk dalam suatu kelompok belajar.
"Devan, Arga, Leo," ucap wanita paruh baya itu menyebut namanya.
"Oh, iya Desi masuk kelompok kalian ya? Dia udah ketinggalan banyak pelajaran, jadi..." ucapnya menggantung.
"Bantu dia ya, Devan?" ujar wanita itu.
"Eh? I-Iya," ucap Devan sembari mengangguk.
Devan menoleh ke arah Desi yang terlihat tidak mempedulikan pembagian kelompoknya. Devan menghela nafasnya panjang.
"Wah... Kebetulan sekali ya?" ujar Nandini sembari tersenyum menatap Devan.
"Tugasnya dikumpulkan besok," ujar wanita itu.
"Oke, kalian cuma perlu baca materi bab selanjutnya saja. Saya ada urusan sebentar. Jangan ribut!" ujarnya beranjak pergi.
Leo beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ke arah Devan. Dia berjalan dengan langkah cepat sembari menatapnya.
"Aku gak ikut kerja kelompok kalian," ucapnya dengan serius.
"Hei! Tapi kan ngumpulinnya besok," ingat Arga.
"Aku gak ikut," ucapnya penuh penekanan.
Devan menatapnya datar, "Oke," ucapnya singkat.
"Apa? Tapi Devan," ucap Arga berusaha memahami maksud dari temannya itu.
"Bagus!" ucapnya girang.
"Tapi-" ucapan Arga terpotong oleh Devan yang menatapnya tajam.
"Lebih sedikit orang, lebih baik," ujarnya.