Angka berwarna hijau yang menyala menunjukkan lift yang sedang berjalan. Nampak ada dua orang wanita yang bermain dengan ponselnya di lift dan seorang wanita paruh baya yang memandang lurus dengan keringat yang bercucuran.
Saat ini wanita paruh baya itu berharap anaknya baik-baik saja. Meskipun dia tahu anaknya bukanlah manusia lagi. Nandini yang menjatuhkan dirinya, sudah cukup membuatnya hampir terkena serangan jantung.
Hingga lift terbuka, namun bukan lantai ini yang dia tuju. Beberapa orang masuk ke dalam menambah gerah dan sesak liftnya.
Terasa lama baginya untuk hanya sekedar menunggu. Pintu kembali tertutup, gerahnya dalam lift membuatnya sulit untuk merasa tenang.
Hanya ada bunyi notifikasi ponsel yang mengisinya. Tidak ada suara percakapan yang berarti. Semuanya terlihat sibuk dengan ponsel atau fikirannya masing-masing.
Ting!
Lift telah berada pada lantai dasar. Perlahan pintu terbuka, orang yang ada di dalamnya mengalihkan pandangan pada pintu lift.
Satu persatu mereka keluar dari sana. Termasuk sang Ibu yang berjalan keluar paling akhir.
Kepanya menoleh ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan anaknya. Bola matanya bergerak ke segala arah.
Dia berdiri di depan pintu lift. Orang-orang yang sedang menunggu lift turun sedari tadi melihat ke arahnya heran. Mereka langsung masuk dan pintu lift pun tertutup rapat.
Wanita paruh baya itu berjalan sembari melihat ke segala arah. Kakinya terus melangkah sembari membawa beberapa tas belanjanya. Banyaknya orang yang berdatangan membuatnya kesulitan mencari Nandini dan buku itu.
"Kemana Nandini?" gumamnya.
Bola matanya terus bergerak tanpa henti. Di tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Tidak menemukan adanya Nandini atau buku itu.
Semakin panik akan kehilangan anaknya yang ke dua kalinya. Dia memanggil nama anaknya di tengah keramaian itu.
"Nandini! Kamu dimana?!" teriaknya.
Sontak karena teriakan itu, membuatnya jadi pusat perhatian orang yang baru datang. Mereka berhenti melangkah hanya untuk melihatnya.
Dia sama sekali tidak menghiarukan orang-orang yang menatapnya aneh. Apa yang dia pedulikan saat ini adalah keberadaan anak pertamanya dan buku itu.
Suara orang yang berbisik satu sama lain. Membuat keadaan sedikit riuh karenanya.
Seorang penjaga mall yang bertugas. Melihat kejadian itu, dia memperhatikan apa yang dilakukan wanita paruh baya itu. Kemudian dia menghampirinya.
"Bu, maaf... Tapi, apa yang anda cari?" tanya seorang pria paruh baya berseragam hitam.
"Anak saya," jawabnya dengan lagat khawatir.
"Anaknya hilang?" tanya pria itu.
"Bukunya, buku miliknya jatuh. Bapak lihat buku berwarna pink sekitar sini?" tanya Ibu nampak panik.
Mendengar hal itu dia menggaruk kepalanya tidak mengerti. Banyak orang yang mengerubungi melihat dan ingin mengetahui akhirnya.
"Maaf, tapi saya gak lihat," ucap pria itu tidak tahu.
Mendengar hal itu sang Ibu langsung meninggalkan penjaga tersebut tanpa permisi. Bola matanya terus melihat ke bawah mencari buku itu. Seolah dia tidak berkedip meski hanya sekali.
"Hati-hati, dong!" seru seorang wanita muda yang tidak sengaja ditabrak oleh Ibunya Nandini.
Lantas sang Ibu menyadari hal itu. Dia menunduk sembari meminta maaf kepadanya beberapa kali.
"Ih, lain kali jalan pake mata," ucap wanita itu tidak sopan.
Ibu yang sedari tadi menunduk meminta maaf kepada wanita itu. Langsung mendongak mendengar pernyataan itu.
"Apa?!" ucap wanita itu melihat tatapan Ibu yang terlihat marah.
"Maaf... Saya gak sengaja, saya pergi dulu," ucap Ibu tersemyum simpul sembari berjalan pergi.
"Andai aja aku lagi gak nyari buku itu, udah aku... Ihh!" geram Ibu.
Dia terus menggerutu sampai hampir lupa tujuan utamanya. Dia menepuk keningnya pelan, ketika mengingatnya.
"Bukunya," ucapnya sembari melihat ke bawah.
Dia terus berjalan di tengah mall yang besar. Orang-orang nampak tersenyum kala membawa tas belanjaannya.
"Seharusnya sekitar sini..." gumamnya melihat ke sekitarnya.
Bola matanya bergerak ke bawah. Tetapi tidak menemukan apa pun. Dia memutar badannya melihat ke sekitar.
Hanya ada orang-orang yang berlalu lalang dan menghalangi pandangannya. Tepat di tengah orang yang menghalangi pandangannya.
"Dimana anak itu?" gumamnya.
Kemudian dia berjalan sesuai dengan nalurinya. Dia menerobos orang-orang yang tengah berjalan berdampingan.
"Bu, Hati-hati!"
"Iya, Bu pelan-pelan jalannya!"
Tetapi, ucapan mereka tidak digubris sama sekali. Seolah terlalu fokus dengan nalurinya. Bola matanya terus bergerak sampai dia bisa menemukan titik terang.
Dia berhenti mengambil ponselnya. Waktu yang menipis sebelum Devan pulang.
Tepat saat menatap layar ponsel. Dia menemukan notifikasi panggilan.
Dia berjalan ke kamar kecil untuk mengangkatnya. Dia terus berjalan cepat hingga sampai di toilet.
Panggilan yang tidak terjawab tertera di layar ponselnya. Toilet yang sepi memudahkannya untuk mendengar suara dari panggilan itu.
Ibu jarinya menekan tombol hijau di layar ponselnya. Dia mendekatkan ponselnya di telinga. Selama beberapa detik tidak terdengar apa pun. Hanya suara sang operator yang mengatakan panggilan sibuk.
Dia kembali menatap layar ponselnya. Jarinya menekan kembali tombol panggilan. Ponselnya ia dekatkan lagi ke telinga.
Kini terdengar bunyi yang menandakan panggilan tersambung. Menunggu panggilannya diangkat selama beberapa detik.
"Halo!" ucap seseorang dari seberang.
"Udah pulang?" tanya Ibu.
"Belum, bentar lagi Ayah pulang. Mungkin agak sorean," ujarnya dari seberang.
"S-Sore?" ucap Ibu terbata-bata.
"Loh, kenapa? Emang kamu dimana? Jangan bilang kalo lagi di ma-" ucapan dari seberang langsung dipotong cepat.
"Ya sudah! Sampai jumpa. Dah..." ucap Ibu langsung mematikan ponselnya.
Dia berjalan dan berdiri di depan kaca. Menghela nafas panjang adalah hal yang dia lakukan saat ini.
"Haduh... Dimana lagi aku harus mencari?" keluhnya sembari kedua tangan memegang kepalanya.
Dia berjalan keluar pintu ia buka perlahan. Terlihat cukup banyak orang yang berdatangan. Membuatnya semakin sulit untuk mencari bukunya.
"Hah..." hela nafasnya panjang.
Dia menoleh ke kanan dan kiri. Terlalu banyak orang, dengan begitu akan sulit baginya menemukan sebuah buku di antara kaki yang berjalan. Mereka berjalan dengan mata yang terkadang hanya terfokus pada satu.
Hal itu tentu saja membuatnya frustasi. Dimana dia harus mencari buku dan anaknya yang bukan lagi manusia. Di antara kerumunan orang yang berjalan dengan menyibukkan diri mereka sendiri.
"Aku gak bisa pulang tanpa, Nandini!" ucapnya menyemangti diri sendiri.
Dia pun berjalan masuk ke tengah orang-orang yang berlalu lalang. Dia terus menggerakan bola matanya ke segala arah.
"Nandini!"
"Kamu dimana, Nandini!"
Dia terus memanggil namanya sembari berjalan tanpa henti. Dengan bola mata yang terus melihat ke berbagai arah.
Meskipun ada beberapa orang yang melihat. Mereka hanya mau melihat tanpa membantu.
"Nandini!" panggil sang Ibu.
Dia terus melangkahkan kaki tanpa peduli dengan tatapan heran orang lain yang melihatnya. Sesekali dia bertanya kepada orang sekitarnya. Tetapi mereka selalu menjawab 'Tidak tahu'.
"Nandini!" panggilnya.
Masih tidak ada sahutan. Hingga seorang anak kecil mendatanginya.
"Ibu cari siapa?" tanya anak itu polos.
"Cari buku warna pink, lihat gak?" tanyanya sembari sedikit menunduk.
"Jalan saja lurus. Di sana ada sebuah buku dan seorang kakak cantik yang kebingungan," papar anak perempuan itu sembari menunjuk arah dengan telunjuknya.
"Darimana kamu tau?" herannya.
Dia hanya tersenyum lalu pergi. Anak perempuan yang berumur sekitar 9 tahunan itu berlari kecil hingga tubuhnya tidak terlihat lagi karena orang-orang yang berlalu lalang menghalangi pandangannya.
"Siapa anak itu?" gumamnya tidak melihat keberadaan anak itu.