Mereka berjalan bersama di lorong tanpa percakapan. Mereka sama-sama berfikir 'Betapa lelahnya hari ini'. Satu hari yang begitu panjang bagi mereka.
"Kak Nandini kemana aja tadi?" tanya Putri membuka suara.
"Ceritanya panjang..." ucap Nandini sungkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, buat penasaran aja. Cerita..." ucap Putri yang terus memohon sambil menghadap Nandini.
"Yakin, mau dengar?" tanya Nandini membutuhkam kepastian.
Putri mengangguk bersemangat, ingin mengetahui apa saja yang dialami oleh saudara perempuan Devan itu. Sambil berjalan Nandini menceritakan ceritanya dari awal.
"Gimana caranya bisa keluar?" tanya Devan yang baru mendengar setengah cerita.
"Oh, waktu itu..." ucap Nandini mengingat kejadian sembari memegang dagunya.
***
Ketika Arga mencari keberadaan Nandini dalam sebuah ruang dimensi yang melibatkan masa lalu sang penunggu toilet. Orang-orang nampak biasa saja pada awalnya. Tiba-tiba mereka berubah sikapnya menjadi aneh. Mereka selalu mencoba meraih Nandini dan membuatnya tetap bersama mereka. Semua orang yang ada di dalamnya hampir muncul dari setiap pintu yang mereka temui.
"Cari kemana lagi?" tanya Nandini mulai kebingungan.
Mereka telah beberapa kali pergi ke berbagai tempat untuk mencari keberadaan Azkia sebagai kunci untuk keluar dari sini. Bola mata Arga selalu mewaspadai keadaan sekitar. Dia selalu berjalan perlahan tanpa henti bersama Nandini.
"Arga..." panggil Nandini kesal.
"Apa?" tanya Arga yang masih memperhatikan sekelilingnya.
"Panggil namanya, kalau bisa yang keras," ujar Arga tanpa menatapnya.
"Azkia!" panggil Nandini dengan keras yang membuat Arga terkejut.
Arga menoleh seketika, dia membelalakan matanya tidak percaya. Nandini pun ikut menoleh kepadany dengan tatapan tanpa rasa bersalah. Beberapa kali matanya berkedip tidak mengerti dengan apa yang Arga ingin katakan.
"Kenapa gak dari tadi?" geram Arga.
"Apanya?" tanya Nandini masih tidak mengerti.
"Kamu tahu namanya kan?" tanya Arga lagi.
Nandini hanya mengangguk sebagai jawaban. Membuat Arga sedikit naik darah.
"Kenapa gak manggil namanya dari tadi?" tanya Arga.
"Loh... tapi kan-" ucapannya terpotong setelah Azkia berada di depan mata mereka.
Dengan pakaian seragam sekolah lusuhnya. Dia menatap mereka berdua dengan wajah pucatnya. Tanpa ada satu pun kata yang terucap darinya.
"Mmm... Bisa keluarkan kami sekarang?" tanya Nandini ragu.
Tanpa menghiraukan pertanyaan yang keluar dari mulut Nandini. Dia berjalan mendekat ke arahnya.
"Apakah ada yang mempercayaiku?" tanyanya kepada Nandini dengan tatapan sendu.
"Apakah ada?" tanyanya lagi.
"Eh..."
Pertanyaan yang tiba-tiba muncul darinya membuat Nandini sedikit terkejut. Dari apa yang dia lihat dari sudut pandang Azkia. Memang terlihat tidak ada satu pun orang yang percaya kepadanya.
"Ada yang percaya padamu," ujar Arga kemudian yang membuat Azkia menatap ke arahnya.
"Pak Wirjo, dia percaya padamu," sambung Arga.
Azkia menoleh perlahan ke arah Arga, "Dia tidak percaya padaku..."
"Dia percaya padamu... Dia sendiri yang mengatakannya," ucap Arga berusaha meyakinkan.
"Benarkah?" tanyanya memastikan.
Arga hanya mengangguk sembari tersenyum kepadanya. Dia mendekat ke arahnya dan menggenggam tangan kanan Azkia.
"Jadi... Ayo kembalikan seperti semula. Tanyakan padanya langsung, ya?" ucap Arga berusaha membujuk.
"Aku sudah pernah membujuknya, tapi gagal. Hmm..." ucap lirih Nandini.
"Baiklah... Aku akan bertanya langsung," balas Azkia sembari menatap mata Arga dan tersenyum.
"Apa?" ucap Nandini tidak percaya.
"Tapi tadi, kamu, kok dia..." ucap Nandini terbata-bata karena tidak mempercayai ucapan Azkia yang mempercayainya begitu saja.
Nandini hanya bisa berlapang d**a melihat Azkia lebih mudah dibujuk oleh Arga. Sudah bisa kembali dan membantu Azkia segera pergi dari dunia itu lebih dari cukup.
Secara perlahan, tempatnya berubah menjadi tempat awal mereka masuk kemari. Arga kembali masuk ke tubuhnya, dia memegang keningnya yang sambil meringis kesakitan karena terlalu lama berada di sana. Dia mencoba berdiri dengan kedua tangan yang menumpu dari belakang. Salah tangannya memegang kepalanya, dia mendongak menatap Nandini yang sudah berada di depannya.
Tangan Nandini mengulur kepadanya. Arga pun menerima uluran tangannya dan berdiri.
"Biarkan saya masuk!"
"Tunggu sebentar lagi!"
Suara keributan dari balik pintu terdengar dan tidak lain adalah suara guru yang paling ditakuti di sekolah. Pak Wirjo berada di balik pintu dan berusaha masuk secara paksa. Arga berjalan menuju pintu yang ada di belakangnya.
Tangannya meraih gagang pintu, dia kembali menatap Azkia. Tatapan yang terlihat serius darinya. Membuat Arga membuka pintunya perlahan.
Dan di sana lah reuni antara guru dan muridnya dimulai.
***
Nandini berbicara tanpa henti hingga akhir cerita. Perjalanan malam dalam lorong sekolah menjadi tidak terlalu menakutkan bagi mereka.
"Arga, sejak kapan kamu bisa begitu?" tanya Putri sambil menutup mulutnya tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Arga tidak mengerti.
"A-Apa maksudnya? Aku jadi kurang paham," ucap Arga berusaha mencari tahu.
"Itu, dia langsung percaya omonganmu. Padahal sebelumnya dia malah bikin Kak Nandini jatuh," papar Putri.
"Aku hanya bicara apa adanya," ujar Arga.
"Apa? Apa kamu pikir aku berkata bohong?!" ucap Nandini tidak terima.
"Bu-Bukan gitu..." ucap Arga sembari menjauh dari Nandini.
"Devan, bantu aku..." pinta Arga.
Devan yang sedang membaca buku hanya meliriknya sejenak, kemudian kembali membaca bukunya. Membuat Arga terus mengumpat dalam hatinya.
Keributan pun tidak terelakan. Kebisingan itu, membuat Devan yang sedang fokus membaca merasa terganggu.
"Ck," decak kesal Devan yang kemudian berjalan mendahului mereka.
"Eh, Devan... Tunggu!" panggil Putri sembari mengejar Devan.
"Putri!" panggil Arga.
"Maaf... Gak bisa bantu!" ujar Putri.
Devan dan Putri pun meninggalkan Arga dalam permasalahan yang tidak terhindarkan. Kalimat yang salah diucapkan membuatnya terjebak dalam tatapan tajam Nandini yang terus memojokannya.
"Aku minta maaf," ucap Arga tanpa berani menatapnya.
Nandini menunjuk Arga dengan jari telunjuknya sebagai tanda peringatan. Arga yang melihat hanya bisa mengangguk. Kemudian dia berjalan pergi menjauh dari Arga.
"Devan, kamu baca buku terus... Bukunya yang tadi pagi lagi, gak bosen apa?" tanya Putri yang jenuh melihat Devan yang setia membaca buku sambil berjalan.
"Gak," balas singkat Devan.
"Ihh... Kebiasaan," ucap Putri sembari melipat tangannya di depan d**a.
"Oh iya!"
"Bikin kaget aja, kenapa?" Devan sedikit terkejut mendengar Putri yang sedikit berteriak.
"Bukunya Kak Nandini, karena itu kita jadi bisa lihat dia kan?" tanya Putri memastikan.
"Sepertinya begitu," balas Devan sembari menatap bukunya.
"Kita cuma bisa lihat Kak Nandini, sementara yang lain... Aku kurang yakin, mungkin karena kemunculan Azkia di depan mata jadi kamu bertanya, gitu?" tanya Devan.
"Bener banget!" ucap antusias Putri.
"Tanya sama Arga aja, tuh!" ujar Devan sembari menunjuk Arga yang berjalan di belakang tidak jauh darinya.
"Aku? Kenapa?" tanya Arga tidak mengerti.
"Ah, lupakan!" kesal Putri melanjutkan langkahnya.
Hingga sinar bulan mulai terlihat. Mereka telah keluar dari sekolah. Tepat di luar sekolah, mereka memandang bulan dan bintang yang bertebaran.
Sinar bulan yang begitu indah membuat mereka terhenti dari langkahnya. Melihat bulan yang sama, tatapan takjub tidak terbantahkan.
"Wah..." takjub Putri.
"Apa malam selalu seindah ini?" gumam Devan yang masih setia menatap ke atas.
Nandini melangkahkan kakinya maju ke depan mendahului teman-temannya. Dia menatap langit dengan tatapan takjubnya.
Arga menatap Nandini di bawah langit sinar rembulan. Cahaya yang menyinarinya, membuat bulan sirna dari pandangannya. Rambut yang terurai di bawah sinar bulan dan bintang yang berwarna. Arga menatap Nandini tanpa dia sadari.
Sampai Nandini menoleh ke arahnya. Membuat Arga harus memalingkan wajahnya.
"Ayo pulang!" ajak Nandini yang berjalan mendahului mereka.
Arga berjalan biasa berusaha menutupi salah tingkahnya tadi. Putri berjalan beriringan bersama Arga. Dia memperhatikan tingkah aneh yang dibuat teman sekelas Devan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Putri heran.
"Aku? Memangnya aku kenapa?" tanya balik Arga yang membuat Putri semakin curiga terhadapnya.
Nandini pun menoleh ke arah mereka, "Kalian kenapa?"
"Hahaha... Ada-ada aja kamu ini," tawa Arga yang terlihat dipaksakan sambil menepuk bahu Putri.
Nandini yang tidak mengerti, tidak ingin terlalu ambil pusing. Dia kemudian, melanjutkan perjalanannya.
Putri menyingkirkan tangan Arga perlahan dari bahunya. Tatapan datar darinya membuat tawa hambar Arga terhenti. Arga menarik tangannya ragu. Dia berdehem, untuk mengusir rasa malunya.
Kemudian dia berjalan terlebih dahulu. Putri yang melihatnya, hanya bisa menggelengkan kepala akan perbuatan yang dilakukan Arga. Dia terlihat tidak seperti biasanya.
Sementara itu...
Devan masih memandang langit yang jarang dia lihat. Devan terpukau dengan langit yang begitu indah dimatanya. Mungkin karena dia terlalu sibuk dengan bukunya, semua keindahan yang ada di sekitarnya menjadi tidak terlihat.
"Nak..."
"Nak..."
Suara seperti seorang nenek yang memanggilnya. Membuat Devan sedikit terkejut. Dia menoleh ke belakangnya perlahan.
"Nenek siapa?" tanya Devan ragu.
Seorang nenek dengan pakaian hitam dengan rambut yang putih. Dia menggunakan tongkat kayu sebagai penumpunya. Tubuhnya sedikit membungkuk, bibirnya merah pucat. Bola matanya terlihat putih, dia terlihat buta.
"Apa yang seharusnya tidak di sini, harus pergi..." ujarnya.
"Apa?" tanya Devan tidak mengerti.
"Apa yang seharusnya tidak di sini, harus pergi..."
"Siapa yang nenek maksud?" tanya Devan masih tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
Nenek itu menatap lurus ke depan, dia terdiam tanpa mengatakan apa pun. Devan memanggilnya beberapa kali, tetapi dia sama sekali tidak menggubris panggilan Devan.
"Nenek?" panggil Devan berusaha mendekat.
Kakinya melangkah menuju nenek itu berada. Dengan jarak satu meter, Devan mengulurkan tangannya hendak menepuk bahu nenek itu.
Tatapannya masih lurus, hingga Devan menyentuh bahunya. Nenek itu menoleh cepat dengan bola mata putihnya.
Devan membelalakan matanya terkejut. Dia melangkahkan kakinya mundur perlahan.
Hingga senyum dari wanita tua itu terukir. Devan semakin ketakutan, dia berjalan mundur. Bola mata nenek itu terus mengikutinya.
"Devan!" panggil Putri dari kejauhan sambil berlari.
Devan menoleh ke arahnya, Putri berlari sambil melambaikan tangannya. Kemudian Devan kembali melihat ke arah wanita tua itu berada.
Bola mata Devan berputar ke segala arah. Wanita tua itu menghilang dari pandangannya dalam sekejap. Sebuah tangan di bahu yang menepuknya, membuat Devan melihat tangan itu.
"Aaa!" teriak Devan yang menjauh darinya.
"Devan kamu kenapa?" tanya Putri.
"Putri?" panggil Devan memastikan.
"Muka kamu pucat banget? Kenapa?" tanya Putri khawatir.
Detak jantung Devan berdegup kencang. Nafasnya terengah-engah, Devan terlihat masih membelalakan matanya sambil melihat ke arah Putri.
"Devan?" panggil Putri.
"A-Aku baik-baik aja," ujar Devan yang kemudian berjalan pergi sambil menatap ke bawah.
"Devan kenapa lagi?" gumam Putri.