Bab 49

1072 Kata
Melihat buku berharga miliknya jatuh. Nandini langsung terjun ke lantai bawah dari lantai paling tinggi. Nandini menyadari jika dirinya tidak akan mati jika dia terjun bebas dari lantai paling tinggi di sebuah mall besar. Sang Ibu memegang besi pembatas. Bola matanya melihat buku diary yang jatuh ke bawah. Terlihat tidak terlalu banyak orang di bawah. Dia dapat bernafas lega bukunya terdiam di sana. Dengan cepat sang Ibu sedikit berlari menuju lift. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya karena berteriak memanggil nama anaknya. Meskipun banyak yang melihat, dia tetap berlari secepat yang dia bisa. Sampai di lift dia menekan tombol dengan cepat tanpa jeda. Sangat lama baginya, menunggu lift itu. Hingga akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Tetapi, banyaknya orang dalam lift. Membuatnya harus menunggu beberapa waktu agar orang-orang itu keluar. Sampai mereka keluar, dia langsung masuk ke dalam. Tombol kembali ditekannya cepat. Hingga pintunya tertutup, harus kembali menunggu selama beberapa waktu. Sementara itu... Nandini berhasil mendarat di lantai paling dasar. Dia menemukan bukunya tergeletak di lantai. Nandini mengulas senyumnya melihat buku berada di depan matanya. "Wah... Jadi ini rasanya jatuh dari lantai atas," antusias Nandini. "Aku jadi pengin coba lagi," girang Nandini. Mau berbicara sekeras apa pun. Tidak akan ada yang mendengarnya. Membuat Nandini bisa menyerukan dan mengekspresikan kegembiraannya. "Rasanya seru juga. Jantungku kayak mau copot," ucap Nandini sembari melihat ke atas. Nandini kembali menatap lurus. Tangannya memegang dagu, raut wajahnya terlihat serius. "Bentar, emang hantu bisa deg-degan ya?" gumam Nandini. Nandini terkekeh mendengar pertanyaannya yang dilontarkannya sendiri. Dia sampai melupakan tujuannya kemari. Dia menepuk jidatnya keras. "Aduh, sampe lupa. Bukunya!" seru Nandini. Entah sudah berapa jam sekarang. Orang-orang mulai berdatangan dari luar. Nandini berlari menuju buku diarynya. "Jangan lari lagi," ucap Nandini menatap buku merah mudanya. Nandini sedikit membungkuk, tangannya mengulur hendak mengambil buku itu. Namun, tangannya kembali menembusnya. Sudah beberapa kali dia meraih bukunya. Tangannya selalu menembus buku itu. Hal itu membuatnya cukup kesal. Akhirnya Nandini terduduk sembari menghadap buku itu. Raut wajahnya terlihat kesal. "Ayo Nandini! Amankan bukunya buruan!" seru Nandini kepada dirinya. Tangannnya mengulur dan kembali meraih buku itu. Usahanya tidak membuahkan hasil. Tangannya terus menembus bukunya. Membuatnya menjadi geram sendiri. Nandini memutar bola matanya ke segala arah mencari sang Ibu. Tetapi, dia tidak menemukannya. Apa yang dia temukan malah, beberapa hantu yang terlihat menatapnya. Nandini baru menyadari hal itu. Seorang wanita yang memakai gaun berwarna putih. Seperti seorang pengantin, dia menunduk sembari membawa seikat bunga mawar putih senada dengan pakaiannya. Bunganya terlihat tidak segar lagi. Membuatnya terfokus kepada wanita yang sedari tadi menunduk. Seperti ingin mengatakan sesuatu, mulutnya seolah terdapat sesuatu yang menahannya untuk bicara. Suara seraknya masih terdengar sedikit. Wanita itu berjalan mendekat ke arahnya. Menbuat Nandini harus mengambil ancang-ancang untuk pergi. Kedua tangannya menumpu tubuhnya di belakang. Wanita itu semakin dekat, hingga dia berhenti pada jarak satu meter darinya. Beberapa orang hanya lewat dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang melihat buku diary Nandini, tetapi mereka hanya lewat tanpa mengambilnya. Orang-orang berseliweran tanpa mengetahui kehadiran makhkuk tak kasat mata yang ada di sekitar mereka. Nandini tertegun melihat wanita itu terdiam di hadapannya. Dia semakin heran dan juga takut. Mengingat dirinya cukup lemah dibanding hantu-hantu yang ia temui akhir-akhir ini. "A-Apa maumu?" tanya Nandini terbata-bata. Wanita itu tetap diam tanpa menjawab. Tiba-tiba tangisan pecah, bukan air mata yang keluar. Namun, darah yang keluar dari matanya. Dia menatap Nandini dengan air mata darah yang membuat Nandini menutup mulutnya. "K-Kenapa nangis?" tanya Nandini. "Pergilah... Aku gak bisa bantu," ucap Nandini memberanikan diri menatapnya. Tanpa dia duga, hantu itu benar-benar pergi. Membuatnya dapat bisa bernafas lega. Wanita itu berjalan pergi menjauhinya. Meskipun sebenarnya dia ingin membantu. Tapi, wanita itu tertawa setelah menjauh pergi darinya. Membuatnya heran, tetapi pemandangan itu membuatnya tidak terlalu asing lagi baginya. "Setan gila," gumam Nandini melihat hantu itu pergi menjauh. Dia kembali menatap bukunya. Nandini menghela nafas gusar. Tangan kanannya memijat keningnya sembari berfikir bagaimana cara memindahkannya. "Ah, Gimana caranya?!" teriak Nandini. Teriakan itu tidak membantunya sedikit pun. Hanya membuat fikirannya harus lebih bekerja keras. Nandini melihat ke segala arah. Sembari memikirkan cara agar dia bisa memindahkan bukunya. "Apa cara satu-satunya cuma nunggu Ibu datang?" gumam Nandini. Nandini mengubah posisinya menjadi duduk menyilang. Telapak tangannya menahan kepalanya, sikunya berada di pahanya menumpu berat kepalanya. Tangan kirinya mencoba meraih buku itu. Entah karena perasaan bosan atau apa. Nandini terus melakukannya tanpa semangat seperti sebelumnya. "Aku menyerah!" seru Nandini menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dia membaringkan tubuhnya di lantai. Melihat orang-orang seperti terbalik. Tetap membuatnya tidak merasa lebih baik. Dia hanya melihat hantu yang ada di bawah tangga dan pojok ruang. Mereka menatap Nandini seolah melihat murid baru di sekolahnya. "Wah... Aku bisa terkenal di kalangan hantu mall ini," ucap Nandini menatap mereka balik. Nandini membangkitkan tubuhnya kembali. Dia menatap buku diarynya. Orang-orang hanya melihat tanpa mau memindahkan bukunya. Mereka hanya menatap sekilas dan kembali memainkan ponselnya atau berpura-pura tidak tahu. "Apa semua orang memang begitu sekarang?" ucap Nandini menatap beberapa orang yang sempat melihat bukunya. Baru saja Nandini hendak meraih kembali bukunya. Seorang pria paruh baya sembari menelpon dan tertawa puas. Tidak sengaja menendang buku itu. "Lagi?!" teriak Nandini kesal. Buku itu tertendang agak jauh darinya. Sampai ke keramaian orang-orang yang berlalu lalang saling berlawanan arah. Buku itu masuk di antara sekumpulan orang-orang itu. Nandini semakin panik, kerika dia tidak bisa meraihnya. Dia berlari mengejar buku itu. Bukunya masuk ke dalam kerumunan orang. Membuatnya berhenti dan memasang bola matanya baik-baik. Sampai buku itu kembali tergeser jauh hingga ke pojokkan. Buku itu tepat berhenti karena mengenai tempat sampah. Nandini bernafas lega melihat bukunya berhenti bergerak menjauh darinya. Bukunya membentur tong sampah. Sehingga perjalanannya berhenti sampai di situ. "Akhirnya!" seru Nandini senang melihat bukunya berhenti berjalan-jalan. Nandini nampak girang, seruannya takkan didengar oleh siapa pun. Membuatnya bisa berteriak merayakan berhentinya buku miliknya itu. Nandini berjalan mendekat ke arah buku itu. Bola matanya tanpa berhenti menatap bukunya. Hingga sampai beberapa mili dari kakinya. Nandini mengubah posisinya menjadi jongkok sembari tersenyum menatap bukunya. "Setidaknya di sini sudah aman dari kaki manusia," gerutu Nandini. Nandini terlalu senang dengan bukunya. Hingga dia tidak sadar ada yang tak kasat mata seperti dirinya di dekatnya. Nandini baru saja duduk di dekat bukunya. Sampai bola matanya menangkap sesuatu yang janggal. Dia melihat sepatu hitam yang ternoda oleh tanah. Bola matanya terus bergerak hingga ke atas. Seorang prajurit nampak menatapnya tajam. Lengkap dengan sebuah senjata laras panjang di tangannya. "Siapa kamu?!" tanya tegas pria prajurit itu menodongkan senjatanya. Nandini mengangkat kedua tangannya, "Aku gak bisa mati, kan?" batin Nandini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN