Devan dan Putri berjalan bersama menuju kasir. Mereka melihat Arga dan Nandini yang sedang membaca komik. Karena tidak ingin menganggu. Putri menggandeng lengan Devan.
Membuat Devan mengurungkan niatnya untuk memanggil nama mereka berdua. Putri terus menggandeng tangannya hingga sampai di kasir. Terlihat seorang pria berkacamata kurus dengan kumis tipisnya.
"Kemana si Om Rio, tumben gak kerja?" tanya Putri melihat orang yang dicari tidak ada.
"Oh, dia cuti hari ini," balas pria itu.
"Hari ini?" tanya Putri memastikan.
Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Devan mengambil buku yang sedari tadi dipegang Putri, kemudian menyerahkan bukunya ke petugas kasirnya. Pria itu mulai menghitung dengan kalkulator di tangannya.
Bola mata Devan langsung terfokus pada luka lebam di punggung tangan pria itu. Luka lebam yang tidak terlalu besar.
"Maaf, tapi. Tangan anda kenapa?" tanya Devan melihat luka itu.
Pria itu nampak terkejut, dia segera memegang tangannya itu. Kemudian, menatap Devan sembari tersenyum ragu.
"Oh, ini gak sengaja kena barang jatuh di gudang," ucap pria itu.
"Oh..." ucap Devan.
Devan menggerakan bola matanya ke berbagai arah. Tidak ada kamera CCTV di sekitar sini.
"Devan," panggil Putri menepuk bahunya.
Devan menoleh ke arahnya, "Apa?" tanya Putri.
"Kak Nandini sama Arga, kok belum dateng?" tanya Putri sembari menggerakan bola matanya melihat ke kanan dan kiri.
"Ini bukunya," ucap pria itu.
Devan meraihnya sembari menyerahkan uangnya, "Duitnya kamu mana, Put?" tanya Devan.
"Pake uang kamu dulu," ucap Putri seenaknya.
"Eh? Hah... Ya sudah," ucap pasrah Devan yang kemudian menyerahkan uangnya.
Dua orang datang dan antre di belakang mereka, "Permisi? Sudah belum ya?"
"O-Oh maaf, iya silakan," ucap Putri sembari menyingkir.
"Ayo Devan, kita cari mereka," ajak Putri.
Di sisi lain...
Perpustakaan dengan lampu yang menyala di siang hari. Nampak sunyi, wanita itu terus menatap Nandini. Meskipun ada Arga di depannya.
"Arga, kita harus tanya apa maunya. Kalau begini terus, aku bisa takut beneran," ucap Nandini setengah berbisik.
Arga mendengarnya, tetapi dia tidak memberikan jawaban. Membuat Nandini harus memanggilnya berkali-kali.
"Arga," panggil Nandini setengah berbisik.
"Arga," panggil Nandini mengeraskan suaranya.
Arga menoleh ke arahnya, "Sebaiknya jangan ikut campur untuk saat ini," ucapnya.
"To... long a-aku," ucap wanita itu terbata-bata.
Arga menarik lengan Nandini menjauh dari wanita itu. Nandini menoleh ke arah wanita itu.
"Tolong aku..." ucapnya menatap Nandini.
Melihatnya membuat Nandini menjadi tidak tega. Nandini berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman erat Arga.
"Arga lepas!" ucap Nandini berusaha menarik lengannya.
Kini Arga menghadap Nandini yang kesulitan melepas genggamannya. Di tengah dua rak buku besar dan tinggi. Mereka saling menatap dengan keyakinannya yang kuat. Nandini menghentikan aksinya dan menatap Arga dengan tatapan tajam.
"Jangan ikut campur," ucap Arga penuh penekanan.
"Mana bisa? Dia butuh pertolongan Arga," ucap Nandini sembari menunjuknya.
Arga menatap kemana arah Nandini menunjuk. Dia melihat wanita berambut panjang yang tergerai melebihi bahunya beberapa senti.
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan?" tanya Arga kembali menatap gadis di depannya.
"Bicara padanya," ucap Nandini sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
Arga menganga mendengar jawabannya. Dia heran dengan jawaban yang diucapkan. Seolah sederhana dan mudah untuk dilakukan.
"Serius?" ucap Arga tidak percaya.
Nandini mengangguk masih dalam posisi yang sama. Sampai Putri memanggil nama masing-masing dari mereka.
"Kak Nandini! Arga!" panggil Putri.
Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Devan dan Putri berdiri di sana.
"Ayo pulang, keburu Ibu sama Ayahku pulang," ajak Devan.
Mereka tidak menjawab dan hanya diam. Nandini terlihat menoleh ke arah lain dimana wanita itu berada.
Devan yang tidak dapat melihat hantunya, menjadi terheran dengan sikapnya itu. Bola mata Devan bergerak mengikuti kemana Nandini melihat.
"Kak Nandini liat apa?" tanya Devan penasaran.
"Ada seorang wanita yang kesakitan di sana," ucap Nandini menunjuk ke arah wanita itu.
Devan berjalan mendekat, dia berdiri di samping Nandini. Tetapi, dia tidak melihat ada siapa pun di sana.
"Apakah dia hantu?" tanya Devan kepada Nandini.
Mendengar hal itu, Putri ikut berkumpul bersama yang lain. Dia memegang bahu Devan, "Mana?" tanya Putri penasaran sembari bola mata yang bergerak ke arah yang ditunjuk.
Arga terlihat malas untuk melihatnya. Hanya dia yang membelakangi hantu wanita itu.
"Ayo bantu dia," ajak Nandini.
Baru melangkah untuk menghadapkam badannya ke arah wanita itu. Nandini harus menghentikannya karena Devan yang menghentikannya.
"Tunggu!" ucap Devan.
Nandini menatap Devan yang menghentikan langkahnya. Devan menjeda kalimatnya selama beberapa detik.
"Jangan bantu dia," cegah Devan kemudian.
"Kenapa? Dia keliatan menderita, Devan. Ayolah," pinta Nandini.
"De... Ngarkan a-aku, bantu a-aku, kumohon..." ucapnya terbata-bata dengan suara seraknya.
"Ayo pulang!" ajak Devan.
"Devan, kalo kamu mau pulang, pulang aja sana!" ucap Nandini dengan nada tinggi.
"Aku mau bantu," ucap Putri menggantung.
Putri melangkahkan kaki ke arah Nandini. Kini dia berdiri di samping Nandini dan menghadap ke arah Devan.
Devan menghela nafasnya panjang. Melihat dua gadis dengan sifat keras kepalanya itu.
"Jangan ikut campur untuk masalah ini, terlalu berbahaya," ucap Arga menatap mereka berdua.
"Apa maksudnya berbahaya?" tanya Putri tidak mengerti.
"Percaya saja padaku, jangan ikut masalah ini," ucap Arga sedikit memajukan tubuhnya ke arah mereka dengan suara setengah berbisik.
"Iya, percaya saja sama Arga," ucap Devan meski tidak tahu apa yang dikatakan Arga.
Namun, Nandini dan Putri bersikeras untuk tetap mencoba membantu. Mereka juga meminta kejelasan dari apa yang Arga katakan. Tetapi, seolah mulutnya terkunci. Arga tidak mampu menjawabnya, bola matanya selalu mengawasi sekitar. Seolah khawatir akan suatu hal buruk menimpanya.
Di samping itu, mereka tidao menyadari ada orang yang sedang berdiri di pinggir rak. Pria dengan baju kemeja kotak-kotak pendek dan celana hitam. Dia mengenakan kacamata, orang itu adalah petugas kasir di toko buku ini.
Tidak ada karyawan yang lain lagi selain dirinya. Hingga kakinya melangkah mengarah ke arah Devan dan teman-temannya.
"Perpustakaan akan segera saya tutup, jadi cepat pulang," ucapnya dengan suara rendah.
"I-Iya, pak," ucap Devan terkejut melihat pria itu ada di sini.
Hantu wanita itu mengangkat tangannya perlahan. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pria itu.
Nandini yang baru melihat sedikit terkejut. Bola matanya mengarah kemana wanita itu menunjuk.
"Putri..." panggil Nandini masih terfokus pada wanita itu.
Putri menatap ke arah Nandini, bola matanya terlihat menatap ke arah lain. Putri mengikuti kemana arah matanya melihat.
"Apa? Siapa?" tanya Putri tidak mengerti.
Devan dan Arga menatap hal yang sama. Wanita itu masih terdiam sembari menunjuknya.
Kemudian pria itu pergi dengan santainya. Namun, belum jauh pergi. Wanita itu berkata dengan suara serak dan terbata-bata, "Dia, PEM-BU-NUH-NYA," ucapnya dengan penekanan di bagian kata terakhirnya.
Nandini menatap ke arah pria tadi yang pergi. Tatapannya terus mengarah ke tempat dimana pria itu pergi. Punggungnya sudah tidak nampak lagi. Devan dan Putri menatap ke arah Nandini.
"Pria tadi yang membunuhnya," ucap Nandini kepada teman-temannya.