bc

Hujan di Sore Hari

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
drama
mystery
campus
like
intro-logo
Uraian

Menceritakan kisah karakter pertama (Rian) mahasiswa yang cupu yang berusaha mengenal pujaan harinya (Rina) yang cantik dan menawan,sehingga mereka pacaran.

Namun ada kisah di akhir yang membuat anda tercengang.

chap-preview
Pratinjau gratis
Saat Hujan Menyatukan Rian dan Rina
Hujan di sore hari itu begitu deras, membuat suasana di luar kelas menjadi gelap dan lembap. Aku duduk termenung di sudut ruangan, menatap jendela besar yang memandang langsung ke luar. Suara hujan yang menghantam kaca membuatku merasa sedikit terasing. Cuaca seperti ini memang cocok untuk melamun, dan aku terperangkap dalam dunia pikiranku sendiri, mencoba mengalihkan perhatian dari segala hal yang menghantui pikiran. Kelas sudah usai sejak beberapa menit lalu, namun hujan lebat yang turun mendadak membuatku ragu untuk segera pulang. Aku hanya punya waktu sebentar untuk beristirahat di kosan, tetapi dengan hujan yang semakin deras, rasanya aku tak mungkin bisa keluar begitu saja. Aku sudah lelah, dan ingin sekali merasakan kenyamanan kamar kos yang tenang, meskipun aku tahu bahwa hari ini hanya akan berakhir seperti biasa—dengan aku yang kembali terjebak dalam rutinitas tanpa ujung. Di dalam kelas hanya ada aku dan lima orang cewek, yang biasanya lebih sibuk dengan gosip-gosip mereka daripada mengikuti pelajaran. Mereka berbicara dengan suara pelan, kadang-kadang tertawa, kadang-kadang berbicara serius, tetapi aku tak terlalu peduli. Aku tahu mereka pasti sedang membicarakan sesuatu yang sepele, sesuatu yang tak ingin aku dengar. Namun, di antara mereka ada satu yang selalu menarik perhatian—Rina. Rina adalah pujaan hatiku. Sejak pertama kali bertemu dengannya di kelas ini, aku langsung merasa ada sesuatu yang berbeda. Dia bukan tipe cewek yang langsung mencuri perhatian dengan sikapnya yang ramai. Justru, dia adalah orang yang lebih pendiam, tapi ada semacam aura yang membuat semua orang ingin mendekatinya. Senyumnya selalu membuat hatiku berdebar, dan tatapan matanya kadang bisa membuatku kehilangan arah. Tapi aku, seperti biasa, hanya bisa diam dan mengamati dari kejauhan, tak pernah punya cukup keberanian untuk mendekatinya lebih jauh. Rina sedang duduk di dekat jendela, bergabung dengan dua temannya yang tengah asyik berbicara. Mereka tertawa-tawa sambil menggoda salah satu temannya yang baru saja putus cinta. Aku hanya bisa mendengar samar-samar percakapan mereka, tapi entah kenapa, mataku selalu tertuju pada Rina. Wajahnya yang serius saat mendengarkan teman-temannya berbicara, dan sesekali senyumnya yang manis, membuat aku merasa seolah-olah dunia ini hanya ada kami berdua. Aku menunduk dan berusaha mengalihkan perhatian dengan membuka buku catatan, meskipun aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang tertulis di sana. Pikiran tentang Rina terus menguasai kepalaku. Sudah berbulan-bulan aku memendam perasaan ini, namun tak pernah berani mengungkapkannya. Bahkan untuk sekadar berbicara dengannya di luar konteks pelajaran terasa begitu sulit. Bagaimana bisa aku, yang hanya seorang mahasiswa biasa, bisa mendekati seorang gadis seperti Rina? Di tengah lamunanku, tiba-tiba suara tawa keras terdengar, dan aku kembali terjaga dari lamunanku. Salah satu cewek di meja depan, Dini, bercanda tentang sesuatu yang mungkin hanya mereka yang tahu. Tapi kali ini, Rina ikut tertawa. Suaranya yang lembut namun ceria membuat aku sedikit terperangah. Itu adalah tawa yang tak pernah aku dengar sebelumnya, seolah membawa kehangatan dalam ruangan yang gelap karena hujan. Aku melirik ke arah Rina, dan untuk sejenak, tatapan mata kami bertemu. Aku langsung menundukkan kepala, merasakan pipiku memerah. Entah kenapa, detak jantungku langsung berdetak kencang. Apakah dia tahu? Apakah dia merasakan sesuatu yang sama dengan yang aku rasakan? Ataukah ini hanya imajinasiku saja? Keheningan kembali menyelimuti kelas, hanya terdengar suara hujan yang semakin deras. Aku masih duduk di sudut ruangan, sementara teman-teman lainnya mulai sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Beberapa dari mereka mengeluarkan ponsel, membalas pesan, atau melanjutkan obrolan ringan mereka. Aku merasa sedikit terasing, seolah terjebak di antara dua dunia—dunia nyata dan dunia fantasi yang ada dalam pikiranku. Beberapa menit kemudian, Rina bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah meja dosen. Aku melihatnya dengan hati yang berdebar. Sesaat sebelum dia kembali ke tempatnya, dia melirik ke arahku. Matanya bertemu mataku, dan kali ini, dia tersenyum. Senyum itu, senyum yang selalu membuat aku terpesona. "Eh, kamu belum pulang?" Suara Rina terdengar pelan, tapi cukup jelas bagi aku untuk mendengarnya. Aku terkesiap, terkejut karena dia mengajakku bicara. Aku belum pernah mendengar suaranya langsung mengarah padaku. "Ah, belum... hujan deras banget, jadi nggak enak kalau keluar," jawabku, berusaha terdengar santai meskipun hatiku berdebar. Rina mengangguk, lalu duduk kembali di kursinya. "Iya, aku juga. Tapi kalau tunggu hujan reda, bisa lama banget." Dia melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya, namun kali ini, aku merasa ada sedikit ruang bagi kami untuk berbicara. Mungkin ini adalah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Tanpa sadar, aku bangkit dari kursiku dan mendekatinya. "Rina," panggilku dengan suara ragu. Dia menoleh, terlihat sedikit terkejut, tapi senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. "Ada apa, Rian?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.1K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.0K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

After We Met

read
188.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook