Ruang gudang buku yang gelap. Kini sedikit mendapat cahaya dari pintu yang terbuka.
Pria itu mendekat, dia berdiri di depan Arga. Senyumnya semakin lebar kala melihat wajah ketakutan anak-anak di depannya.
Pria itu langsung mengayunkan tongkat pemukulnya. Beruntungnya, Arga berhasil menghindar. Kepalanya selamat dari hantaman keras tongkat kayu pemukul itu. Dengan cepat Devan menarik Arga menjauh darinya.
"Ayo Arga!" ucap Devan membantu Arga untuk berdiri.
"Mau lari kemana kalian?" ucap pria itu sembari menarik tongkat pemukul kayunya hingga membuatnya bergesek dengan lantai.
Kini mereka dalam situasi yang sulit. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu itu dimana pria itu berdiri.
Devan menggerakan bola matanya ke segala arah. Retinanya kembali terfokus kepada pria itu yang masih berdiri dengan lebarnya.
Devan melangkahkan kakinya maju dan mengambil sebuah kardus berisi buku di sampingnya. Kardus yang tidak terlalu besar, hanya sebesar bahunya. Tanpa basa-basi Devan melemparnya ke arah pria itu dan langsung membalikkan tubuhnya.
"Sembunyi," ucap Devan menarik lengan kedua temannya.
"Akh!" ringis kesakitan pria itu mendapati sebuah kardus berisi beberapa buku yang membuatnya terjatuh ke belakang.
"Sialan kalian!" teriak pria itu.
Gudangnya nampak gelap. Hanya ada cahaya minim yang nampak karena pintu terbuka. Gudang yang tidak terlalu besar. Terdapat beberapa rak yang terbuat dari besi untuk menaruh kardus berisi buku usang dan baru.
Pria itu berdiri dibantu tongkat pemukulnya. Tangannya meraba dinding di dalam gudang. Mencari saklar lampu untuk dinyalakan.
Tetapi, beberapa kali ditekan. Lampunya sama sekali tidak menyala.
"Sialan," gerutu pria itu.
Sementara itu, dalam kegelapan mereka bersembunyi di antara tumpukan kardus di pojok. Nafas yang tersengal, keringat yang bercucuran karena gelapnya ruang. Mereka memasang telinganya baik-baik mendengarkan setiap keributan kecil yang terjadi di sekitarnya.
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan di sekitar mereka. Tongkat kayu pemukul yang terdengar ditarik hingga membuat gesekkan dengan lantai. Kakinya seolah berhenti di satu tempat.
Pria itu terdengar memukulkan pemukulnya ke arah rak besi di dekatnya. Hingga membuat suara yang agak nyaring.
"Keluarlah kalian..." ucapnya masih memukul-mukul rak besi di dekatnya.
Devan menatap teman-temannya sejenak. Dia juga takut, otaknya mencoba berfikir keras mencari jalan lain yang aman. Dia kembali menatap lurus ke depan.
"Ayo... Cerita tentang kasus pembunuhan siapa itu," ajak pria itu seperti tidak akan melakukan hal buruk pada mereka.
"Aku tidak akan menyakiti kalian," ucapnya sembari masih memukul rak besi.
Kini dia berhenti memukulnya. Kakinya melangkah maju hingga suaranya terdengar cukup dekat. Putri mulai menutup mulutnya, nafasnya yang tersengal bisa saja membuatnya ketahuan dan membahayakan kedua temannya.
Langkahnya terdengar berhenti di depan mereka. Dia menghadapkan tubuhnya ke arah mereka.
Devan melihatnya dari celah itu. Sampai tongkat pemukulnya dia todongkan ke arah salah satu kardus yang tertumpuk di tengah. Tepat dimana Devan berada.
Pria itu mendorong-dorong kardusnya hingga hampir membuat kardus di atasnya jatuh. Devan mencoba menahannya dengan jari telunjuknya.
Brak!
Suara pintu yang tertutup dengan keras. Membuat semua yang mendengar tersentak. Pria itu langsung berjalan perlahan menuju pintu menjauh dari Devan dan kedua temannya. Terdengar dari suara langkah kakinya yang terdengar menjauh.
Pintu itu tidak benar-benar tertutup. Hanya gebrakan yang membuatnya terkejut. Pria itu membuka pintunya perlahan dan berjalan keluar.
"Keluarlah kalian!" teriaknya sembari berjalan keluar.
Mendengar suaranya menjauh, Devan memberanikan diri keluar. Tetapi tangan Putri mencekal lengannya. Devan menatapnya sembari melepaskan tangannya perlahan. Devan tetap berjalan keluar dari tumpukkan kardus.
"Sepertinya orangnya pergi, kita keluar. Cepat!" ucap Devan memperhatikan sekitarnya.
Devan berjalan melangkahkan kakinya perlahan. Arga dan Putri hanya mengekor padanya.
Sampai di pintu dengan berjalan sangat hati-hati tanpa suara. Pintu yang nampak terbuka setengah.
"Devan!" panggil Nandini yang memunculkan kepalanya tiba-tiba dari balik pintu.
"A-" Devan hampir berteriak, beruntungnya ada Putri yang langsung menutup mulut Devan cepat.
Devan menggerakan bola matanya menatap ke arah Putri di sampingnya. Dia mengangguk, kemudian Putri melepaskan tangannya perlahan.
Putri mengusap telapak tangannya di lengan baju Devan. Sementara Devan, memegang d**a kirinya dan mengatur nafasnya perlahan.
"Bisa nggak, sih? Datangnya jangan ngagetin," ucap Devan kesal.
Nandini berjalan masuk, "Sst... Orangnya masih ada di dalam toko buku ini," ucap Nandini sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
"Oke, bukan itu penting untuk dibahas," ujar Nandini kepada teman-temannya.
"Aku meminta korban hantu pembunuhan untuk membantu mengalihkan perhatiannya. Oleh karena itu," jelas Nandini menggantung diakhir.
"Dimana kalian!" ucap pria itu dari luar.
Membuat Nandini tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat. Suaranya terdengar menggema.
"Cepat panggil polisi," ucap Nandini kemudian.
"Dan jangan berada di gudang ini. Keluar cepat!" ujar Nandini.
"Aku akan memeriksa, kalian cobalah keluar dari sini!" ucap Nandini yang kemudian pergi.
"Kak Nandini," panggil Devan.
Nandini memundurkan langkah kakinya melihat orang yang memanggil namanya. Devan terlihat khawatir, terlihat dari bola matanya yang menatapnya.
"Jangan khawatir, aku hantu. Aku tidak bisa disakiti oleh makhluk seperti kalian," ucap Nandini dengan sombong.
"Oke, cepat lakukan apa pun untuk membukanya dan jangan lupa panggil polisi!" ucap Nandini kemudian berlari menjauh.
Devan berjalan perlahan sembari menatap ke sekitar. Begitu pula dengan Arga dan Nandini. Merek berjalan lurus menuju pintu kaca yang tebal.
Devan menunduk dan melihat lubang kunci. Dia meraba kacanya, seseorang menepuk pundaknya.
"Minggir," ucap Arga.
"Mau apa?" tanya Devan.
"Apa lagi selain memecahkan kacanya," jawab Arga menarik kerah Devan dari belakang agar menjauh.
"T-Tunggu!" cegah Devan.
Namun terlambat, Arga menendang kaca itu cukup keras. Tetapi hanya menghasilkan keretakan yang tidak membuatnya pecah.
Putri menurunkan ponselnya dari telinganya. Melihat kegaduhan yang dibuat Arga, dia berjalan menghampirinya.
Panggilan yang masih harus menunggu jawaban. Membuatnya membiarkan ponselnya terus memanggil. Putri masih memegang ponsel di tangannya, dia menghampiri Arga yang membuatnya kesal.
"Tunggu Arga!" ucap Putri menghentikan aksinya yang ke dua kalinya.
"Bagaimana jika dia tau?" ucap Putri kesal.
"Kalau begitu, lebih cepat lebih baik!" ucap Arga kembali menendang pintu kaca untuk yang ke dua kalinya.
Sampai deru langkah cepat mengarah ke arah mereka bertiga tanpa diketahui. Pria itu kini berdiri di belakang mereka dengan membawa tongkat pemukul di kedua tangannya.
"Di situ rupanya kalian," ucap pria itu.
Seketika mereka langsung menoleh ke arah pria berkacamata di belakangnya. Mereka terkejut melihatnya sudah berada di sana.
"Karena kalian sudah berada di sini. Cepat beri tau, kasus pembunuhan apa yang kalian maksud?" tanya pria itu.
Devan melebarkan bola matanya. Pria itu terlihat berdiri di sana. Dengan tongkat pemukul yang dibawa. Membuat mereka bertiga membalikkan tubuhnya. Mereka memundurkan kakinya perlahan.
"Dan kenapa kalian terlihat takut padaku?" tanyanya sembari menyunggingkan bibirnya.