Bab 23

1563 Kata
"Hei, hei, hei! Ada apa ini?!" Pertanyaan dengan nada yang meninggi, membuat siapa pun menghentikan aktifitasnya. Tiga gadis di depan matanya melihat ke arahnya. "Ngapain kalian?" selidiknya. "Pak, dia ngambil hp aku..." rengek gadis dengan rambut panjang yang digerai. "Iya, tuh Pak!" ucap gadis dengan rambut dikuncir satu. "Hei! Jangan nuduh orang sembarangan," ingatnya. "Coba, kamu ingat-ingat lagi..." sarannya. Namun, mereka tetap bersikukuh dengan pernyataannya. Tuduhan yang dilayangkan kepada Azkia tidak dihindarkan. Hingga keputusan secara sepihak diambilnya. Tanpa mempertimbangkan dua orang yang memberikan tuduhan tersebut. Karena dia kasihan kepada Azkia. "Kalian berdua, duduk di tempatnya masing-masing!" perintah Wirjo. "Tapi, Pak..." ucap gadis dengan rambut yang digerai tidak puas dengan keputusan yang diambil guru baru itu. "Barangnya udah ketemu kan?" tanyanya memastikan. "Su-Sudah," jawab gadis tersebut. "Ya sudah... Karena barangnya sudah ketemu, kalian duduk di tempat masing-masing. Kasihan teman kalian ini," ujarnya sembari memegang bahu Azkia. Azkia menatap orang yang memegang bahunya. Entah dia harus merasa senang atau tidak. Baru ia lihat ada orang yang mempercayainya. "Sudah kamu juga duduk ya," ucapnya dengan lembut. Azkia mengangguk dan berjalan ke tempat duduknya. Merasa dilihat, ia pun menoleh ke arah dua orang gadis di belakang tempat duduknya. Tatapan kesal mengarah kepadanya. Dengan cepat dia langsung menunduk, mengalihkan pandangannya ke bawah. Dia duduk perlahan tanpa sedikit pun melihat ke arah mereka. Dengan hati yang merasa lega guru baru itu pergi meninggalkan mereka di kelas. Sementara itu, tatapan kesal nan membara masih dirasakan Azkia. Ucapan yang membuat suasana hatinya semakin buruk dari mereka, menyurutkan kepercayaan dirinya. Hingga bel berbunyi, membuat mereka menghentikan percakapan tentang hal buruk oleh Azkia yang membuat suasana hatinya menjadi sedih. Perlahan orang-orang mulai memasuki kelas disertai wanita paruh baya yang akan mengajar dibelakangnya. Namun, tidak sampai di situ saja. Wirjo, guru baru itu terlibat banyak dengan Azkia. Dia sering mengusir anak-anak yang mengganggunya. Hingga tidak terasa satu bulan dilalui. Hampir tidak ada yang mengganggunya. Mereka takut kepada guru yang selalu melindungi Azkia. Namun, itu tidak berlangsung lama. Mulai banyak orang yang menaruh rasa benci kepada guru tersebut. Hingga suatu kejadian yang membuat sulit untuk dilupakan pada masa itu terjadi. Seorang laki-laki mendekati Azkia bersama beberapa kawannya. Azkia yang sedang menghitung uangnya, untuk membayar bulanan sekolah. Tiba-tiba diambil oleh laki-laki itu. Azkia mencoba meraihnya, tapi karena tubuh lelaki itu lebih tinggi darinya. Azkia tidak dapat meraih uangnya. "Mau ambil?" tanya lelaki itu. "Kalau gitu ada syaratnya," ujarnya. "Apa?" ucap Azkia tidak mengerti. "Curi kunci motor Pak Wirjo," perintahnya. "Aku gak mau!" elak Azkia sambil berusaha mengambil uangnya. Senyumnya pun mengembang, "Hei! Ada yang mau uang gak?!" teriaknya membuat anak-anak lain di kelas melihat kepadanya. Mereka pun mulai mengerubungi Azkia. Uang yang dia kumpulkan saat bekerja di hari libur dengan susah payah. Akan hilang dari tangannya, dia tidak ingin itu terjadi. Dengan terpaksa dia menghentikan pembagian uangnya. Dia menyetujui hal itu. Meskipun dia mengetahui itu adalah sesuatu yang salah. Hari itu pelajarannya dimulai. Lelaki yang tadi mengganggunya menatapnya sambil tersenyum licik kepadanya. "Oke, kalian jawab pertanyaan satu ini ya..." ucap Wirjo, guru BK yang sedang mengajar saat ini. Hening, tidak ada percakapan di antara mereka. Masing-masing menyibukan dirinya. "Sudah?" tanya Wirjo kepada para muridnya. "Sudah..." jawab beberapa anak yang sudah mengerjakan soalnya. "Kumpulkan ke depan," suruhnya. Tanpa menjawab, beberapa dari mereka berdiri membawa bukunya masing-masing. Satu persatu dari mereka menaruh buku tugasnya di meja. Hingga tiba giliran Azkia, kunci motornya yang tergeletak di meja. Tanpa sepengetahuan Wirjo, kunci itu diambil secara diam-diam saat dia sedang fokus membaca buku materi di tangannya. Wirjo tidak menyadarinya, hingga pelajaran selesai. Dia melupakan sesuatu yang penting, dia pergi begitu saja. Bel istirahat dimulai, Azkia yang sedari tadi duduk. Berdiri, melangkahkan kakinya menuju bangku anak lelaki yang menyuruhnya untuk mengambil kunci motor. Lelaki itu sedang bercakap dengan teman di sampingnya. Sampai dia menyadari kehadiran Azkia dan menoleh ke arahnya. Dia tersenyum penuh kemenangan melihatnya. "Wah... Cepet juga," sanjung lelaki itu. "Kembalikan uangku!" kesal Azkia. "Tunggu dulu," ucapnya menunda-nunda. Sementara itu... Wirjo berjalan dengan santainya, sampai dia sampai di ruang kantornya. Suara tawa dan percakapan mengisi ruang ini. Masing-masing dari mereka ada yang menyibukan diri dengan tumpukan kertas di meja. Dia berjalan melewati meja guru di sisi kanan dan kirinya. Kakinya berhenti melangkah mendengar dering suara ponsel miliknya. Tangannya merogoh ponsel di saku celananya. Ponsel di tangan didekatkan ke indera pendengarannya. Beberapa detik menunggu seseorang menjawab dari seberang. Suara dari seberang terdengar jelas. Dia membelalakan matanya mengetahui apa yang disampaikan. Ponsel itu langsung dimatikan dan disimpan di sakunya. Kakinya melangkah, tapi kembali melangkah mundur. Hingga pada akhirnya, kakinya melangkah maju. Menaruh buku yang sedari tadi dia pegang. Kegelisahannya terlihat oleh beberapa orang rekannya. Salah satu dari mereka bertanya padanya. Tetapi, karena terlalu gelisah. Dia hanya berlalu tanpa menjawab pertanyaannya. Kakinya melangkah melewati beberapa orang di lorong. Cahaya semakin terang, ketika dia melangkahkan kakinya keluar. Motor lama yang biasa dia kendarai terdiam dengan besi-besi yang mendingin. Beberapa motor terparkir di sana. Awan terlihat menghalangi sinar matahari yang ingin menghangatkan bumi. Dengan segera, dia menghampiri motornya. Tangannya menggeliat mencari benda yang dicari dalam tasnya. Tapi, tidak menemukan apa yang dicari. Tangannya kembali merogoh ke saku yang ada di pakaiannya. Namun, sekali lagi tidak ada benda yang dia cari. Dengan nafas gusar, dia kembali masuk ke dalam sekolah. Matanya selalu melihat ke bawah dengan teliti. Sampai pada ruang guru, bola matanya tidak berhenti bergerak ke sana dan kemari. Kepalanya diturunkan beberapa derajat, melihat sudut yang tidak terjangkau pada retinanya saat di berjalan biasa. Setiap meja diperhatikannya, hingga sampai di mejanya sendiri. Kertas, buku dan pena yang tergeletak diangkatnya satu persatu. Kaki menapak lantai, bergerak dengan cepat. Menuju tempat yang sebelumnya dia kunjungi. Suara bel masuk, membuatnya mengingat akan waktu. Dia melangkah kakinya lebih cepat. Hingga sampai di depan kelas 11A, dimana Azkia berada. Bola matanya langsung terfokus pada kunci yang dipegang Azkia di depan beberapa anak laki-laki. Dia langsung menghampirinya, dan mengambil kunci itu. Beberapa pasang mata yang ada seketika memfokuskan bola matanya kepada orang yang baru masuk tadi. Beberapa dari mereka mulai berbisik kepada rekannya. "Kenapa bisa ada di sini?" tanya Wirjo menahan amarahnya kepada beberapa anak di depannya termasuk Azkia. "Di-Dia yang mengambil pak," ucap lelaki yang memegang uang milik Azkia tadi. Bola matanya langsung menatap ke samping dimana Azkia berada. Azkia melangkah mundur secara spontan, retinanya tidak berani menatap sang guru yang ada di depannya. "Apa kamu yang melakukannya?" tanya Wirjo dengan menatapnya serius. Azkia hanya sekejap menatap matanya. Matanya kembali menatap lelaki yang sudah membuatnya terjebak dalam masalah. Tatapan mata yang memohon pertolongan, meski dia mengetahui itu adalah hal yang sia-sia. Lelaki itu hanya menunjukkan uang milik Azkia sebagai isyarat agar mengaku dan tidak melibatkan dirinya. "I-Iya pak, saya yang melakukan," ucap Azkia mengakui dan memberanikan diri menatap gurunya tersebut. "Apa?!" ucap Wirjo tidak percaya. "Saya mempercayai kamu! Tapi kamu menghancurkan kepercayaan saya!" ucapnya meninggikan suara. "Jangan harap kamu bisa santai setelah ini!" ucapnya sambil pergi meninggalkan Azkia dalam kelas dengan rasa bersalahnya. Kelas kembali riuh, tatapan sinis tidak terelakan terhadapnya. Setelah kejadian itu, Azkia makin sering dirundung. Hingga minggu pembelajaran guru yang dikecewakannya berlangsung. Pembelajaran seperti biasanya. Sampai keributan kecil kembali terjadi. Seorang gadis yang duduk di belakang Azkia. Bola matanya bergerak ke sana dan kemari, tangannya merogoh laci meja. "Kamu cari apa?" tanya Wirjo yang melihat kegelisahannya. "Uangku gak ada pak," rengeknya. "Cari lagi," saran Wirjo kepada muridnya. "Nggak ada," rengeknya dengan mata mulai berkaca-kaca. Gadis itu langsung berdiri dan menatap Azkia. "Kamu pasti yang ambil!" tuduhnya sembari menunjuknya. Azkia mengatur posisi duduknya agar dapat menatapnya sejajar, "Bukan aku," sanggahnya. "Siapa lagi kalau bukan kamu?!" ucapnya meninggikan suara. "Tapi, memang bukan aku!" ucap Azkia dengan lantang. "Pasti kamu!" ucapnya tetap bersikukuh dengan tuduhannya. "Hei... Sudah cukup! Urus itu nanti! Kita mulai pelajaran dulu," ujar Wirjo sedikit meninggikan intonasi suaranya. Hingga mereka berdua terkejut. Gadis itu kembali duduk, dengan masih mempertahankan wajah kesalnya. Bel berbunyi, Wirjo dengan nafas gusar pergi ke kantornya. Langkah kaki tidak berhenti, sampai dia berada di depan mejanya. Dia duduk di kursinya dan menaruh tas di meja. Beberapa menit lagi akan bel masuk segera berbunyi. Seorang siswanya dari kelas 11A, menghampirinya dengan nafas terengah-engah. "Kamu kenapa?" tanya Wirjo. "Pak, segera ke kelas saya. Keadaan darurat," ucapnya dengan cepat. "Ada apa sebenarnya?" tanya Wirjo tidak mengerti. "Ikut saja," ajak anak itu yang kemudian pergi sambil sedikit berlari. Dengan terpaksa dia harus mengikuti anak muda itu, demi mengetahui apa yang terjadi. Langkahnya begitu cepat, hingga dia kehilangan jejaknya. Sampa terlihat kerumunan para siswa di depan kelas 11A. Wirjo melewati kerumunan dengan susah payah. Anak muda itu berdiri tepat di pintu, bola matanya memandang Wirjo dengan nafas yang terengah-engah. "Kamu yang ambilkan?!" tanya wanita paruh baya dengan meninggikan suaranya. Azkia hanya bisa menunduk sembari berlinang air mata. Wanita itu terus berkata kasar padanya dan membentaknya. Wirjo mendekat dan menatap wanita itu, "Bu, ada apa ini?" tanyanya. "Ada apa?!" ucapnya masih menggunakan nada tinggi sembari menatap tajam Wirjo. "Anak didikmu ini, mencuri uang anak saya!" tuduh wanita itu. Azkia menatap Wirjo dengan mata yang berlinang air mata. Dia memegang kain bajunya, "Bukan aku..." ujar Azkia. Wirjo menatapnya Azkia yang terlihat memohon kepadanya. Namun, dia hanya diam tanpa memberi sepatah kata pun kepada Azkia. "Pak, tolong katakan padanya... Bukan aku pelakunya," rengek Azkia. Wirjo menatap Azkia sejenak. Kemudian kembali menatap wanita paruh baya di depannya. "Anda gurunya! Hukum dia! Bila perlu, keluarin dari sekolah!" ucap wanita paruh baya itu penuh amarah menatap tajam Azkia. "Bukan aku, pak..." ucap Azkia kepada gurunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN