Bab 28

1022 Kata
"Aku malas untuk membicarakannya tapi," ucap Arga menjeda kalimatnya. Kalimatnya membuat dahi Devan mengerut. Dia menatap serius Arga, menunggu jawaban darinya. "Tapi?" gaung Devan. "Intinya, kita akan menghadapi suatu masalah kecil," ujar Nandini yang berjalan dari depan ke arah Devan. "Lebih tepatnya, kali ini bukan aku yang melibatkanmu dalam masalah kecil ini," ucap Nandini. "Apa maksudnya?" tanya Devan tidak mengerti. Nandini dan Arga saling memandang. Hal itu membuat Devan kebingungan. "Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Devan tidak tahan dengan kebingungan yang ada di depan matanya. "Ada yang ngikutin kamu," ucap Nandini langsung ke intinya. Devan menengok ke kanan dan kiri. Bola matanya bergerak ke berbagai arah. Mencari orang yang mengikutinya. Namun, dia tidak menemukan apa pun. Arga dengan mata yang mengarah ke arah lain. Jari telunjuknya menunjuk letak makhluk yang sedari tadi berdiri tanpa berkata. "Dia, di sana..." tunjuk ragu Arga. "Apa?!" ucap Devan tidak percaya. Teriakkan Devan membuatnya menjadi pusat perhatian teman-teman di kelasnya. Semua tatapan mata mengarah kepadanya. Devan berusaha menutupi rasa malunya dengan kembali menatap buku yang ada di mejanya. "Gantungan kunci itu penyebabnya," tunjuk Arga ke arah benda yang dia maksud. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Devan berbisik sembari menutup mulutnya dengan buku catatan. "Apakah aku harus menghancurkannya?" tanya Devan menunjuk gantungan kunci yang tergeletak di mejanya. "Jangan!" cegah Nandini. "Kenapa?" tanya Devan mengerutkan dahinya. "Sebenar-" ucapan Arga langsung dipotong oleh Nandini. "Kalo dihancurin, nanti yang punya marah," ujar Nandini. Devan menengok ke arah gadis yang bernama Desi itu. Dia kembali menatap mata sang kakak. Nandini hanya memberi jawaban dengan mengangguk. "Tapikan, Kak Nandini lihat sendiri tadi. Lihat gantungan kunci ini aja dia takut," papar Devan. "Kalo dihancurin, nanti kamu mau diikutin hantu itu selamanya?" tanya Nandini. "Diikutin Kak Nandini aja aku udah repot," ucap Devan lirih. "Apa kamu bilang?" tanya Nandini yang masih bisa mendengarnya. "Ah, nggak kok..." ucap Devan sembari tersenyum. Nandini menatap tajam Devan. Namun, Devan hanya tersenyum simpul ke arahnya. "Devan, kamu sehat?" tanya seorang gadis yang duduk di samping bangku Devan. Lebih tepatnya di belakang Nandini. "Eh?" seketika Devan langsung menghentikan senyumnya. "Aneh," ucap gadis itu melanjutkan kegiatannya. "Mampus!" ucap puas Nandini. Devan hanya bisa menghela nafas. Dia berniat mengejek saudara perempuannya itu, tetapi dia melupakan hal yang paling penting. Nandini adalah hantu, dan jika dia membuat wajah aneh atau mengejeknya di tengah banyak orang. Maka hal yang paling memungkinkan adalah Devan dianggap 'GILA'. Devan kembali menatap Arga yang terlihat menutup mulutnya menahan tawa. Mengetahui Devan yang sedang melihat ke arahnya. Arga pun menghentikan kegiatannya. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Devan mulai kesal. "Itu sederhana," ujar Nandini. Devan menatap ke arah kakaknya itu, "Kenapa rasanya seperti pernah terjadi?" Nandini memandang Devan sejenak, dia menatap ke atas. Mencoba membuka lembaran lama dalam memorinya. "Masa, sih?" tanya Nandini tidak berhasil mengingat. "Itu kan, baru kemarin. Adik kakak sama aja," gumam Arga. Devan dan Nandini masih sibuk berfikir. Mereka sibuk mengulik masa yang telah lalu. Hanya karena dua kata yang terdengar tidak asing di telinga mereka. Membuat mereka terlihat berfikir keras. "Sudah mikirnya?" tanya Arga yang mulai kesal mununggu mereka tetap berfikir seperti itu selama beberapa menit. Mereka pun saling menggeleng secara bersamaan. Membuat Arga semakin geram dengan kelakuan mereka yang sangat kompak. Namun, kekompakkan itu tidak tepat baginya. "Sudah cukup," ucap Arga. Perkataan itu membuat mereka memperhatikan Arga dan menghentikan kegiatannya. Devan dan Nandini menatap Arga dengan penuh tanya. "Kasih tau gimana caranya," tanya Arga kepada Nandini. "Caranya?" tanya balik Nandini. "Iya," balas Arga singkat. "Bicara padanya," ujar Nandini. "Wah! Aku inget," ujar Devan melebarkan bola matanya. "Kak Nandini baru ngoming itu kemarin," jelas Devan kembali mengingat. "Devan," panggil Arga. "Kenapa?" "Kadang-kadang kamu juga bisa o'on yah?" ucap Arga. "Pertanyaan macam apa itu?" tanya Devan tidak terima. "Tapi, apa memang harus ngomong sama hantu?" tanya Devan kemudian. "Menurutku itu harus," ucap Nandini sembari memegang dagunya. "Apa gak ada cara lain?" tanya Devan tidak suka dengan rencana yang dibuat Nandini. Nandini hanya menggeleng karena tidak memliki rencana lain. Sementara Arga, dia hanya terdiam seolah menyetujui rencana sederhana Nandini. "Hanya itu rencananya?" tanya Devan. "Kamu punya ide lain?" tanya Nandini. "Menghancurkan gantungan kuncinya," ujar Devan mengambil benda itu dari mejanya. Setelah Devan mengatakan itu, mejanya tergeser secara kasar. Suara decitan pun terdengar cukup keras. Kegaduhannya membuat seisi penghuni kelas melihat ke arahnya selama beberapa waktu. Devan terkejut melihat mejanya tergeser tanpa sentuhan orang lain. Dia menatap ke arah Arga. "Kan sudah kubilang, nanti ada yang marah," ujar Nandini santai. Devan melihat ke sekitarnya, berharap kejanggalan ini bisa dijelaskan secara logikanya. Tetapi, dia tidak menemukan apa pun yang bisa membuat mejanya tergeser tanpa sentuhan orang lain. "Seperti yang Kak Nandini katakan," ucap Arga. "Kamu setuju sama rencana yang konon 'sederhana' itu?" tanya Devan dengan penekanan pada salah satu katanya. Nandini menatap Arga sebagai tanda isyarat. Arga yang melihat hanya bisa mengangguk kepada Devan agar dia mau menerimanya. Devan terdiam sejenak, dia melihat ke bawah. Berusaha mencari keputusan yang tepat. Devan kembali menatap ke arah Nandini. "Nggak," ucap Devan tidak menyetujui rencananya. "Kamu mau diikutin hantu itu selamanya?" tanya Nandini. "Yang itu tentu aku gak mau," ujar Devan. Nandini heran dengan jawaban adiknya itu. Dia menaikkan alis sebelahnya sebagai isyarat meminta jawaban yang lebih detail. "Kamu maunya apa?" tanya Nandini. "Berikan alasan yang lebih jelas," perintah Nandini. "Hei, kalian ngomong terus. Tugasnya sudah?" tanya Pak Wirjo melihat Devan dan Arga berbicara. "Sudah," jawab Devan jujur. "Arga?" panggil Pak Wirjo menanyakan tugas Arga. "B-Belum Pak," jawab Arga ragu sembari tersenyum tipis. "Kerjakan, jangan sampai bapak datang ke sana dan menggebrak meja kamu," sindir Pak Wirjo. "I-Iya Pak," jawab Arga sambil mengangguk. Arga hanya bisa menahan rasa malunya. Entah kerasukan apa waktu itu, sampai berani menggebrak meja gurunya sendiri. Arga pun kembali menyibukkan dirinya dengan tugas di depan mata. Sementara Nandini, kembali menatap ke arah Devan. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Nandini. Devan terdiam sembari menatap serius wajah Nandini. Tatapannya begitu serius sehingga membuat isi benak Nandini penuh dengan tanya. "Apa mau mu? Cepetan bilang," ucap Nandini mulai kesal dengan tatapan yang serius itu. "Aku cuma minta satu," ujar Devan. "Apa?" Tangan Devan mengambil gantungan kunci dan menunjukannya dengan tatapan yang serius "Jangan buat Putri terlibat dalam hal semacam ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN