Bab 47

1061 Kata
Suasana yang riuh tidak membuat Nandini merasa aman sedikit pun. Mereka terus menatap Nandini, tatapan itu membuatnya ketakutan. Nandini hanya bisa berpura-pura tidak melihat mereka. Setiap ucapan yang Ibunya lontarkan. Hanya diiyakan oleh Nandini. Beberapa dari mereka ada yang berwajah pucat dengan bibir yang membiru. Seorang pria dengan sebilah pisau tertancap di perutnya. Dia menatap Nandini, hingga membuatnya tidak ingin menatap lebih lama. Setiap langkah dia selalu menemui mereka. Membuat Nandini tidak tahu harus melakukan apa agar mereka berhenti menatapnya. Seorang wanita dewasa dengan pakaian gaun yang indah berwarna hijau. Dia terlihat sangat cantik dengan rambut yang digerai. Nandini memfokuskan matanya kepada wanita itu. Dia berjalan semakin dekat. Hingga dia berjalan melewati Nandini. Ketika wanita itu melewatinya dia tidak menatap Nandini sama sekali. Nandini menoleh ke arah belakangnya. Ketika dia menatap wanita itu. Nandini langsung menutup mulutnya dan kembali mengalihkan pandangannya. Di bagian belakang kepalanya terdapat pecahan kaca yang masih menancap. Darahnya terlihat mengucur, wanita itu tertawa lepas setelah melewati Nandini. "Nandini, kamu baik-baik aja, kan?" tanya sang Ibu mulai khawatir. Nandini melepas telapak tangan dari mulutnya. Dia tersenyum sembari mengangguk tanpa menatap ke arah Ibunya. "Aku cuman bersemangat liat barang bagus tadi," ucap bohong Nandini. "Benarkah?" tanya Ibu tidak yakin. Nandini menoleh ke arah Ibunya. Dia mengangguk kembali sembari tersenyum agar terlihat meyakinkan. Nandini berusaha untuk tidak mengurus mereka saat ini. Jumlah mereka terlalu banyak, dan ini bukan waktu yang tepat untuk mengurus mereka. Tatapan aneh yang mereka berikan membuatnya ketakutan. Nandini tetap berjalan di samping sang Ibu. Orang-orang mulai banyak yang berlalu lalang, meskipun ini bukanlah hari libur. Banyaknya orang-orang yang berdatangan memanglah tidak sebanding dengan mereka yang tak kasat mata. Itu lah yang dapat Nandini ketahui. "Eh, udah rame aja," ujar Ibu. Nandini menatap lurus dimana tempat diskonan berada. Terlihat cukup ramai di sana. "Yang paling penting beli baju!" ucap Ibu melihat pakaian dengan setengah harga yang menggiurkan. "Ayo, nak!" ajak Ibu sembari berjalan. Tanpa menjawab Nandini hanya ikut berjalan di samping sang Ibu. Dia mengiyakan segala ucapannya, sembari menghindari tatapan langsung dari mereka yang sama dengannya. Nampak di beberapa gerai terlihat ramai. Terutama kaum hawa yang mengerubunginya. Di gerai pakaian cukup ramai saat ini. Tempat itu adalah tujuan utamanya. "Kita beli peralatan dapur dulu, yuk!" ajak Ibu menunjuk ke arah gerai di sampingnya. Nandini mengangguk sembari tersenyum ke arahnya. Hanya berisi ibu-ibu di tempat ini. Mereka nampak memerhatikan tiap label harga dan kualitas tiap barang yang ditemui. Nandini hanya bisa mengekor kepada Ibunya. Segala macam alat dapur berada di sini. Tidak terlihat ada hantu sepanjang mata memandang. Nandini berjalan di belakang sang Ibu. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri melihat setiap barang yang tertata di rak. "Bu, kita mau beli apa?" tanya Nandini. "Beli tempat bolu, yang lama udah gak bagus," jawabnya tanpa menatap Nandini di belakangnya. Sang Ibu terus menggerakan bola matanya memperhatikan tiap barang yang tersedia. Seolah tidak berkedip melihat nominal harganya. "Bu, kalau gitu langsung aja. Liatin panci mulu, nanti yang kebeli pancinya gimana?" keluh Nandini melihat Ibunya masih sibuk melihat panci. "Ya, gak apa-apa dong!" jawab Ibu. "Keburu sore nih, nanti Devan kekunci di luar rumah," ingat Nandini. Ibunya menoleh seketika mendengar perkataan anaknya itu. Dia menepuk keningnya setelah itu. "Oh iya! Dia gak bawa kunci cadangan ya," ingat Ibu. "Lupa Ibu!" ucapnya menurunkan tangannya sembari menatap Nandini. "Tuh, kan!" ujar Nandini. "Ya sudah, langsung ke tempat loyang aja," ajak Ibu. Akhirnya mereka berjalan cepat mencari tempat yang mereka tuju. Beberapa rak mereka lewati, bola matanya tidak berhenti bergerak mencari barang yang dicari. "Bu, itu di sana!" tunjuk Nandini ke arah tempat yang seharusnya. Nandini berjalan tepat di depan Ibunya. Dia berbelok, dan menemukan banyak loyang dengan harga yang beragam. "Bu, ketemu!" seru Nandini. Nandini tersenyum kala melihat tempat yang dituju ada di depannya. Dia berjalan maju sambil melihat berbagai loyang yang berbeda-beda. Hanya ada beberapa orang di sini. Baru beberapa melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti. Seorang wanita paruh baya dengan menggendong bayi di lengannya. Wanita itu menunduk sembari berjalan pelan ke arahnya. Rambut yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Hanya sebelah mata yang nampak sendu menatap bayinya. Hingga langkahnya berhenti tepat satu meter di depannya. Dia mendongak, menatap Nandini dengan mata merahnya. Nandini memundurkan langkahnya perlahan. Bola matanya terbelalak kala melihat bayi yang digendong memutar kepalanya menatap ke arah Nandini. Matanya menghitam seluruhnya perlahan, bayi itu menangis kemudian. "Wah, ketemu!" seru Ibu memegang loyang yang sedari tadi dicari. "Nandini?" panggil Ibu. Nandini menoleh perlahan dengan wajah ketakutannya. Dia melihat sang Ibu memegang sebuah loyang di tangannya. "U-udah dapet? Ayo, Bu ke tempat selanjutnya," ucap Nandini berpura-pura tenang. "Nandini, kamu yakin gak apa-apa?" tanya Ibu mulai mengkhawatirkan anaknya. "Ayo pergi, keburu abis barangnya," ujar Nandini seraya berbalik dan berjalan berusaha menjauh dari wanita itu. Nandini terus berjalan hingga dekat pintu kelur gerai. Sang Ibu terheran dengan kelakuan anaknya itu. Dia berdiri di depan kasir dan membayar barangnya. "Nak, ada apa?" tanya Ibu. "Bajunya, keburu abis," ucap Nandini sembari memaksa tersenyu. "Kita beli makanan ringan dulu," ucap Ibu yang baru ingat. "Adekmu itu, makannya banyak. Apalagi makanan ringan, selalu abis dalam sehari," jelas Ibu. "Y-Ya udah yuk!" ajak Nandini melihat sosok wanita paruh baya itu berdiri sekitar dua meter darinya. Nandini berusaha bersikap seperti biasa. Dia tidak ingin sang Ibu mengetahui jika dirinya tengah ditatap banyak makhluk yang sejenis dirinya. Nandini berjalan di samping Ibunya. Nandini berbincang dan banyak bercerita untuk menghilangkan rasa takutnya. Hal itu juga membuat sang Ibu tidak lagi mengkhawatirkan anaknya. Melihat anaknya cukup ceria seperti biasanya. Tak terasa berbelanja sembari bercerita membuat Nandini lebih baik. Tatapan mereka seolah terabaikan oleh senyuman yang dilontarkan Ibunya. Setelah selesai berbelanja makanan ringan. Mereka berjalan kembali di depan sebuah gerai pakaian. Terlihat banyak pakaian cantik di dalam. Nandini senang karena bisa melihat pakaian bagus di mall. Tapi dia juga sedih karena tidak bisa memakainya. "Bu, beliin buat Putri juga," pinta Nandini. "Oh iya, itu pasti," seru Ibu. Mereka pun masuk ke dalam. Begitu banyak orang di dalam. Tetapi tidak terlalu sesak. Mereka masuk ke pakaian pria, Nandini langsung jatuh cinta pada jaket berwarna biru dengan corak berwarna merah. Nandini menunjuk jaket itu dan meminta Ibunya untuk membeli. Ibunya tersenyum melihat semangat berbelanja anaknya seperti dahulu. Dia tidak dapat mengatakan tidak kepada anaknya kali ini. Cukup banyak tas belanja yang dibawa. Mereka keluar dari gerai dengan senyum yang terukir diantara keduanya. "Kamu seneng, gak?" tanya Ibu sembari berjalan di samping Nandini. "Aku seneng banget!" seru Nandini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN