Sementara Nandini masih dalam situasi aneh yang menghampirinya. Sebuah senapan laras panjang berada di depan matanya.
Seorang pria dewasa yang memakai pakaian ala prajurit zaman penjajahan menodongkan senjata kepada Nandini. Tatapannya begitu tajam saat menatapnya. Tetapi dia terlihat kebingungan juga.
Beberapa kali bola matanya bergerak melihat ke berbagai orang dengan gelisah. Kemudian kembali menatap Nandini.
"Mm... Permisi," ucap Nandini yang masih mengangkat kedua tangannya.
Tetapi, pria itu mengeratkan genggamannya dengan senapan laras panjang yang dipegangnya. Tatapannya makin menajam.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Nandini.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan suara berat.
"A-Aku Nandini," jawab Nandini terbata-bata.
Nandini tidak memahami apa yang terjadi. Dia hanya bisa memandang pria itu dengan pakaian yang kotor. Banyak kotoran tanah yang menempel pada pakaian dan sepatunya. Wajahnya pun dipenuhi kotoran tanah dan coretan hitam yang menggaris di pipinya.
"Kenapa bapak masih di sini?" tanya Nandini lagi.
Namun, kali ini pria itu tidak menjawab pertanyaan Nandini. Dia hanya menatap Nandini sendu.
Melihat hal itu, Nandini menurunkan tangan kanannya perlahan. Dia berusaha menurunkan senjata api itu dari wajahnya.
Tetapi, baru menyentuh ujung senapan itu dengan jari telunjuknya. Tiba-tiba dia berada pada tempat yang asing baginya.
Rumah kayu sederhana yang terlihat sunyi. Nandini bangkit dari duduknya. Dia menghampiri rumah itu. Terdapat beberapa rumah lainnya di samping rumah tersebut.
Nandini memutar badannya melihat banyak rumah sederhana di sekitar sini. Terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Nandini pun menoleh, melihat seorang pria tinggi yang sedang melambai ke arah wanita di pintu rumah itu.
Setelah melambai pria itu berbalik. Nandini terkejut melihat pria itu yang tidak asing baginya.
"Oh! Dia kan yang nodongin senjata,"
Pria itu mengusap air matanya menggunakan lengan bajunya. Tangannya mengambil sebuah liontin di sakunya. Dia memakai kalung liontin di leher.
Dia mencoba tetap tegar dengan tersenyum. Dia berusaha tersenyum meski derai air mata yang membasahi pipinya.
Dia berjalan menembus Nandini. Pria itu menaiki sebuah mobil bak terbuka dengan rekan-rekannya yang lain. Entah sejak kapan tempat yang sepi ini menjadi ramai. Banyak wanita, anak-anak dan orang tua yang mengiringi kepergian mereka.
Mereka yang mengiringi bersorak seperti memanggil nama para tentara itu. Tidak sedikit yang menangis sembari memanggil namanya.
Beberapa mobil dengan jenis yang sama mengangkut orang-orang seperti hendak berperang. Hingga mobil-mobil itu berjalan pergi. Beberapa orang yang sepertinya adalah keluarga para tentara itu mengejar mobil.
Mereka berlari sembari bersorak memanggil namanya. Hingga salah satu dari mereka terjatuh dan hanya bisa menangis sambil memanggil namanya.
"Ada apa ini?" gumam Nandini.
Nandini hanya bisa melihat mobil itu semakin menjauh. Hingga beberapa mobil itu tidak terlihat oleh pandangannya.
Para warga yang mengiring kepergian mereka. Mereka memakai pakaian adat jawa. Terlihat sangat kuno, menbuatnya berfikir jika ini adalah zaman penjajahan.
"Zaman penjajahan?" ucap Nandini bingung.
"Tidak ada yang bisa mendengarku," ucap Nandini berjalan di sekitar orang-orang.
Dia melambaikan tangan di depan wajah seorang wanita tua yang berambut putih dan disanggul. Dia menatap sendu mobil yang telah pergi.
"Benar-benar gak ada yang sadar..." ucap Nandini sembari menatap orang-orang.
Nandini berjalan ke tengah-tengah. Perlahan orang-orang mulai pergi meninggalkan tempat. Hingga tersisa seorang wanita yang dia lihat pertama kali. Wanita yang dilambaikan tangan oleh pria bersenjata api.
Wanita itu masih berdiri hingga beberapa detik. Sampai air matanya tidak bisa dibendung lagi. Tangannya mengambil sebuah kalung yang melingkar di lehernya. Sebuah kalung liontin yang sama seperti pria itu. Dia mengecup kalungnya, lalu berbalik dan kembali ke rumahnya.
"Istrinya?" tanya Nandini, namun tidak ada yang bisa menjawabnya.
Setelah wanita itu masuk ke dalam rumahnya. Dia menutup pintunya rapat.
Seketika rumah itu menghilang. Nandini terkejut melihat rumah itu menghilang. Sebuah granat terlempar ke arah Nandini. Granat kecil yang jatuh tepat berada di bawah kakinya.
"Bahaya!" teriak Nandini berjalan menjauh dari granat yang hanya sebesar genggamannya.
Saat dia berbalik dan hendak berlari. Sekelilingnya berubah menjadi medan pertempuran. Orang-orang yang ada di depan matanya memegang senapan laras panjang ke arahnya.
"Mati aku!" ucap Nandini ketakutan.
Saat dia berbalik granat itu pun meledak tepat di depan wajahnya. Dia berdiri mematung melihat banyak tanah dan debu yang menutupi pandangannya.
"Ahaha... Aku gak bisa mati dua kali," ucap Nandini sembari tertawa hambar.
Dia cukup terkejut dan sedikit trauma mendengar dentuman sekeras itu di depan wajahnya. Setelah debu-debu itu mulai hilang dari pandangannya.
Peluru melesat melewatinya dengan cepat, tepat di samping wajahnya. Kali ini, Nandini tidak bisa bergerak sama sekali.
"Bahaya... Aku merasa bisa mati untuk yang kedua kalinya," gumam Nandini masih menatap lurus.
Setelah peluru itu melesat, ratusan peluru yang melesat dari depan menyerbu pasukan yang ada di belakang. Terdengar suara teriakan keras dari belakang.
"Serang!" teriak orang-orang di belakang.
"Aaa!" jerit histeris Nandini melihat banyak peluru yang menembusnya.
Dia langsung menunduk dan memegang kepalanya. Dia berjalan merangkak menghindari adu peluru.
"Serem banget..." ucap Nandini ketakutan
"Ibu!" teriak Nandini.
Setelah merasa aman, dia mencoba berdiri. Dia meraba tubuhnya, dia menghela nafas lega. Mengingat dia adalah bagian dari makhluk tak kasat mata.
"Aku kan gak bisa kena luka," ucap Nandini menghela nafas gusar.
"Tapi, apa ini? Perangnya seperti nyata," gumam Nandini memegang dagunya.
"Apa ini kilas balik pria itu?" ucap Nandini melihat sekitar memandang tiap tentara yang sedang kerepotan.
Dentuman dan suara peluru tak terhindarkan. Meskipun Nandini mengetahui jika dirinya takkan bisa terluka. Tetapi, baginya semua kericuhan ini terasa begitu nyata.
Sekitar ada puluhan orang yang sedang menyergap sebuah markas. Mereka yang menjaga markas terlihat memiliki persenjataan yang lengkap.
"Jangan mundur! Serang!" seru seorang tentara yang berada di depan Nandini.
Hingga peluru melesat dan mengenai d**a kirinya. Nandini menutup mulutnya terkejut. Tentara itu terjatuh seketika ke belakang. Tangannya meraba dadanya yang terkena peluru. Dia menggerakan tangannya di depan wajah dengan lemah. Setelah dia melihat darah segar yang semakin banyak mengalir dari d**a kirinya. Akhirnya dia pun menutup mata. Tangannya jatuh di depan d**a.
"Komandan!" seru salah seorang di balik sebuah mobil yang dia lihat di desa sebelumnya.
Pria itu berteriak dan menembak secara membabi buta. Hingga dia tidak menembakkan pelurunya.
Tiba-tiba peluru serbu menyerang pasukan mereka. Rekan-rekan pria itu yang ada di garis depan tertembak secara bertubi-tubi.
Hingga mereka semua tumbang. Tersisa beberapa orang saja di garis belakang.
Sebuah granat terlempar melewati Nandini dan bergerak ke arah mobil dimana pria itu berada. Melihat granat di dekat mobil, sontak dia langsung melompat menjauh dari mobil.
Mobil itu pun meledak dengan serpihan yang melukai dirinya. Namun, tidak sampai di situ. Granat kembali dilempar oleh musuh. Tepat di depan pria itu. Dengan menggertakan giginya dia mengambil granat itu dan berlari melempar balik granat sampai di kerumunan musuh.
Duarr!
Granat pun meledak tepat di dekat sebuah tong bahan bakar dan menyebabkan ledakan yang luar biasa. Para musuh terkena ledakan dan hampir tumbang semuanya. Seorang pria berambut pirang dengan sisa tenaganya mengambil sebuah senapan di dekatnya.
Dia menembakkan pelurunya tepat di d**a pria yang melemparkan bom. Tetapi, dia masih berdiri kokoh. Seolah tidak menyadari peluru yang menembus dadanya.
Dor!
Ke dua kalinya dia menembak dan mengenai perutnya. Pria itu masih berdiri, tangannya mengenggam erat liontin yang dipakainya.
Dia mengangkat liontin itu ke atas sembari tersenyum. Seolah merayakan kemenangannya, namun pada akhirnya dia tumbang ke depan.
"Aku... Pasti pulang..." ucapnya untuk yang terakhir kali.
Seketika sisa tentara yang di belakang menyerang dengan sisa peluru yang ada. Adu peluru kembali pecah.
"Serang mereka!" seru Nandini.