Putri menautkan alisnya mendengar jawaban Devan. Dia kemudian mendekat ke arah Devan. Hingga Devan harus memundurkan langkah dan memalingkan wajahnya.
"Ikut..." suruh Putri.
"Aku nggak mau, Putri," tolak Devan sembari menatap bola mata sahabat masa kecilnya itu.
"Perlu aku bilang kalo kamu pernah hampir ngilangin buku kak Nandini hari itu?" ancam Putri.
Devan mengeluarkan keringat dingin di sekitar pelipisnya. Dia menelan ludahnya mendengar hal itu.
"S-Silakan," ucap Devan berpura-pura tidak takut akan ancaman itu.
Putri memundurkan langkah kakinya hingga memberi jarak satu meter darinya. Kemudian dia mengangguk, seolah menyetujui sesuatu.
"Oke," ucap Putri.
Putri mengambil ponsel yang sedari tadi dipegangnya. Dia menekan sesuatu di ponselnya, dan mendekatkan ponsel di telinganya.
"Oh, tante. Halo," ucap Putri kepada orang di sebrang.
"Iya nih, aku mau ngomong sesuatu yang penting, tante!" ucap Putri sembari menatap Devan.
Devan menelan ludahnya sendiri melihat Putri yang berbicara dengan seseorang di sebrang. Putri terlihat mengangguk seperti mengiyakan suatu hal.
"Iya, Devan waktu itu-"
Tiba-tiba Devan langsung mengambil ponsel Putri dari genggamannya. Devan langsung mendekatkan ponselnya di dekat telinga.
"Halo, Ibu. Ini Devan, sudah dulu ya!" ucap Devan menatap layar ponselnya.
Putri terlihat menutup mulutnya menahan tawa. Sadar akan kelakuannya itu. Devan menghidupkan layar ponsel milik Putri.
Dan benar saja, Devan dikerjai olehnya. Putri sama sekali tidak memanggil Ibunya Devan.
"Ah, aku gak ikut!" ucap Devan kesal.
Devan berjalan kembali hendak masuk ke rumahnya. Dia sudah cukup kesal karena dikerjai.
"Devan!" panggil Putri.
Devan menghentikan langkahnya tepat di pintu. Dia menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Kenapa lagi?" tanya Devan mulai jenuh.
"Hpnya," pinta Putri mengadahkan tangan.
Devan berbalik dan memberikan ponsel itu. Kemudian dia kembali berjalan masuk rumahnya.
"Devan, kamu yakin gak mau ikut?" tanya Putri sedikit berteriak karwna Devan sudah memasuki ruang.
"Nggak!" teriak Devan dari dalam.
"Gimana sekarang? Jadi cuma kita bertiga yang pergi?" tanya Nandini.
Putri menatap Nandini yang terlihat memasang wajah sedih. Kemudian Putri mengembangkan senyumnya.
"Oo... Tentu tidak," ucap Putri sembari tersenyum.
Setelah itu, Putri melangkahkan kakinya ke depan pintu rumah. Dia berdiri seperti sedang memasang kuda-kuda.
"Devan! Aku bisa saja bilang kaya tadi, kalo kamu gak ikut!" ucap Putri sedikit berteriak.
"Devan!" panggilnya lagi.
Sementara dari kejauhan, dengan tas ransel yang masih menggantung. Devan hendak menuangkan air ke dalam mulutnya. Tetapi, aksinya terhenti oleh suara Putri yang masuk ke dalam rumah.
Dengan langkah cepat, Devan berjalan keluar. Dia bisa kena marah jika sang Ibu mengetahuinya.
Devan sampai di ruang tamu, dimana pada jarak sekitar dua meter dari Putri yang memasang senyum lebarnya.
"Jangan pernah lakukan," ucap Devan.
"Aku bisa saja melaporkan," ucap Putri tersenyum simpul sembari menggoyangkan ponselnya ke depan.
Dengan kesal, Devan melangkahkan kakinya maju ke depan. Tangannya mengulur hendak meraih ponsel milik Putri.
Tetapi dengan cepat, Putri menarik ponselnya. Kini mereka pada jarak setengah meter.
Devan mencoba meraih ponsel itu, namun tidak berhasil. Tangan Putri sangat lihai dalam hal itu.
"Ikut atau nggak?" ucap Putri menghentikan Devan yang tengah mencoba meraih ponsel itu.
Devan semakin geram, namun dia tidak bisa membantah kali ini. Devan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Oke! Aku ikut, puas?" ucap Devan geram.
Putri tersenyum puas, tangan kanannya meraih ubun-ubun Devan dan menepuk-nepuknya perlahan, "Itu baru Devan ku," ujarnya.
Devan memalingkan wajahnya ketika Putri melakukan hal semacam itu. Setelahnya, Putri berbalik dan memberi ibu jarinya kepada Nandini sembari tersenyum. Nandini pun membalasnya dengan hal yang sama.
"Arga," ucap Putri melihat Arga.
Arga terlihat mengayuh sepedanya. Dia memberhentikan sepedanya tepat di depan pagar. Arga turun dari sepeda, dia membuka pintu pagarnya perlahan. Melangkahkan kakinya berjalan mengarah ke arah teman-temannya.
Nandini tersenyum sembari melambai ke arahnya. Membuat Arga membalas dengan hal yang sama.
"Jadi, kita mau kemana?" tanya Arga yang berdiri di depan teman-temannya.
"Bioskop, toko buku, perpustakaan," ucap Nandini antusias.
"Ke toko buku saja," ucap Devan.
Mereka yang mendengar menatap ke arah Devan. Menunggu kalimat penjelas keluar dari mulutnya.
"Terus tiketnya?" ucap Putri menunjukkan tiket yang diberikan Devan tadi.
Devan menatapnya sejenak, "Buang," ucapnya.
"Nggak, kita nonton bioskop dulu!" ujar Putri.
"Film horor lagi? Nggak, nggak, aku nggak mau," tolak Devan.
Mendengar penolakannya, Putri tersenyum lebar, "Kamu takut film horor?" tanya Putri berniat meledeknya.
"Ng-Nggak! Aku udah nonton film horor kemarin, masa sekarang nonton film horor lagi?" elak Devan.
Putri malah tersenyum ke arah Devan. Membuat Devan harus memalingkan wajahnya.
"Ya sudah, cukup. Ayo kita pergi sekarang. Keburu abisnya waktunya," ucap Nandini.
"Oh, tunggu sebentar. Devan, aku nitip sepeda di rumahmu ya," ucap Arga meminta izin.
"Taruh di garasi," ucap Devan menunjuk garasi yang masih terbuka.
Arga mengangguk setelah itu pergi mengambil sepedanya di depan pagar. Dia menuntun sepedanya masuk ke dalam garasi.
Devan menghampirimya, dia menutup garasinya dan mengunci rapat. Setelah mengunci pintu rumah dan garasi. Devan berjalan terlebih dahulu ke luar.
"Hey, cepetan. Mau ditutup pagarnya!" ucap Devan kepada teman-temannya.
"Iya!" seru Putri.
Mereka berjalan keluar, yang lain berjalan mendahului Devan. Sementara Devan harus mengunci pagarnya terlebih dahulu.
Devan harus sedikit berlari untuk berjalan beriringan dengan yang lain. Putri sedang mengobrol dengan Nandini. Sementara Devan memainkan ponselnya.
Melihat Devan yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Putri menjadi penasaran dan menatap ke arah ponsel Devan.
"Hayo... Chatingan sama siapa?" ucap Putri.
Devan langsung menarik ponselnya dan menatap Putri. Dia menyembunyikan ponselnya di belakang.
"Aku gak chatingan," ucap Devan.
Putri langsung merampas ponselnya. Devan berusaha meraihnya namun tidak bisa.
"Ih, liat bentar doang!" ucap Putri sembari membuka ponselnya.
Devan terlihat pasrah mendapati ponselnya diambil Putri. Sementara yang lain, ikut memberhentikan langkahnya dan menatap mereka berdua.
"Wah, Devan..." ucap Putri menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Putri terlihat serius membacanya. Tatapannya masih mengarah ke ponsel.
Melihat Putri terlihat terkejut, Arga dan Nandini menghampirinya. Mereka memunculkan reaksi yang sama. Kemudian, mereka menatap Devan.
"Dasar spoiler!" ucap mereka bersamaan.
Devan tersentak kaget, mendengar mereka mengucapkan itu secara bersamaan. Devan hanya bisa menggaruk kepalanya dan tersenyum sembari mengalihkan pandangannya.
"Ahaha..." tawa hambar Devan.
"Maaf..." ucap Devan masih mengalihkan pandangannya.
Putri langsung menyerahkan ponselnya, "Kamu harus nonton sampai habis, gak boleh ijin ke toilet pas nonton," ucap Putri.
"Gak boleh ke toilet?" tanya Devan.
"Kamu pikir ini ujian?" ucap Putri meninggikan suaranya.
Devan terdiam sesaat, dia mengangguk menyetujui hal itu. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Devan menghela nafas panjang. Setiap kali dia menatap layar ponselnya. Putri selalu menatap tajam dirinya.
"Ini sih ujian hidup," ucap Devan lirih.