Bab 62

1056 Kata
Mobil dan motor melaju dengan cepat. Suara kendaraan yang melaju, membuat jalanan terdengar bising. Nandini dan Putri masih terdiam membisu. Tidak ada dari satu pun mereka yang berbicara. Devan tidak ingin terlalu ambil pusing dengan kelakuan mereka. Dia hanya duduk sembari memainkan ponselnya. Sementara Arga, hampir saja terkena bom. Dia hampir saja membuat dua orang gadis marah besar padanya. Mereka seperti singa betina yang bisa menyerang kapan saja. Arga memperhatikan jalan, sesekali dia memandang Nandini. Dia berdiri sembari memperhatikan jalan. Kedua tangannya nampak dilipat di depan d**a. Rambut hitam yang tergerai. Pakaian putih lusuh yang dikenakan. Kulit putih pucat yang terlihat jelas di wajahnya. Tanpa disadari Arga, seseorang yang duduk di sampingnya memperhatikan dirinya. Devan menatap kemana bola mata Arga melihat. Devan menggerakan bola matanya melihat Arga dan Nandini secara berulang-ulang. Sampai dia memastikan bahwa, Arga tengah memperhatikan kakaknya. "Ngeliatin siapa?" tanya Devan kepada Arga. Mendengar pertanyaan keluar dari mulut Devan. Arga sedikit terkejut dan salah tingkah. Dia berpura-pura memainkan ponselnya. Arga menggeleng sembari tersenyum sebagai jawaban. "Ngeliatin kak Nandini?" selidik Devan. Arga menoleh cepat, "Nggak, kok," ucap Arga mengelak. Devan masih menatapnya, dia penasaran dengan apa yang difikirkan temannya itu. Arga tidak berani menatap lama-lama, dia langsung mengalihkan pandangan pada ponsel yang dipegang. "Devan!" panggil Putri. Mendengar panggilan Putri, Devan menoleh ke arahnya. Kali ini, Arga terselamatkan oleh Putri. Dia bisa menghela nafas lega. "Ada apa, Put?" tanya Devan. Putri hanya menatap sembari menunjuk ke arah sebuah mobil berwarna hitam. Semua pasang mata pun melihat ke arah kemana Putri menunjuk. "Itu, mobilnya Pak Wirjo," ucap putri. Devan pun berdiri agar dapat melihat dengan jelas. Perlahan mobil itu memperlambat lajunya. Terlihat kaca jendela supir mobil yang membuka. Mobil itu menepi ke dekat halte. Terlihat seorang pria paruh baya yang memakai kacamata hitam, yang tidak lain adalah Pak Wirjo. Mobil itu tepat berhenti di depan halte. Devan berjalan mendekat ke arah mobil itu. Pria dalam mobil menoleh ke arah mereka. "Ayo masuk!" ajak Pak Wirjo. Mereka pun memasuki mobilnya. Devan duduk di depan bersama gurunya itu. Sementara Arga bersama Putri. Mereka berdua memberi jarak di tengah untuk Nandini. "Arga aku mau di dekat jendela," pinta Nandini. "Duduk aja, ada Pak Wirjo di sini," ingat Putri. Devan menoleh ke arah belakang. Dia menatap tajam Nandini, agar dia tidak macam-macam atau pun bertindak seenaknya. Nandini hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak bisa berbicara atau melakukan apa pun yang dia suka selama di sini. Mobil pun mulai melaju, beberapa kenadaraam motor nampak berjalan di depan. Kecepatan yang stabil, sangat cocok untuk melewati waktu saat senja seperti ini. Kendaraan yang melaju ke arah sebaliknya dan orang-orang yang melakukam aktivitasnya di tepi jalan. Pertokoan dan berbagai aktivitas perdagangan di sore hari. Membuat jalan terlihat sedikit lebih ramai. Tidak ada percakapan berarti saat ini. Terlihat sunyi, mereka terdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mereka hanya menatap ke luar jendela. Mobil berhenti di saat lampu merah menyala. Terlihat kendaran yang menyeberang melewatinya. "Ayahnya Azkia meninggal minggu lalu," ucap Pak Wirjo membuka suara. Tatapan mereka yang sedari tadi menatap luar jendela. Memfokuskan pada orang yang membuka suaranya. Mereka menatap Pak Wirjo yang terlihat serius menatap jalanan. "Minggu lalu?" tanya Putri memastikan. "Bapak baru kasih tau sekarang?" tanya Devan. "Maaf, gak sempet," ucap Pak Wirjo sembari tersenyum. "Memangnya kenapa bapak baru kasih tau sekarang?" tanya Devan lagi. Pak Wirjo tersenyum simpul menatap ke arah Devan, "Baru ingat," ucapnya yang kemudian kembali menatap jalan. "Hmm... Aku pikir ada sesuatu," ucap Putri kecewa mendengar hal itu. Pak Wirjo hanya terkekeh melihat Putri dari kaca balik kaca. Kemudian kembali menatap jalanan. "Sebenarnya ada sesuatu," ucap Pak Wirjo yang masih memasang senyumnya. Mereka pun kembali memasang telinganya baik-baik. Bola matanya terfokus pada pria paruh baya itu. "Sebelum dia meninggal," ucapnya menggantung. "Dia bilang, dia menyesal. Tapi, itu semua gak ada gunanya, bukan?" ucap Pak Wirjo menghilangkan senyumnya. "Itu sebabnya, saat itu bapak berada diantara sedih dan marah yang bercampur aduk mendengar kalian bertemu dengan Azkia waktu itu," sambungnya. "Maaf jika bapak terlalu kasar sama Putri," ucap Pak Wirjo menatap sembari tersenyum kepada Devan. "Gak apa-apa, Pak," jawab Putri yang salah memahami kemana tatapan itu mengarah. Devan yang sedang ditatap oleh Pak Wirjo. Langsung mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. "Makasih, Putri..." ucap Pak Wirjo kembali menatap ke jalan. Pak Wirjo mengingat kejadian dimana Putri berusaha untuk menghentikannya untuk memasuki toilet pada sore itu. Ketika mengingat bagaimana tatapan mata Devan yang kesal saat dirinya tidak sengaja menyakiti lengan Putri. Setiap kali mengingat itu, dia tertawa dalam hati kecilnya. Arga terdiam membisu, dia tidak ingin membicarakan apa pun saat ini. Waktu itu baginya sudah cukup panjang. "Selain itu, aku juga berterima kasih sama kamu Arga," ucap pria paruh baya menatap ke kaca sekilas. Arga menatap sejenak, "Bapak harusnya jangan berterima kasih sama saya," ucap Arga membuka suaranya. "Terus, saya harus terima kasih sama siapa?" tanya Pak Wirjo kebingungan. "Sama..." ucap Arga menggantung sembari menatap Nandini yang ikut menatapnya. "Ada makhluk kecil, yang ikut membantu," ucap Arga masih menatap Nandini. "Siapa yang kamu panggil kecil itu?" dengus kesal Nandini. "Apa? Oh, ok... Makasih buat kamu juga yang gak bisa saya lihat," ucap Pak Wirjo sembari tersenyum menatap jalan. "Tunggu, apa dia ada di sini?" tanya Pak Wirjo. Arga kembali menatap ke arah gurunya itu, "Dia ada di sini," ujarnya. Melihat senyum Arga mengembang. Pak Wirjo ikut tersenyum, meskipun dia menjadi agak merinding setelah mengetahui ada hantu yang masuk dalam mobilnya. Mobil berbelok memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar. Nampak beberapa rumah di sisi kanan dan kiri jalan. Sampai mobil menepi di sebuah tempat makam. Pak Wirjo mengajak mereka turun. Devan menggerakan bola matanya ke atas membaca nama makam itu. Dia kembali menggerakan bola matanya lurus ke depan. Terlihat pohon bunga melati yang tumbuh subur di sana. Mereka memasuki area pemakaman. Pak Wirjo berjalan ke arah makam Azkia diikuti yang lain. Terlihat ada seorang pria yang berdiri di samping makam. Melihat itu sontak Putri membuka matanya lebar-lebar. Ketika pria itu menoleh, dia menganga melihat pria yang sama berbicara dengan Ibunya Devan tadi pagi. "Cowo ganteng waktu itu," ucap bersamaan Nandini dan Putri. Nandini dan Putri saling menatap. Kemudian mereka tersenyum lebar. "Hari keberuntungan!" ucap Putri. "Aaa!" teriak senang Nandini. Mendengar hal itu, Devan menatap mereka heran. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian Devan kembali menatap pria yang tersenyum ke arah Pak Wirjo. Devan berkata dengan suara yang lirih, "Tapi, siapa dia?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN