Bab 48

1025 Kata
Nandini dan sang Ibu baru saja keluar dari gerai. Terlihat banyak orang berdatangan saat hari menjelang sore. Beruntungnya, mereka berhasil membawa barang yang diinginkan sebelum kehabisan. Cukup melelahkan berbelanja dengan acara diskon besar-besaran seperti ini. Bagi hantu seperti Nandini, melihat orang yang berbelanja saja sudah membuatnya lelah. Ibunya terlihat berkeringat, meskipun ruang yang memiliki pendingin sekali pun. Jika jumlah orangnya banyak, tidak dapa dipungkiri rasa gerah yang menyeruak. "Wah... Panas banget," ujar Ibu. Terlihat sang Ibu yang memegang beberapa tas belanja di tangan kanan dan kirinya. Ada dua di tangan kanan yang berisi pakaian. Di tangan kiri yang berisi makanan ringan dan tasnya. "Belanjanya banyak banget," ucap Nandini melihat Ibunya menenteng beberapa tas belanjaan. "Ah, ini gak seberapa kok!" ucapnya. "Pengin bantu bawain, tapi tanganku malah nembus," keluh Nandini. Ibunya tersenyum kala melihat anaknya berniat baik kepadanya. Nandini memasang wajah kesal, ketika dia mencoba meraih tas belanja yang ada di lengan Ibunya. "Udah... gak usah, Ibu masih kuat, kok. Lagian gak terlalu banyak banget," ucapnya sembari tersenyum ke arah Nandini. "Maaf, ya Bu..." sesal Nandini. "Loh, kok minta maaf. Sudah, ayo pulang," ajak Ibu. "Iya, deh..." ucap Nandini masih memasang senyum cemberut. "Senyum dong!" suruh Ibunya. Nandini pun tersenyum simpul. Melihat itu Ibunya ikut tersenyum. Mereka kembali melangkah menjauh dari gerai. Tanpa mereka sadari, beberapa orang yang ada di dekat Ibunya Nandini. Menatap heran sekaligus aneh. Melihat seorang wanita paruh baya berbicara sendiri. Di tengah keramaian mungkin tidak terlalu disadari banyak orang. Mereka yang ada di dekatnya lah yang menyadari hal itu. Beberapa dari mereka menatap aneh. Sebagian yang lain saling berbisik kepada temannya melihat kejadian aneh itu. Sementara yang lain menjauh darinya, karena tidak ingin terlibat dalam apa pun itu. Nandini mendengar percakapan orang di belakangnya. Dia sangat tidak terima bila salah satu orang yang disayanginya dibicarakan seperti itu. Dia sangat ingin membalas mereka. Namun, apa daya bagi Nandini. Memegang selembar daun saja dia tidak bisa. Apa lagi menampar orang yang dianggap kurang ajar seperti mereka. Nandini masih menatap ke belakang dengan tatapan tajam. Menyadari anaknya melihat ke arah lain saat dia bicara. Dia menoleh ke belakang, di saat itu orang-orang yang membicarakannya memalingkan wajah. Mereka berpura-pura berjalan ke arah lain. "Kenapa, Nandini?" tanya Ibu melihat kemana arah mata anaknya menatap. "Nggak ada, Bu. Lanjut aja, yuk!" ajak Nandini. Nandini berjalan, melihat sang Ibu tidak ada di sampingnya. Dia menoleh ke arah belakang. Nampak Ibunya yang masih mencari tahu apa yang dilihat Nandini. "Bu, ayo!" ajak Nandini. "Oh, iya. Sebentar," ucapnya kembali berjalan di samping Nandini. Nandini masih kesal dengan orang-orang di belakang sana. Meskipun dia juga mengetahui, jika kehadirannya kurang tepat. Apa lagi, Ibunya sama sekali tidak dapat menahan diri untuk berbicara dengan Nandini. Melihat Ibunya kelelahan, membuat Nandini tidak bisa melanjutkan langkahnya. Terlihat keringat yang mengalir di pelipisnya. Membuat Nandini tidak tega, jika dia harus terus berjalan. "Bu, duduk dulu yuk!" ajak Nandini. "Loh, gak sekalian pulang aja?" tanya Ibu. "Ya iya kita pulang. Masa mau nginep di mall segede ini? Tapi, Ibu kayaknya capek banget," ucap Nandini. "Jadi kita duduk dulu di sana," ucap Nandini menunjuk kursi panjang di pinggir. Nandini mengajak sang Ibu duduk di kursi panjang di seberang sana. Ibunya terlihat tersengal karena banyaknya orang yang mulai datang ketika menjelang sore. Nandini duduk di kursi di samping Ibunya. Nandini tersenyum, ketika dapat melihat Ibunya ikut senang hari ini. "Capek, Bu?" tanya Nandini melihat Ibunya mengusap keringat di keningnya dengan lengan. Sang Ibu menoleh ke arah Nandini sembari melempar senyumnya, "Nggak, kok. Malah Ibu seneng, udah lama juga gak kayak gini lagi bareng kamu," ucap antusias Ibu. Melihat hal itu, Nandini ikut merasa senang. Namun, juga merasa sedih. Mengingat, sangat tidak mungkin baginya berada di sini selamanya. Nandini hanya membalas senyuman Ibunya itu. "Baju yang aku pilih buat Putri, bagus gak?" tanya Nandini menunjuk salah satu tas yang dibawa Ibunya. Bola mata sang Ibu melihat ke arah tas belanjanya. Kedua tangannya membuka tas itu. "Bagus, kok. Warna pink ini kan?" tanya Ibu memastikan. "Ya iyalah... Masa buat Devan," ucap Nandini. "Bukan buat Ibu?" canda Ibu. Mendengar hal itu, Nandini hanya bisa terkekeh, "Ibu, nanti keliatan muda lagi. Bahaya tau!" ujar Nandini. "Loh, kenapa? Kan bagus Ibu keliatan muda," ucap sang Ibu. "Nanti banyak yang naksir, kasihan Ayah," ucap Nandini jujur. Mendengar kalimat itu keluar dari anaknya. Membuatnya tidak dapat menahan tawa. Nandini merasa heran, karena dia mengatakan hal yang bisa saja terjadi. Dia menggaruk kepalanya karena bingung dengan bagian mana yang lucu. "Kok, Ibu ketawa?" tanya Nandini. "Aduh... Ada-ada aja kamu ini," ujar sang Ibu. Mereka terus banyak bercerita dan bercanda. Sampai tidak peduli dengan orang yang melewatinya. Mereka berdua juga sampai lupa akan waktu. Sang Ibu membuka ponselnya, dia terkejut melihat waktu yang digunakan cukup lama. Dia langsung berdiri dan menatap Nandini cepat. "Ayo pulang!" ajak Ibu. "Pulang?" tanya Nandini. "Iya buruan!" ajak sang Ibu. Nandini hanya bisa mengekor dari belakang. Melihat Ibunya berjalan cepat di depannya. Sang Ibu terlihat hendak menaruh ponselnya di dalam tas. Tanpa melihat jalan di depan. Hingga dia harus mengambil buku diary milik Nandini agar tidak menghalanginya untuk menaruh ponsel. "Bu, pelan-pelan," ingat Nandini dari belakang. Tetapi ucapannya seolah tidak digubris. Ibunya tetap mengotak-atik tasnya. Hingga buku itu jatuh ke lantai. Ibunya hendak mengambil, tetapi karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Tidak sengaja buku itu tertendang oleh seseorang yang datang dari arah berlawanan sembari menelpon. "Bukunya!" ucap Nandini melihat bukunya yang tertendang cukup jauh. Dengan panik, Ibunya mencoba mengejar. Namun, buku itu kembali tertendang hingga tepat berada di pinggir perbatasan. Bukunya sedikit lagi bisa saja jatuh ke bawah. Nandini bernafas lega melihat bukunya tidak tergeser lebih jauh lagi. Melihat buku diary anaknya hampir jatuh. Membuat jantungnya berdegup cukup kencang. Dia berjalan hendak mengambil buku itu. Namun, kejadian tak diinginkan terjadi. Buku itu kembali ditendang oleh seseorang yang sedang berswafoto dan membuat buku itu benar-benar jatuh dari lantai tinggi. "Jangan!" seru Ibu melihat buku itu jatuh ke lantai bawah. Orang yang sedang berswafoto kebingungan apa yang terjadi. Tidak ingin ikut dalam masalah. Dia berjalan cepat dan pergi begitu saja. Melihat bukunya jatuh, Nandini berlari mendekat. Dia melihat bukunya yang terjatuh begitu saja. "Aku akan mengambilnya," ucap Nandini langsung terjun ke lantai bawah. "Nandini!" teriak Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN