Bab 24

1467 Kata
"Anda gurunya! Hukum dia! Bila perlu, keluarin dari sekolah!" ucap wanita paruh baya itu penuh amarah menatap tajam Azkia. "Bukan aku, pak..." ucap Azkia kepada gurunya. Wirjo menatapnya sekilas, kemudian kembali menatap wanita itu. Tanpa mengindahkan apa yang diutarakan Azkia di sampingnya. "Bukan kamu? Terus ini apa?" ujar wanita itu menunjukkan uang milik anaknya dari dalam tas Azkia. "Ketemu dimana bu?" tanya Wirjo heran. "Di tas dia," tunjuk wanita itu ke arah Azkia. "Pak, bukan saya..." "Pak, percaya sama saya..." Azkia terus menyanggah bukan dirinya yang melakukan. Dia terus merengek kepada gurunya. Wirjo hanya diam, tanpa mau menatap Azkia. "Maaf, bu... Biar saya yang menghukumnya atas kesalahan yang ia perbuat," ujar Wirjo memandang wanita itu. Azkia menatap gurunya itu tidak percaya. Dia terlihat tidak mempercayainya. "Pak, saya tidak melakukan itu..." rengeknya. "Bersihkan toilet sepulang sekolah nanti," ucapnya sembari pergi meninggalkannya. "Tapi," ucapannya tidak dapat disambung melihat orang yang diajak bicara menjauh darinya. Setelah Wirjo pergi meninggalkan Azkia. Bel yang berbunyi, membuat orang-orang yang berkerumun mulai pergi satu persatu. "Dasar pencuri!" ucap seorang gadis yang menuduhnya tadi. Seketika, mereka langsung menatap jijik Azkia. Tatapan yang dia lihat membuatnya tidak bisa membendung air mata. Hingga tetes demi tetes air mata jatuh ke lantai. Sebagian dari mereka berbisik satu sama lain dengan tatapan yang sama. Sebagian lagi menyibukan diri, seolah tidak tahu apa yang terjadi. Sisanya hanya melihat dengan tatapan rasa kasihan, tetapi tidak melakukan apa yang seharusnya. Mereka hanya mampu terdiam membisu tanpa melakukan apa pun. Azkia mengusap air matanya dan kembali duduk di kursinya. Tangannya mengepal kuat, tidak tahan dengan semua hal itu. Hingga tiba seorang guru yang akan mengajar. Pembelajaran kembali dimulai seperti biasanya. Mereka semua menutup matanya dari peristiwa yang beberapa waktu lalu terjadi. Tidak ingin terlibat adalah alasan mereka. Tidak peduli mana yang benar, mereka tetap menutup mata dan telinganya dari kebenaran yang ada. "Ayo kerjakan soalnya, terus kumpulkan satu jam lagi," ucap pria bertubuh jakung itu sembari duduk di kursi. Azkia mengikuti pembelajaran seperti biasanya. Namun, suasana hati yang lebih buruk dari biasanya membuat pembelajaran hari ini berbeda baginya. Tangan kanannya menggenggam pulpen dengan erat. Hingga mustahil pulpen itu bisa lepas darinya. Satu jam berlalu, pria bertubuh jakung itu melihat jam tangannya. Sesekali dia menguap tanpa menutupnya. "Oke, kumpulkan di depan. Dibuka saja bukunya," perintah guru itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Beberapa anak mulai mengumpulkan tugasnya. Sampai Azkia berdiri dan menaruh bukunya perlahan. Kemudian langsung meninggalkan tempat dan duduk kembali di bangkunya. Pria bertubuh jakung itu memicingkan matanya. Melihat tulisan Azkia yang tebal dan tidak terlihat bagus seperti biasanya. Membuatnya harus lebih mendekat ke bukunya untuk membaca tulisan dengan jelas. Namun, sebelum bisa lebih dekat ke bukunya. Tumpukan buku dari anak lain menutupnya. Hingga dia harus menjauhkan wajahnya dari buku itu. Bola matanya melihat ke arah dimana Azkia berada. Dia mengetahui berita yang sangat cepat tersebar dari mulut orang. Tetapi, dia hanya bisa diam. Mendoakan semuanya akan baik-baik saja. Beberapa jam kemudian, bel pulang berbunyi. Anak-anak lain mulai terlihat dari jendela berjalan sembari membawa ranselnya. Anak-anak dalam kelasnya mulai tidak sabar menunggu sang guru segera menyelesaikan bicaranya. Hingga salam penutup selesai diucapkan. Mereka berjalan keluar, seolah lupa dengan apa yang terjadi tadi pagi. Gadis yang masih terduduk manis di kursinya. Tangan meraih tali tasnya dan dikenakannya. Kelasnya langsung kosong walau hanya sekejap dia mengalihkan pandangannya. Dia berdiri dengan kedua tangan menapak meja sebagai tumpuannya. Tetapi, tubuhnya hampir tumbang. Matanya memejam perlahan menahan rasa pening di kepalanya. Dia berjalan perlahan, dengan langkah gontai. Sampai di depan pintu, terlihat beberapa anak yang menghadangnya. "Eh, kamu disuruh bersihin toilet cowo sama Pak Wirjo," ujar lelaki yang pernah menyuruhnya mencuri kunci motor milik gurunya. Azkia hanya menatapnya, kemudian dia melewati mereka tanpa sepatah kata pun. Namun, lelaki itu memegang pundaknya. Membuatnya secara spontan menghentikan langkah kakinya. "Gak mau percaya nih?" tanya lelaki itu. "Pfftt..." tahan tawa salah seorang rekannya. Tatapan tajam tidak terelakan. Membuat rekannya itu terdiam membisu, tidak berani bicara melihat tatapan temannya itu. Azkia menoleh ke arah lelaki itu, "Aku serius loh... Mana mungkin aku bohongin kamu dalam keadaan begini?" ujar lelaki itu terlihat meyakinkan. "Ayo, deh. Aku anterin," ajaknya tanpa meminta jawaban dari Azkia. Azkia yang mulai terlihat pucat dan lemas. Hanya bisa mengikuti kemana mereka membawanya. Sekolah mulai sepi, sangat hening dan tidak ada satu pun yang bersuara. Lampu yang terlihat redup membuat lorong menjadi agak gelap. Tangan lelaki itu menjulur, memegang gagang pintu. Diputarnya perlahan, hingga pintunya terbuka sedikit. "Bersihin toilet pria?" heran Azkia melihat lambang di pintu toilet tersebut. "Suruhnya ke sini," ucap santai lelaki itu. "Ayo masuk buruan!" suruh seorang rekannya di sampingnya. "Tunggu, tunggu," ucap Azkia berusaha melepaskan diri dari kecurigaan. Namun, tangan lelaki itu mencekalnya kuat. Membuatnya tidak bisa lepas darinya, dua orang rekannya mengawasi sekitar. Mereka masuk, salah seorang rekannya berdiri di pintu. Azkia berbalik dan melangkahkan kakinya mundur. Lelaki itu mengambil sebuah ember di dekat pintu keluar. Kemudian kakinya melangkah menuju wastafel yang ada di dekatnya. Suara pancuran air yang mengisi keheningan. Membuat Azkia semakin ketakutan. Tubuhnya yang sedang tidak dalam kondisi stabil. Tidak mampu untuk keluar melewati tiga orang di depannya. Air kran dimatikannya, lelaki itu melangkah kembali ke arah Azkia berada. Tanpa basa-basi dia menyiram Azkia dengan air itu. Tubuhnya tidak siap menerima air itu, hingga ia harus menggigil menahan rasa dingin. Kakinya melangkah mundur, sampai batas menyentuh tembok. "Hentikan..." ucapnya lirih. Lelaki itu mendekat ke arahnya. Dia sedikit menunduk menyamai tinggi Azkia. "Aku mohon..." ucapnya langsung tumbang seketika. Mereka terkejut seketika, melihat dia tumbang begitu saja. Mereka mulai mendekatinya, salah satu dari mereka menepuk-nepuk pipi Azkia. Namun, tidak ada respon darinya. Membuat mereka semakin panik dan akhirnya secara spontan berlari keluar. Lari dari masalah yang ada. "Pergi! Pergi!" ajak salah seorang rekannya. "Cepet pergi sebelum ada yang lihat!" sambungnya. Pintu dibukanya secara kasar, dan berlari tunggang langgang. Berlari sekencang mungkin menjauh dari tempat kejadian. Sementara itu, dari arah berlawanan. Wirjo sedang berjalan sambil membawa buku. Hingga mereka berlari dari arah tujuannya saat ini. Langkahnya dipercepat menuju tempat tujuannya. Hingga sampai di depan pintu yang terbuka lebar. Buku yang dipegangnya erat jatuh begitu saja. Melihat siswinya tergeletak di lantai. Matanya terbelalak tidak percaya. Dia langsung menghampiri dan mengecek keadaannya. Kedua jarinya menyentuh pergelangan Azkia. Secara buru-buru dia langsung mengambil ponselnya dan menelpon pihak rumah sakit untuk datang. Azkia dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Beberapa rumor bermunculan, hingga membuat awak media mendatangi sekolah untuk meminta kebenaran. Karena tidak ada satu pun pihak keluarga yang menjemput jenazahnya. Kasus ini ditutup rapat-rapat, dan rumor hanya menjadi rumor. Pihak rumah sakit datang dan membawanya. Azkia dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Rumor yang beredar dari mulut ke mulut, membuat beberapa media mencari kebenarannya. Kasus ini, sama sekali tidak dilaporkan ke pihak kepolisian. Karena tidak ada satu pun pihak keluarga yang menjemputnya atau pun menuntut keadilan. Maka, kasus ini ditutup rapat-rapat. Meski beberapa media ada yang memberitakannya. Jenazah Azkia diurus oleh Wirjo. Dia selalu datang ke pemakamannya setiap hari tertentu. Dengan air mata penyesalan yang selalu menemaninya. Sejak saat itu, Wirjo menjadi guru yang sangat tegas dan paling ditakuti di sekolahnya. Orang-orang yang selalu mengerjai Azkia, membuat mereka saling menyalahkan dan menyalahkan diri sendiri. Permintaan maaf yang terlambat diutarakan. Hari demi hari mereka lalui, peristiwa itu akan menjadi sesuatu yang tak akan pernah mereka lupakan. *** "Kenapa diam saja?" tanyanya dengan menatap sendu. Kata-kata itu membuat pria yang kini sudah memasuki umur 40-an mengingat setiap detail kejadian itu. Hingga dia tidak berhenti meneteskan air mata penyesalan. Mulutnya tidak sanggup mengucapkan satu kata pun karena sesak di d**a. "A... Aku, percaya padamu..." ucap pria paruh baya itu tidak sanggup menahan air mata. "Azkia..." sambungnya sembari mengusap air mata dengan lengannya. Gadis itu tersenyum simpul, dia menjauh dari pria itu. Sedikit demi sedikit tubuhnya menghilang. Pria paruh baya itu bangkit dan mencoba meraihnya. Namun, tangannya menembus tubuh Azkia. Dia tidak dapat menyentuhnya sedikit pun. Dia pun terjatuh, menunduk melihat telapak tangannya yang tidak dapat menyentuh muridnya itu. Air matanya kembali jatuh membasahi telapak tangannya. Kata-kata yang harusnya diucapkan dahulu. Baru tersampaikan setelah dia tiada dengan wujud sebagai seorang hantu. "Maaf..." "Maaf..." Itulah kata yang selalu diutarakan pria paruh baya itu. Hingga permintaan maaf itu terhenti, ketika dia memandang dimana Azkia berada. Wujudnya perlahan menghilang, kini hanya menyisakan bagian atas tubuhnya saja. "Terima kasih..." ucap Azkia yang kemudian menghilang. Putri yang sedari tadi berdiri tidak sanggup melihatnya. Dia pun melangkah mendekati gurunya itu. Tangannya menepuk-nepuk punggung pria paruh baya itu yang terduduk lemas di lantai dengan air mata yang terus jatuh. Azkia pun akhirnya benar-benar pergi dari dunia untuk selamanya. "Se-Seandainya saja aku mengatakan percaya padanya. Seandainya saja aku mengetahuinya sejak awal..." sesal pria paruh baya itu. "Se-Seandainya... Dia masih hidup..." "Loh... Kalian masih di sini?" tanya seorang satpam yang entah sejak kapan ada di sana. Seketika semua orang yang ada di tempat menatap kepadanya. "Haduh... Gak tepat banget datangnya..." gumam Devan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN