Aku hampir tak percaya dia mengingat namaku. Hatiku berdegup kencang, tapi aku mencoba untuk tetap tenang. "Mungkin... kita bisa tunggu hujan reda bareng?" tanyaku, merasa malu dengan kata-kataku sendiri. "Maksudku, lebih baik ngobrol di sini daripada di luar kan?"
Rina tersenyum, matanya berbinar. "Boleh banget. Aku juga nggak kemana-mana kalau hujan gini."
Kami berdua duduk di sana, memandang hujan yang masih terus turun. Percakapan kami terasa ringan, tidak terburu-buru, seolah kami sedang menikmati waktu bersama di tengah keramaian yang tidak ada. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mungkin saja, perasaan yang selama ini ku pendam, bisa jadi lebih dari sekadar khayalan.
Hari itu, hujan tidak hanya membawa dingin dan kelembapan, tetapi juga sebuah harapan baru. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, apakah ini akan berlanjut atau hanya menjadi kenangan. Tapi satu hal yang pasti—aku merasa sedikit lebih dekat dengan impianku untuk mengenal Rina lebih dalam. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih indah dari sekadar hujan di sore hari.
Aku tetap duduk di sudut ruangan, merasa seolah terjebak dalam dunia pikiranku sendiri. Waktu terasa berjalan begitu lambat, meskipun hujan yang terus turun membuat suasana semakin sendu. Aku menatap Rina, yang kini terlihat lebih santai, sedang asyik berbicara dengan Dini dan teman-teman lainnya. Sesekali senyum mereka mengalir, dan Rina pun tampak tertawa ringan, wajahnya berseri-seri. Aku hanya bisa memandangi dari kejauhan, merasa terjaga dalam kegelisahan yang tak pernah bisa aku pahami.
Namun, entah mengapa, perasaan itu kali ini terasa berbeda. Ada semacam dorongan di dalam diriku, yang memberiku keberanian untuk melakukan sesuatu yang selama ini aku hindari. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir, atau mungkin juga sebuah kebetulan, tapi entah bagaimana aku merasa, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah semuanya.
Aku menunduk sejenak, menarik napas panjang, lalu mengumpulkan keberanian untuk bangkit dari kursiku. Tangan ku terasa sedikit dingin dan gemetar, namun aku berusaha mengendalikan diri. Aku melangkah perlahan menuju meja tempat Rina duduk. Sesampainya di sana, aku ragu sejenak, tapi Rina tampak tidak terlalu memperhatikanku. Dini dan teman-temannya masih sibuk dengan percakapan mereka.
"Hai, Rina," ucapku pelan, sedikit tersendat. Aku merasakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering, dan hatiku mulai berdegup kencang.
Rina menoleh, dan untuk sesaat tatapan matanya langsung bertemu denganku. Ada kedalaman dalam matanya yang membuat aku merasa seolah-olah dia bisa membaca pikiranku, meskipun aku yakin itu hanya perasaanku saja. Dia tersenyum tipis, lalu menjawab, "Hai, kamu sudah selesai kelasnya?"
Aku mengangguk, merasa sedikit canggung dengan percakapan yang baru saja dimulai. "Iya, hujan deras banget ya," kataku, mencoba membuka percakapan lebih lanjut.
"Betul," jawab Rina, matanya masih menyiratkan ketenangan. "Aku suka hujan, tapi kadang suka bikin malas untuk pulang." Dia tertawa ringan. "Kamu nggak mau pulang dulu?"
Aku menunduk sejenak, berpikir. "Iya, sepertinya aku harus menunggu hujan reda. Kosan agak jauh, jadi aku nggak mau basah kuyup."
Rina mengangguk, sepertinya memahami. "Oh, ya. Aku juga nggak buru-buru sih, jadi mungkin bisa ngobrol dulu sebentar, ya?" Dia berkata begitu dengan nada yang lebih santai, membuat aku sedikit lega.
Aku merasa seolah beban berat di pundakku sedikit terangkat. Ternyata percakapan ini bisa berjalan lebih lancar dari yang aku bayangkan. Aku mulai merasa sedikit lebih nyaman, meskipun hatiku masih berdegup cepat.
"By the way," aku melanjutkan, "Kamu suka hujan juga ya?"
Rina tersenyum lagi, dan itu membuat aku sedikit lebih tenang. "Iya, hujan tuh bikin suasana jadi lebih tenang, ya. Tapi kadang-kadang, aku juga suka merasa kayak terperangkap di dalamnya."
Aku mengangguk, merasa terhubung dengan apa yang dia katakan. "Iya, aku juga merasa gitu. Hujan bisa bikin kita merenung lebih dalam. Tapi di sisi lain, kadang juga bikin jadi malas keluar rumah, ya."