Hari ke-25
Waktu kembali berputar, setiap detik terus terkikis. Layaknya sebuah batu besar yang terkikis oleh air mengalir.
Kemarin adalah hari yang cukup panjang bagi Devan. Kehadiran saudara perempuannya itu, membuat setiap durasi dalam hidupnya memanjang. Entah apa yang akan terjadi selama dia tetap di sini.
Hari ini dia berangkat sedikit lebih pagi. Hanya setengah orang dari keseluruhan siswa di kelasnya yang sudah tiba. Beberapa orang terlihat berlalu lalang di balik jendela.
Tangannya menumpu dagu, sembari melihat ke luar jendela. Setiap kali mengingat kejadian kemarin malam. Membuatnya menghela nafas beberapa kali.
Devan memejamkan matanya perlahan. Ketika dia memejamkan matanya, dia kembali mengingat wanita tua itu.
Kata-kata dan bola mata putihnya membuatnya membuka mata secara tiba-tiba. Namun, tepat di depan matanya seseorang menempelkan wajahnya dengam kedua tangan di samping kanan kiri wajahnya.
"Woah!"
Devan membelalakan matanya dengan nafas tersengal. Tangan kanannya memegang d**a kirinya. Dia terkejut sekaligus kesal, orang yang ada di jendela adalah Putri. Entah sejak kapan dia di sana.
Putri terlihat puas karena berhasil melihat wajah terkejutnya Devan. Dia tertawa sembari memegang perutnya.
"Putri..." geram Devan melihat tawa puas terukir di wajah Putri.
Kegaduhan dibuatnya berhasil mengundang beberapa pasang mata untuk melihatnya. Devan dilihat teman sekelasnya, rasa malu tidak dihindarkan.
Putri menyampingkan badannya dan menunjukkan ibu jarinya kepada seseorang di dekat pintu yang tidak lain adalah Nandini. Dia membalas dengan ibu jari dan telunjuknya yang membentuk lingkaran sembari tersenyum.
"Bye-bye Devan!" ujar Putri seraya berlari meninggalkan Devan dalam rasa malu yang menyeruak.
Devan hanya bisa menggertakan gigi sambil menatap kesal Putri hingga punggungnya semakin jauh. Devan menoleh menatap tajam ke arah Nandini. Tetapi tatapan tajam itu hanya dibalas senyuman lebar. Devan menghela nafas gusar. Dia bangkit dari bangkunya, dan berjalan menuju pintu.
"Devan kamu mau kemana?" tanya Nandini.
"Perpus," balas singkat Devan.
"Aku ditinggal?" tanya Nandini.
Devan tidak mengindahkan rengekan Nandini. Dia terus berjalan, sampai bertemu Arga di depan kelas.
"Devan," panggil Arga.
"Oh, jaga bukunya ya..." ujar Devan melanjutkan perjalanannya.
"Apa? Devan!" panggil Arga, namun tidak digubris oleh Devan.
Devan berjalan hingga dia tidak sengaja menabrak seseorang di depannya. Gadis yang tidak terlalu tinggi darinya, terus menunduk sambil meminta maaf beberapa kali.
Belum sempat Devan membalasnya, gadis itu sudah melewatinya. Sebuah gantungan kunci berbentuk hati tergeletak di depan mata kakinya.
Devan mengulurkan tangannya, mengambil gantungan kunci tersebut. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari sang pemilik gantungan kunci, banyaknya orang yang sudah mulai tiba. Membuatnya kehilangan yang diduga sebagai pemilik kunci itu. Gadis itu tidak terlihat lagi.
"Hmm... Kukembalikan nanti," gumamnya sembari menaruh gantungan kunci di sakunya celananya.
Devan melanjutkan perjalanannya, kakinya tiada berhenti melangkah. Banyak orang yang lebih suka membaca lewat ponselnya. Namun, tidak dengan Devan. Meskipun di zaman yang serba canggih ini. Baginya, membaca langsung lewat buku akan memiliki sensasi yang berbeda.
Pintu yang terbuka lebar di depan matanya, membuatnya bersemangat untuk membaca. Ditambah dengan beberapa kardus besar yang ada di dekat rak. Buku baru yang membuatnya ingin cepat mengambilnya.
Devan segera memasuki perpustakaan. Hanya ada beberapa anak termasuk dirinya yang memasuki perpustakaan ini. Rak buku yang besar dan buku yang tersusun rapi, sudah bisa membuatnya tersenyum lebar.
Tangannya meraih buku di rak satu-persatu. Hingga tumpukan beberapa buku menutupi wajahnya. Meski dia sangat paham akan waktu yang tidak cukup untuk membaca buku sebanyak itu. Dengan susah payah dia menarik kursi dengan kaki kanannya. Devan menaruh buku-buku itu di meja dekat kursi yanh dia tarik dengan kakinya.
Dia duduk perlahan, mengatur posisi duduknya. Tangannya meraih tumpukan buku paling atas. Dalam sekejap buku membuatnya tenggelam dalam imajinasi si penulis buku.
Sebuah buku yang ada di rak belakang Devan, secara perlahan tergeser. Dia tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan apa yang dibaca.
Hingga buku itu jatuh dan mengagetkannya. Membuat Devan menoleh ke sumber suara. Bola matanya melihat ke bawah dimana buku itu jatuh.
Devan mengambil buku yang jatuh di sampingnya. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari orang yang menjatuhkannya. Dia masih berfikir secara logika. Tanpa berfikir lebih panjang, Devan menaruh buku yang jatuh di mejanya.
Bola matanya kembali berkutat pada huruf yang tertata di permukaan lembaran-lembaran kertas di depan matanya. Bola matanya bergerak dari kiri hingga ke bawah. Mengikuti setiap kata yang dibaca.
Hingga buku lain kembali jatuh, kali bukan hanya satu buku. Melainkan ada tiga buku yang jatuh secara bergantian. Ketika hendak mengambil buku pertama. Buku ke dua jatuh tepat di sampingnya.
Devan mengangkat tubuhnya untuk melihat apakah ada orang di sekitarnya. Bola matanya melihat ke segala arah. Di saat itu, buku ke tiga jatuh.
Devan membelalakan matanya, dia terkejut dengan apa yang terjadi. Tidak ada orang di sekitarnya, tapi bagaimana bisa ketiga buku itu jatuh.
Detak jantungnya semakin berdegup kencang. Dia takut hal yang sama seperti kemarin terjadi kembali. Tanpa menunggu lebih lama, Devan menaruh buku bacaannya yang belum selesai dibaca. Kemudian pergi, berjalan dengan langkah cepat.
Sesekali Devan menoleh ke belakang melihat dimana buku-buku iru terjatuh. Setelah melihatnya, Devan melanjutkan langkah cepatnya.
Dia berjalan cepat di lorong dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Sampai dia tidak sengaja menabrak seseorang di depannya.
"Hei!" ucap seorang laki-laki yang tidak sengaja ditabrak Devan.
"Ma-Maaf," ujar Devan yang kemudian langsung berjalan pergi.
Devan menundukkan wajahnya sebagai permintaan maaf. Dia tetap berjalan sambil sesekali melihat ke belakang. Dia berharap tidak ada yang mengikutinya.
Devan memasuki kelas dengan nafas tersengal. Bola matanya terfokus pada gadis yang tadi tidak sengaja menabraknya.
"Devan kamu-" panggil Nandini yang ingin mengatakan sesuatu tetapi Devan langsung pergi ke arah tempat duduknya.
"Devan-" panggil Arga yang langsung dipotong oleh Devan.
"Sejak kapan gadis itu ada di kelas kita?" tanya Devan sedikit berbisik sambil mengatur posisi duduknya.
"Dia sudah lama ada di sana," balas Arga.
Devan memundurkan wajahnya dan menoleh ke arah gadis yang sibuk menulis catatan. Dia kembali menatap Arga dan menaikan alis sebelahnya tidak ingat.
"Apa?" ucap Devan tidak percaya.
"Dia teman sekelas kita sejak pertama masuk," sambung Arga.
Devan masih berfikir keras dengan melihat ke atas. Dia kembali menatap Arga. Dari tatapan yang ditunjukkan Devan kepadanya. Membuat Arga harus menghela nafas panjang.
"Dia si rangking dua DEVAN..." ujar Arga dengan penekanan di akhir kata karena geram kepada sahabatnya itu.
"Rangking dua?" tanya Devan lagi.
"Iya, dia rangking dua. Sudah sekitar satu minggu dia nggak pernah berangkat," ucap Arga setengah berbisik.
"Benarkah?!" tanya Nandini yang tiba-tiba sudah berada di samping Devan.
"Ngagetin mulu hidupnya," kesal Devan.
"Kenapa dia gak pernah berangkat?" tanya Devan.
"Karena orang tuanya meninggal," balas Arga.
Devan mengangguk mengerti, dia bangkit dari bangkunya. Dia menggeser kursinya ke belakang agar bisa keluar.
"Devan mau kemana?" tanya Nandini.
"Mengembalikan sesuatu," ujar Devan.
"Devan, tapi-" ucap Arga yang kembali dipotong oleh Devan.
"Nanti aja ngomongnya, bentar doang kok," potong Devan.
Dia berjalan dengan tangan kanannya yang masuk ke saku celananya. Dia berdiri di samping gadis itu duduk. Gadis berambut panjang itu menghentikan kegiatannya sejenak dan mendongak.
"Gantungan kuncimu jatuh," ujar Devan.
Devan menarik gantungan kunci itu dari saku celananya. Dia menunjukkan gantungan kunci itu. Namun hal tak terduga muncul. Gadis itu terlihat ketakutan, dan menjerit histeris.
Aaa!