Bab 69

1080 Kata
Kini ruang nampak sunyi. Mereka saling menatap satu sama lain. "Ayo kita pulang," ajak Devan berbalik, kemudian melangkahkan kakinya. Tetapi, baru satu langkah dia berjalan. Sebuah buku di rak yang ada di sampingnya jatuh. Bukunya jatuh tepat di depan kaki yang melangkah. Tepat di saat itu pula Devan menghentikan langkahnya. Bola matanya bergerak melihat ke bawa. Tangannya mengulur hendak mengambil buku itu. Badannya sedikit dia bungkukkan. Tangan kanannya meraih buku komik yang terjatuh, dia menegakkan tubuhnya perlahan. Bola matanya terfokus pada buku yang ada di tangannya. Devan mengarahkan bola matanya ke segala arah. Kemudian, dia menoleh ke arah teman-temannya yang ada di belakang. Teman-temannya juga ikut menatap Devan. Kepala kembali menghadap ke depan. Bola mata yang terfokus pada buku komik yang dipegang tangannya. Devan mengerutkan dahinya karena heran. "Kebetulan?" gumam Devan sembari menaruh bukunya di rak. "Ayo semuanya kita pulang dulu," ucap Devan masih terlihat santai. "Aku nggak mau!" ucap Nandini bersikeras. Devan membalikkan badannya menatap kakaknya yang keras kepala itu, "Putri, ayo pulang," ucap mengalihkan pandangannya ke arah Putri. "Ayo pulang!" ucap Devan mulai kesal. Tetapi, Putri hanya terdiam sembari menatapnya. Mereka berdua hanya menatapnya tanpa memberi sepatah kata pun. "Aku akan bayar komik ini," ucap Arga pergi meninggalkan mereka bertiga. Kini hanya mereka bertiga dalam posisi yang sama. Tatapan mereka saling menajam. "Ok! Terserah apa mau kalian, tapi bukunya ada di tanganku. Jadi, aku pulang duluan. Sampai nanti di rumah!" ucap Devan beranjak pergi. Nandini baru menyadari jika bukunya ada di tangan Devan. Bola matanya melebar, mendengar apa yang dikatakan Devan tadi. "Devan!" panggil Nandini. "Putri, ayo ambil bukunya!" ajak Nandini. "Buku?" ucap Putri tidak mengerti. "Ayo ambil aja! Tanpa bukunya aku gak bisa bantu dia," ucap Nandini menunjuk wanita itu yang menunduk sembari terdiam. Wanita itu menatap Nandini kemudian. Nandini tertegun beberapa saat. "Mm... Maaf ya mba. Aku ada urusan bentar, nanti balik lagi!" ucap Nandini sembari berlari menuju Devan. "Kak, tungguin!" ucap Putri ikut berlari kecil di belakangnya. Sementara itu... Arga memberikan buku komiknya kepada petugas kasir itu. Dia mengambil dompet miliknya di saku celananya. "Ini uangnya," ucap Arga menyerahkan uangnya. "Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini," ucap pria itu setengah berbisik. "Kenapa?" selidik Arga. Pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Tangannya sibuk mengemas buku komik itu dan langsung menyerahkannya begitu saja. "Apakah ada yang aneh di toko buku ini?" ucap Arga mengetahui hantu wanita itu kadang berulah. Pria itu yang tadinya menunduk, mendongakan kepalanya menatap Arga. Dari tatapannya seolah tidak percaya dengan hal itu. "Bagaimana kamu tau?" tanya pria berkecamata itu. Belum sempat menjawab pertanyaannya. Namanya dipanggil seseorang yang dia kenal dari belakang. "Arga!" panggil Devan. Arga langsung menoleh ke arah belakang. Dia melihat Devan yang sedang berjalan cepat menuju ke arahnya. "Ayo pulang!" ajak Devan menghentikan langkahnya di depan Arga. "Hah?" "Cuma itu satu-satunya cara," ucap Devan menggantung. "Agar mereka ikut pulang," sambung Devan sembari menunjuk ke arah Nandini dan Putri yang berjalan cepat ke arahnya. "Devan!" panggil Putri sedikit berteriak. "Kenapa? Berubah pikiran buat pulang?" ucap Devan yang membuat kedua gadis itu naik pitam. Mereka berdua kini berada di depan Devan, "Berikan bukunya," ucap mereka secara bersamaan. "Akan kuberikan setelah di rumah nanti," ucap Devan. Devan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Tetapi langsung dicegat oleh Putri. "Mau apa sih?" tanya Devan geram. "Aku mohon Devan," ucap Nandini. Devan menoleh ke arah Nandini. Dia menatapnya sejenak, "Ini bukan tugas kita," ucapnya dengan penuh penekanan. "Benar, ini terlalu berbahaya untuk sebuah kasus pembunuhan," ucap Arga. "Benar, itu terlalu berbahaya. Sebaiknya kalian pulang," ucap pria berkecamata itu tiba-tiba. Arg menjauh pria itu seketika. Dia telah salah bicara kepadanya. Arga menjauh dari kasir. Dia memundurkan kakinya ke belakang. "Kenapa kamu mundur ke belakang?" tanya pria itu menatap ke arah Arga. Pria itu berjalan keluar dari tempat kasir. Dia berjalan sembari membawa sesuatu di genggaman tangannya. Kakinya terus melangkah sembari menatap ke arah Arga. Pria itu berjalan melewari Arga sampai dia berdiri tepat di depan Devan dan Putri. Sontak Devan langsung menarik lengan Putri menjauh darinya. Pria itu tersenyum simpul ke arah Devan, "Terima kasih," ucapnya. Kemudian pria itu menutup pintu kacanya rapat. Dia membuka genggaman tangannya, terdapat kunci di dalamnya. Namun, mereka yang ada di dalam hanya mampu melihat tanpa melakukan apa pun. Tangannya mengulur dan mengunci pintunya. Pria itu kini berbalik ke arah mereka, "Sekarang beritahu aku. Kasus pembunuhan siapa itu?" ucapnya sembari tersenyum. "K-Kenapa anda mengunci pintunya?" tanya Putri mulai ketakutan. Devan masih memegang lengan Putri erat. Dia berjalan menjauh dari pria itu perlahan sembari menarik lengan Putri. "Kenapa kalian mundur?" tanya pria itu sembari tersenyum. Kini Devan bersama Putri berada di dekat Arga. Sementara Nandini, hanya bisa terpaku dengan situasi ini. "Pak, saya mohon jangan lakukan ini. Saya tau apa yang akan anda lakukan," ucap Arga mencoba menghentikannya. Pria itu malah terkekeh, "Apa yang kamu tau, bocah?" ucapnya yang langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar. "Devan, ini berbahaya. Jauhi dia sebisa mungkin jika kuberi tau," ucap Arga setengah berbisik. Devan menoleh ke arahnya, "Apa?" ucapnya tidak mengerti. "Saya tanya sekali lagi," ucap pria itu. Mereka yang mendengar terdiam sesaat. Menunggu apa yang akan dikatakannya. "Kasus pembunuhan apa?" tanya pria itu dengan suara beratnya. "Bukan apa-apa, hanya kasus pembunuhan yang kami temukan di internet," ucap Devan berharap kecurigaannya hilang. Pria itu terdiam sejenak, "Biarkan... Kami pergi," ucap Devan. Lembaran kertas yang ada di kasir tiba-tiba berterbangan ke arah mereka. Kertas putih yang berterbangan membuat yang lain menatapnya dan keheranan. Pria itu berjalan melompati meja kasirnya. Dia terlihat membungkuk seolah mencari sesuatu di sana. "Lari!" ucap Arga sembari berlari pergi menjauh darinya. Mendengar hal itu, sontak Devan berlari sejauh mungkin sembari memegang lengan Putri. Mereka berlari ke arah gudang yang ada di paling ujung. "Masuk! Masuk!" ucap Arga menyuruh mereka masuk ke dalam. Arga masuk dan langsung menutup pintunya. Terlihat gelap, membuat hawa panas di dalam. "Tunggu, kenapa kita gak pecahin kacanya aja?" tanya Putri heran. "Nggak ada benda berat di sekitar. Bakal susah buat mecahin kaca setebal itu," jelas Devan yang berdiri di samping Putri. "Keluar kalian!" seru pria itu dari luar. Seketika mereka langsung diam. Memasang telinganya baik-baik. Bola mata mereka saling menatap satu sama lain. Tidak ada suara sama sekali setelahnya. Membuat Arga yang bersender pada pintu penasaran dengan lenyapnya suara. Arga membuka pintunya perlahan. "Arga jangan buka pintunya!" teriak Nandini dari kejauhan. Arga terkejut mendengat teriakkan dari Nandini. Namun terlambat, pintunya sedikit terbuka. Rupanya pria itu sudah ada di depan. Kakinya menendang pintu itu kuat hingga Arga terdorong. "Di sini rupanya kalian!" ucap pria itu membawa sebuah pemukul di tangan kanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN