Bab 63

1012 Kata
Arga menatap datar anak kecil di depannya. Dia kemudian, menatap lurus ke depan. Arga melangkahkan kakinya melewati anak kecil itu. Seolah anak kecil itu tidak pernah ada. Kakinya berhenti melangkah di depan pintu kayu berwarna coklat tua yang tertutup rapat. Tangan kanannya meraih gagang pintu. "Kamu tersenyum sama wanita itu. Kenapa sama aku nggak?" ucap anak laki-laki itu menatap Arga yang masih terdiam di depan pintu. Arga membuka pintu perlahan, hingga suara decitan pintu yang bergesek dengan lantai terdengar. Arga melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Tangannya masih diluar memegang gagang pintu. Sampai tangannya melepas dan menutup pintunya perlahan. Tetapi, Arga tidak dapat menutupnya. Seperti ada yang menahan pintunya untuk menutup. Anak kecil itu menahan pintunya dengan kedua tangannya yang terlihat mendorong pintu agar tetap terbuka. Arga menatapnya sejenak. Dia berusaha mendorong dari dalam agar pintunya segera tertutup. Tetapi, tenaganya tidak cukup kuat. Hingga akhirnya Arga menyerah untuk membuka pintunya. Dia membuka pintunya lebar secara kasar. Sampai suara pintu yang berbentur dengan tembok cukup keras. Arga menatapnya dengan kesal. Anak laki-laki itu mendongak menatap Arga. Tatapannya yang polos, seolah membuat Arga semakin kesal kala melihatnya. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku lagi," ucapnya dengan nada rendah. Setelah mengatakan itu, Arga menutup pintunya kembali. Dia membelakangi pintu, tubuhnya disenderkan pada pintu. Kedua tangannya menutup wajahnya. Dia menurunkan tubuhnya hingga terduduk dengan kedua kaki ditekuk di depan. Dia memeluk lututnya, kepalanya dia benamkan. Pintu digedor dari luar dengan tempo yang pelan. Namun, semakin lama semakin keras. "Ayo Arga! Kita main!" ucap anak lelaki itu dari luar. Dia terus menggedor pintu dengan keras. Sampai perlahan suaranya lenyap. Mendengar suaranya lenyap, Arga mengangkat wajahnya. Dia memasang telinganya baik-baik, mencoba memastikan. Selama beberapa detik tidak ada suara yang terdengar dari luar. Arga bangkit dari duduknya. Dia berbalik dan tangannya meraih gagang pintu. Tangannya menarik ke bawah gagang pintu perlahan. Pintunya dia tarik pelan, dia melihat dengan sedikit celah yang dibuka. Tidak ada siapa pun di sana. Arga menggerkana bola matanya ke berbagai arah dengan celah pintu yang dibuka tidak terlalu lebar. Dia kembali menutup pintunya. Dia menatap ke bawah sembari berbalik. Dia menghela nafas lega. "Arga? Kamu udah pulang?" tanya seorang wanita paruh baya yang berdiri sejauh dua satu meter di depannya. Arga mendongak mendengar suara yang sangat ia kenal, "Ibu... Iya, aku sudah pulang," ucap Arga. Sementara itu... Putri, Nandini dan Devan baru saja turun dari mobil Pak Wirjo. Mobilnya pergi menjauh setelah pemiliknya berpamitan kepada para penumpangnya. Putri melambai kepada Nandini dan Devan yang sudah berada di depan pagar. Lampu rumah yang telah menyala. Membuat hari yang mulai gelap menjadi terlihat terang. Menggantikan sinar matahari yang sedang pergi sejenak. Nandini dengan mudahnya masuk ke dalam tanpa membuka pagar. Devan mengunci pintu pagarnya. Dia melihat Nandini yang berjalan santai masuk ke dalam pintu dengan cara menembusnya. "Kenapa rasanya aneh, ya?" gumam Devan melihat kakaknya sudah masuk ke dalam rumah duluan. Devan berjalan santai, hingga langkahnya terhenti sampai di depan pintu. Devan mengetuk pintunya sembari membukanya. Rumahnya terlihat sunyi saat ini. Dia melangkahkan kakinya masuk lebih ke dalam. Terlihat Ayahnya sedang duduk di sofa sembari menonton televisi. Ayahnya menoleh menyadari kehadiran seseorang. Dia tersenyum sembari menyambut kehadiran Devan. "Devan, sudah pulang?" ucapnya sembari tersenyum. "Kok, cepet banget hari ini pulangnya?" tanya Devan penasaran. "Loh, pulang cepet salah ya?" ucap Ayahnya. "Y-ya, nggak sih. Biasanya Ayah pulang lambat," ucap Devan menatap ke arah lain. "Haha... Kamu ini, ada Nandini kan. Jadi, Ayah minta pulang lebih cepat hari ini," ucapnya diselingi tawa. "Selain itu, besok libur sekolah kan?" tanya Ayah kemudian. Devan mengangguk ragu, "Ya sudah. Aku mau ke kamar dulu," ujar Devan kembali melangkahkan kakinya menuju tempat paling nyaman baginya. Ayahnya mengangguk dan kembali menonton televisi di depannya. Sementara Devan berjalan santai menuju kamarnya. Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Dia membuka pintunya, setelah dia masuk. Devan kembali menutup pintunya rapat. Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidurnya. Devan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Dengan posisi telentang, dia menatap langit-langit atap kamarnya. Tangan kanannya dia letakan di kening. Devan menghela nafas panjang. Sesuatu teras mengganjal di balik punggungnya. Dengan susah payah Devan mengambilnya. Sebuah buku novel yang dibaca tadi sore masih ada di sini. Kedua tangannya memegang buku itu. Dia membuka halaman lanjutan yang dia baca tadi sore. Sementara itu, dari kejauhan Nandini sangat antusias untuk mengerjai adiknya itu. Dia berjalan seperti biasa. Tetapi, adiknya sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Nandini kembali melakukan hal yang sama. "Aaa!" teriak Devan. Devan terkejut ada wajah kakaknya di buku yang dibaca. Sontak Devan bangkit dan langsung melempar bukunya jauh. Detak jantungnya berdegup kencang. Sementara kakaknya terlihat tertawa dengan puas melihat wajah ketakutannya. Devan masih membelalakan matanya terkejut. Dia menatap Nandini di depannya dengan wajah kesal. Devan mengambil sebuah bantal di sampingnya. Kemudian melemparnya keras ke arah Nandini. Tetapi sekeras apa pun Devan melemparnya. Bantal itu tidak dapat mengenai kakaknya sedikit pun. Menyadari dirinya dilempar bantal. Nandini menghentikan tawanya, dia menatap kesal Devan. "Beraninya kamu lempar bantal ke arahku!" ucap Nandini sembari menunjuk ke arah Devan. "Kenapa kakak yang marah?" ucap Devan tidak terima. Akhirnya keributan pun tidak terhindarkan. Selama beberapa waktu mereka mendebatkan sesuatu yang tidak penting. Sampai kedua orang tuanya datang ke kamar Devan. Mereka membuka pintu lebar-lebar. Tetapi, tidak ada yang menyadari kehadiran mereka. Melihat kedua anaknya adu mulut tentang siapa yang paling salah. Membuat sang Ibu yang melihat memijat keningnya. Sementara sang Ayah tertawa melihatnya. Hingga kedua anaknya berhenti bertengkar. Mereka menoleh menatap ke sumber suara yang menarik perhatiannya. "Kok, Ayah ketawa sih?" ucap Ibu di sampingnya. Ayahnya hanya tersenyum simpul. Baginya sudah lama dia mengidam-idamkan suasana seperti ini. Sang Ibu kembali menatap anak-anaknya. Kali tatapannya begitu tajam dan menakutkan. "Ikut Ibu!" perintah Ibu. Sang Ibu pun berjalan pergi. Devan dan Nandini saling menatap bingung. "Sudah ikut aja," ucap Ayahnya masih terkekeh. Kini di ruang keluarga, terlihat sunyi. Devan dan Nandini saling menatap dan tidak boleh memalingkan pandangan. Karena di samping mereka ada sang Ibu yang mengawasi. Sudah lima menit berjalan. "Bu... Sampe kapan?" tanya Devan dan Nandini bersamaan. Ayahnya terkekeh melihat kedua anaknya yang mendapat hukuman. Senyumnya terus terukir di wajahnya. "Ibu, sampai kapan?" rengek Nandini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN