Sudah sepuluh menit berlalu. Leher Devan sudah sangat pegal hanya menatap ke satu arah.
"Oke, sudah cukup," ucap sang Ibu yang melihat ke arah jam dinding.
Devan memegang lehernya sembari mengalihkan pandangan. Sementara Nandini membaringkan tubuhnya.
"Bisa-bisanya Ibu nyuruh aku begitu," keluh Nandini.
"Pegel leherku, Ibu. Haduh," keluh Devan.
"Kalo kalian mau, Ibu bisa tambah waktunya lagi," ucap Ibunya.
Seketika Nandini langsung bangkit. Devan pun menatap sang Ibunya cepat.
"Jangan!" seru mereka bersamaan.
"Ya sudah, jangan ribut!" ucap Ibunya.
Mendengar suaranya, Devan dan Nandini menunduk. Mereka tidak berani menatap mata sang Ibu.
"Sudah-sudah..." ucap Ayahnya sembari tersenyum.
Ayahnya mengubah posisinya menghadap mereka. Wajahnya terlihat senang, seperti akan memberikan suatu kabar baik.
"Besok... Kita pergi jalan-jalan, yuk!" ucap Ayah antusias.
"Kemana, kemana?" tanya antusias Nandini.
"Belum tau, sih. Menurut kamu kemana?" tanya Ayahnya.
Nandini nampak berfikir keras. Dia memegang dagunya sambil melihat ke atas.
"Yakin, besok jalan-jalan?" tanya Ibu tidak percaya.
Ayah hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia kembali memandang Nandini. Kemudian beralih menatap ke arah Devan yang terdiam seperti biasanya.
"Devan?" panggil Ayah.
"Hm?" bingung Devan.
"Menurut kamu, pergi kemana?" tanya Ayah.
"Ke-"
"Ke lawang sewu!" seru Nandini memotong ucapan Devan.
Seketika mereka langsung menatap Nandini heran. Membuat Nandini yang menyerukan hal itu terdiam sesaat.
"Hus! Gak boleh!" larang Ibu.
"Loh, kan seru bisa foto-foto," ucap Nandini sembari menirukan gaya orang yang sedang memotret.
"Ya, gak harus di tempat itu juga," ucap Ibu menepuk keningnya.
Nandini mengentikan aksi meniru gaya orang yang tengah memotretnya. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Terus kita kemana? Kan Nandini baru kali pertama ke situ," ucap Nandini memajukan bibirnya.
"Ya sudah, kita nonton aja gimana?" saran Ayah.
Mereka menatap sang pemberi saran. Selama beberapa detik tidak ada percakapan.
"Ayah punya... Tiketnya!" seru Ayah menunjukkan tiket dari sakunya.
"Wah!" takjub Nandini.
"Kalo sudah punya tiket, ngapain tanya mau kemana?" heran Ibu.
Ayah hanya tersenyum simpul. Sementara Nandini menatap tiket itu dari berbagai sisi. Jari telunjuknya terlihat menunjuk satu persatu tiket itu.
"Kok, cuma tiga?" tanya Nandini kepada Ayahnya.
"Lah, kan emang cuma tiga. Kamu gak dihitung sayang," ucap Ayahnya.
"Oh... Iya," ucap Nandini sembari menggaruk kepalanya.
"Sudah, ayo makan dulu," ucap Ibu yang kemudian beranjak pergi ke belakang.
Melihat Ibunya sudah pergi, Devan beranjak pergi ke kamarnya. Sementara Ayah dan Nandini kembali menonton televisi bersama.
Sampai di kamarnya, Devan menyadari buku novel miliknya yang sedikit sobek pada sampulnya. Devan tidak tahu jika lemparannya dapat membuat bukunya sobek seperti itu.
"Ah, buku mahal lagi," ucap Devan sembari memegang bukunya.
"Hah..." Devan menghela nafas gusar.
Dia berjalan menuju kasurnya. Dia duduk di atas kasur yang empuk. Dengan kedua tangan yang masih memegang buku novelnya. Bola matanya masih menatap buku, meratapi buku mahal yang hanya sedikit sobek di bagian sudutnya.
Tangan kirinya melepas buku itu. Menumpu tubuhnya di belakang.
Seperti ada yang mengganjal, tangan kiri Devan menarik sebuah buku berwarna merah muda. Buku itu milik Nandini, dia menaruh bukunya di sembarang tempat setelah pulang dari makam.
Kini kedua tangannya memegang dua buku yang berbeda. Bola matanya pun melihat ke kanan dan kiri. Melihat bukunya satu persatu.
Devan menaruh buku novel miliknya di samping. Kini hanya ada satu buku yang dia pegang. Buku berwarna merah muda yang ia bolak-balikkan.
Devan mendongak, matanya mengawasi pintu. Melihat keadaan aman, Devan menatap buku merah muda di tangannya.
Salah satu tangannya memegang sampul depan buku itu. Dia membuka buku merah muda itu perlahan.
"Devan! Suruh Ibu makan!" ucap Nandini dari luar.
Mendengar suara Nandini dari luar. Devan mengurungkan niatnya untuk membuka buku harian milik kakaknya itu.
"I-Iya, bentar!" seru Devan sembari menaruh buku itu di sampingnya.
Devan menatap buku harian milik kakaknya itu. Dia kembali menatap ke depan. Tetapi, rupanya di depannya sudah ada Nandini yang mengawasinya.
"Ngapain kamu?" selidik Nandini.
"Ngagetin aja, sih!" kesal Devan melihat kakaknya tiba-tiba berada di depannya.
"Kamu ngapain? Ngapain liatin buku diary ku?" selidik Nandini lagi.
Melihat dirinya akan segera terpojok. Devan mengambil sebuah buku novel di samping kanannya. Dia menunjukkan buku itu tepat di depan wajah Nandini.
Nandini melepas lipatan tangannya. Dia terkejut melihat Devan melakukan hal itu.
"A-Apa?" tanya Nandini heran.
"Nih, liat. Buku ini jadi sobek," ucap Devan sembari menunjukkan bagian yang sobek.
Nandini menggerakan bola matanya sesuai dengan jari telunjuk Devan, "Ih, apaan. Orang cuma dikit, kok. Cumu dikit itu," ucap Nandini sembari menunjuk bukunya.
Devan kembali menarik bukunya, "Salah kakak, ngapain juga ngagetin aku?" ucap kesal Devan.
"Ih, kok jadi kakak yang disalahin?" tanya Nandini tidak terima.
"Siapa lagi?" ucap Devan.
"Ya, salahin kamu sendiri lah!" ucap Nandini kesal.
"Kan kakak yang ngagetin!" ucap Devan geram.
"Ih, kamu tuh-"
"Hei, hei. Ngapain bernatem lagi?" ucap Ibunya yang berdiri di pintu.
Ucapan Nandini terpotong oleh seseorang di belakangnya. Dia menatap Devan yang terlihat ketakutan melihat orang yang ada di belakangnya.
Nandini pun menoleh perlahan. Melihat ada seorang wanita paruh baya yang bisa begitu lembut kepadanya, namun bisa begitu menakutkan saat marah.
"Eh, Ibu. Kami gak berantem, kok!" ucap Nandini sembari tersenyum.
"Iya... Kan, Devan?" tanya Nandini memberi isyarat kepada Devan.
Nandini memberi isyarat mata kepada adiknya. Devan malah kurang tanggap dengan isyarat yang diberikan.
Nandini pun melebarkan bola matanya menatap Devan. Melihat tatapannya, Devan baru sadar akan isyarat itu.
"Eh, iya. Kita gak berantem, kok. Haha..." ucap Devan sembari tertawa.
Melihat tawa adiknya, Nandini berinisiatif ikut tertawa. Meskipun tidak ada yang lucu.
Sang Ibu mengarahkan jari telunjuk dan jari tengah ke arah anak-anaknya. Kemudian mengarahkan ke arah matanya dan begitu sampai tiga kali. Sebagai tanda peringatan.
Ibunya pun berjalan mundur sambil menatap tajam mereka. Sampai dia pergi dan tidak menunjukkan batang hidungnya lagi.
Nandini dan Devan menghentikan tawanya. Mereka tersenyum secara terpaksa. Sampai beberapa waktu hingga Ibunya benar-benar dirasa sudah menjauh.
"Hah... Ya ampun. Aku hampir gak napas," ucap Nandini menghela nafas.
Nandini menatap tajam Devan, "Kalo aja kamu gak bikin ribut," geram Nandini.
Nandini menghentikan langkahnya di depan pintu. Dia berbalik menatap Devan.
"Jangan buka-buka buku diary kakak!" ujarnya.
Nandini pun berjalan pergi keluar kamar Devan. Melihat kakaknya sudah pergi menjauh. Devan menghela nafasnya panjang.
"Yang bikin tambah runyam kan kakak," ucap lirih Devan.
Kemudian bola mata Devan kembali menatap buku berwarna merah muda di sampingnya, "Bikin penasaran aja."
Dengan rasa penasarannya, tangan Devan meraih bukunya. Dia menatap buku itu, Devan membuka sampulnya.
"Devan..." geram Nandini.
Devan terkejut melihat Nandini di depan pintu. Devan mencoba tersenyum simpul, sembari menatap sang kakak.
"Jangan buka buku hariannya," ucap Nandini penuh penekanan.
"Iya-iya... Lagian kenapa gak boleh, sih?" tanya Devan.
"Itu buku pribadiku," ucap Nandini.
"Hmm... Iya, ok!" ucap Devan yang bangkit dan berjalan ke rak buku.
Tangannya menaruh buku itu tepat di rak. Kemudian, Devan berjalan pergi keluar kamarnya melewati Nandini yang terdiam sembari menatapnya.
Di ruang makan...
Devan duduk sembari menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya. Hanya ada dentingan sendok dan piring yang saling beradu di sini.
"Ayah," panggil Devan.
"Hm?" Ayah menatap sang anak yang memanggilnya.
"Aku, gak ikut pergi," ucap Devan.
"Loh, kenapa?" tanya Ibu.
"Hanya kali ini saja, ya?" pinta Ayah.
Melihat tatapan Ayahnya yang memohon. Sangat jarang dia memaksakan kehendaknya pada Devan. Membuatnya mau tidak mau harus mengikuti kemauan Ayahnya itu.
"Iya, aku ikut," ucap Devan pasrah.
"Tapi, tumben banget Ayah ngajak ke bioskop?" tanya Devan lagi.
Ayahnya kembali tersenyum, "Karena ada Nandini," ucapnya.
"O-Oh, begitu ya," ucap Devan memaksa untuk tersenyum di depannya.
Setelah mendengar itu, ruang kembali dipenuhi dengan suara dentingan nyaring antar sendok dan piring. Sampai selesai makan dan waktu berganti. Devan sama sekali tidak ingin pergi, tetapi melihat Ayahnya yang begitu antusias untuk pergi ke bioskop. Membuatnya tidak tega untuk menolak.