Bab 53

1010 Kata
Setelah granat yang dilemparkan pria itu mengenai tong yang berisi bahan bakar. Teman-temannya yang tersisa menyerang musuh sembari bersorak dengan berapi-api. Nandini pun makin geram dengan pertumpahan darah yang belum selesai. Dia ikut menyemangati para pejuang yang masih hidup. Meskipun dia sangat memahami, bahwa suaranya takkan didengar. "Jangan mau kalah!" seru Nandini yang bersorak seperti sedang mendukung tim olahraga yang tengah bertanding. Hingga mereka berhasil menaklukan musuh. Beberapa diantara musuhnya yang masih hidup mereka ikat dengan tali. Mereka bersorak merayakan kemenangan mengambil alih markas. Namun, beberapa diantara mereka tidak sanggup membendung air mata kala melihat rekan-rekannya tergeletak di tanah tanpa jiwa di raga. Beberapa mobil angkut pun datang. Mereka seperti bantuan, tetapi bantuan itu datang terlalu lambat. Mereka datang sembari menyembuhkan luka para tentara yang terluka. Sementara yang lain membawa jenazah tentara yang tumbang. Termasuk pria yang membuka jalan kemenangan bagi rekan-rekannya. Dia diangkat oleh dua orang yang berseragam sama dengannya menggunakan tandu. Nandini hanya dapat menatap sendu melihat tentara itu dibawa ke mobil. Rekan-rekannya pun ikut dengannya di mobil itu. Mereka seolah mengatakan salam perpisahan kepada rekannya itu. Mobil itu kembali menghilang bersamaan dengan tempat yang berubah. Nandini berbalik dan melihat rumah kayu sederhana yang sama sebelumnya. Terlihat orang-orang yang membuka pintunya setelah mendengar suara beberapa mobil yang mendekat. Mereka langsung berkumpul tepat di depan Nandini. Semua pasang mata melihat ke arah sebaliknya. Nandini melihat kemana arah mata mereka memandang. Dia membalikkan badannya melihat beberapa mobil dengan tentara yang menaikinya. Terlihat beberapa jenazah yang berada pada tandu di mobil. Isak tangis pecah kala mengetahui mereka salah satu anggota keluarganya. Seorang wanita berjalan perlahan sembari mendekati tandu yang diangkat beberapa orang pria. Dia membuka kain yang menutup wajah jenazah itu. Wanita itu memundurkan langkah sembari menutup mulutnya tidak percaya. Dia terus menggelengkan kepala seolah tidak ingin percaya. Hingga tidak sengaja tersandung sesuatu dan jatuh ke belakang. Beberapa orang warga nampak mendekatinya untuk membuatnya tenang. Wanita yang memiliki kalung liontin sama seperti yang dipakai pria pelempar balik granat itu. Nandini menatap lekat-lekat jenazah itu. Karena tidak terlihat dengan jelas. Dia melangkahkan kaki mendekatinya. Nandini menutup mulutnya melihat wajah pria itu. Dia adalah orang yang membuka jalan kemenangan bagi rekan-rekannya. "Semoga amalmu diterima," ucap Nandini. "Eh, tunggu sebentar. Aku juga sudah mati," ucap Nandini heran akan ucapannya sendiri. Nandini memandang jenazah yang ada di depannya, melihat darah yang menempel di pakaiannya. Membuatnya menjauh, dia tidak kuat melihat darah sebanyak itu. Apa lagi, lubang di perut dan dadanya karena peluru nampak jelas. Hingga akhir dia masih memegang kalung liontin itu. Saat Nandini memundurkan kakinya. Dia tersandung sesuatu dan akhirnya jatuh terduduk. "Akh!" ucap Nandini meringis kesakitan. Nandini terlalu fokus pada rasa sakit karena terjatuh. Hingga di saat itu dia menemukan dirinya masih dalam posisi yang sama ditodong oleh pria itu. Tangan kanannya masih menyentuh senapan itu. Menyadari sentuhan itu yang membuatnya masuk dalam masa lalu pria itu. Dia menarik tangannya kembali. "Siapa kamu?!" tanya pria itu dengan meninggikan suaranya. Nandini terkejut mendengar bentakkan itu. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali melihat pria itu menatap tajam dirinya. Nandini bangkit dari duduknya. Tangannya ia turunkan untuk membersihkan debu. Meskipun, tentu saja tidak ada yang bisa dibersihkan dari pakaiannya. Pria itu masih menodongkan senapannya mengikuti gerakan Nandini. Keanehan situasi ini, membuatnya harus lebih berani. "Seharusnya aku yang tanya!" ucap Nandini meninggikan suaranya. Pria itu sontak sedikit terkejut dengan suara yang meninggi secara tiba-tiba. Dia pun menjadi ragu-ragu menodongkan senjata apinya. "Benar! Turunkan senjatamu!" suruh Nandini. "Aku bukan musuhmu," ucap Nandini kemudian. "Siapa kamu?" ucapnya sembari menurunkan senjatanya. "Aku Nandini, apa yang anda lakukan di sini?" ucap Nandini sembari bertanya. Pria itu melihat ke segala arah dengan raut wajah yang kebingungan. Dia kembali menatap Nandini yang ada di depannya. "Apa yang terjadi di sini? Apakah ini mimpi?" tanya pria itu. "Mimpi?" ucap Nandini heran. Dalam benak Nandini banyak pertanyaan yang muncul. Membuatnya terheran dengan orang yang ada di depannya itu. "Maaf, tapi..." ucap Nandini menggantung. Pria itu menatapnya bingung, dia menunggu Nandini mengatakan sesuatu. Nandini pun mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya kepadanya. "Dimana anda meninggal?" tanya Nandini. Sontak pertanyaan itu membuatnya terkejut. Dia menautkan kedua alisnya. "Aku belum meninggal!" ucapnya meninggikan suara. Nandini menggaruk kepalanya sembari memaksa tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya, "Dia nggak tau kalau dia sudah tiada... Gimana cara jelasinnya?" batin Nandini. "Apa lagi dia tentara..." gumam Nandini kembali menatap pria itu dari bawah hingga atas. "Apa yang kamu bilang?" ucap pria itu mendengar Nandini. "Ah, nggak ada..." ucap Nandini sembari menggaruk kepalanya. "Lalu... Siapa mereka?" tanya pria itu melihat sekelilingnya. Nandini tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Dia pun mengalihkan pembicaraannya pada sebuah kalung yang melingkar di leher pria itu. "Kalung itu..." tunjuk Nandini melihat kalung itu. Pria itu melihat arah jari telunjuk yang diarahkan Nandini. Dia langsung mengenggam erat liontinnya. Seperti melindungi kalung liontin itu dari orang asing. "Maaf, aku tidak menginginkannya. Tapi, aku penasaran. Siapa yang memberinya?" ucap Nandini basa-basi. Dia pun menatap sendu kalung liontinnya. Kemudian melepaskan genggaman eratnya dari kalung itu perlahan. Bola matanya menatap Nandini kemudian. "Aku membelinya dua, yang satu untuk istriku," jelasnya. "Saat itu sebagai hadiah pernikahan. Aku membelinya dengan harga murah, tidak kusangka dia sangat senang akan kalung liontin yang kubeli di pasar," ucapnya sembari tersenyum. Nandini yang mendengar itu langsung terenyuh. Dia memasang telinganya baik-baik untuk mendengar kisah selanjutnya. "Aku begitu senang melihatnya tersenyum," ucapnya begitu senang menceritakan tentang istrinya. "Aku ingin melihatnya..." ucap pria itu, seketika senyumnya berubah menjadi kesedihan yang amat dalam. "Apa anda ingin menemuinya?" tanya Nandini. "Iya..." ucapnya masih menatap liontinnya. Nandini mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya. Dia menarik napasnya dalam. Meskipun dia tahu akan situasi terburuknya. "Hmm... Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Nandini. Pria itu hanya memandangnya sembari menunggu kata yang akan dilontarkan. Nandini masih terlihat ragu untuk mengatakannya. "Katakanlah..." ucap pria itu tidak sabar menunggu. "Maaf... Aku benar-benar meminta maaf," ucap Nandini membuat pria itu semakin bingung. "Kenapa meminta maaf?" heran pria itu. Nandini tidak berani menatapnya secara langsung. Tetapi, jika bukan saat ini. Dia akan terperangkap di sini selamanya. "Anda sama sepertiku," ucap Nandini memberanikan diri menatapnya. "Hah?" ucapnya tidak mengerti. "Anda sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," ucap Nandini kemudian. "Jangan asal bicara!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN