Bab 67

1045 Kata
Sebuah ruang tanpa jendela. Dengan layar yang amat besar di depan. Beberapa kursi nampak terjejer hingga ke belakang dengan rapi. Cukup ramai orang yang datang. Beruntungnya Nandini dapat kursi di bagian ke empat. Devan dan yang lainnya duduk di baris yang sama dengan Nandini. Devan dan Putri duduk beriringan. Sementara Arga memberi jarak satu kursi dari mereka untuk Nandini. Lampu pun mulai padam, sangat gelap. Orang-orang pun terdiam menunggu film dimainkan. Sampai cahaya keluar dari layar. Mereka pun menontonnya dengan seksama. Hanya ada suara dari layar. "Ini, yakin kita masih nonton?" tanya Devan kepada teman-temannya. "Sst... Diam, tonton aja," ucap Putri dengan jari telunjuk yang ditaruh di bibirnya. "Bukannya kalian udah baca sedikit, ya?" tanya Devan lagi. "Tonton aja," geram Nandini tanpa menatap Devan. Devan akhirnya terdiam membisu. Suaranya tidak mampu mengalahkan dua wanita di samping kanan dan kirinya. Pembukaan film sangat tenang seperti biasanya. Sampai ketegangan mulai memuncak. "Aa-" teriakan Devan terhenti oleh Putri yang secara spontan memasukkan berondong jagung ke dalam mulut Devan. "Mmph," Devan masih tetap takut. Dia menghadap Putri sembari menutupi dirinya dengan tas yang dia bawa. Sementara Putri, dia masih asik memakan berondong jagungnya satu persatu. Nandini masih terlihat serius. Meski sesekali dia menutup mata dengan kedua tangannya. Sementara Arga, bukannya layar film yang ia lihat. Dia malah menatap Nandini sembari tersenyum-senyum melihat wajah Nandini yang ketakutan. Setelah film berlalu... Kini mereka di luar bioskop. Devan masih memeluk tas ranselnya. Meskipun dia sudah membaca setiap alur dalam ceritanya. Dia masih saja ketakutan melihat hantunya keluar. "Ayo nonton lagi!" seru Nandini yang ketagihan. "Ah, nggak!" tolak Devan mentah-mentah. "Aku setuju kalo nonton lagi," ucap Arga. "Aku juga!" ucap Putri menyetujui. "Sana kalian aja, aku mau ke toko buku," ucap Devan kesal. "Iya deh. Ayo ke toko buku, ada yang mau aku beli juga," ucap Putri. "Oh iya buku!" ucap antusias Nandini. Mereka pun pergi ke toko buku. Arga hanya mengikuti teman-temannya saja. Dia tidak terlalu suka dengan buku. Mereka berjalan di sebuah jalan yang tidak terlalu ramai. Mereka berjalan secara beriringan. Sepanjang perjalanan, Nandini terus bertanya tentang tempat yang dia lihat. Dengan antusias, Arga menjawab semua pertanyaan itu. Tidak ada yang menyadari hal itu. Karena Arga bersama teman-temannya. Dia bisa menjelaskannya kepada Nandini. "Wih, apa itu terbang-terbang?" tanya Nandini melihat pesawat tanpa awak. "Oh, itu drone," ucap Arga. "Drone?" ucap Nandini tidak mengerti. "Biasanya buat ngambil video dari ketinggian," jelas Arga. "Wah! Kayanya bagus," ucap Nandini sembari menatap pesawat tanpa awak yang mulai pergi menjauh. "Devan, kita punya benda itu gak?" tanya Nandini antusias. "Hmm? Nggak punya," jawab Devan tanpa menatap Nandini. "Yah, masa gak punya sih?" kecewa Nandini. Devan menoleh ke arahnya, "Mahal," ucapnya singkat. "Ih!" kesal Nandini. "Lagian buat apa?" ucap Devan. "Aku punya kak!" ucap Putri sambil mengangkat tangannya antusias. "Hah? Kok, aku gak pernah liat?" ucap Devan. "Kamu gak tanya," jawab Putri. "Hmm, terserah," ucap Devan tidak peduli. Devan menghentikan langkah kakinya di depan sebuah toko buku. Bola matanya bergerak melihat banyak buku di dalam. Kemudian, Devan melangkahkan kakinya ke dalam. Tidak terlalu besar, dan hanya satu dua orang yang ada di dalamnya. Sementara Nandini, tidak berhenti menganga melihat banyaknya buku di dalam. Nandini menggerekan bola matanya melihat ke segala arah. Dia berputar sembari kedua tangan menutup mulutnya. Di balik kedua tangannya itu dia tersenyum lebar. Dia sangat suka tempat ini. "Aku ke sana dulu, ya!" ucap Putri memisahkan diri dari yang lain. "Aku juga mau pergi ke tempat novel, kalian terserah mau kemana. Tungguin diluar juga gak apa-apa," ucap Devan kepada Arga dan Nandini. "Iya, ok," jawab Arga. "Aku mau lihat komik," ujar Nandini. Devan menghela nafasnya, "Ok, kakak sama Arga. Jangan jauh-jauh, dan jangan deket-deket sama hantu yang gak dikenal," peringat Devan. Nandini terdiam mendengar perkataannya, "Aku anggap itu jawaban iya," ucap Devan kemudian beranjak pergi. Melihat Devan sudah pergi menjauh. Nandini semakin bersemangat. Melihat rak buku di depan matanya. "Ayo Arga!" ajak Nandini sembari tersenyum. Arga hanya mengekor kepada Nandini. Bola matanya tidak henti menatap gadis tak kasat mata di depannya. Nandini menghentikan langkahnya, dia menatap beberapa buku komik yang ada di sampingnya. Nandini menunjuk ke arah buku, kemudian menoleh ke arah Arga. Arga terdiam sesaat untuk menerjemahkan gerak-gerik Nandini. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun dan hanya menunjuk buku di sampingnya. "Ambil buku komik?" tanya Arga. Nandini langsung mengangguk cepat sembari tersenyum. Berhasil menerjemahkan bahasa tubuhnya. Arga mendekat ke arah Nandini, dia mengambilkan buku yang ditunjuk Arga. Kemudian Arga membelakangi rak sembari melihat sampul bukunya. Nandini ikut melihat bukunya. "Arga, buka!" ucap Nandini meminta Arga membuka bukunya. Arga menghentikan aksinya yang sedang membolak-balikan bukunya, melihat setiap detail tulisan pada sampul. Dia kemudian membuka halaman pertamanya. Nandini terlihat mendekatkan wajahnya ke buku yang dia pegang meski harus sedikit berjinjit. Melihat aksi lucunya, Arga meninggikan bukunya perlahan. Membuat Nandini yang sedang serius membaca, harus berusaha dengan menjinjit demi membacanya. Melihat Nandini bersikeras, Arga menahan tawanya. "Arga..." rengek Nandini mengetahui Arga sedang mengerjainya. Arga pun terkekeh, "Maaf, iya-iya aku turunin," ucapnya. Arga pun menurunkan bukunya agar Nandini dapat membacanya dengan jelas. Kini Nandini kembali membacanya dengan serius. "Arga, balik halamannya," ucap Nandini tanpa menatap Arga. Namun, ucapannya sama sekali tidak digubris. Membuat Nandini harus memanggil namanya lagi. "Arga," panggil Nandini. Kemudian, Nandini menatap Arga. Dia terlihat tersenyum ke arahnya dengan aneh menurut Nandini. "Ngapain kamu senyum?" tanya Nandini menghamburkan lamunan Arga. "Eh?" ucap Arga masih belum sadar sepenuhnya. "Bukain halaman selanjutnya," ucap Nandini. "O-Oh, iya," ucap Arga terbata-bata. Arga membuka halamannya, terlihat Nandini yang masih menatapnya heran. Arga memalingkan wajahnya ke arah lain. Nandini yang tidak ingin ambil pusing, kembali menatap bacaannya. "Sudahlah, baca di rumah aja. Bawa itu ke kasir," ucap Nandini. "Kasir?" tanya Arga memastikan. Nandini mengangguk kemudian beranjak pergi. Arga mengekor di belakangnya. Tiba-tiba langkah Nandini terhenti di depan. Membuat Arga mengerutkam dahinya. "Kenapa kak?" tanya Nandini. Melihat Nandini tidak menjawabnya. Arga melangkahkan kakinya ke arah Nandini. Arga membelalakan bola matanya melihat apa yang sedari tadi dilihat Nandini. Seorang wanita dewasa dengan dengan rok mini dan baju yang cukup terbuka. Rambutnya terlihat hitam legam menatap Nandini. Sebilah pisau terlihat menancap di bagian ulu hatinya. Dengan darah yang terlihat menetes. Sontak Arga langsung menarik tangan Nandini untuk bersembunyi di belakangnya. Nandini hendak maju untuk memastikan sesuatu. Tetapi tangan Arga mencekalnya dengan erat. "Arga," ucap Nandini mendongak ke arahnya. "Dia bukan manusia," ucap Arga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN