Bab 22

1135 Kata
Gadis itu tetap melangkah maju, kini posisinya tepat di sampingnya. Tangannya meraih lengan pria paruh baya itu. "Aku minta maaf" ucapnya. "Kenapa?" tanyanya dengan suara yang lirih. "Kenapa diam saja?" tanya gadis itu sembari menatapnya dengan mata sendu. "Apa?" tanyanya tidak mengerti. "Kenapa waktu itu diam saja?" ucapnya lirih. Pria paruh baya itu terdiam sembari menatapnya nanar. Tidak mampu berkata-kata, mulutnya seolah terkunci dengan ucapannya. *** Sinar tampak menyinari masuk ke dalam kelas yang riuh. Seorang gadis menatap sang mentari di luar jendela. Kebisingan yang menyertai, membuatnya mendengar banyak hal di kelas. Apa yang dia dengar tidak ingin dia lihat. Mereka saling berbisik di balik punggungnya. Mengatakan sesuatu hal yang benar, tapi juga tidak lah benar sepenuhnya. "Eh, liat deh. Anak pencuri ngeliatin kita," ujar salah satu gadis yang duduk di belakangnya. Azkia, nama gadis itu. Dia berumur 17 tahun. Dia hanya tinggal bersama bayangannya saat ini. Saat dia berumur 16 tahun, di malam hari. Sekumpulan anggota polisi mendatangi rumahnya. Beberapa barang curian ditemukan dalam rumahnya. Ayahnya adalah seorang pemabuk dan suka bermain judi. Itu adalah yang diketahui dirinya selama ini. Tapi, hal yang paling buruk. Ayahnya ditangkap polisi dan menjadi tontonan gratis pada malam itu. Seluruh orang melihat dengan wajah jijik dan kesal kepada dirinya dan Ayahnya. Dengan begitu, dirinya mendapat imbas dengan dijauhi oleh teman-temannya. Beberapa hari berselang teman-temannya mulai membenci dirinya tanpa sebab. Hingga dia harus bekerja keras untuk membayar sekolahnya. Di umur 17 tahunnya dia berhasil bertahan. Pelajaran dimulai, semua orang buru-buru duduk di tempatnya.Setiap langkahnya selalu ada yang melihatnya dengan wajah seperti melihat kotoran. Pria itu menapaki lantai putih dan berdiri di depan. Wajahnya nampak asing, semua orang di kelas. Berbisik dan menduga semau mereka. Pria berpakaian batik itu tersenyum ke arah mereka. Sunggingan senyumnya, membuat siapapun terfokus pada bibirnya. Terdapat kumis tipis yang menghiasi senyumnya. Pria itu terlihat seperti berumur 30-an. "Oke, tenang dulu ya anak-anak!" ucapnya membuka suara. Suara percakapam tidak hilang sepenuhnya. Tetapi, masih terdengar dengan suara kecil. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti berbicara. "Jadi, saya berada di sini sebagai guru BK kalian," ujarnya. "Guru BK?" gumam Azkia bertanya sendiri. Azkia menggedikan bahunya tidak peduli. Dia melipat tangandan menaruh kepalanya di atasnya. "Namanya siapa pak?" tanya seorang siswa laki-laki yang duduk paling belakang. "Iya, pak! Namanya siapa?!" teriak siswi di sampingnya. Seketika kelas menjadi ramai dan menanyakan tentang namanya. Guru BK itu hanya bisa menggaruk kepalanya sambil terpaksa untuk tersenyum di depan mereka. "Oke, tenang dulu ya?" pinta pria berbaju batik coklat itu. Namun, hal itu tidak digubris oleh mereka. Suara riuh mengalahkan dirinya yang hanya memiliki satu suara. "Tenang dulu! Tenang dulu!" perintahnya sedikit meninggikan suaranya. Perlahan suara riuhnya berhasil diredam. Kini semua pasang mata di kelas tertuju padanya, termasuk Azkia. "Nah, gitu dong. Kalo kalian berisik nanti takutnya ganggu kelas sebelah," ujarnya sembari tersenyum. "Baik, jadi... Nama bapak itu..." ucapnya menjeda kalimatnya. "Wirjo Winoto," sambungnya kemudian. "Jadi, kalau ketemu di jalan. Panggil aja Pak Wirjo ya?" ucapnya. "Iya, Pak!" seru para murid. "Oke, ayo kita mulai pembelajarannya!" seru Pak Wirjo. *** Bel istirahat berbunyi, mereka langsung bergegas berjalan menuju keluar kelas. Sementara itu, Pak Wirjo masih di dalam kelas. Merapikan bukunya di meja. Belum satu menit berlalu, tetapi kelas sudah sepi. Meninggalkan seorang gadis yang sedang menelungkupkan kepalanya di meja. Pria paruh baya memegang bukunya di tangannya. Dia berdiri dan mendekatinya. "Kamu sakit?" tanya pria itu. Azkia membuka matanya, dia mendongak ke arah orang yang berbicara padanya. Tatapan yang dia lihat terlihat berbeda dari orang lain. "Kamu sakit?" tanyanya lagi. "Mm... Nggak kok pak," ucapnya. "Oh, ya udah... Kalau kamu sakit bilang bapak buat ijin ya?" ucapnya. Azkia hanya mengangguk, dan Pak Wirjo tersenyum simpul. Kemudian dia meninggalkan Azkia dalam kesendiriannya di dalam kelas. Seorang guru wanita melihatnya, Pak Wirjo yang heran melihatnya langsung menghampiri guru tersebut. "Bu? Ada apa?" tanya Pak Wirjo. Lengan Pak Wirjo langsung ditariknya menjauh dari kelas. Sementara dari kejauhan, Azkia melihatnya. "Bu, bu! Ada apa?" tanya Pak Wirjo mencoba menghentikannya. "Aduh, kamu pasti guru baru itu ya?" tanya wanita paruh baya itu. "Iya bu, ada apa sebenarnya?" tanyanya. Namun, wanita itu tetap berjalan sembari menariknya hingga ke ruang kantor gurunya. Semua pasang mat tertuju kepada mereka. Wanita itu melipat tangannya, dia memandang Pak Wirjo dengan tatapan yang serius. Wanita itu menaruh pantatnya di kursi perlahan. "Denger ya pak," ucapnya. "Jangan deketin anak itu," sambungnya. "Kenapa emangnya bu?" tanya Pak Wirjo. "Waduh... Kalo deket-deket. Nanti barang kamu ada yang ilang loh!" ucap seorang pria berkepala plontos yang menghampiri mereka. "Hilang?" ucapnya bingung. "Apa maksudnya bu?" tanyanya tidak mengerti. "Jadi gini, ayahnya itu dipenjara karena kasus mencuri. Tapi bukan cuma itu aja pak," jelas wanita paruh baya itu. "Hampir semua barang di rumahnya itu, hasil curian. Pernah waktu itu, sebelum dipenjara. Ada murid yang kehilangan uangnya. Tapi ternyata, uang itu ada di tasnya," jelasnya. "Aduh bu, jangan gitu... Barang kali ada anak nakal yang gituin," ucapnya dengan tenang. Dua orang yang ada di depan matanya terlihat sangat serius. Guru baru itu hanya bisa memandang mereka dengan heran. "Ya sudah, akan saya ingat bu, bapak. Makasih banyak," ucapnya tidak enak. "Hati-hati yo!" peringat wanita paruh baya itu. Pak Wirjo memaksa senyumnya keluar sambil mengangguk. Dia pergi ke tempat duduknya. Buku yang sedari tadi dipegang, ia taruh di mejanya. Sambil mengambil posisi yang nyaman di kursinya. Sebuah buku berwana kuning yang panjang diambilnya di antara tumpukan beberapa buku yang dia bawa. Pena yang disiapkan mulai diarahkan ke arah kertas yang memiliki tabel berisi daftar nama muridnya. Penanya tidak berhenti menitik tinta dalam kolom daftar kehadiran. Senyum di wajahnya terukir. Dia terlihat senang bisa berada di tempat baru ini. Mereka terlihat ramah kepadanya. Bola matanya naik melihat daftar absen di atasnya. Satu nama terfokus oleh retinanya. Azkia, nama gadis yang sendirian itu. Dia merasa kasihan padanya. Berita yang belum tentu belum benar, membuatnya dihindari oleh banyak orang. "Ini, jangan lupa diisi ya..." ucap seorang pria kurus membawa beberapa lembaran kertas. Pemikirannya berhamburan setelah dia melihat tumpukan kertas yang diberikan kepadanya. Dia hanya bisa menghela nafas mengingat pekerjaannya yang harus selalu berkaitan dengan kertas dan pena. "Istirahat dulu pak..." ucap ramah seorang wanita muda di samping mejanya sembari tersenyum. Dia menoleh ke arah sumber suara. Melihat orang yang berbicara padanya tersenyum. Dia pun membalas senyumnya. "Eh, nggih bu..." Waktu berjalan, tidak terasa 5 menit lagi bel berbunyi tanda masuk. Kertas yang telah selesai dia isi ditinggalkannya dengan keadaan rapi. Dia melihat siswa dan siswi yang berlalu lalang. Beberapa diantaranya menyapa, dan dibalas dengan senyumannya. Berjalan perlahan dengan tangan yang membawa sebuah buku yang dihimpit di lengannya. Langkahnya menuntun ke kelas selanjutnya. "Bukan aku!" "Jelas-jelas kamu yang dari tadi di kelas!" Suara keributan yang terdengar membuat kakinya menuju tempat sumber suara. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu sebuah kelas yang sebelumnya dia kunjungi tadi pagi. "Hei, hei, hei! Ada apa ini?!" tanyanya mengagetkan orang-orang di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN