Bab 65

1012 Kata
Sinar terik di pagi hari, menyilaukan mata yang hendak melihat ke atas. Devan lagi dan lagi masih berada di tempat tidurnya yang nyaman. Sembari berbaring membaca buku novel miliknya. Di kamar Devan terdapat sebuah rak buku yang tidak terlalu besar. Menjadi semacam perpustakaan mini yang membuatnya betah berlama-lama dalam kamarnya. Sinar matahari yang masuk melalui jendela. Menerangi ruang di dalamnya. Detik waktu yang terus berjalan. Sama seperti halnya bola mata Devan yang terus bergerak membaca tiap kata dalam bukunya. Sampai suara ketukan menghentikan bola matanya yang sedang menikmati bacaan pada novelnya. Devan mengalihkan pandangan pada pintu. Terdengar suara ketukan dari balik pintu di luar sana. Devan bangkit dan menurunkan kakinya. Tangannya menaruh buku novel miliknya di meja. "Devan, kita mau pergi sebentar lagi," ucap seorang pria paruh baya di luar. "Iya, sebentar Yah!" ucap Devan mengetahui orang di balik pintu adalah Ayahnya. "Oke, Ayah tungguin di ruang tamu," ucap Ayahnya kemudian. Terdengar suara langkah kaki yang makin menjauh. Devan bangkit dan mengambil ranselnya untuk menaruh buku harian Nandini seperti biasanya. Devan melangkahkan kakinya ke depan rak buku. Tangannya meraih sebuah buku di depan matanya. Sampai bola matanya teralihkan oleh sebuah buku berwarna coklat tepat di atas buku harian milik Nandini ditaruh. "Buku novel pertamaku," ucap Devan menyunggingkan bibirnya. Tangan Devan meraih buku itu. Sampul bergambar seorang wanita yang membelakangi. Dengan latar belakang rumput panjang berwarna hijau. Saat Devan hendak membuka bukunya. Tiba-tiba beberapa lembar kertas jatuh dari buku novel yang dia pegang. Terlihat beberapa halaman berserakan di lantai. Tangan Devan meraih beberapa lembar itu. Dia harus sedikit membungkuk untuk meraihnya. "Devan, ayo cepet!" ucap Nandini yang kemudian masuk dengan menembus pintunya. Devan menoleh ke arah sumber suara. Devan menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang memegang buku. "Cepetan, ditungguin Ibu sama Ayah," ucap Nandini. "O-Oh, iya sebentar," ucap Devan memasukkan lembaran ke dalam buku novelnya. Kemudian dia menaruh kembali buku itu. Devan meraih tasnya dan menaruh buku harian milik kakaknya di sana. "Buku apa itu?" tanya Nandini penasaran. Devan menatap buku yang cukup berantakan tadi. Dia kembali menatap Nandini. "Buku lama," ujar Devan kemudian beranjak pergi. "Ayo, kak!" ajak Devan. "Iya," balas Nandini yang berjalan mengekor di belakangnya. Di ruang tamu terlihat Ibunya yang tengah duduk di sofa dan Ayahnya yang berdiri di pintu. Mereka terlihat tersenyum melihat kehadiran Devan. "Sudah?" tanya Ibu. Devan hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat hal itu, sang Ibu berdiri dan mengajak anaknya keluar. "Ayo," ajak Ibu. Devan dan Nandini berjalan keluar. Terlihat sang Ayah yang berjalan terlebih dahulu. Dia terlihat membuka pintu mobil dan menyalakan mobilnya. Kemudian dia menutup pintunya kembali. Sampai suara dering ponsel yang terdengar nyaring. Semua mata tertuju padanya. "Bu, nanti kita coba ambil foto yuk!" ucap Nandini kepada Ibunya yang ada di sampingnya. "Memangnya, kak Nandini bisa ketangkep di kamera?" tanya Devan. "Coba dulu apa susahnya, sih?" balas Nandini. "Iya-iya... Nanti kita coba foto, ya?" ucap Ibu sembari tersenyum. Nandini pun membalas senyumnya. Dia akan sangat senang hari ini. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan pergi ke bioskop setelah sekian lama. Ayahnya terlihat berjalan ke arah mereka. Dengan wajah yang ditundukkan. "Kenapa Yah?" tanya Nandini melihat wajah lesu Ayahnya. "Maaf, hari ini gak bisa ke bioskop," ucap Ayahnya dengan wajah lesu. "Yes!" ucap Devan dengan tangan yang mengepal. Seketika semua pasang mata melihat ke arahnya. Devan hanya bisa memalingkan wajahnya. "Kenapa malah seneng, sih?" kesal Nandini. "Emangnya ada apa Yah?, tanya sang Ibu. "Jadi, temen Ayah ada yang meninggal jadi. Ayah sama Ibu harus ke sana sekarang," ucap lesu Ayah. "Yah, terus tiketnya gimana?" tanya Nandini. "Hm... Ya sudah, gini aja. Ini tiketnya buat Devan sama Putri," saran Ayah sembari memberi dua tiket dari dompetnya. Kemudian dia meraih satu tiket dari dompetnya, "Dan ini, terserah buat siapa," ucap Ayahnya. Devan menerima tiket itu dari Ayahnya. Kini semua tiket ada di tangannya. Dia benar-benar tidak ingin pergi. "Jadi, kamu ajak Nandini pergi, ya!" suruh Ayahnya. "Pergi ke bioskop?" tanya Devan memastikan. Ayahnya hanya mengangguk sebagai jawaban. Devan menghela nafas panjang mengetahui jawabannya. "Gak bisa ke toko buku atau perpustakaan gitu?" tanya Devan. "Toko buku? Perpustakaan?" ucap Nandini dengan mata berbinar menatap Devan. "Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi, mubazir itu tiketnya," ucap Ibu. "Iya, deh... Nanti Devan ajak Nandini pergi," ucap Devan pasrah. Setelah selesai berbicara, Ibu dan Ayahnya pergi mengendarai mobil. Melihat mobil milik orang tuanya mulai menjauh. Kini Devan dihadapkan dengan Nandini yang terlihat masih bersemangat untuk pergi. Tatapan berbinarnya membuat Devan resah. "Sekarang?" tanya Devan kepada Nandini. Nandini mengangguk cepat, terlihat bersemangat. Devan kembali menghela nafas panjang. "Nanti aja, ya?" pinta Devan. "Sekarang Devan," ucap Nandini. "Ihh!" geram Devan. Devan pun mengambil ponsel di sakunya. Dia mengetikkan sesuatu di sana. Devan kembali menaruh ponselnya di saku celananya. Nandini terus memperhatikan Devan, dia penasaran dengan apa yang ditulisnya. "Ngirim pesan buat siapa?" tanya Nandini penasaran. "Buat Putri, nah itu orangnya datang," ucap Devan melihat Putri yang baru keluar dari pintu rumahnya. Putri terlihat berjalan santai memasuki halaman. Dia melambai ke arah Nandini yang tersenyum kepadanya. "Devan ada apa?" tanya Putri. Devan menatap Nandini sekilas, "Ajak kakakku pergi nonton bioskop," pinta Devan sembari memberi semua tiket bioskop yang dia pegang. Putri terkejut dengan tiga buah tiket yang diberi Devan secara cuma-cuma. Devan juga memberikan buku harian milik Nandini kepadanya. "Jaga kakakku, ya!" ujar Devan sembari berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Namun, kerah bajunya ditarik Putri. Sehingga membuat Devan berjalan mundur. "Eh, eh, lepasin Put!" ucap Devan. Putri melepasnya, kini Devan berhadapan dengan Putri. Dia membenarkan kerahnya yang tidak rapi karena perbuatan Putri. "Kamu harus ikut juga," ucap Putri. "Nggak mau!" tolak Devan. "Iya, Devan. Kamu harus ikut, biar seru. Ajak Arga sekalian," ucap Nandini. Devan menatapnya sejenak. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun. "Ikut, nggak!" paksa Putri. Devan kembali mengambil ponselnya. Dia terlihat mengetikan seseuatu. Kemudian ponselnya dia dekatkan ke telinga. "Halo," ucap Devan. "Iya, ikut ya!" Devan menutup panggilannya kemudian. Dia memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Kemudian dia menatap dua orang gadis di depannya. "Arga bisa katanya," ujar Devan. "Tambah ramen, bagus deh!" ucap Nandini antusias. Putri melipat tangannya di depan d**a, "Kamu?" tanya Putri kepada Devan. "Nggak," balas Devan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN